Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Rasa Nyaman Itu Ada


__ADS_3

"Mau aku suapi?" Tanya Yoga menawarkan.


"Jika itu suamiku tentu aku mau." Jawab Aisyah tersenyum manis. Dengan gemas Yoga mengacak rambut Aisyah.


Maafkan aku sayang, membuatmu menunggu terlalu lama. Entah kenapa aku tidak menyadari bahwa aku sudah cukup lama berada di rumah Jihan. Ucap Yoga dalam hati. Ia daratkan kecupan manis di kening Aisyah.


...***...


"Pagi Mas," sapa Aisyah di pagi harinya. Ia teliti dengan baik wajah suaminya itu yang masih bersahabat dengan bantal.


Perlahan, bulu mata lentik milik Mas Yoga itu terlihat terangkat. Disusul senyum manis yang menawan.


"Pagi wanita cantik penghuni Syurga-Nya Mas." Sahut Yoga. Aisyah tersipu dibuatnya.


"Sudah mau subuh Mas, ayo mandi sekarang. Nanti Papa nunggunya kelamaan loh." Ujar Aisyah menelusuri wajah Yoga dengan jari-jari lentiknya.


"Iya sayang, tapi sebentar lagi yah. Mas sangat merindukanmu pagi ini." Semakin mengeratkan rengkuhannya.


"Ayolah Mas, dua puluh menit lagi adzan loh. Tidak masalah kalau kamu mandinya cepat. Aku juga belum menyiapkan air dan pakaian untukmu." Rengek Aisyah.


"Iya iya baiklah istri sholehahku."


Aisyah bangkit dari tidurnya, tak lupa dengan gemas ia cubit hidung milik Yoga. Yoga hanya tersenyum menanggapi dan bahagia.


Sembari menunggu Aisyah, tiba-tiba pikirannya melayang ke kejadian kemarin malam. Jihan, yah gadis 20 tahun itu tetiba terlintas dalam benaknya. Penasaran, ia buka gawainya dan melihat foto yang terpampang di profil sosial medianya.


Sudut bibirnya naik dua-duanya. Manis. Gumamnya.


Ia teringat saat di rumah gadis itu, saat mereka makan malam bersama. Jihan masih saja seperti anak kecil yang belepotan bila memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Hal itu sontak membuat tangannya terulur untuk mengusap noda tersebut. Hingga dapat ia rasakan begitu halus dan lembut kulit wajah Jihan. Ia tersenyum-senyum sendiri mengingatnya.


Ceklek. Yoga mengangkat wajahnya dan segera menyimpan ponselnya di atas nakas.


"Sudah sayang?" Tanya Yoga.


"Iya Mas, ayo mandi sekarang. Setelah ini akan aku siapkan pakaian untukmu."


"Terimakasih sayang," Mencium pucuk kepala Aisyah.

__ADS_1


......***......


Ketika di tengah jalan pulang tak sengaja manik mata Yoga mendapati Jihan uang tengah berjalan sendirian di tengah-tengah hujan deras seperti ini. Ia kemudikan mobilnya dengan pelan agar tak mengotori baju Jihan.


"Jihan!" Panggilnya. Tanpa menunggu lama, ia ambil payung yang berada di belakang. Dan melindungi tubuh Jihan dari air hujan meski sudah basah kuyup.


"Eh iya Kak Yoga, ada apa?" Tanya Jihan tersenyum manis.


"Kamu darimana? Kenapa hujan-hujanan begini?" Raut wajah khawatirnya begitu jelas terpampang.


"Em iya Kak, tadi ingin membeli sesuatu di sana." Menunjuk sebuah minimarket. "Ternyata waktu ingin pulang hujan turun. Tidak bawa payung, juga ingin membeli tidak cukup uang." Lanjutnya.


Yoga menghembuskan nafasnya pelan. Tubuh Jihan meremang tatkala sebuah tangan kekar mendarat di kedua bahunya. Ternyata Yoga menuntunnya untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Ayo langsung masuk saja, bisa-bisa kau sakit nanti. Lagipula rumahmu juga masih jauh." Titah Yoga.


