Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
57. Perasaan Yang Bimbang 2


__ADS_3

Setelah tiba di rumah, Sesil membaringkan tubuhnya di atas kasur lalu memejamkan matanya merasa lelah akan semua yang telah terjadi.


"Apa yang harus gue lakukan? apa gue terima kembali Radit?" gumam Sesil.


"Tapi gue masih ngak yakin dengan perasaan gue sendiri," ucap Sesil lalu membuka matanya.


Drrtttt derrrttt


Sesil meraih ponselnya malas lalu menggeser ke atas bulatan hijau tersebut, dengan wajah lesu Sesil menjawab sapaan dari orang tersebut.


"........."


"Gue segera ke sana!" sahut Sesil lalu mematikan telfon sepihak.


^^^**Siang,Kamar Rangga, kediaman Bram**^^^


"Rangga lo udah gila ya!" teriak Josua.


"Mingir! gue mau keluar," ucap Rangga kasar.


"Ngak, lo harus di dalam kamar dan ngak boleh kemana-mana," Josua menutup pintu lalu menghadang pintu dengan tubuhnya.


"Sebaiknya lo jangan halangi gue, gue sekarang sedang terburu-buru," ucap Rangga menarik bahu Josua tapi Josua tetap tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya.


"Lo itu masih sakit, kalau lo mau mencari muka jangan libatkan dengan kesehatan lo," bentak Josua mulai kesal dengan tingkah Rangga.


"Kenapa lo peduli dengan masalah kesehatan gue?" tanya Rangga dengan nada mengejek.


"Kalau lo sakit maka tidak ada sumber informasi dan lo hanya akan menjadi beban di rumah ini," jawab Josua santai.


"Dengar baik-baik ya, lo tinggal dengan patuh di dalam kamar sampai gue pulang," ucap Josua lalu keluar kamar dan mengincinya dari luar.


"Haisss, karena dia gue jadi terlambat kan," gerutu Josua lalu bergegas menuruni tangga menuju mobilnya.


"Kenapa sih mereka? gue hanya mau ikut membantu pembuatan acara ulang tahun Reskiya, kenapa ngak di bolehin juga," ucap Rangga kesal.


"Karena Radit sudah bercerai dengan Sesil, jadi gue bisa mendekati Sesil lagi," ucap Rangga.


"Gue masih punya peluang untuk memiliki Sesil," lanjut Rangga tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Kalau begitu gue gunain waktu ini untuk memulihkan tubuh gue," ucap Rangga semangat lalu membuka sweeter yang ia kenakan.


Nampak kulit kecoklatan yang di baluti oleh berpan yang menutupi hampir setengah badannya, walau seperti itu badan Rangga yang hampir sempurna masih bisa terekpos dengan indahnya. Luka-luka Rangga sebagian sudah mulai mengering dan bekas memarnya sudah mulai menghilang.


"Kalau begini gue sudah bisa melakukan olah raga ringan untuk menjaga tubuh gue," ucap Rangga sambil melihat pantulan badannya di cermin.


...**Caffee Sesil, Reskiya dan Rasya**...


"Kalian semua sudah paham kan?" tanya Rasya melihat satu per satu wajah orang-orang di hadapan dan sampingnya dan semuannya mengangguk.


"Jadi alasan lo mau membuat pesta ulang tahun Reskiya dari satu hari sebelum hari H nya itu karena ingin menyatukan kembali Sesil dan Radit?" tebak Aldo.


"Yap, benar sekali, .... tapi lo setuju kan kalau Radit sama Sesil di jodohin sama kita kan?" sahut Rasya melihat ke arah Aldo, begitu pula dengan yang lainnya.


"Apa lo gila, gue bakalan setuju lah mereka di satuin lagi," sahut Aldo dengan senyum bngganya.


"Ngak usah sok misterius, lo ngak cocok," ucap Farhan mengejek.


"Apa lo bilang!" Aldo langsung mejitak kepala Farhan dengan kesal.


"Gue emang benar kan?" tanya Farhan ingin mencari orang yang bisa membelanya.


