Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Cemburu


__ADS_3

"Ouh begitu toh." Sahut Ikfi berusaha tersenyum.


"Oya Kak," jawab Aisyah.


"Tapi dimana suamimu Aish?" Tanya Ikfi mencari-cari keberadaan Yoga.


"Dia sedang menerima telepon sebentar."


Ikfi mengangguk.


"Coba Kak, lihat itu! Bukankah bagus?" Hanum menunjuk sebuah aksesoris yang tak jauh dari mereka.


Aisyah menoleh yang ditunjuk dan tersenyum. "Kau benar, ayo ke sana." Karena antusias ingin pergi ke tempat penjualan aksesoris, Aisyah tak terlalu memperhatikan jalan. Hingga tidak sengaja menabrak seseorang dan terhuyung ke belakang.


Hap. Ikfi yang berada di belakang Aisyah reflek menangkapnya.


Seketika pandangan keduanya beradu dalam waktu yang cukup lama.


"Aisyah!!" Seru seseorang dari bariton dengan suara yang lantang. Tangannya mengepal, melihat sang istri berada di pelukan pria lain.


Sontak keduanya menoleh dan Aisyah melepaskan diri dari Ikfi. Ia nampak terkejut melihat suaminya dengan mata yang tajam menatap ke arah mereka.


Dengan segera ia menghampirinya, namun Yoga justru berbalik arah dan menjauh dari Aisyah. Tak kalap, Aisyah terus mengejar Mas Yoga dan berusaha meraih tangan sang suami.


Ikfi dan Hanum tertegun melihatnya, meski Ikfi mencintai Aisyah namun ia juga merasa bersalah pada Yoga. Biar bagaimanapun Yoga adalah suami Aisyah sekarang. Ia ingin menyusul mereka berdua, namun sang adik mencegah tangannya.


"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka Kak." Ujar Hanum menatap kakaknya.


Ikfi menghela nafasnya dan mengangguk.


"Mas ini tidak seperti yang kamu pikirkan.."


"Mas kumohon berhentilah sebentar. Kau sudah salah paham Mas. Kumohon.."


Namun Yoga sama sekali tak menghiraukan teriakan Aisyah, ia juga tak peduli pada orang-orang yang memandang ke arah mereka. Yah, tentu saja kejadian di antara mereka menarik perhatian beberapa orang.

__ADS_1


Aisyah terus mengejar suaminya, hingga membuatnya tersandung karena tak menyadari ada sebuah krikil besar di hadapannya.


"Aauuh..," Aisyah meringis kesakitan. Yoga yang mendengar suara istrinya seperti kesakitan pun merasa khawatir. Ia berbalik arah dan menghampiri Aisyah.


"Aisyah, maaf sayang." Ucapnya merasa bersalah.


"Iya Mas tidak apa-apa, lagipula aku yang salah." Jawab Aisyah tersenyum.


Yoga segera mengangkat tubuh istrinya, melihat darah yang mengalir dari betis Aisyah membuatnya ngilu. Tak lupa ia perbaiki gamis yang sempat tersingkap tadi. Kemudian membawanya menuju mobil.


Di dalam mobil baik Yoga ataupun Aisyah tak ada yang berbicara. Yoga yang masih mengingat kejadian istrinya dan rivalnya. Sedangkan Aisyah yang juga merasa bersalah.


"Mas maafkan aku." Ujar Aisyah memecah keheningan.


Suaminya itu nampak menghembuskan nafasnya, namun sama sekali tak menyahuti perkataannya. Aisyah menundukkan kepalanya.


"Percayalah Mas, apapun yang kau lihat itu tidaklah-"


"Seperti yang aku pikirkan." Potong Yoga cepat, dan menoleh sekilas ke arahnya. "Memang kata-kata itulah yang sering diucapkan oleh semua yang orang yang terciduk sedang bersama orang lain. Tidak bisakah kau kreatif, temukan kata-kata yang berbeda seperti itu?" Lanjutnya.


"Mas tapi memang benar adanya seperti itu. Sebelumnya aku dan Hanum ingin membeli aksesoris, karena aku tak terlalu memperhatikan jalanku hingga tak sengaja aku menabrak seseorang. Aku akan sangat bersyukur jika ada CCTV yang terpasang di tempat itu. Bagaimana caranya agar kau percaya Mas?" Lirih Aisyah menatap suaminya sendu.


