
Sesil kemudian segera bergegas ke parkiran mobil untuk berangkat ke caffee, di saat Perjalanannya menuju parkiran Sesil bertemu dengan Radit yang berjalan kearahnya dengan senyuman yang terlihat jelas terukir indah di wajahnya.Tidak lama kemudian handphone-nya berdering yang ternyata dari Reskiya.
"Hallo Sesil," sapa Reskiya.
"Lo lagi di mana? Lama banget sih nyelesainnya," lanjut Reskiya.
"Hmm hallo, ada apa?" sapa balik Sesil.
"Malah nanya balik lagi," ucap Reskiya kesal.
"Ini mau ke caffee kok," saut Sesil.
"Udah dulu ya gue mau bawa mobil," ucap Sesil yang langsung mematikan teleponnya.
Sementara itu di caffee....
"Dimatiin lagi," gumam Reskiya kesal.
"Yaelahhh, lagi repot gini malah dia ngak ada," timpal Rasya mulai khawatir.
"Untungnya ada mereka bertiga," timpal Reskiya.
"Tapi yang buat gue bingung itu Ben sama Rangga kok ngak barengan sama mereka ya?" tanya Rasya bingung.
"Kalau Ben sih denger denger dia udah pindah ke Paris, buat ngurusin tentang dirinya dan Gabriel," ucap Reskiya, kemudian Reskiya bercerita tentang kelakuan aneh yang di tunjukkan oleh Rangga tadi pagi di kampus.
"Ngeri banget tau ngak sih, masa iya dia itu nyuruh orang buat ngantar surat ke Sesil yang isinya kata 'Maaf' semua dan pas gue berangkat ke cafe tadi dia tuh ngikut dari belakang dan pas gue giring ketempat sepi gue berhenti di pinggir trus gue berhentiin tuh motornya dan gue pun tanya ...," Reskiya menceritakan kejadian tadi hanya dengan dua tarikan napas yang membuat Rasya khawatir dan karena itu Rasya memotong penjelasan Reskiya.
"Nafas dulu baru lanjut," Pinta Rasya.
"Ah gue kira apaan, gue lanjut nih ya?" ucap Rasya kesal.
__ADS_1
"Nah gue terus nanya sama dia 'Ngapain lo ngikutin mobil gue dari belakang?' dan saat dia mau menjawab semua gerak-gerik nya sangat mencurigakan karena selalu melihat ke arah mobil gue, karena dia terus ngeliat ke mobil gue jadinya gue ngak mau peduli lagi jadi gue masuk kedalam mobil eh tapi rupanya dia malah menghadang mobil gue pake dirinya sendiri dan bilang sesuatu yang mebuat gue merasa kalau dia itu emang tulus cinta sama Sesil."
Beberapa jam yang lalu jalan menuju caffee....
"Gue mau nyampein sesuatu buat Sesil jadi tolong berhenti sejenak." Rangga menunduk lesu di depan mobi milik Reskiya.
"Tapi ngak ada Sesil di sini, sebaiknya lo ikut gue ke caffe buat bicara empat mata dengan dia," Saran Reskiya yang melihat Rangga begitu kasihan tapi malah Rangga memberikan jawaban berupa gelengan kepala yang membuat Reskiya tambah tidak mengerti.
"Apaan sih ni anak, bukannya mau nyampaiin sesuatu sama Sesil kok malah ngak mau ketemu sih?, Atau jagan jangan Rangga melekukan keslahan lagi ke Sesil!" batin Reskiya menerka apa yang telah terjadi.
"Gue sama sekali ngak berani buat nunjukin diri ke hadapannya, gue sudah ngak punya muka buat ketemu lagi sama dia...."
"Bukannya tadi pagi lo nunjukin muka lo di depannya Sesil ya!" batin Reskiya.
"Gue bener bener ngak pantas lagi buat berada di sisinya, mau sebagai teman, sahabat apalagi pasangan hidup...," sambung Rangga dengan terus menunduk.
"Gue mau minta tolong sama lo buat nyampein pesan gue ini..."
"Tapi kok kasian yah...," batinnya lagi.
