Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
39, Ketakutan


__ADS_3

"Maaf kan aku karena tidak tau akan hal ini! aku terlalu ceroboh hingga melakukannya, aku benar-benar minta maaf," Radit terus meminta maaf pada Sesil, menyesali apa yang telah ia perbuat.


Sesil hanya terdiam sembari menanam kembali sayuran yang berantakan dengan wajah datar menahan amarah dan tangis di dalam dirinya, tak kuat rasanya bila Sesil hendak berucap, serasa air mata yang di tahan akan jatuh tanpa di minta.


Beberapa menit yang lalu.


Kini Radit tengah berjalan-jalan di belakang villa melihat-lihat tanaman bunga dan sayur yang di tanam dan ada pula pohon yang berbuah, Radit juga sempat mendengar keributan yang di buat oleh Arga dan Bunga di kolam renang, hingga ponselnya pun berdering.


"Hallo Bang," sapa Radit.


"Hallo, lo sekarang ada di mana?" tanya orang di sebrang sana yang ternyata adalah Alfin yang kini tengah berada di dalam mobil.


"Sedang di villa milik Sesil,"


"Sesil udah sadar ya?"


"Iya, sudah sejak pagi tadi dan dia langsung minta pulang karena ngak tahan dengan bau obat," jawab Radit kemudian duduk di sebuah beton.


"Lo ngak ke kantor?"


"Ke kantor tadi pagi, tapi aku pulang siang tadi,"


"Lo ngak balik ke kantor apa!"


"Ngak, gue lagi ada urusan di villa,"


"Bang, aku ngak bisa hendel permasalahan di kantor dan yang bisa menanganinya hanya Abang dan Papah, jadi antara Abang dengan Papah harus ada yang pulang ke indo untuk hendel kantor,"


"Lo harus bisa, karena perusahaan itu suatu saat lo yang akan urus, dan permasalahan sekecil itu apa harus gue sama Papah yang nanganin?" Alfin sedikit emosi saat mendengar ucapan Radit.


"Pokoknya gue ngak mau tau lo harus bisa hendel masalah itu, kali ini masa depan kantor ada di tangan lo,"


"Gue di sini masih satu minggu lagi jadi lo harus selesain masalah itu sebelum gue pulang," Seketika Alfin langsung mematikan telfon.


"Aku ngak mungkin bisa dalam waktu seminggu nyelesain semuannya,"

__ADS_1


"Hallo, hallo Abang!"


"Argggggh," erangan Radit frustasi kemudian bangkit dan menendang segala sesuatu yang ada di hadapannya termasuk sayuran yang tertanam rapi.


"Apa yang sedang lo lakuin?" tanya Sesil yang berdiri di belakang Radit dengan membawa keranjang kecil untuk tempat sayur.


"Sesil!, aku...," Radit melihat ke selilingnya dan baru menyadari semuanya berantakan.


"Gue ngak mau denger penjelasan apapun." Sesil kemudian berjalan menuju Radit lalu duduk sambil memungut sayur-sayur yang sudah berantakan.


Radit kemudian duduk di dekat Sesil dengan terus mengatakan kata "Maaf" secara berulang hingga Sesil memasak dan beristirahat di kamar Radit tidak pernah putus untuk meminta maaf pada Sesil.


Setelah selesai makan dan membereskan piring Sesil kemudian langsung menuju kamar yang di ikuti oleh Radit dengan secangkir kopi hitam di tangannya, setibanya di kamar Sesil mengelap sebuah vas bunga yang terbuat dari kaca yang akan di gunakan untuk wadah bunga di ruang tamu sedangkan Radit kini tengah berkutik dengan laptopnya mengerjakan semua pekerjaan yang harus dia tunda tadi siang.


"Aaahhhhhh."


Praaannnk


Seketika Radit langsung berdiri menghampiri Sesil yang kini sudah naik di atas kursi dengan ketakutan, Radit perlahan berjalan menuju Sesil dengan hati-hati melewati serpihan kaca yang berserakan di lantai.


"Itu.... Itu ada kecoa tadi di vas bunga itu," sahut Sesil sembari menunjuk ke arah serpihan kaca yang berserakan.


