Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
42. Pantai.


__ADS_3

Hembusan angin lembut menerpa tubuh Sesil dan Radit yang kini tengah berada di tepi pantai, dengan ke adaan pantai yang sepi membuat suasana se olah seperti pantai pribadi saja.


"Indah bukan?" tanya Sesil masih menatap lurus ke arah air ombak yang menerpa sebuah batang kayu.


"Hemm, indah sekali."


"Sangat cantik, seperti dirimu!" lanjut Radit menatap lembut wajah Sesil.


"Tidak usah bercanda, gue tau lo hanya mau menggombal saja," sahut Sesil tersenyum kecut.


"Setidaknya aku menggobal tulus dari hati."


"Temani gue main air," pinta Sesil mengalihkan pembicaraan lalu berjalan dengan kursi rodanya.


"Kamu tidak bisa turun dengan ini." Tanpa basa-basi Radit menggendong tubuh Sesil dan membawanya ke bibir pantai.


"Aku dengar kalau air laut dapat menyembuhkan luka," ucap Sesil.


"Kalau begitu turunin gue!"


"Tapi itu pasti akan sangat perihh." Radit merasa khawatir dan enggan untuk menurunkan Sesil ke air.


"Tidak akan terjadi apa-apa, gue bukan perempuan yang lemah."


"Benar juga kata Sesil, dia bukan perempuan yang lemah," batin Radit, lalu perlahan menurunkan Sesil.


Saat kakinya menyentuh air dengan cepat Sesil langsung berdiri dengan satu kaki, Radit yang melihat itu merasa bingung lalu menatap wajah Sesil yang menunjukkan ekspresi kesakitan.


"Sudah aku bilang itu akan perih, kanapa kamu keras kepala!" Radit langsung mencoba menggendong Sesil kembali tapi dengan cepat Sesil menolak.


"Gue ngak papa."


"Lepasin perban di kaki gue aja," lanjut Sesil menunjuk ke arah kakinya yang di perban.


"Mau di lepas?" tanya Radit bingung.

__ADS_1


"Bagaimana airnya bisa mengenai secara langsung dengan luka kalau di perban."


"Tapi nanti luka kamu kotor," seru Radit khawatir.


"Buka aja," ucap Sesil lalu memegang bahu Radit agar tidak terjatuh.


Radit perlahan merunduk lalu menempatkan kaki Sesil di pahanya kemudian melepaskan lilitan perban di kaki Sesil dengan hati-hati, setelah selesai membuka perbannya Radit menurunkan perlahan Kaki Sesil dengan kedua tangannya menutupi luka Sesil hingga sampai di pasir.


"Terimakasih."


"Aku antar kamu ke batang pohon di sana, agar kamu tidak perlu berendam di dalam air," tawar Radit, ternyata mendapat respon baik dari Sesil.


"Duduklah di sini, kamu bisa merendam kaki kamu di sini, aku akan ke mobil mengambil beberapa cemilan dan minuman." Radit kemudian mengelus kepala Sesil lembut lalu pergi meninggalkan Sesil sendirian.


"Kenapa sekarang gue merasa takut?"


"Kenapa kalau ada Radit di samping gue, perasaan gue jadi tenang dan terasa hangat... apa jangan-jangan gue punya perasan sama dia?" gumam Sesil memainkan kainya di air sembari manahan perihnya luka terkena air asin.


"Ah, ngak mungkin gue suka sama dia, tapi kontrak ini masih begitu lama akan berakhir! gue yakin semua perasaan itu hanya rasa berteimasih aja," lanjut Sesil yang menepis semua pikirannya.


"Kalau gue ngak salah dengar tadi dia bilang kalau ini semua ada sangkutannya dengan meninggalnya mamah dan papah!!" gumam Sesil yang benar-benar tidak menduga Rangga yeng telah melakukan itu semua.


"Kalau gue ngak salah dengar tadi dia bilang kalau ini semua ada sangkutannya dengan meninggalnya mamah dan papah!!" tebak Sesil.


"Gue harus selidiki ini semua!" ucap Sesil serius.


