Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
44. Mulai terungkapnya kejahatan Rangga.


__ADS_3

Pagi telah tiba, cahaya matahari masuk dari sela-sela jendela kaca yang tidak tertutup oleh ghorden menyinari wajah Radit, Radit membuka matanya perlahan melihat seisi ruangan, Radit melihat Sesil yang masih tertidur, Radit memggelengkan kepalanya dengan seutas senyuman lalu memghampiri Sesil, Radit duduk di samping Sesil sambil menatap lembut wajah Sesil kemudian mencium sekilas kening Sesil.


"Balasan untuk yang kemarin, terimakasih karena sudah mau membuka hati untukku." Radit tersenyum manis lalu bergegas mencuci wajahnya.


Setelah mencuci wajahnya Radit membangunkan Sesil agar segera menuju rumah sakit untuk menjenguk Arga sekaligus mengobati kaki Sesil.


"Sayang, bagun sayang!" Radit menepuk pelan pipi Sesil.


"Uuummmmmhhhhh, dikit lagi aku masih ngantuk tau yang!" ucap Sesil tanpa sadar yang membuat Radit serasa medapatkan hadiah yang begitu besar.


"Iya sayang, tapi kamu udah tidur terlalu lama."


"Tadi aku tanya sama Aldo kalau Arga sudah siuman dan sudah menceritakan semua yang terjadi," ucap Radit, seketika dengan tiba-tiba Sesil langsung terbangun dari tidurnya hingga kepala mereka berdua tertanduk.


"Aw aw awwwhh sakit," rintih Sesil memegang jidatnya.


"Diaman yang sakit sayang, sini aku tiup," ucap Radit yang lansung meniup jidat Sesil.


Sesil merasa sangat nyaman hingga tanpa sadar menutup matanya menikmati setiap tiupan dari Radit, saat melihat Sesil yang menutup mata, Radit langsung mengambil kesempatan mencium jidat Sesil yang memerah, dengan sepontan Sesil langsung membuka matanya melotot ke arah Radit.


"Ada apa sayang, kamu terkejut?" tanya Radit mencubit gemas pipi Sesil.


"Ngak ada papa, minggir gue mau cuci muka," ucap Sesil dengan tersipu malu.


"Cepet banget perubahan sikapnya? tadi manggil sayang, sekarang jadi lo, gue lagi!"


Setelah selesai mencuci muka Sesil dan Radit langsung mencari makanan dan bergegas ke rumah sakit, setibanya di rumah sakit mereka berpapasan dengan Rasya dan Raka yang hendak masuk kedalam rumah sakit.


"Sesil! lo kenapa di gendong?" tanya Rasya yang langsung menatap tajam Radit.


"Hebat juga kerjaan lo ya Radit," sahut Raka yang menepuk pundak Radit.


"Ngomong apaan sih lo?" tanya Radit bingung dengan apa yang di bicarakan dengan sang sahabat.


"Gue ngerti lo ngak mau bilang sama kita, itu adalah privasi lo," sahut Raka yang langsung mendapat tatapan tajam dari Radit dan Sesil.


"Apa!!" tanya Raka tanpa rasa bersalah.


"Jawab dulu ini Sesil kenapa?" tanya Rasya khawatir.

__ADS_1


"Kakinya terkena pecahan vas bunga, dia ngak bisa jalan jadi gue harus gendong." Radit menjawab dengan santai dan jangan lupa tatapan tajam yang masih mengarah pada Raka.


"Kalian udah baikan?" tanya Sesil.


"Iya, semuannya udah selesai dan beberapa hari lagi kita bakalan nikah," jawab Rasya dengan senyum bahagiannya.


"Oh iya, ini undangan buat kalian." Rasya menyerahkan sebuah undangan kepada Sesil.


"Kalian harus datang ya!" ucap Raka menepuk pundak Radit.


"Tapi kalian ngak boleh datang dengan modelan seperti ini," ucap Rasya dengan tangannya yang naik turun di hadapan Sesil dan Radit.


"Kenapa?" tanya Sesil, Radit dan Raka bersamaan.


"Iya masa Sesil, lo datang dengan di gendong kayak gini, kan nanti semua perhatinnya jatuh ke kalian semua," jelas Rasya membuat Raka tersenyum gemas.


"Tenang aja nanti gue bakalan pake kursi roda," sahut Sesil tersenyum manis.


