
Mendengar ucapan Alfin barusan Radit berpikir sejenak memikirkan dan mencerna setiap kata-kata dari Alfin kemudian menjawab yang lagi-lagi membuat Alfin sangat emosi dan langsung menendang lutut Radit yang terluka hingga membuat Radit tertunduk meringis kesakitan.
"Gue sudah putuskan, gue bakalan tetap nyelamatin Sesil tanpa perlu bantuan dari kalian semua." Radit dengan percaya dirinya langsung berjalan perlahan kearah tangga handak menuju kamarnya namun tindakannya gagal karena Alfin sudah menendang lutut Radit hingga Radit tertunduk menahan sakit.
"Lo punya otak nggak sih? gua sudah bilang sama lo kalau lo hanya bakalan jadi beban dengan ke adaan lo yang sekarang, Lo nggak bakalan bisa bantu apa-apa. bagaimana pun kalau lo nggak turun langsung buat nyari Sesil dia tetap bakalan selamat, kalau lo ngak bersama gue lo tetap bakalan jadi beban," jelas Alfin.
"Ikutin kata-kata gue Sesil pasti bakalan selamat dan lo juga bakalan bermanfaat,"bentak Alfin dan dianguki oleh Farhan yang terlihat sangat setuju dengan pendapat Alfin mau tidak mau Radit harus setuju dengan ucapan dari Alvin karena jika dia tidak mengikutinya maka dia sendiri tidak akan di ijinkan untuk ikut serta dalam misi menyelamatkan sesil.
Kemudian mereka pun mulai bergegas menuju tempat yang hendak mereka tuju masing masing, sepanjang perjalanan Radit hanya melihat ke arah luar mobil dengan wajah cemas dan marah, Radit sangat mencemaskan ke adaan Sesil tapi dia juga sangat marah dengan dirinya sendiri karena di saat seperti ini dia tidak berguna dan tidak berdaya.
Alvin melirik sejenak ke arah Radit sebenarnya Alfin sedikit kasihan dengan adiknya itu karena ia juga pernah mengalami hal serupa yang tentu saja hal itu menimpa tunangannya yang kini sudah tiada dikarenakan dirinya yang saat itu sedang tidak sadarkan diri karena mendapat luka yang cukup serius dari musuhnya dan mengakibatkan tunangannya mati bunuh diri karena terus-menerus di paksa untuk melakukan hubungan badan dengan seorang pria yang entah siapa mereka pun tidak di ketahui.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 menit akhirnya mereka sampai di sebuah rumah tua yang tidak lain adalah markas Arga, setelah sampai tepat di depan pintu tiba-tiba saja Pintu besar tersebut terbuka dan menampakan beberapa orang anak buah Arga yang langsung tunduk hormat kepada mereka berdua, Alvin berjalan dengan tenang menuju ke arah atap Radit sedikit bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi ia benar-benar belum bisa mencerna semuanya, menurutnya ini sangat sulit ia mengerti saat ini pikirannya tambah kacau dan kepalanya penuh banyak pertanyan tentang kakaknya yang ternyata akrab dengan geng yang dipimpin oleh Arga saat ini.
Ternyata Alfin adalah salah satu orang yang mendirikan geng tersebut bersama dengan Arga dan kawan kawannya,Alfin adalah orang yang paling berpengaruh di dalam geng yang saat ini diberi nama Black Read itu. Alfin sangat dihormati oleh semua anggota black read dan bahkan Arga juga menghormati Alfin bukan hanya karena Alfin adalah salah satu pendiri melainkan Alfin dulu pernah menyelamatkan Arga sewaktu Arga balapan melawan Radit saat itu yang masih berada di geng yang dipimpin oleh Yogi.