Senyum pun muncul di wajah Yoga meski tipis. Ia membelai lembut kepala Aisyah. "Aku percaya padamu sayang, jujur saja aku hanya cemburu. Pria mana yang tidak kesal melihat hal itu, tapi aku yakin bahwa kau tidak akan pernah seperti itu." Ujarnya.


Aisyah segera tersenyum dan memeluk lengan Mas Yoga. "Terimakasih sudah mempercayai aku Mas. Aku sangat mencintaimu." Sahutnya haru.


Yoga meraih tangan Aisyah dan mengecupnya, selama perjalanan pulang menuju hotel tangan mereka saling bertautan.


***


Yoga memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut Aisyah di kepalanya. Aisyah juga melantunkan shalawat yang begitu menenangkan hati Yoga. Ia begitu beruntung memiliki wanita secantik dan sebaik Aisyah.


Ia menghadapkan wajahnya di perut sang istri. Diusapnya pelan dan ia kecup singkat. "Sayang, aku berharap sebentar lagi ada yang memanggilku Papa. Aku mengharapkan seorang makhluk hasil dari cinta kita sangat. Dan juga berharap dengan adanya dia, pernikahan kita akan awet serta kita dapat melewati segala ujian yang akan menemani perjalan kita."


Aisyah tersentuh hatinya, ia menunduk dan mencium kening Mas Yoga. "Doakan saja ya Mas, semoga kita segera diberi amanah."

__ADS_1


Suaminya itu mengubah posisinya menghadap dirinya, dan tangannya pun Mas Yoga genggam dengan erat.


"Sayang, kamu adalah wanita yang sangat aku cintai. Dan aku ingin membuatmu selalu bahagia. Tapi aku minta satu hal padamu boleh?" Tanya Yoga dengan serius.


"Tentu Mas, katakan saja."


"Aku mohon bersabarlah dengan sikap Mama."


Ucapan Mas Yoga seketika membuat mata Aisyah terbelalak. Ia begitu terkejut.


"T-tapi ada apa Mas?" Tanyanya tergagap.


"Aku tahu bagaimana sikap Mama padamu. Jujur aku sangat malu, saat semua pekerjaan kau yang melakukan itu semua. Bahkan untuk membeli bahan-bahan makanan saja, harus menggunakan uangmu. Aku sangat malu sayang.


Jika saja aku bisa membayar jasa art, sudah dari dulu aku melakukannya. Maafkan pria yang lemah ini." Ungkap Yoga tertunduk malu.


Aisyah segera meraup wajah Mas Yoga, dan tersenyum manis. "Mas orang tuamu juga orang tuaku, lagipula syurga mu sampai kapanpun berada di bawah telapak kaki Ibumu."


"Tapi tetap saja, aku tahu perlakuan Mama pasti membuatmu tersiksa. Sebenarnya aku juga tak mengerti apa yang membuat Mama tiba-tiba berubah seperti itu. Padahal dulunya Mama begitu menyukaimu sebelum menikah denganku."


Hati Aisyah seketika mencelos, ia mengingat kenyataan pahit yang orang tuanya katakan sebelum pernikahan. Ia juga melihat raut wajah Mama Dewi saat orang tuanya memberitahu segalanya, dari situ ia sudah merasa tak enak.


"Aku yang minta maaf Mas, kamu tahu sendiri bagaimana aku ketika berada di rahim Bundaku. Aku-" Yoga menutup mulut istrinya dengan jari telunjuk.


"Kau wanita terbaik, tak peduli bagaimana masa lalu mu. Ayah dan Bundamu melakukan hal yang baik, ketika mereka memberitahukan semuanya. Dengan ini pernikahan yang kita jalani, bernilai ibadah di setiap waktunya.


Kau tahu kan, syaitan sangat tidak menyukai pernikahan karena hal itu bernilai ibadah seumur hidup. Makanya dia mencari celah untuk menghancurkan sebuah pernikahan. Karena itu, aku memintamu bersabar dengan sikap Mama. Mungkin ha itu adalah salah satu krikil yang harus kita lalui sayang.


Apapun yang menimpa kita, asalkan kita selalu bersama-sama dan kuat cinta kita. Insyaallah kita bisa melalui ini dengan baik." Tutur lembut Yoga.


Aisyah tersenyum haru, dan dengan cepat ia merengkuh tubuh suaminya. Ia benar, tak peduli seberapapun besar badai menghadang. Jika mereka sama-sama kuat dalam menggenggam erat cinta mereka, maka semua akan mudah mereka lalui.


_________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.

__ADS_1


Terimakasih ;)


Ig; @nick_mlsft


__ADS_2