
Hari mulai larut dan semuannya pulang kerumah masing masing selain Rasya dan Reskiya yang ingin terus menjaga Sesil karena Sesil belum kunjung siuman juga. Radit di antar oleh Farhan karena hanya dia dan Reskiya yang membawa mobil sedangkan motornya sudah di kembalikan sejak tadi oleh Raka.
Keesokan harinya ....
Matahari bersinar begitu terang kali ini semua penduduk kota sudah mulai beraktifitas di hari yang cerah ini, tapi tidak dengan Radit yang masih enggan beranjak dari tempat tidurnya sembari menatap wajah Sesil di layar hadphone -nya dengan penuh kasih sayang.
Rambut yang acak acakan, wajah tampan dengan kantong mata yang sudah seperti panda, tubuh atletis dengan di hiasi banyak roti sobek di sana, selimut yang sudah tergeletak di lantai, baju dan celananya yang berhamburan di lantai dan terdapat beberapa botol minuman keras di sana. kira kira seperti itu keadaan kamar Radit saat ini.
"Aku benar benar tidak berguna!! bahkan melindungi wanita yang aku sayangi saja tidak bisa," batin Radit dengan kesalnya langsung membanting hendphone-nya hingga hancur berantakan di lantai lalu menutup wajahnya dengan lengan kekarnya.
"Radit, Radit lo benar benar tidak berguna ...., bahkan buat ngelindungi seorang wanita saja lo ngak bisa!" ucap Radit pada dirinya sendiri frustasi.
"Dit, cepetan keluar ada orang yang cariin lo," ucap Alfin dari balik pintu kamar Radit.
"Dit, Dit, Radit ..., buruan udah di tungguin tuh, kasian cewek cantik menunggu," lanjut Alfin sambil mengetok ngetok pintu.
Karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Radit dengan terpaksa Alfin mengajukan dirinya sendiri untuk mendobrak pintu kamar Radit. Dan setelah semua usaha yang Alfin lakukan akhirnya Alfin berhasil mendobrak pintu kamar Radit.
Alfin ternganga ketika melihat kondisi kamar Radit yang seperti kapal pecah saja, Alfin menggelengkan kepalanya lalu berjalan ke arah kasur sambil memungut pakaian Radit yang berserakan di lantai dengan perlahan, setelah sampai di samping ranjang Alfin langsung melemparkan semua pakaian yang dia pungut tadi ke arah wajah Radit yang masih setia berbaring di atas tempat tidurnya sambil menutup wajahnya mengunakan lengannya.
Radit yang tiba tiba di hadiahi pakaian kotornya sendiri oleh Alfin langsung bangkit dari tidurnya sambil membuang semua pakaian yang ada di wajahnya dengan kasar, Alfin yang melihat itu hanya tersenyum bahagia melihat wajah Radit yang sudah mulai memerah akibat menahan emosinya.
"Apaan sih Abang?" tanya Radit kesal sambil mebuang kaos kaki yang berada di pankuannya.
"Kan gue udah bilang dari luar tadi, ada cewek yang nyari lo di bawah," Sahut Alfin.
"Sesil bukan?" tanya Radit.
"Bukan, udah cepetan turun kasian tuh udah nunggu dari tadi," jawab Alfin kemudian memukul lutut Radit yang luka hingga Radit meringis kesakitan, Alfin tidak perduli dengan ringisan itu karena Alfin menganggap itu hanya sebuah akal akalan Radit semata.
"Apa apaan sih Bang mukul orang sembarangan, sakit tau," ucap Radit sambil memegangi betis kanannya dengan wajah kesakitan.
"Apaan sih lebai amat, cuma di pukul kayak gini aja udah segitunya," ledek Alfin kembali memukul tepat di lutut bagian yang keseleo membuat Radit makin menjadi.
__ADS_1
"Kenapa sih lo sampe teriak gitu?" tanya Alfin pada Radit yang masih meringis kesakitan sambil sesekali menepis tangan Alfin yang hendak memegang lututnya.
"Ada apaan sih di dalam?" tanya Alfin penasaran lalu membuang semua pakaian yang menutupi bagian lutut Radit.
