
Radit memegang pipinya yang baru saja mendapat sambutan selamat datang yang berbeda dari yang lain, Bi' Laras yang melihat itu langsung menarik lengan Arga, Bi'Laras menatap lekat wajah Arga tidak menyangka seorang anak muda yang di sayangnya ternyata sangat kasar pada kakak iparnya sendiri.
"Kamu kenpa gitu sama Kakak Ipar kamu?" tanya Bi' Laras.
"Bi', Arga tanya sama Bibi'! apa kita harus bersikap baik dengan orang yang sudah membuat Kak Sesil celaka?" tanya Arga sambil menunjuk ke arah Radit dengan kasar.
"Apa maksudnya? apa yang sudah di perbuat?" tanya Bi'Laras bingung.
"Radit ninggalin aku di rumah dan ada yang sengaja membakar rumah yang membuat aku masuk rumah sakit," ucap Sesil berjalan menuju Radit.
"Udah sekarang lebih baik kita makan, Arga panggil temen-temen lo masuk, kita makan bareng." Sesil kemudian mengambil tas Radit yang jatuh lalu menyuruh Radit untuk berganti pakaian dan lekas kemeja makan.
Suasana di meja makan seketika menjadi tegang saat Radit duduk di meja makan, Arga selalu menatap sinis Radit tapi itu tidak membuat Radit merasa gelisah namun yang gelisah adalah Sesil yang duduk di antara mereka berdua untung saja Arga tidak berulah.
Setelah selesai makan Arga dan teman-temannya berjalan-jalan di sekitar vila sekedar jalan-jalan menggunakan moge milik mereka sendiri, sementara itu kini Radit tengah mendapat sentuhan manis dari Sesil di dalam kamar tapi tidak lama kemudian meringis kesakitan di saat jari Sesil menyentuh pipinya.
"Kalau lo terus meringis kayak gini sebaiknya lo kompres sendiri aja, gue mau keluar mau cari Bunga." Sesil meletakkan handuk kompres kedalam mangkok air dengan kesal.
"Maaf-maaf," sahut Radit.
"Yaudah, kompres aja sendiri gue mau ke belakang," ucap Sesil kemudian beranjak dari tempatnya.
"Tunggu dulu Se-sil." Radit menghentikan ucapannya karena badan Sesil sudah tidak berada dalam pendangannya lagi.
"Nona Sesil, Bibi' mau tanya tentang yang tadi itu gimana kejadian sebenarnya sih?" tanya Bi' Laras sembari berlari kecil ke arah Sesil.
"Aduh Bi'! udah berapakali sih Sesil bilang sama Bibi' kalau sekarang itu panggil aja Sesil, panggil nama aja ngak usah pake "Nona" ,Bibi' kalau di bilangin susah," ucap Sesil sedikit ngambek.
"Iya, maafin Bibi', kalau gitu mulai sekarang Bibi' panggil Nak Sesil boleh kan?" sahut Bi' Laras.
"Boleh."
"Bunga, sini dulu sayang," panggil Bi' Laras saat melihat Bunga yang berjalan menuju kolam renang.
__ADS_1
Bunga yang mendengar namanya di panggil oleh sang ibu kemudian langsung bergegas menuju ke arah Sesil dan Bi'Laras dengan sedikit berlari kecil.
"Ada apa Bu'?" tanya Bunga saat sudah berada di hadapan Bi' Laras Dan Sesil.
"Kamu mau kemana?" tanya balik Bi' Laras.
"Ya, aku mau ke kolam renang lah Bu' masa iya ke sekolah pake baju kayak gini!" sahut Bunga yang membuat Bi' Laras nyengir kuda.
"Oh iya, kenalin ini Nak Sesil yang punya vila ini," ucap Bi' Laras memperkenalkan Sesil pada Bunga.
"Hay, Sesil." Sesil menjulurkan tangannya tapi malah mendapat tatapan aneh dari Bunga yang membuat Sesil merasa tidak enak kemudian menarik kembali tamgannya, tapi dengan tiba-tiba Bungan menarik tangan Sesil lalu langsung memeluknya dengan erat.
"Ini kak Sesil yang cantik itu kan?" tanya Bunga antusias dengan masih memeluk erat tubuh Sesil.
"Tunggu, kamu anak kecil yang bandel itu ya?" tanya balik Sesil kemudian mendorong sedikit tubuh Bunga agar Sesil dapat melihat jelas wajah Bunga.
