Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
36, Saleb Keberkahan


__ADS_3

Radit membawa Sesil menuju kamar mandi lalu memasukkan Sesil dengan perlahan kedalam bathub sedangkan Sesil hanya terdiam menerima semua perlakuan dari Radit mulai dari mengecek suhu air hingga mengambilkan haduk yang tidak di lakukan oleh Radit hanyalah membuka baju milik Sesil.


"Mandilah dengan cepat jika tidak kamu akan masuk angin," ucap Radit menunggu di samping kasur sambil menyiapkan obat salep dan menaruh hoodie miliknya di kasur.


Setelah Radit meninggalkan kamar Sesil langsung keluar dari kamar mandi dengan berlari kecil menuju lemari pakaian tapi saat hendak memakai bajunya tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampakkan Radit yang hendak masuk dengan gelas di tangannya, Sesil langsung dengan cepat membungkus dirinya menggunakan handuk kimononya dengan matanya yang melotot ke arah Radit.


"Maaf aku tidak tau, kalau begitu kamu berganti pakaian dulu aku akan menunggu di depan pintu, kalau sudah selesai ketuk pintunya." Radit kemudian langsung menutup pintu dan berdiri di depan pintu kamar.


"Mengapa sifatnya berbeda hari ini? yah biarin aja dia mau kayak gimana juga bukan urusan gue," batin Sesil kemudian memakai bajunya.


Tok tok tok


Pintu pun terbuka dan menampakkan Radit yang tengah berdiri di depan pintu hingga tatapan mata mereka bertemu, seketika Radit kaget dengan tampilan Sesil yang menurutnya sangat menggoda dengan rambut yang masih lembab dan juga tanpa riasan apa pun di wajahnya.


"Masuklah, kalau lo berlama-lama di depan pintu nanti pasti Bi' Laras akan tanya gue lagi," ucap Sesil mempersilahkan Radit untuk masuk.


"Tadi Bi' Laras sudah bertanya pada ku, minum teh ini supaya ngak masuk angin." Radit menyodorkan gelas yang di pegangnya sedari tadi setelah Sesil menutup pintu.


"Maksih." Kemudian mengambil gelas tersebut.


"Bi' Laras mengatakan apa?" Sesil menatap mata Radit yang lagi-lagi membuat Radit semakin jatuh cinta padanya.


"Bi' Laras hanya bertanya "mengapa aku berdiri di luar dan tidak masuk memberikan teh itu", setelah aku memberikan jawaban setelah itu dia pergi," jawab Radit sambil mengontrol dirinya agar tidak terlihat semakin tertarik.


"Terus lo jawab apaan?"


"Ya, aku jawab kalau "Aku berdiri di pintu karena kamu lagi melakukan sesuatu yang aku tidak boleh lihat untuk saat ini, katanya dia malu", aku hanya berkata seperti itu." Radit menjawabnya dengan jujur tanpa penyesalan.


"Maksudnya itu apa atau bagaimana?" tanya Sesil yang tidak di tanggapi oleh Radit.

__ADS_1


"Kalau begitu kemarilah aku akan mengoleskannya untukmu," panggil Radit dari arah kursi dekat jendela.


"Aku akan mengoleskannya sendiri," ucap Sesil sembari menyeruput tehnya.


"Kamu tidak memakai hoodie yang ku siapkan?" Radit melihat secara seksama baju yang di kenakan oleh Sesil.


"Hoodie yang mana?" tanya Sesil kemudian duduk di kursi yang terletak tidak jauh dari Radit.


"Aku meletakkannya di atas kasur," sahut Radit sambil menunjuk ke arah hoodie nya di letakkan.


"Makasih, tapi gue pakai ini saja," ucap Sesil kemudian meletakkan gelasnya di meja kecil di hadapannya dan beralih mengambil salep yang berada di tangan Radit.


"Bagaimana kamu akan mengoleskannya?" tanya Radit bertanya-tanya.


"Tutup mulut lo dan liat," ucap Sesil kemudian mengarahkan ke arah yang berlawanan dengan arah duduk Radit hingga Radit bisa melihat jelas leher jenjang Sesil.


