
"Ta-ta..... ta-ta-ta..."
Perhatian keduanya teralih pada Syauqi yang terlihat begitu menggemaskan. Tangannya seperti seolah tengah menjangkau sesuatu.
Hap.
Aidan menangkap Syauqi setelah merentangkan kedua tangannya, membuat sosok kecil itu senyum dengan lebar. Aisyah terkekeh melihatnya.
"Syauqi..." panggil Aisyah, Syauqi menoleh dibuatnya.
Sejenak mereka kembali bermain dengan Syauqi. Tingkah Syauqi yang begitu aktif membuat siapapun betah berlama-lama main dengannya.
"Oh ya Bang, Mbak Zara?" Tanya Aisyah di sela-sela itu.
"Beberes." Jawab Aidan singkat.
"Beberes? Untuk apa? Kalian ingin pergi? Ke mana?" Kembali ia bertanya secara beruntun.
Aidan menoleh sejenak. "Kamu kan tahu tiga hari lagi bulan Ramadhan. Memang Zara tidak pernah mengutarakan keinginan untuk pulang ke kampungnya, tapi Abang tahu bagaimana kerinduan dia kepada keluarganya. Jadi lah tahun ini Abang dan Zara ingin berpuasa di kampung Zara sebulan penuh. Kamu mau ikut?"
Binar wajah Aisyah nampak terang seketika mendengarnya. "Boleh ikut?"
"Em, tentu saja. Tapi coba izin dahulu pada Ayah dan Bundamu."
"Itu hal yang mudah." Jawabnya enteng. "Kapan berangkatnya?"
"Sore, ba'da Ashar kita sudah siap untuk pergi."
"Jam tiga aku sudah di sini."
Aidan tersenyum melihat antusiasnya Aisyah untuk ikut dengannya. "Baiklah, Abang akan tunggu di sini."
"Terimakasih Bang, ya sudah Aish coba bertemu dengan Kakek dan Nenek ya. Juga bantu-bantu Mbak Zara, pasti banyak yang harus dipersiapkan untuk tiga orang."
"Iya Aish."
Dengan girang Aisyah melangkahkan kakinya ke lantai atas tempat di mana Zara sedang mengemas pakaian.
Tok, tok, tok.
"Masuk!"
Ceklek.
Tempat yang dituju nampak begitu berantakan dan banyak sekali tumpukan pakaian di tepi ranjang.
__ADS_1
"Mbak Zara." Sapa Aisyah.
Zara menghentikan aktifitasnya sejenak. "Eh Aisyah toh, ada apa?" Tanya nya ramah.
"Em tidak, hanya apa Mbak butuh bantuan? Tadi Abang bilang kalian mau pergi ke kampung halaman Mbak bulan puasa ini. Jadi mau ditolong beberes?"
"Eh iya ini Ai, memangnya kamu tidak sibuk? Bukannya masih kangen-kangenan sama Kakek dan Abang kamu itu?"
"Hehe tidak kok. Ya sudah mana sini yang mau dibantu?"
Aisyah pun membantu Zara dalam mengepak pakaian dan barang-barang yang lain.
"Oh ya Mbak, sebenarnya Aisyah juga ingin ikut Mbak sama Abang pergi ke sana." Lirih Aisyah setelah semua selesai.
"Eh benar itu? Ya Alhamdulillah, kamu nanti akan Mbak ajak keliling deh. Suasana desa Mbak sejuk loh Dek." Sahut Zara antusias.
"Benar Mbak? Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang Aisyah pulang dulu ya,"
"Iya atau mau Mbak ikut buat bantuin kamu?"
"Eh tidak usah Mbak, ini kan sudah siang. Nanti kalau Syauqi butuh Mbak bagaimana? Ya sudah, Aish pergi sekarang ya Mbak. Assalamu'alaikum." Mencium punggung tangan Zara.
Zara tersenyum dibuatnya. "Wa'alaikumussalam, hati-hati ya Dek."
Ikhsan yang ingin mencari cucu perempuannya dibuat kebingungan. "Loh Aidan, Aisyah di mana?" Menghampiri Aidan yang sedang bermain dengan Syauqi.
"Sedang pulang Yah, tadi dia bilang mau ikut Aidan ke rumah Zara." Jawab Aidan.
"Ikut? Memangnya dibolehkan sama Fahmi dan Melati?"