"Kamu takut sama kecoa!" Dengan tidak menyangka kalau ternyata Sesil takut dengan seekor kecoa.


"Gue bukan takut ya! Tapi gue geli sama kecoa," sangkal Sesil semakin menjauh dari tepian kursi.


"Yaudah terserah kamu aja, sebaiknya kamu di kursi itu aja, biar aku yang membersihkan ini semua," ucap Radit kemudian berdiri mencari sapu dan juga tempat sampah.


"Aduhhhh, lama banget sih Radit keluarnya, mana gue udah kebelet lagi," keluh Sesil yang sudah gelisah.


"Kecoa nya udah ngak ada kan?"


"Gue turun pelan-pelan aja deh!" Dengan perlahan Sesil menurunkan sebelah kakinya hati-hati takut tiba-tiba ada kecoa yang keluar lalu berjalan perlahan melewati serpihan-serpihan kaca.


"Akh!" pekik Sesil saat kakinya mengenai pecahan kaca.

__ADS_1


"Awww, sakit banget, aduh mana banyak darahnya lagi." pekik Sesil saat mencoba menyentuh pecahan kaca yang menancap di kakinya.


"Haaaakkhhh, da-da-darah!" Kemudian Sesil langsung membenamkan wajahnya di atas kasur dengan ketakutan.


"Yaampun, udah aku bilang kamu di kursi aja kenapa malah melawan sih!" omel Radit yang baru saja masuk dan melihat Sesil yang membenamkan wajahnya di atas seprai dengan kaki yang berdarah kemudian langsung berlari mencari kotak P3K di laci obat.


"Kenapa bisa kena sedalam ini, kamu kenapa keras kepala banget sih," omel Radit sambil mengeluarkan obat yang di perlukan.


"Tenang aja aku akan obati kaki kamu, ini akan sedikit sakit jadi tahan ya,"


"D-Darah! Gue ngak mau liat darah," ucap Sesil gemeteran.


"Kamu takut sama darah?" tanya Radit khatir dan Sesil hanya menganggukkan kepalannya.


"Aku baru ingat kalau Sesil pernah melihat tubuh kedua orang tuanya yang berlumuran darah," batin Radit kemudian mengambil pergelangan tangan Sesil lalu mengangkat wajah Sesil, nampak dengan jelas raut wajah ketakutan di wajah Sesil.


"Udah! Sekarang kamu ngak usah hawatir lagi, sekarang udah ada aku yang akan selalu menjaga kamu," ucap Radit berusaha untuk menenangkan Sesil.


Perlahan Sesil membuka matanya hingga kedua mata mereka bertemu, tubuh Sesil bergetar dan lemas tak bertenaga.


"Gue takut...." lirih Sesil dengan tatapan sendunya.


Seketika cairan bening keluar dari pelupuk mata Sesil membasahi pipi putih dengan sedikit warna pinknya, dengan segera Radit mengelap setiap tetesan air mata Sesil yang keluar menggunakan tangannya lalu membawa Sesil kedalam pelukannya.


"Tenang ya! Aku ada di sini jadi kamu ngak akan kenapa-napa, tenang jadi jangan menangis lagi," ucap Radit mencoba menenangkan Sesil.


"Kamu ngak perlu takut oke!" Radit mengelus dengan lembut rambut Sesil.


"Kalau begitu aku akan mengeluarkan serpihan kaca itu dari kaki kamu." Radit kemudian mengambil pinset dari kotak P3K dengan satu tangannya dan yang satunya memeluk Sesil.


"Jika sangat menyakitkan kamu boleh mengigit atau mencakar pundakku," ucap Radit kemudian bersiap mengeluarkan serpihan kaca tersebut.


Baru saja Radit hendak menarik serpihan kaca tersebut Sesil sudah memeluk leher Radit dengan erat, bahkan bahu Radit di remas dengan kuat oleh Sesil karena merasakan sakit saat Radit menarik serpihan kaca dari kakinya.


"Aaaawwwhhhh, sakitttt," teriak Sesil, seketika membuat Arga yang letak kamarnya bersebelahan langsung menempelkan telinganya di dinding.

__ADS_1


__ADS_2