
Sesil melepasksn genggaman tangan Radit secara perlahan membuat Radit menatap Sesil sendu, Sesil menghela nafasnya kasar lalu mengambil sesuatu dari dalam laci meja.
"Maksud lo surat kontrak yang lo udah tanda tanganin?" tanya Sesil sambil memperlihatkan surat kontrak itu.
"Iya, aku mau kita selesaikan kontrak itu, aku ngak mau seperti ini lebih lama lagi, bahkan hanya beberapa minggu sudah membuatku merasa bertahun-tahun lamanya," ucap Radit menjelaskan maksudnya.
"Lo dari tadi hanya mengulang perkataan lo itu selama berhari-hari gue udah muak."
"Kalau lo udah ngak mau menjalani semua ini lagi, silahkan gue ngak akan nahan lo buat akhiri semua ini, gue juga udah ngak nyaman," lanjut Sesil kemudian menyobek surat kontrak itu tepat di depan mata Radit.
"Apa maksud dari semua ini, tolong jelaskan!" ucap Radit khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan hubungan mereka.
"Mulai besok terserah lo masih mau ngelanjutin atau ngak, yang jelas gue ngak mau lo ganggu hidup gue lagi," ucap Sesil membuat Radit tercengang.
"Ingat! lo jangan pernah ikut campur dalam urusan pribadi gue, mulai sekarang gue anggap lo hanya sebatas kenalan bukan sesuatu yang lebih," ucap Sesil lalu membereskan semua barangnya hendak pergi.
Saat Sesil beranjak dari tempat tidur dengan cepat Radit langsung mendorong tubuh Sesil dan menindihnya, mata Sesil melotot kaget dengan tindakan Radit yang tiba-tiba, Sesil kemudian mencoba untuk bangun tapi dengan santai Radit kembali mendorong Sesil hingga membuatnya kesal.
"Apa yang lo lakuin? minggir ngak!" bentak Sesil tapi Radit tidak bergerak sedikitpun.
"Radit apa yang lo mau lakuin?" tanya Sesil mulai memberontak.
Radit dengan santainya menarik kedua tangan Sesil ke atas lalu menahannya dengan satu tangannya, tubuh Sesil mulai menggeliat berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Radit yang kini berada di atasnya.
"Radit lepasin gue... tangan gue sakit!" ucap Sesil mulai merasa sakit karena Radit mencengkram begitu kuat, tapi hanya mendapat tatapan kosong dari Radit.
"Apa yang terjadi sama Radit? ini bukan dia, dia ngak bakalan ngelakuin ini sama gue tampa persetujuan gue, sebenarnya dia kenapa?" batin Sesil mulai merasa khawatir.
"Radit sadar, lo ngak mungkin mau nyakitin gue kan?" tanya Sesil memastikan.
__ADS_1
"Aku sayang sama kamu tapi kenapa kamu malah seperti ini? kenapa kamu tidak bisa menerimaku? karena kamu tidak mau memberiku kesempatan maka aku akan melakukan "itu" padamu," gumam Radit menatap kosong ke arah Sesil.
"Radit sadar, gue bakalan kasih satu kesempatan sama lo buat dapatin hati gue, jadi lepasin gue ya," bujuk Sesil tapi lagi-lagi tidak mempan oleh Radit yang sudah menjadi orang lain.
"Aku mau, aku mau memilikimu seutuhnya saat ini juga!" gumam Radit yang membuat Sesil membulatkan matanya sempurna.
"Tolo..... uuummmmpphhh," teriak Sesil terhenti saat Radit membungkam mulut Sesil dengan sebuah ciuman.
Sesil terdiam sejenak syok dengan apa yang terjadi tapi seketika langsung sadar saat Radit menggigit bibir bawah Sesil hingga Sesil membuka mulutnya, hingga yang awalnya hanya sebuah ciuman yang biasa menjadi sebuah *******, Sesil mencoba untuk melepaskan ciuman Radit dengan cara memberontak.
Tapi tangan Radit kini menjadi nakal, tangannya mulai mengusap rambut Sesil lembut lalu turun ke pipi hingga ke leher, Radit memegang dagu Sesil lalu memperdalam ciuman mereka yang di sertai dengan l******.