__ADS_1
Saat mereka telah sampai di atas ternyata di sana sudah ada Aldo yang tengah berkutik dengan sebuah komputer dengan sangat serius dan terdapat beberapa orang yang tengan memantau daerah sekitar menggunakan teropong, entah mengapa Alfin tiba tiba langsung menendang perut salah seorang yang tengah memantau daerah sekitar dengan tenang hingga berlutut sambil memegagi perutnya yang di tendang, semua yang berada di sana merasa kaget terutama Radit yang melihatnya secara langsung.
"Ma ..., maaf tapi apa kesalahan dia hingga anda menendangnya?" tanya G anak buah Arga.
"Dia adalah mata mata selama ini, yang di kirim oleh Yogi." Dengan dinginnya Alfin langsung menendang kembali perut pria tersebut hingga tergeser.
"Maksud anda?" tanya G dengan sedikit rasa takut.
"Dia adalah orang yang memberi ponsel Arga dan memberi akses untuk masuk kedalam markas ini hari itu." Alfin menatap tajam ke arah pria itu, bahkan pria itu tidak berani untuk menatap mata milik Alfin.
tidak lama kemudian Arga muncul dan langsung menghampiri Alfin lalu menunduk hormat kepada Alfin. Arga melirik ke arah pria itu kemudian dengan cepat Alfin menjelaskan mengapa hingga seperti itu, setelah mendengar cerita tersebut Arga langsung memasukkan pria tersebut kedalam penjara bawah tanah.
"Bagaimana apakah sudah ada perkembangan?" Arga menepuk pelan pundak Aldo.
"Belum ada, sejak tadi Sesil belum membuat pergerakan sama sekali." Aldo menjawab pertanyaan itu masih dengan serius mengetik di papan keyboardnya.
__ADS_1
"Ada pergerakan dari kak Sesil," ucap pria U, lalu dengan cepat Alfin, Arga dan Radit menuju pria U.
Masih dengan rasa cemasnya Radit mengambil teropong yang berada di lantai lalu melihat ke arah yang di tunjukkan oleh pria U, Radit seketika langsung fokus terhadap setiap pergerakan Sesil.
Sementara itu kini Sesil tengah berjalan sambil menahan rasa sakit di dadanya, Sesil melihat kesegala arah dan dia mendapati beberapa orang pria berjas hitam seperti orang orang yang hendak membunuhnya itu, dengan cekatan Sesil menembak mati semua pria berjas itu, Sesil menggunakan penyadap di senjata api nya agar tidak ketahuan.
Setelah selesai dengan penjaga yang berada di luar Sesil bergegas masuk tapi gerakannya terhenti saat Sesil melihat satu pria dan satu wanita yang hendak masuk ke dalam gedung kosong itu, wanita itu nampak di kawal oleh pria berhoodie hitam itu. Sesil berusaha agar bisa melihat wajah pria dan wanita itu tapi sayang pria itu memakai masker dan menutupi kepalanya sedangkan yang wanita Sesil sedikit familiar dengan wajah itu.
Saat Sesil hendak maju menuju pintu masuk tiba tiba saja ada orang yang menariknya dari belakang dan langsung membungkam mulut Sesil agar Sesil tidak berteriak dan membuat keributan, Radit yang melihat Sesil yang tiba tiba di tarik oleh seseorang langsung beralasan ke toilet agar tidak di curigai, karena jika dia mengatakan yang sebenarnya maka dia tidak akan di izinkan oleh Alfin.
Radit dengan kuat menahan rasa sakit dan terus menuruni tangga dan setibanya di lantai satu Radit ber papasan dengan Reskiya, Farhan dan Raka yang hendak menuju atap.
"Lo mau kemana?" tanya Raka mencegat Radit.
"Gue mau pulang sebentar ada yang ketinggalan," jawab Radit dengan senyum palsunya.
__ADS_1
"Gue duluan ya, lagi buru buru." Radit kemudian langsung bergegas menuju lokasi Sesil menggunakan mobil milik Alfin, sedangkan mereka tiga melihat dengan bingung. Radit mengirimkan sebuah pesan kepada Alfin kalau dia akan pulang sebentar agar Alfin tidak curiga dengannya.