Setelah beberapa menit kemudian Radit mengambil alih saleb tersebut dan mengoleskannya dengan perlahan dan hati hati, sedangkan Sesil hanya menurut saja setelah lelah mencoba untuk mengoleskannya sendiri, tapi bukannya mengoleskannya di luka malahan mengoleskannya di bagian pundak dan samping lukanya hingga blepotan.


Setelah masakan selesai semua Sesil menuju kamarnya untuk menelfon Radit yang kini masih berada di kantor, entah mengapa Sesil terdorong untuk menelfon Radit.


"Hallo," sapa Sesil saat sambungan telfon sudah terhubung.


"Ya, hallo." Suara Radit terdengar sedikit bahagia tapi juga seperti tengah melakukan sesuatu yang membuat suara di sekitarnya sangat mengganggu.


"Makan siang di rumah, gue sama Bi' Laras udah masak banyak siang ini," ucap Sesil ketus.


"Baiklah akan aku usahakan," sahut Radit, kemudian Sesil langsung mematikan telfonnya.


"Pak ini bagaimana tiba-tiba saja sudah ada sekitar sepuluh orang yang mengajukan pengunduran diri?" tanya Rati, sekertaris Radit.

__ADS_1


Mulai hari ini Radit menggantikan Alfin di perusahaan di karenakan Alfin yang sedang ada urusan di Canada sekitar tiga bulan lamanya, tapi yang membuat Radit sangat resah adalah Alfin sama sekali tidak memberitaunya tentang ke adaan perusahaan yang sedang memgalami sedikit masalah.


Radit melihat ke arah jam tangannya dan di letakkan semua tumpukan kertas yang ada di hadapannya ke pinggir mejanya lalu membereskan semua barang-barangnya, Rati yang melihat pergerakan bosnya hanya melihat dengan penuh tanda tanya, tidak berani untuk bertanya apa pun.


"Rati, kamu bereskan ruangan saya ini, setelah itu kamu kunci dan tidak boleh ada yang masuk kedalam ruangan ini," ucap Radit kemudian beranjak dari tempatnya.


Sedangkan Rati hanya mengangguk dan menuruti semua apa yang di katakan oleh sang bos, Radit berjalan dengan senyuman yang selalu terlukis di wajahnya walau ada beberapa orang yang berbuat tidak sopan kepadanya Radit hanya menanggapinya dengan senyuman hingga sampai ke vila.


"Wahhh, wangi banget masakannya." Arga berjalan ke arah ruang makan dengan sesekali mengendus.


"Arga!" Bi' Laras langsung berlari memeluk Arga hingga tas ransel yang Arga pegang terjatuh.


"Aduh Bi', jangan gitu dong, kan malu di liat sama temen-temen gue,"


"Ada temen-temennya?" tanya Bi' Laras dengan antusias sembari celingak-celinguk ke belakang mencari keberadaan teman-teman Arga.


"Dimana? ngak ada kok Den! Den Arga bohong ya sama Bibi'?" Bi' Laras menatap Arga dengan kecewa.


"Enggak kok Bi' mereka tadi lagi di luar lagi liat-liat sekitar vila gitu, biasalah Bi' mereka baru liat vila." Arga sedikit gugup saat menjelaskan pada Bi' Laras karena Arga takut nanti Bi' Laras tidak akan percaya dengan dirinya lagi.


"Ohhh, gitu."


"Kalau gitu panggil yang lain ini Bibi' sama Non Sesil masak banyak, mubazir kalau ngak di habisin," ucap Bi' Laras kemudian mengambil alih tas ransel milik Arga tapi dengan cepat Arga mengambilnya lagi dengan alasan akan membawanya sendiri.


"Oh, Tuan Radit sudah pulang," ucap Bi' Laras dengan senyuman dan begitu pula dengan Radit tapi tidak dengan Arga.


Arga kemudian berbalik dan langsung menghantam wajah Radit dengan bogemnya, hembusan nafas Arga sudah tidak beraturan karena teringat akan Radit yang meninggalkan Sesil di rumah dan menyebabkan Sesil terluka yang membuat Arga emosi saat Radit ada di hadapannya atau pun hanya mendengar namanya.


#Apakah yang akan terjadi selanjutnya?...

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya yaa, ikutin terus ceritanya supaya tau pasangan Arga dan bagaimana kisah cinta Radit dan Sesil nantinya 😉


__ADS_2