
Pagi hari..
Terasa berat bagian perut dan kaki Sesil seperti ada benda besar yang menindisnya, dengan gelisah Sesil membuka matanya mencoba menyesuaikan dengan cahaya lampu, di saat Sesil melirik ke arah samping dan di dapatinya Radit yang tengah memeluk dirinya, seketika Sesil terdiam sejenak mencoba mencerna apa yang terjadi.
Matanya berkedip pelan lalu tidak lama kemudian ada sebuah pergerakan dari Radit yang membuat Sesil hampir saja kembali menendang perut Radit, tapi untungnya Radit langsung menahan kaki Sesil menggunakan kakinya dan dengan cepat menindih tubuh Sesil.
"Jangan bergerak lagi atau kita akan melakukan olahraga pagi ini," ucap Radit dengan tatapan sayunya lalu kembali ke posisi sebelumnya.
"Aku mohon, biarkan seperti ini untuk kali ini saja..., aku ingin memelukmu seperti ini," pinta Radit sambil menaruh kepalanya di bahu Sesil.
"Kenapa gue nurut aja ya?" batin Sesil bertanya pada dirinya sendiri merasa heran.
Sesil terdiam membeku, entah kenapa tubuhnya enggan untuk menolak pelukan Radit, di saat Sesil hampir terlelap kembali tiba-tiba ponselnya berdering, Sesil dengan bersusah payah memgambil ponselnya yang terus berdering di atas meja, karena jaraknya lumayan jauh di tambah Radit yang memeluk erat pinggangnya.
"Hallo, ada apa Josua?" sapa Sesil saat sudah berhasil menjawab telfon Josua.
"Gawat.... Arga datang ke rumah Papah!" ucap Josua panik.
"Apa masalahnya?" tanya Sesil tidak memgerti.
"Masalahnya adalah.... Rangga ada di rumah Papah dan sekarang dia sedang terluka!" sahut Josua makin terlihat panik.
"Cepat cegat Arga jika kalian tidak ingin ada yang mati di rumah," ucap Sesil dingin.
"Tapi!...., Dia pasti tidak akan mendengarkan ucapan gue," sahut Josua.
"Gue mohon sama lo, kali ini saja bantu gue buat nyalamatin nyawa Rangga," ucap Josua memelas.
"Kenapa gue harus menolong dia?" tanya Sesil dingin.
"Karena dia tau tentang kematian kedua orang tua lo," sahut Josua serius.
__ADS_1
"Gue kesana sekarang." Sesil kemudian langsung mematikan telfon sepihak.
Sesil dengan perlahan mengangkat tangan Radit tapi dengan cepat Radit kembali memeluknya, Radit menatap Sesil dengan mata sayunya mencoba untuk bertanya tapi dengan cepat Sesil langsung mengerti dengan arti tatapan itu.
"Gue mau ke rumah Paman, jadi lepasin." Sesil mengangkat tangan Radit dan Radit hanya menurut saja.
"Aku ikut," ucap Radit lalu bagun dari tidurnya.
"Kaki kamu belum sembuh total jadi aku akan gendong kamu ke sana," lanjut Radit.
"Ngak usah gue bisa sendiri," sahut Sesil lalu memakai sweeternya kemudian bergegas menuju kamarnya untuk memgambil kunci mobil.
Setibanya di garasi Sesil sudah melihat Radit yang sudah bersandar di mobil, saat Radit melihat keberadaan Sesil dengan segera Radit langsung mengambil alih kunci mobil dan bergegas masuk kedalam mobil.
Tanpa basa basi Radit langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Bram, setibanya di sana mereka melihat Arga yang sedang di hadang oleh Josua yang nampak sudah mulai kewalahan, dengan segera Sesil bergegas memghampiri mereka berdua dan langsung menarik tangan Arga.
Dengan refleks Arga mengayunkan tangannya kasar hingga Sesil terhempas dan hampir saja terjatuh yang langsung di tahan oleh Radit, Radit yang terpancing emosi dengan segera hendak memukul Arga tapi di tahan oleh Sesil dan Radit pun hanya menurut saja.
"Lo ngapain di sini?" tanya Sesil.