Drrrrrttttt Drrrrtttt


"Hallo," sapa Sesil saat mengangkat telfon.


"........"


"Apaaaa!!!!," teriak Sesil kaget.


"Gue akan segera ke sana!" sahut Sesil tergesa-gesa kemudian memutuskan sambungan telfon.

__ADS_1


Sesil kemudian langsung lompat dari duduknya dan seketika langsung masuk ke dalam air membuat Sesil panik karena tidak bisa berenang, Sesil berteriak sekencang yang dia bisa untung saja Radit sudah datang, saat melihat Sesil yang sudah glagapan di dalam air seketika menjatuhkan semua barang yang ia bawa dan segera berlari untuk menolong Sesil.


"Sayang bagun sayang," ucap Radit khawatir sambil memukul-muku pelan pipi Sesil.


"Uhuk uhuk.... ummmhh Radit."


"Radit kita harus segera ke rumah sakit sekarang juga, gue mohon sama lo," ucap Sesil memohon pada Radit dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


"Aku mohoon cepatlahh." Air mata Sesil mulai mengalir dengan deras.


"Baik, Baik ayo kita pergi sekarang," sahut Radit, lalu menggendong tubuh Sesil, dengan cepat Radit memasukkan Sesil kedalam mobil dan menyelimutinya dengan jasnya.


Mobil Radit melaju dengan kencang menuju rumah sakit yang di maksud dengan Sesil hingga mereka tiba tanpa basa-basi Sesil langsung keluar dari mobil, Sesil berjalan tanpa memperdulikan penampilannya dan juga kakinya yang mengeluarkan banyak darah.


Saat Radit melihat itu dengan cepat Radit mengejar Sesil dan langsung menggendongnya tanpa memperdjlikan pukulan dan ocehan dari Sesil yang meminta untuk di turunkan, hingga Radit melihat Rika yang sedang mondar mandir terlihat sangat panik di dekat resepsionis.


"Sebenarnya ada apa? siapa yang sakit hingga membuat Sesil sepanik ini? " batin Radit bingung dengan apa yang terjadi.


Dengan cepat Radit menghampiri Rika, Rika yang melihat Radit dan Sesil langsung dengan segera menarik Radit agar mengikutinya ke suatu tempat dengan panik, Radit yang melihat raut wajah Sesil yang sama persis dengan Rika mempercepat langkahnya mengikuti langkah Rika yang sudah mulai berlari dan tanpa sengaja tertangkap oleh mata Radit saat Rika menyeka air matanya dengan kasar.


"Ada apa ini? sungguh aku tidak mengerti, ini pertama kalinya aku melihat Sesil sepanik ini dan juga kak Rika yang bahkan sampai menagis," batin Radit terus penuh dengan tanda tannya.


"Masuklah," seru Rika dengan mata yang sudah memerah dan pipi yang sembab.


Radit pun hanya menurut dan tidak mengatakan apapun di tambah lagi Sesil yang sudah memegang pintu dengan tatapan sendu, Radit kemudian membuka pintu dan seketika terlihat ruangan yang sudah hampir penuh dengan orang di dalamnya.


"Turunin gue," pinta Sesil, dengan perlahan Radit menurunkan Sesil di dekan banker.


"Ini... ini Arga kenapa bisa begini?" tanya Sesil nampak gemetar karena kedinginan, Radit yang melihat itu sepontan langsung menelfon seseorang.


"Arga di kroyok oleh musuhnya dan pinggangnya di tikam dengan senjata tajam," jelas Farhan.


"Tenang saja Arga pasti akan baik-baik saja." Radit kemudian memeluk Sesil agar Sesil merasa lebih tenang.


"D-Dar..." Radit langsung menutup mata Sesil saat matanya melihat ke arah kapas bekas mengelap darah Arga.

__ADS_1


Bram yang menyadari itu langsung bergegas menyuruh Aldo dan Farhan untuk keluar serta membawa nampan itu keluar, Aldo dan Farhan bingung dengan apa yang terjadi, mengapa mereka di kasih keluar padahal mereka tidak melakukan kesalahan apapun.


__ADS_2