
Saat Reskiya melihat itu seketika jiwa jomblonya meronta-ronta dan rasa ingin memiliki pasangan sungguh kuat tapi rasa ingin sendiri selalu menghantui pikirannya.
"Oh tuhan, tolong kirimkan seorang pria tampan, tajir, baik, setia, pengertian, bisa menjadi imam yang baik, jangan lupa harus peka sama pasangannya, kalau ngak ada yang peka ngak papa lah yang penting enam persyaratan itu ada," batin Reskiya memohon agar di berikan jodoh yang baik.
"Sesil lo bisa naik di mobil gue?" tanya Alfin dan Sesil hanya mengangguk pelan.
"Kalau begitu kita lanjut lagi," ucap Rasya.
Kendaraan mereka pun melaju memecah jalan raya yang ramai, sementara iti di dalam mobil milik Alfin, tiba-tiba saja suasana menjadi canggung ketika Alfin bertanya tentang permasalahan kontrak nikah itu.
"Sesil, lo beneran udah ngak punya hubungan lagi dengan Radit?" tanya Alfin membuat Sesil tertegun.
"Iya, gue sama Radit sudah tidak punya hubungan yang serius lagi," jawab Sesil.
"Kalau begitu, gue mau lo sama Radit lusa berpura-pura untuk menjadi suami istri lagi," ucap Alfin masih tetap fokus menyetir.
"Berpura-pura lagi?" tanya Sesil sambil menatap Alfin yang tengah fokus menyetir saat ini.
"Kalau lo ngak setuju, setelah pesta ini berakhir gue bakalan bawa lo sama Radit ke KUA," sahut Alfin yang membuat mata Sesil melotot.
"gue ngak mau," ucap Sesil spontan.
"Kali ini saja tolong gue, karena masalah ini belum terdengar di telinga kedua orang tua gue," jelas Alfin melihat dengan penuh harapan ke arah Sesil sekilas lalu kembali melihat ke depan.
"Apa lo tega liat Mamah sama Papah kecewa sama lo, Mamaf sama Papah sangat senang sama lo, setidaknya walaupun perjodohannya tidak berhasil tetapi Radit yang menggantikannya juga tidak apa," ucap Alfin tersenyum ramah.
"Maksud lo?" tanya Sesil yang tidak mengerti dengan apa yang Alfin katakan belum lama tadi.
"Radit ngak kasih tau lo kalau lo sebenarnya bakalan di jodohkan dengan gue?" tanya balik Alfin sambil melirik sekilas.
"Jadi yang mau di jodohin sama gue itu Alfin! kenapa Paman tidak mengatakannya padaku?" batin Sesil nampak melamun.
__ADS_1
"Kenapa? lo merasa nyesal ya nolak perjodohan itu?" tanya Alfin menggoda Sesil, Alfin berusaha untuk mencairkan suasana yang cukup canggung.
Sesil hanya terdiam menatap lurus kedepan tidak menanggapi setiap pertanyaan yang di berikan oleh Alfin, karena lelah bertanya dan tidak di jawab akhirnya Alfin menyerah dan diam kembali hingga akhirnya mereka sampai di sebuah hotel termewah di sana, mereka pun langsung bergegas menuju ruangan yang mereka sudah sewa.
Saat Reskiya membuka pintu seketika wajah bahagiannya luntur begitu saja Sesil dan juga yang lain saat melihat bagian dalam ruangan, Aldo, Raka, Liana dan Josua yang bertugas mendekor ruangan merasa kesal melihat semua yang mereka rancang sudah di hancurkan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab.
"Siapa yang ngelakuin ini semua?" tanya Reskiya dingin.
"Kita ngak tau, semalam gue sama Liana yang terakhir mendekor dan itu baik-baik saja," sahut Josua pusing.
"Iya, bener banget, tapi semalam seperti ada orang yang mencurigakan gak sih kak Jo?" tanya Liana dengan ekspresi mengigat.
"Oh iya gue ingat seorang wanita yang mengantar paket dengan hodie hitam itu kan!" sahut Josua yang langsung mendapat anggukan semangat dari Liana.
"Apa dia masuk kedalam ruangan?" tanya Rasya.