"Lo mau ngebunuh orang yang bahkan dia juga sama seperti lo?" tanya Sesil yang membuat Arga tidak paham dengan apa yang di katakan oleh sang kakak.
"Ternyata lo se cemen ini, bahkan mau balas dendam dengan orang yang bahkan tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya!" lanjut Sesil memandang rendah Arga.
"Gue ngak ngerti maksud lo," sahut Arga.
"Kan gue udah jelasin dari tadi, klau Rangga itu sebenarnya bukan anak kandung keluarga Wijaya dan dia juga sama seperti lo, bahkan dia lebih parah lagi." Josua berusaha untuk menjelaskan kembali ke pada Arga.
"Gue ngak perduli kalau dia bukan keluarga Wijaya, yang gue tau dia sudah mengganggu keluarga gue dan Kakak...," sahut Arga kesal.
"Aahhh... atau kakak punya perasaan sama si breng**k itu," ucap Arga menatap curiga pada Sesil dengan tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Gue ngak mungkin punya rasa sama dia...., karena... karena gue.."
"Karena Sesil sudah ada aku yang berada di sisinya," ucap Radit memotong ucapan Sesil.
"Arga!" panggil Rangga dari pintu.
Rangga berpegangan pada daun pintu agar tidak jatuh, Arga menoleh ke arah Rangga dengan spontan langsung merasa kesal saat melihat wajah Rangga dari kejauhan, Arga berari ke arah Rangga saat tiba di hadapan Rangga Arga langsung memberikan bogem mentah di pipi Rangga hingga Rangga terjatuh ke lantai.
Melihat itu Radit dan Josua langsung berlari ke arah Rangga, Radit menahan Arga agar tidak memukul Rangga kembali sedangkan Josua membantu Rangga berdiri, Arga nampak kesal di tahan oleh Radit tapi tidak lama setelah Radit membisikkan seauatu Arga langsung nampak sedikit tenang lalu pergi dari sana menaiki mogenya meninggalkan kediaman Bram.
"Lo ngak papa kan?" tanya Josua khawatir.
"Gue ngak papa," sahut Rangga kemudian berdiri sambil di bantu oleh Radit dan Josua.
"Kenapa lo keluar?" tanya Sesil dingin.
"Sesil!" Rangga terkaget melihat Sesil berada tepat di hadapannya.
"Ini pertama kalinya lagi, aku bisa lihat kamu sedekat ini dan bisa berbicara dengan dirimu," batin Rangga merasa sangat bahagia.
Melihat tatapan Rangga ke arah Sesil membuat Radit sedikit risih, karena tidak nyaman melihat pemandangan itu Radit secara tiba-tiba menggendong Sesil membuat tatapan mereka berdua bertemu, melihat itu hati Rangga merasa terasa sakit.
"Harusnya lo sadar, Sesil itu udah nikah dan dia sekarang sudah bahagia mendapatkan suami seperti Radit yang sangat sayang dengan dirinya...., harusnya lo bahagia melihat sahabat lo bahagia." Rangga membatin dengan tersenyum kecut melihat Radit yang menggendong mesra Sesil.
"Gue akan bawa Sesil kedalam untuk memeriksa luka di kakinya karena tadi dia memaksakan untuk berjalan sendiri," ucap Radit yang membuyarkan lamunan Rangga.
"Lo juga harus periksa luka lo, supaya lo cepat sembuh," lanjut Radit yang di angguki oleh Rangga.
"Tapi gue sudah bisa jalan dan lukanya sudah mulai membaik jadi lo bisa turunin gue," ucap Sesil merasa malu di lihat oleh Josua dan Rangga.
"Mulai membaik bukan sudah sembuh, jadi ada kemungkinan lukanya terbuka, luka kamu ngak kecil loh," sahut Radit kemudian langsung membawa masuk Sesil kedalam kamar.
__ADS_1
"Ngak bisa di kendaliin apa! harus menyiksa para jomblo," ucap Josua kesal.
"Lo jomblo juga kan?" tanya Josua melihat ke arah Rangga dan di tanggapi dengan anggukan paksa oleh Rangga.