Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin

Jodohku Ratu Kampus Yang Dingin
52. Permohonan Radit.


__ADS_3

Villa Sesil...


Kini terlihat Arga yang tengah memainkan pisau lipat di dalam kamarnya dengan wajah yang di tekuk tidak lama kemudian Arga mulai kesal saat mengingat kembali kejadian tadi pagi saat Radit mbisikan sesuatu padanya, karena kesal Arga kemudian melempar pisau lipat ke arah pintu dan secara kebetulan Bunga membuka pintu kamar yang untungnya pisau tersebut menancap lebih tinggi dari dirinya.


"Lo mau bunuh gue?" tanya Bunga kesal dengan memberikan sebuah pelototan.


"Ngak usah liatin gitu, keluar tu biji mata baru tau lo," ucap Arga mengalihkan pembicaraan.


"Lo ngak usah ngalihin pembicaraan deh, bilang aja kalau lo ngak suka sama gue, ngak usah pake bunuh gue segala cukup bilang aja, gue pasti langsung bilang sama Ibu buat kirim lo kembali pulang," sahut Bunga sambil berjalan ke arah Arga yang duduk di atas kasurnya santai.


"Lagian lo ngapain sih di sini?" tanya Bunga kesal.


"Idih, cantik lo?" tanya Arga jijik.


"Emang gue cantik," sahut Bunga mengibaskan rambut nya.


"Yang di bicarain apa? dia nyahutnya apa... kabelnya ada kesalahan kali ya, yaudah ngapain gue pikirin itu dia kan emang gesrek otaknya," batin Bunga lalu mengambil obat di laci meja.


"Nih makan obat lo!" Bunga menaruh sebungkus obat dari dokter di meja dekat tempat tidur.


"Bawel," ejek Arga kesal lalu merampas obat di atas meja beserta segelas air putih di atas nampan yang di bawa Bunga tadi.


"Serah aja," sahut Bunga bodo amat.


"Buka baju lo," ucap Bunga membuka obat beserta salep Arga, agar lukanya cepat sembuh.


"Mau ngapain lo?" tanya Arga sambil memeluk dirinya sendiri dengan waspada.


"Mau ngulitin lo!... yaelah panik amat sih," sahut Bunga mengambil gunting dari dalam laci.


"Gue mau ganti perban lo! siapa suruh lo pake acara kabur segala," lanjut Bunga.


"Buka cepetan!" Bunga menarik pelan lengan baju Arga sedikit kasar.

__ADS_1


"Iya bawel," sahut Arga jengah lalu mulai membuka bajunya.


"Jangan ngintip lo!" lanjut Arga menurunkan kembali bajunya sambil menatap tajam Bunga.


"Yaelah ngapain gue mau liatin badan rata gitu, ngak ada indah-indahnya juga." Bunga memutar bola matanya mulai tidak suka.


"Awas ya lo."


"Heh, buka aja susah amat gue udah pernah liat badan lo juga bukan cuma kali ini," ucap Bunga kemudian menarik paksa baju Arga hingga terlepas dari badannya.


Arga menutupi bagian dadanya yang sudah terekpos sedikit sedangkan yang lainnya tertutup oleh perban, Bunga nampak jijik melihat tingkah laku Arga kemudian langsung menampar bahu Arga karena merasa geli.


"Awas! tangan lo mengganggu pekerjaan gue," ucap Bunga memukul lengan Arga kasar.


"Galak banget sih lo, emang ada yang mau sama cewek kaya lo?" tanya Arga mengusap lengannya sambil memancungkan bibirnya.


"Adalah, jodoh sudah di atur dengan yang maha kuasa untuk apa gue sibuk nyari kalau sudah di tetapkan dia jodoh gue," sahut Bunga sambil membuka perban Arga.


"Untuk apa gue menjaga seseorang yang bukan milik gue nantinya.... Membuang waktu saja," sahut Bunga lalu menaruh bekas perban di nampan perlahan.


"Hah.... Apa lo ngak pernah jatuh cinta dengan seorang pria?" tanya Arga bersandar pada dinding.


"Dasar bodoh! Kenapa lo sampe ngelakuin hal bodoh itu!" ucap Bunga membuat Arga bingung.