"Lo mau nyampein apa gue bakalan sampein ke Sesil," ucap Reskiya seraya mempersilahkan Rangga masuk kedalam mobilnya.
"Gue ucapin makasih banget karena sudah mau ngebantuin gue," ucap Rangga tersenyum kecut.
"Tolong sampaikan kedia kalau gue bener bener ngak maksut ngelakuin semua itu, gue terpaksa. Gue tai walau lo itu dingin sama gue tapi gue tau lo nganggap gue sebagai teman lo." Rangga tersenyum pahit kemudian melanjutkannya lagi.
"Gue bakalan perlahan ngiklasin lo buat Radit walaupun gue ngak terima karena gue berjuang lebih lama tapi malah dia yang kini berada di sisi lo, gue bener-bener mau liat lo bahagia dengan orang yang lo sayang dan gue akan selalu mendukung apa pun yang lo lakuin dan putuskan." Hati Rangga merasa sangat pedih ingin menyampaikan kata perpisahan pada semuannya terutama Sesil orang yang telah ia cintai bertahun tahun lamanya.
"Setelah ini kalian tidak akan terganggu lagi dengan apa yang gue lakuin, setelah ini kalian tidak akan merasakan kebebasan terutama Farhan, Aldo, dan Raka. Intinya kalian ngak bakalan ketemu gue lagi..."
"Tunggu, tunggu... jangan bilang lo mau bunuh diri?" tebak Reskiya yang kini sudah menghadap ke arah Rangga.
__ADS_1
"Buk...."
"Tsttt tssttt, diam diam. Gini loh Rangga, kalau emang lo merasa bersalah sama kita semua yah lo tinggal minta maaf aja ngak usah pake segala mau bunuh diri ...," Dengan cepat Rangga langsung membungkam mulut Reskiya menggunakan roti yang ia temukqn di dalam mobil.
"Hmmpph,"
"Udah selesai ngomongnya?" Tanya Rangga.
"Gimana mau selesai ngomong kalau di sumpel mulut gue." jawab Reskiya kesal setelah menelan setengah roti tersebut.
"Ngomong-ngomong enak juga nih roti, beli di mana?" tanya Reskiya sambil memakan sisa rotinya.
"Gue nemu di bangku belakang tadi, tuh masih ada dua," jawab Rangga.
"Ohhh," Reskiya menganggukan kepalanya sambil memakan potongan terakhir rotinya.
"Eeehhhh Rangga kamu tau ngak itu roti limited edition yang aku baru beli tadii!!!" lanjut Reskiya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rangga.
Sementara Reskiya tengah meluapkan kekesalannya di dalam mobil, di luar terlihat seorang tentara tengah melewati mobil mereka dan melihat mobil tersebut bergoyang yang membuat tentara tersebut berbalik dan memarkirkan motornya di belakang mobil milik Reskiya.
Karena kaca mobil milik Reskiya yang gelap jadi tentara tersebut berjalan kearah pintu kemudi lalu mengetuk kaca mobil yang membuat Reskiya dan Rangga terkejut kemudian dengan kesalanya Reskiya menurunkan kaca mobilnya masih dengan ekspresi sanggarnya, Reskiya yang melihat tentara itu tepat berada di depannya pun kaget dan langsung bergegas mengubah raut wajahnya sedangkan tentara tersebut merasa bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya di dalam mobil tadi.
"Mohon maaf bisa keluar sebentar," pinta tentara tersebut.
"Yaampun ini tentara putih mulus, tinggi, rambutnya aduhay, hidungnya mancung, matanya indah..., apakah dia jodohku ya Allah??" batin Reskiya ketika melihat wajah tentara tersebut bahkan hingga tidak berkedip sama sekali.
"Boleh saja," sahut Rangga kemudian membuka pintu hendak keluar dari mobil, tapi saat ia melihat Reskiya masih mematung menatap tentara itu dengan santainya ia langsung mengusap wajah Reskiya menggunakan tangannya.
"Apaan sih?" tanya Reskiya kesal.
"Keluar...,"
__ADS_1
"Sabar napa sih, orang lagi cuci mata juga," gumam Reskiya sambil melepaskan sabuk pengamannya lalu keluar mobilnya menuju tempat Rangga dan tentara tersebut.