"Iya, aku anak kecil yang dulu suka ngak bisa di kasih tau itu," sahut Bunga bangga dengan dirinya sendiri yang bandel.
"Aku udah kelas 3 SMA kak," jawab Bunga dengan semangat.
"Oh iya, adik Kakak yang cengeng itu di mana? dia ikut ke sini atau engak?" tanya Bunga.
"Ohh, dia datang kok, kalau kamu ketemu sama dia pasti kamu langsung pangling deh," ucap Sesil menebak apa yang akan terjadi.
"Ehem, kalau gitu Bibi' pergi ke dapur dulu mau buat kue untuk cemilan nanti." Dengan senyumannya Bi' Laras meninggalakan mereka berdua.
"Kak Swsil ikut aku berenang yuk," ajak Bunga.
"Aku ngak bisa berenang," ucap Sesil.
"Jadi kakak yang jatuh kedalam kolan tadi pagi?" Tanya Bunga penasaran.
"Iya,"
__ADS_1
"Jadi cowok yang nelamatin Kakak itu suami Kakak?"
"Iya."
"Omg!!, kalau begitu aku akan pergi berenang dulu dada," Bunga perlahan menjauh dari tempatnya berdiri meninggalkan Sesil.
Di luar vila, Arga dan kawan-kawannya sedang bercerita ria di bawah pohon yang rindang dengan beralaskan tikar dan juga di hadapan mereka ada beberapa minuman dan makanan yang sudah tinggal setengah.
"Arga, di sekitar sini ada tempat ngejim apa ngak? kayaknya enak nih sore-sore gini olahraga," tanya pria berbaju hitam yang bernama Rolan.
"Idih, enakan luluran," sahut Wanita berbaju merah delima sewot.
"Sewot amat lo," sahut pria berbaju hitam itu.
"Oh, ada kok, lo tinggal jalan sampe simpangan sebelum belok ke vila aja," jawab Arga masih asik dengan ponselnya.
"Simpangan ..., lo gila ya Arga? tu simpangan jauh bener lo suruh gue jalan kaki?" sahut Rolan dengan ekspresi kagetnya.
"Bukannya di simpangan sana hanya ada hutan ya?" tanya seorang wanita berbaju biru dengan rambut yang di kepang samping.
"Eh, iya bener banget lo, disana hanya ada hutan sama kalau ngak salah ada kuburannya juga," timpal pria berbaju biru nafi dengan cerita yang di lebih-lebihkannya.
"Parah lo ya Ar, lo gila mau buat gue nyasar di sini! kalau Bokab sama Nyokab gue tau gimana? mereka ngak punya anak lagi dong terus gue ngak punya Bokab sama Nyokab lagi dong!!" ucap Rolan sembari menjambak rambutnya khawatir dengan raut wajahnya yang ingin sekali teman-temannya tertawakan karena sangat jelek dan aneh.
"Yaelah, lo manja banget sih Rolan, Lo itu palingan cuma ilang sementara bukan ilang untuk selamanya kali," sewot seorang wanita yang nampak berpakaian tomboy.
"Eh, Nadia malah ngatain gue mati, sini lo biar gue yang buat lo mati," ucap Rolan kemudian beranjak dari duduknya dan langsung mengejar Nadia, karena merasa terancam Nadia kemudian langsung berlari menjauh dari kejaran Rolan.
Hingga akhirnya Rolan beserta para pria pergi menuju jim dan Nadia beserta para wanita kekamar mereka masing-masing untuk memulai ritual luluran mereka sedangkan Arga bergegas masuk kedalam vila menuju kolam renang, setibanya di sana Arga meregangkan badannya.
"Kalau sepi begini enakan loncat nih kayaknya, jadi nostalgia dong," ucap Arga sembari melihat keseliling.
Arga kemudian bersiap untuk melompat, dengan mengambil ancang-ancang dari jauh dengan sekuat tenaganya Arga berlari hingga berapa senti bibir kolam lalu langsung melompat di saat sudah hampir jatuh ke dalam air tiba-tiba ada sesuatu yang tidak terduga muncul tepat di tempat Arga akan mendarat, dengan panik Arga langsung memperingatkan agar menyingkir tapi sayang nasi sudah menjadi bubur.
__ADS_1