"Iiiiihh, Sesil udah kembali seperti dulu." Rasya mencubit pipi Sesil gemas.


"Tapi ngomong-ngomong, lo ngak capek apa gendong Sesil kek gitu?" tanya Rasya.


"Ngak lah, gue bakalan lakuin apapun buat Sesil," Sahut Radit, karena malu Sesil membenamkan wajahnya di dada Radit.


**Villa**


"Jadi kenapa lo langsung minta pulang Argaa!!" omel Bi' Laras di kamar Arga.


"Arga ngak tenang tidur di sana, banyak yang berusaha celakain Arga," jawab Arga menjelaskan pada Bi'Laras.


"Apa bener lo ngak salah liat Arga?" tanya Sesil.


"Bener, saat mereka pergi gue sempet dengar salah satu dari mereka manggil pria breng*ek itu dengan sebutan bos," sahut Arga kesal mengingat kembali nama pria yang telah mencelakainya.


"Sepertinya dia harus di beri pelajaran!" ucap Radit geram kemudian hendak meninggalkan kamar Arga dengan amarah tapi dengan cepat Sesil menahan lengan Radit.


"Jangan! percumah lo ngejar dia sekarang karena pasti dia sudah pergi meninggalkan negara ini," ucap Sesil dengan wajah yang menunduk.


"Apa maksud kamu sayang?" tanya Radit.

__ADS_1


"Sebelum dia mencelakai Arga dia sempat menghampiriku dan mengatakan semuanya!" ucap Sesil yang membuat semua orang tercengang.


"Kenapa kakak ngak ngomong sama gue, kenapa ngak cerita sama kita?" tanya Arga kecewa.


"Gue kira dia ngak bakalan lakuin secepat itu, dan gue kira targetnya bukan lo melainkan Radit. maka dari itu gue ngajak Radit buat jalan agar dia tidak melakukan apapun," jelas Sesil menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Kamu tenang jangan menagis ini semua bukan salah kamu," ucap Radit mengelus pundak Sesil dengan lembut.


"Paman, sebenarnya keluarga Wijaya punya konflik apa dengan keluarga Martadinata di masa lalu?" tanya Sesil dengan tatapan meminta penjelasan.


"Masalah!! itu!! ....., Paman ngak tau apa-apa!" sangkal Bram.


"Paman harus ke kantor, ada klayen yang mau datang sebentar lagi," ucap Bram kemudian berlalu pergi meningalkan mereka semua.


"Paman Bram bertingakah sangat aneh! apa jangan-jangan dia tau sesuatu tentang kematian kedua orangtuanya Sesil?" batin Radit menerka-nerka.


"Sesil ngak boleh tau tentang permasalahan masalalu yang berdarah itu, jika tidak pasti Sesil akan sangat membenci keluarganya sendiri," gumam Bram berjalan dengan cepat menuju mobilnya.


"Ada yang aneh ngak sih dari Papah?" tanya Josua.


"Bener banget."


"Josua, lo ngak tau apa-apa tentang itu?" tanya Sesil.


"Enggak tapi gue pernah liat Papah telfonan dengan seseorang dengan nada marah-marah bahkan sesekali membentak sosok yang dia telfon," jelas Josua, muai merasa pusing.


"Ini semua semakin rumit." Sesil menggigit kukunya dengan gelisah.


"Hindari kebiasaan mengigit kuku itu, itu akan membawa hal jelek." Radit menarik tangan Sesil.


"Arga, lo tenang aja gue bakalan selidiki semuanya, apa dugaan lo itu benar apa salah."


"Gimana lo mau membuktikannya?" tanya Arga mencoba untuk bagun tadi dengan segera di tahan oleh Bunga.


"Lo itu kalau mau bangun bilang-bilang! jangan asal main bagun aja, kebuka tuh jahitan bukan urusan gue ya!" Bunga mengomel sambil membaringkan Arga kembali.


"Apaan sih lo, ngomel-ngomel ngak jelas!" ucap Arga kesal.


"Apaan sih orang di peduliin juga malah ngak mau, gue ngak mau tanggung jawab kalau nanti lo di marahin Ibu," sewot Bunga.

__ADS_1


"Sebaiknya kita jagan ganggu mereka," Sesil berbisik pada Radit.


"Baiklah, aku akan memgantar ke kamar." Radit kemudian meninggalkan Arga dan Bunga yang kini tengah berdebat kecil.


__ADS_2