"Em itu tidak tahu Yah, makanya sekarang pulang untuk minta izin dengan mereka. Sekalian siap-siap untuk pergi nanti sore. Aidan pikir dengan mengajak Aisyah pergi bisa membuat dia sedikit melupakan kesedihannya Yah. Apalagi biasanya di sana memang orang-orangnya yang ramah, Aidan yakin di sini dia hanya berdiam diri di rumah."
Ikhsan menganggukkan kepalanya, "Kamu benar Aidan, tolong jaga Aisyah yah."
"Tentu Yah."
...***...
"Eh Ibu, tahu Jihan tidak?" Celetuk seseorang pada beberapa wanita paruh baya yang tengah belanja di warung.
"Em Jihan yang masih muda itu kan? Yang sudah sekitar satu tahun di sini dengan suaminya?" Jawab salah seorang Ibu.
"Iya, tahu tidak. Ternyata dia itu pelakor, lelaki yang selalu di rumahnya ternyata sudah punya istri. Mereka baru menikah siri enam bulan yang lalu, yang lakinya itu juga sudah bercerai dengan istri pertamanya." Lanjutnya.
"Apa? Masa sih? Lakinya itu yang namanya Pak Yoga kan ya?" Tanya sang pemilik warung yang kepo.
__ADS_1
"Wah pantesan saja Pak Yoga suka pergi dari rumah itu kalau malam. Ternyata selalu pulang ke rumah istri pertamanya." Sahut yang lain.
"Iya Bu, ih benar-benar ya tuh si Jihan masih muda sudah punya bakat mencuri milik orang." Sang pemilik warung geleng-geleng mengingat usia Jihan.
"Iya Bu, padahal istri pertama Pak Yoga itu cantik loh Bu. Berhijab pula, tapi si karena memang imannya yang lemah juga Jihannya yang gatal kenapa tidak tergoda."
Semua berdecih melihat Jihan yang dengan percaya dirinya menghampiri mereka. Pakaiannya pun terlihat begitu minim padahal ia sedang mengandung.
"Pagi Ibuk-ibuk." Sapanya ramah. Ia masih belum tahu dirinya sendiri adalah topik pembicaraan sebelum ia datang.
"Cih, bagaimana Pak Yoga-nya tidak terpesona. Lihat saja kadar ***********, benar-benar tidak memiliki attitude sama sekali. Sudah berzina, bangga memamerkan anak haram, dan sekarang pakaiannya begitu minim." Cerocos seseorang menyentil Jihan.
Sontak membuat Jihan membelalakkan matanya. Ia menatap tajam ke arah salah satu wanita yang menyindir dirinya. "Apa maksud Ibu yah?"
"Hei tidak usah sok keras kamu pelakor. Merasa menang dari istri sah? Cih, modal tubuh saja bangga." Mata Jihan memerah ingin menangis.
Tanpa mengindahkan perkataan mereka, Jihan pergi dengan tergesa tanpa membeli belanjaan apapun.
"Eh mau kemana bumil?"
"Awas jangan lari-lari? Bajunya takut ke angkat."
"Loh tidak masalah dong Bu, diakan ******. Jadi sudah terbiasa telanjang di depan laki orang."
"Eh iya kan pelakor rendahan, jadi tubuhnya tidak hanya murah dengan satu orang."
Luruh sudah tubuh Jihan ketika berada di rumahnya. Ia menangis pilu, sembari menutup wajahnya. Entah dari mana mereka mengetahui semua hingga ia ditelanjangi sepanjang jalan.
Yoga yang mendengar suara isakan seseorang pun keluar dari kamar mandi. Dahinya mengernyit heran menatap Jihan yang sedang menangis tersedu.
"Hei Jihan? Di mana barang belanjaanmu? Bukanya pulang bawa bahan untuk memasak suami malah menangis."
Jihan semakin menahan himpitan di dadanya. Bukannya merasa iba, Yoga justru mementingkan hal lain dari perasaannya.
"Mereka menghinaku ramai-ramai Kak, mereka menyakitiku."
Sedang setelahnya Yoga hanya terdiam membeku. "Memangnya mereka bagaimana?" Tanya nya sedikit halus, ia mensejajarkan tubuhnya dengan Jihan.
"Mereka menghinaku ketika aku ingin membeli sesuatu di warung. Sebenarnya ini memang bukan pertama kali, kemarin-kemarin pun saat aku pergi ke warung yang berbeda perlakuan ibu-ibu yang lain seperti yang sekarang." Terang Jihan menjelaskan.
_____________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih :)
__ADS_1