"Iya, wanita itu masuk kedalam tapi kita tidak menydaarinya saat dia keluar, atau..." sahut Liana masih mengingat kembali setiap isi cerita.
Reskiya lalu berbalik secara tiba-tiba. "Kadonya hancur ngak?" tanya Reskiya dengan senyum manisnya membuat Josua, Farhan, Alfin, Liana, Rati dan Arga terpesona.
"Ada dong lo tenang aja, kadonya ada di ruangan rahasia yang kita buat sendiri." Aldo berjalan masuk dengan santai lalu menuju kesebuah meja yang terbalik.
Semuanya kemudian berjalan masuk menghampiri Aldo, Aldo kemudian membuka laci dan nampak sebuah berangkas lalu dengan cekatan Aldo membukanya, setelah terbuka nampak banyak bungkusan kado yang berhamburan.
"Minggir!" Reskiya lalu mendorong Aldo dengan semangat.
"Ki, ingat imejs, lo itu sekarang lagi memakai gaun loh," ucap Sesil mengingatkan tapi tidak di tanggapi oleh Reskiya, malahan Reskiya asik mengeluarkan kado dari dalam berangkas.
"Maksih! kadonya gue ambil ya," ucap Reskiya bahagia.
"Karena semuanya sudah hancur kalau begitu sekarang kita lanjut ke tempat berikutnya," ucap Rasya menyatukan kedua tangannya dengan senyum khasnya.
__ADS_1
"Tunggu! gue belum ngasih kado buat Reskiya," ucap Alfin, lalu berjalan mendekat ke arah Reskiya.
"Apa yang mau lo kasih?" tanya Reskiya cuek.
"Jangan cuek-cuek, gue hanya mau ngasih kalung ini aja," sahut Alfin lalu mengeluarkan sebuah kalung dari tempatnya.
Kalung berwarna perak dengan liontin permata berbentuk tetesan air berwarna Biru tua, Reskiya menatap dengan keinginan untuk memiliki kalung itu.
"Boleh kah gue memakaikannya?" tanya Alfin dengan penuh harap.
"Boleh." jawaban Reskiya membuat Alfin tersenyum tapi tidak dengan tiga peria itu, yaitu Arga, Farhan, dan Josua yang menatap dengan penuh rasa iri.
Reskiya mengarahkan rambutnya ke depan lalu dengan perlahan Alfin memakaikannya dari hadapan Reskiya hingga nampak seperti mereka sedang berpelukan, melihat itu Farhan kemudian hendak menarik Alfin tapi di cegat oleh Aldo.
"Lo jangan buat masalah, kalau Reskiya mengijinkannya berarti Reskiya tidak mempermasalhkannya," bisik Aldo membuat Farhan mengepalkan tangannya dengan kesal.
"Lo harus sabar kalau mau mengejar Reskiya jangan gegabah sedikitpun atau lo bakalan kehilangan segalannya, lo taukan seberapa berkuasanya keluarga Mastara di kota ini!" bisik Aldo lagi yang membuat Farhan berpikir sejenak.
"Terima kasih kalungnya," ucap Reskiya tersipu sambil memegang liontin kalung tersebut.
"Gue emang ngak salah pilih," ucap Alfin menatap ke arah Reskiya.
"Kalungnya emang cantik Abang Alfin emang ngak salah pilih," sahut Arga.
"Bener Bang, kalungnya cantik," timpal Radit tersenyum paksa.
"Yang gue maksud orangnya, bukan kalungnya," sahut Alfin membuat Reskiya tersipu.
"Kita lanjut ke tempat selanjutnya aja, sebelum sore yekan," seru Rasya membuat percakapan baru agar Farhan tidak melakukan sesuatu yang aneh.
Mereka semua kemudian langsung menuju ke tempat selanjutnya yaitu taman bermain air yang terkenal dan terbesar di kota itu, setelah sampai semuanya pergi ke tempat untuk mengganti pakaian terkecuali Sesil dan Radit yang tidak tahu menahu tentang pergi berenang di taman bermain air.
__ADS_1
Radit melihat itu hanya tersenyum karena mereka sama yang di pikirnya mereka akan punya lebih banyak waktu, saat Radit ingin menghampiri Sesil tiba-tiba Rangga datang entah dari mana membawakan Sesil es krim.