Radit kemudian meleaskan tautan mereka karena kehabisan nafas, Radit nampak mengatur nafasnya yang tidak beraturan begitu pula dengan Sesil yang berusaha mengatur nafasnya dan debaran jantungnya yang berdebar begitu kuat hingga dadanya terasa sakit.
"Kamu cantik sekali sayang!" ucap Radit membelai rambut Sesil tapi dengan cepat Sesil memalingkan wajahnya membuat Radit tersenyum tipis.
"Dasar baj****! lo bener-bener kurang ajar!" bentak Sesil dengan sebuah cairan bening yang sudah menggenang di kantung matanya.
"Dasar lo b***n**, sia*** ,kenapa gue harus kenal dengan cowok seperti lo." maki Sesil menahan air matanya agar tidak mengalir.
"Sayang kamu jangan menagis!" ucap Radit lalu mengelap air mata Sesil dengan penuh kasih sayang, melihat itu Sesil tersenyum bahagia, Radit kemudian beranjak dari tempatnya lalu mengendong Sesil menyandarkannya di dinding lalu duduk di sampingnya.
Radit mengelus pipi Sesil dengan lembut dan entah memgapa ada sebuah rasa yang aneh yang Sesil rasakan saat Radit berada di dekatnya, seperti rasa nyaman. Radit mulai mendekatkan wajahnya lalu kembali mencium Sesil dengan lembut membuat Sesil terbuai dalam ciuman Radit.
Sesil memejamkan matanya menikmati ciuman yang di berikan oleh Radit hingga dia tidak sadar kini Radit udah meninggalkan tanda di lehernya yang saat ini turun hingga di depan dada Sesil, karena merasa sudah tidak ada pergerakan lagi Sesil kemudian membuka matanya. Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Radit hingga membuat Radit tersadar kembali.
Sesil kemudian mendorong kasar tubuh Radit lalu mengambil tasnya dan bernajak pergi, sebelum Sesil pergi Sesil mengatakan seuatu yang membuat Radit menyalahkan dirinya sendiri atas perginya Sesil dari hidupnya.
"Mulai detik ini juga lo bukan siapa-siapa lagi di kehidupan gue, gue ngak akan pernah sudi melihat wajah itu lagi." ucap Sesil dengan air mata yang berlinang entah kenapa.
__ADS_1
"Gue bakalan mengurus tentang drama perceraian ini besok, jadi jangan pernah muncul di hadapan gue lagi," lanjut Sesil membuat Radit terdiam merasa tidak menyangka akan terjadi seperti ini.
Radit menarik rambutnya dengan kasar sambil sesekali memukul-mukul kepalanya dengan keras, Radit memeluk lututnya meratapi dirinya yang begitu bodoh telah mencium Sesil tanpa seizinya bahkan melecehkan Sesil.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" ucap Radit sambil memukul-mukul kepalanya dengan tangannya.
"Kenapa lo begitu bodoh, kenapa? kenapa... kenapa lo ngaluin itu sama orang yang lo sayangi?" batin Radit merasa frustasi.
"Kenapa...! kenapa..! KENAPA!!!" teriak Radit seketika membuat Bunga dan Arga kaget.
***Kamar Arga***
"Apa itu tadi?" tanya Arga menatap Bunga dengan wajah kagetnya.
"Yah itu orang teriak lah," jawab Bunga santai sambil merapikan semua obat dan barang-barangnya.
"Gue tau, tapi siapa!...., arahnya dari sebelah, itu dari kamarnya kak Sesil," ucap Arga seketika panik.
"Apa kak Sesil kenapa-napa ya!" ucap Arga kemudian hendak turun dari ranjang tapi langsung di cegat oleh Bunga.
"Lo mau kemana?" tanya Bunga mengerutkan dahinya.
"Gue mau ke sebelah, mau mengecek apa yang sudah terjadi," sahut Arga menunjuk ke arah pintu.
"Tunggu sebentar gue beresin ini dulu," ucap Bunga tenang.
"Cepetan perasaan gue udah ngak enak nih," ucap Arga mengetuk-ngetuk meja.
"Iya bawel, banyak baget sih bicaranya udah kayak cewek aja," ucap Bunga malas. Arga dan Bunga kemudian langsung menuju kamar Sesil dan Radit.
__ADS_1