"Lutut gue keseleo tau, ngak punya perasaan banget sih," jawab Radit.
"Keseleo kenapa lo?" tanya Alfin sambil iseng sesekali menunjuk kearah lutut Radit tapi dengan sigap Radit menepisnya.
"Jatuh," jawab Radit kesal, kemudian turun dari ranjang dengan hati hati.
"Mau kenama lo?" tanya Alfin bingung.
"Kebawah," jawab Radit.
"Ngapain?" tanya Alfin bingung.
"Katanya ada yang nungguin gue di bawah," sahut Radit sudah mulai kesal.
"Yaudah, kalau gitu gue mau ke kamar gue dulu," ucap Alfin sambil membuka pintu.
"Hehhh ribet amat punya adik satu," gumam Alfin malas.
"Abang ngomong apa?" tanya Radit sambil berusaha untuk berjalan ke arah Alfin.
"Itu bisa jalan," ucap Alfin.
"Tapi sakit tau, pokoknya gue ngak mah tau Abang harus bantuin gue jalan ke bawah, titik ngak pake koma," ucap Radit serius walau di dalam hatinya bagagia bisa nengerjai Alfin.
"Huh, kayak cewek aja," ledek Alfin kesal kemudian mulai memapah Radit ke bawah.
Setelah sampai di bawah Radit berhenti sejenak menatap kesal ke arah seorang wanita yang sedang duduk di sofa sambil memainkan hendpone -nya, lalu berjalan kembali, Alfin sempat sedikit bingung dengan sikap Radit yang tidak senang melihat wanita yang sedang menunggunya di sofa sejak tadi. Saat menyadari keberadaan Radit wanita itu langsung berdiri menghampiri Radit dan Alfin.
Dengan raut wajah cemas wanita itu langsung meraih tangan Radit dan langsung menanyai tentang keadaan Radit.
__ADS_1
"Kamu kenapa bisa jadi kayak gini?" tanya Wanita itu sambil melihat Radit dari atas hingga bawah.
"Bukan urudan lo," jawab Radit jutek.
"Radit kenapa sih kamu dingin banget sana aku?" tanya wanita itu memasang wajah sedihnya.
"Ngak udah pura pura menyedihkan di depan gue, lagian gue ngak kenal sama lo," ucap Radit.
"Sebaiknya lo pergi aja dari sini," lanjut Radit.
"Ayo Bang kita ke dapur, gue mau makan," ucap Radit.
"Tapi gue blum masak," sahut Alfin bingung dengan situasi saat ini.
"Aku bisa masakin kamu, kamu mau makan apa? nasi goreng, piza atau apa aku akan masakin?" tanya wanita itu semanggat.
"Gue bisa masak sendiri, yang sakit kaki gue jadi gue masih bisa masak sendiri," ucap Radit kemudian melepaskan rangkulan Alfin dan hendak berjalan sendiri.
"Gue bisa jalan sendiri, kalau Abang ngak mau antar gue," lanjut Radit sambil menatap tajam kearah Alfin.
"Jangan gitu gue bakalan tantarin lo," ucap Alfin kemudian segera memapah kembali Radit.
"Sebaiknya lo segera pergi dari sini," saran Alfin yang di tanggapi cukup baik oleh wanita itu.
"Ingat baik baik ya Radit nama aku Yuna, Yuna Wijaya, cewek yang lo selametin waktu lo masih di jepang," ucap Wanita itu yang ternyata adalah Yuna.
Radit tetap berjalan menuju dapur tanpa menoleh sedikitpun kearah Yuna, karena kesal di tinggal sendiri oleh mereka dan akhirnya Yuna memutuskan utuk pergi dari rumah Radit saat hendak menaiki mobilnya Yuna berpapasan dengan Farhan yang baru saja turun dari mobil miliknya, Farhan menatap tidak suka ke arah Yuna tapi Yuna tidak menanggapinya dan langsung masuk kedalam mobil begitu saja, dan begitu pula dengan Farhan yang langsung masuk kedalam rumah Radit.
selipan fisual Sesil dan Raka
Sesil Martadinata.
__ADS_1
Raka