"Benar kata Josua, sebenarnya Farhan hendak membulimu," timpal Raka memprofokasi Aldo. ( kompor 2)


"Haisss, kenapa Farhan mengatakannya dengan begitu blak-blakan kalau mau mengejek Aldo," timpal Rasya lalu meminum minumannya. (Kompor 3)


"Haisss kenapa kalian tidak ada yang bisa membela gue di saat gue membutuhkan," ucap Farhan merasa pusing dengan teman-temannya sedangkan yang lain tertawa terbahak-bahak.


"Apa yang kalian tertawakan hingga seperti itu?" tanya Radit yang kemudian duduk di samping Farhan.


"Radit, sepertinya hanya lo yang bisa ngertiin gue," ucap Farhan dengan mata yang berbinar-binar pada Radit.


"Radit lo harus tau apa yang terjadi tadi!" ucap Aldo sambil menahan tawanya.


"Apa yang sebegitu lucunya hingga buat gue ada mood untuk tertawa?" tanya Radit dengan wajah datarnya.


...**Satu menit kemudian**...


"Bwahahahahahha, lo emang pantas mendapatkan itu," ucap Radit di sela tawannya.

__ADS_1


"Ternyata lo sama saja dengan yang lainnya!" ucap Farhan merasa terbohogi dengan kata-kata Radit sebelumnya.


"Jangan seperti itu, tapi sumpah beneran lo emang pantas dapatin itu," ujar Radit sambil memegang perutnya yang sakit karena menahan tawanya.


"Kalian semua jahat banget sama gue sih!" ucap Farhan ngambek.


"Lo pake acara ngambek segala lagi, udah kayak cewek aja," ucap Rasya mengejek Farhan.


Sementara Farhan yang sedang di bully saat ini, kini Sesil dan Reskiya tengah mengelilingi mall entah mencari apa barang yang di inginkan oleh Reskiya.


"Ki! kita berhenti sebentar," ucap Sesil sambil menarik lengan Reskiya.


"Yaampun Sesil, kita udah berhenti lima puluh kali dalam setengah jam tau," omel Reskiya.


"Iya, gue tau, tapi kita udah pergi ke semua toko dan lo! ngak ada yang lo beli satu pun," ucap Sesil pasrah dengan keadaan.


"Oke kalau begitu mulai saat ini kita serius carinya," ucap Reskiya penuh semangat.


"Ayo Sesil, besok adalah hari ulang tahun gue, dan gue mau cari baju buat besok," ucap Reskiya, dengan kaget Sesil langsung mendongak ke arah Reskiya.


"Lo dari tadi hanya ingin beli baju buat besok!" ucap Sesil syok dengan ucapan Reskiya.


"Kalau begitu, baiklah," sahut Sesil lalu tangannya di tarik dengan antusias oleh Reskiya.


kini mereka sudah sampai di toko baju lalu dengan segera mencari baju yang mereka sukai, Sesil mencari gaun sedangkan Reskiya entah pergi kemana. dua puluh menit kemudian Reskiya dan Sesil bertemu di tempat mengganti baju dengan baju masing-masing di tangan mereka.


Sesil merasa bingung dengan dengan baju yang di pegang oleh Reskiya, pasalnya Reskiya membawa bikini dan baju renang yang banyak dan beraneka model sedangkan gaun dan mini dresnya hanya ada dua lembar.


Setelah sekian lama mencoba baju yang mereka pilih akhirnya Reskiya mengambil satu set pakaian renang berwarna biru yang tertutup dan sebuah gaun berwarna cream, sedangkan Sesil mengambil satu gaun merah bercampur hitam dan mini dres berwarna merah maron.


**Di dalam mobil**


"Ki, kenapa lo beli pakaian renang?" tanya Sesil.


"Lo pasti bakalan tau besok," sahut Reskiya yang masih fokus menyetir.


"Oh iya, gimana lo mau kasih kesempata buat Radit?" tanya Reskiya dengan sekilas melihat ke arah Sesil.


"Entah gue masih bingung dengan itu," sahut Sesil lalu melihat ke luar jendela.

__ADS_1


"Cinta itu rumit, seperti benang kusut, kita harus menemukan ujungnya untuk membuatnya lurus kembali dan mengetahui permasalahnnya," ucap Sesil.


__ADS_2