Bunga kemudian mengambil obat lalu mengoleskannya dengan asal-asalan hingga Arga meringis kesakitan membuat Bunga mendongak melihat wajah kesakitan Arga, lalu kembali mengoleskan obat tapi kali ini dengan menggunakan perasan membuat Arga menatap Bunga yang tengah fokus mengobati luka jahitannya.


Di tengah kelakuan semua itu ternyata sedari tadi Sesil dan Radit melihat semua itu membuat Radit merasa iri dengan Arga bisa diperlakukan seperti itu dengan seorang wanita.


"Apa yang lo bilang ke Arga tadi, hingga dia mau untuk mundur? itu tidak seperti dirinya, tapi terkecuali satu hal yang bisa membuatnya mundur..." tanya Sesil membuat Radit menatapnya.


"Kamu akan tau nanti saat tiba waktunya, jadi sekarang kamu ngak usah mikirin semua itu dulu." sahut Radit memegang pipi Sesil lembut.


"Lo bakalan jadi penggantinya Rangga kan?" tanya Sesil dingin, mendengar ucapan Sesil membuat Radit sedikit gelisah.

__ADS_1


"Kenapa lo mau ngelindungi orang seperti Rangga?" tanya Sesil kembali.


"Karena dia adalah temen aku, saat aku pertama kali sampai di Indonesia Rangga pernah membantuku saat aku di hadang oleh beberapa preman di jalan," jelas Radit menundukkan kepalannya.


"Sebaiknya lo batalin perjanjian lo sam Arga karena menurut kepribadiannya dia tidak akan ngelepasin lo sekalipun dia kalah, terkecuali lo mati di tangannya," jelas Sesil dengan nada dinginnya.


"Apapun yang akan terjadi kedepannya, aku ngak akan menarik kata-kataku kembali karena aku adalah seorang pria, seorang pria sejati tidak boleh menarik kembali apa yang dia ucapkan." sahut Radit tegas.


"Sudahlah kita bicara di kamar saja, sebelum kedua orang di dalam mengetahui keberadaan kita di sini," usul Sesil kemudian pergi meninggalkan Radit.


Kamar Sesil..


Sesil kini sudah berkutik dengan laptop dan beberapa buku tulis dan buku cetak di sekelilingnya saat Radit masuk kedalam kamar, Radit meletakkan secangkir teh hangat di atas meja membuat Sesil sedikit mendongak melihat ke arah Radit.


"Kenapa liat gue gitu?" tanya Sesil kembali fokus pada laptopnya.


"Ngak papa, ...., tapi hanya saja... kamu sangat cantik," sahut Radit yang entah kenapa pujian itu membuat jantung Seail berdetak dengan cukup cepat dan keras.


Sesil hanya terdiam, fokus bersama laptopnya sambil sesekali mengangkat satu persatu buku-buku yang berada di sampingnya.


"Sesil! kamu ngak mau mempertimbangkan dulu apa yang aku katakan saat itu?" tanya Radit, kemudian duduk di depan kaki Sesil.


"Mempertimbangkan apa? gue lupa dengan semua yang bersangkutan dengan lo!" sahut Sesil masih fokus dengan pekerjaannya.


"Tentang hubungan kita..." ucap Radit membuat Sesil menghentikan sejenak pekerjaannya seperti sedang memikirkan sesuatu lalu kembali melanjutkan kegiatannya.


"Apa kamu setuju? untuk membatalkan semua kontrak yang kita buat?" tanya Radit yang di acuhkan oleh Sesil.


"Sesil! aku benar-benar ingin bersamamu dengan status yang jelas di mata agama, dimata hukum, dimata dunia, di mata keluarga dan sahabat, terlebih lagi di matamu," ucap Radit serius.


"Aku tau kamu memandangku sebagai orang luar saja, dan aku ingin kita mempunyai sebuah hubungan yang serius dan nyata," lanjut Radit meraih tangan Sesil lembut lalu menggenggamnya.


"Aku tau aku egois, aku hanya mengikuti kemauanku saja dan tidak meminta pendapatmu, tapi kali ini saja... aku ingin di berikan kesempatan untuk berada di hatimu," Sambung Radit yang kini sudah memohon pada Sesil. Sesil hanya melihat dengan tatapan datar ke arah Radit.

__ADS_1


__ADS_2