
Karena keadaan kafe yang lagi sepi pengunjung jadi suara Rangga dan Yuna terdengar dengan jelas.Radit yang menyadari bahwa Sesil sedang melihat kearah mereka pun langsung berdiri dan berpindah tempat duduk, karena sedari tadi Yuna menggandeng dan mencoba untuk memeluk Radit.
Sesil yang menyadari bahwa Radit berpindah tempat duduk tanpa sadar ia tersenyum dan ternyata saat Sesil tersenyum Reskiya melihat itu kemudian Reskiya melihat siapa yang telah membuat Sesil tersenyum bahagia.
Dan pandangan Reskiya terhenti pada Radit yang terus berusaha menghindar dari Yuna yang selalu lengket padanya.
" Sepertinya Sesil mempunyai rasa dengan si anak baru itu, Bagusdeh kalau gitu agar dia tidak pusing lagi cari pasangan. " Batin Reskiya.
Mereka berdua berjalan ke arah Radit dan yang lainnya, setibanya di sana Sesil langsung mengubah ekspresinya menjadi biasa lagi.
" Ada apaan ni? " Tanya Reskiya.
" Yo, bikin kaget aja lo Res, Gak ada papa, mereka hanya main main aja. " Jawab Farhan.
" Bukan urusan gue mau lo kaget, mau mati pun gue gak peduli. " Ucap Reskiya.
" Jahat banget sih. " Ucap Farhan.
" Lo ngapain di sini? " Tanya Yuna.
" Orang miskin kaya lo itu gak pantas di sini. " Sambung Yuna.
" Siapa yang lo maksut? " Tanya Reskiya.
" Ya Si Sesil lah, masa sih lo. " Jawab Yuna yang menunjuk ke arah Sesil.
" Lo gak salah nunjuk orang? " Tanya Sesil.
" Ya engak lah, siapa lagi di sini yang orang miskin. " Jawab Yuna.
" Yuna lo ngomong apaan sih? " Tanya Rangga.
" Lo gak punya telinga apa Rangga, gue bilang dia itu orang miskin, gak pantas nongkrong di cafe. " Jawab Yuna.
" Emang gue orang miskin yang tinggal di sebuah rumah mewah di kawasan elite, mempunyai mobil mewah dan mempunyai sebuah cafe. " Ucap Sesil.
__ADS_1
Semuanya terdiam dan mencoba untuk mencerna apa yang di katakan oleh Sesil, sedangkan Reskiya tersenyum devil.
" Kalau lo bicara itu di saring dulu jangan asal ngomong aja, tinggalnya aja di sebuah apartemen kecil bilang di kawasan elit, punya motor bilang punya mobil, sebaiknya lo terima kenyataan deh kalau lo itu sebenernya orang miskin. " Ucap Yuna sambil mendorong dorong bahu Sesil.
Sesil mengepalkan tanganya, karena sudah tidak tahan menahan emosinya Sesil menahan tangan Yuna yang mendorongnya kemudian memutar tangan Yuna , hingga Yuna meringis kesakitan bahkan memohon pada sesil dan Rangga agar melepaskan tangannya.
" Tolong lepasin tangan gue..... sakitt. Rangga tolonginn. " Pinta Yuna.
" Radit tolong gue, tangan gue sakit. " Lanjut Yuna.
Karena Sesil merasa kesal Yuna meminta tolong pada Radit, Sesil kembali memutar tangan Yuna hingga Yuna mengeluarkan air matanya.
" Aw aw aw aw, sakit gue mohon lepasin gue, gue gak akan gangguin lo lagi hiks hiks. " Pinta Yuna.Yuna berusaha untuk melepaskan tangan Sesil namun sayang genggaman tangan Sesil terlalu kuat.
" Beneran lo gak bakalan gangguin Sesil lagi? " Ucap Reskiya dengan nada dingin dan tatapan tajamnya.
" Hiks hiks beneran gue gak akan ganguin Sesil lagi. " Jawab Yuna.
" Kena juga akhirnya kalian. " Batin Yuna.
Sesil pun melepaskan genggamanya karena Sesil tidak ingin membuang waktu dengan orang seperti Yuna.
Yuna yang melihat mata Sesil pun langsung pergi meninggalkan mereka dan menuju parkiran.
" Awas lo Sesil, gue akan balas dendam sama lo dua kali lipat dari yang lo lakuin ke gue, lo sudah permaluin gue di depan Radit dan sebagai gantinya gue akan permaluin lo di depan banyak orang. " Batin Yuna yang tersenyum devil.
Sedangkan di dalam cafe kini makin ribut karena Rangga, Aldo dan Radit yang sedang memuji Sesil.
" Sesil lo memang yang terbaik deh. " Kata Rangga sambil mengacungkan jempolnya.
" Yoi, Gue gak salah pilih orang ternyata. " Saut Aldo.
" Sesil makasih, karena lo sudah nolongin gue dari cewe' itu. " Ucap Radit.
" Iya sama sama. " Ucap Sesil.
__ADS_1
Mereka pun bertukar cerita hingga sore, kini Sesil sudah berada di apartemennya, ia pun sudah selesai menyegarkan dirinya dan sudah makan malam, kini dia sedang berfikir kembali tentang ucapan pamannya.
" Masasih gue nerima Radit, kan gue udah nolak dia. " Ucap Sesil pada dirinya sendiri.
" Tapi dia bilang mau nungguin gue, tapi masa iya gue harus bilang kalau gue suka sama dia kan dia belum buktiin kalau dia beneran tulus sama gue, kayanya gue harus minta solusi lagi nih sama mereka. " Ucap sesil lagi.
" Tapi masa iya gue suka sama Radit? " Tanya Sesil pada dirinya sendiri.
" Hallo Res, gue mau minta saran nih. " Ucap Sesil saat telfon sudah tersambung.
" Mau minta saran tentang apaan sih gue lagi sibuk nih. " Keluh Reskiya
" Lo sibuk apaan sih kerjaan aja gak punya, palingan lo sibuk nonton aja. " Kata Sesil.
" Itu lo tau, cepetan gue lagi nonton, lagi seru serunya nih. " Ucap Reskiya.
" Iya bawel, gini lo ingat kan waktu Radit datang ke gue waktu di gudang? " Tanya Sesil.
" Iya ingat, lanjut. " Jawab Reskiya.
" Gue mau pilih Radit, tapi masa gue nerima dia sedangkan waktu itu gue nolak dia mentah mentah. " Kata Sesil.
" Ya lo tinggal bikin kontrak aja. " Saran Reskiya.
" minta bantuan gitu, trus kasih tau alasannya. " Lanjutnya.
" Makasih Res, lo emang sahabat gue yang baik. " Ucap Sesil. " Kalau gitu gue mau mikirin dulu apa syarat yang gue mau tulis di dalam kontrak itu, dah makasih. " Lanjut Sesil yang memutuskan sambungan telfon sepihak.
Kini sudah hari kesembilan semenjak Bram menyuruh Sesil untuk mencari pasangan, dan kontrak yang ia buat pun kini sudah selesai, Sesil tinggal memberikannya kepada Radit agar Radit bisa membacanya dan menyetujui semua persyaratannya.
Kini Sesil sudah berada di kampus untuk memberikan surat kontrak kepada Radit, tetapi Radit tidak kunjung datang sampai semua mata kuliah selesai.
Sesil juga bertanya kepada Rangga, Aldo, Raka, dan juga Farhan tetapi mereka juga tidak tau tentang keberadaan Radit, bahkan Ben pun tidak datang kekampus.
Sesil mulai bertanya kepada dosen dan para mahasiswa/siswi yang sedang berkumpul tetapi hasilnya sama, tidak ada yang tau mengapa Radit tidak datang ke kampus.
__ADS_1
Kemudian Sesil mulai mencari tau tempat tinggal Radit, dan akhirnya ia pun mendapatkan alamat rumah Radit dari abang tukang sayur yang menjual di kompleks rumah pamannya.
Ternyata rumah Radit tidak jauh dari rumahnya dan rumah pamanya, kemudian Sesil pun pergi menuju ke rumah Radit, setibanya di sana Sesil mulai ragu, karena takut salah rumah atau Radit sedang tidak berada di rumahnya. Akhirnya setelah berfikir panjang Sesil memutuskan untuk membunyikan bel rumah Radit dengan masih sedikit Ragu ragu.