"Terimakasih Kak." Ucap Jihan tulus.


Yoga memutari mobilnya dan mulai mengendarainya menuju rumah Jihan. Sepanjang jalan Jihan terus saja bersin, membuat Yoga cemas melihatnya.


Ia kerahkan mobilnya terlebih dahulu ke apotek, baru setelahnya ia pergi ke rumah Jihan.


"Kak terimakasih sudah mau mengantarkan aku."


"Baiklah." Pasrah Jihan, bukan tapi sebenarnya ia sangat senang.


"Kau langsung bersihkan dulu tubuhmu. Biar aku siapkan makanan dan teh hangat untukmu."


Jihan lagi-lagi mengangguk. Setelah sekian lama, akhirnya ia mendapatkan perhatian kembali dari orang lain. Selama ini, hanya bekerja keras tanpa ada yang menemaninya lah yang ia lakukan. Semua itu terjadi semenjak Ibunya meninggal. Ayahnya sendiri sekarang entah pergi ke mana.


Ia menitikkan air matanya ketika mendapati Yoga yang begitu telaten menyiapkan makanan untuknya. Tanpa ia sadari Yoga melihat ke arahnya, dan terkejut mendapati wajah Jihan yang telah berbanjir air mata.


"Jihan ada apa? Mana yang sakit?" Dengan cemas ia bertanya.


Jihan tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak apa Kak,"


Entah apa yang membuat Yoga begitu memperhatikan Jihan. Ia sendiri tak mengerti. Sesaat pertama kali ia menatap mata Jihan untuk pertama kali. Tiba-tiba saja ia merasa tertarik, seakan dapat menangkap sesuatu dalam diri Jihan.


Yang ia sendiri tak tahu apa. Seperti luka yang begitu dalam, kesabaran yang tiada ujung, terselip sebuah keinginan untuk bebas, namun keadaan seakan menjeratnya tiada ampun.

__ADS_1


Yoga ingin sekali menjadi pelindung bagi Jihan, ia ingin Jihan lebih terbuka untuknya. Namun ia sadar sekarang bukanlah saatnya. Bahkan ia baru mengenalnya beberapa hari ini.


"Ya sudah ayo sekarang langsung makan saja, dan aku sudah menyiapkan obat untukmu juga." Jihan begitu tenang, merasakan belaian lembut di rambutnya. Senyum yang terpancar dari wajah Yoga seakan menghipnotisnya.


"Jihan," lambaian tangan Yoga meski berada sangat dekat dengan wajah Jihan masih belum mampu membuyarkan lamunan Jihan.


"Jihan." Panggil Yoga dengan nada agak tinggi dari sebelumnya.


"Eh iya Kak, maaf aku melamun." Jihan meringis malu.


Yoga menggeleng gemas, tingkah gadis dua puluh tahun itu terlihat lucu.


"Ayo.."


...***...


Beberapa bulan berlalu hubungan antara Jihan dan Yoga semakin dekat. Jika pada awalnya Yoga berada di rumah Jihan karena kebetulan bertemu. Tidak dengan dua bulan terakhir ini. Yoga sering ke rumah Jihan karena ingin sekedar mampir dan bertamu.


Seperti saat ini, tak langsung pulang Yoga terlebih dahulu mampir sekedar mengopi bersama dengan Jihan. Namun ada yang aneh di rumah Jihan saat ini.


Pintunya terlihat terbuka lebar dan satu motor matic terparkir rapi di depan rumah Jihan. Air wajah Yoga berubah merah padam dan buku-buku jemarinya berubah berwarna putih sempurna.


Seorang wanita yang tengah meringis sakit dengan tubuh tanpa sehelai benang pun. Di sampingnya ada seorang pria yang terlihat tengah mengenakan kembali pakaiannya. Nampaknya, ia sudah cukup puas menyalurkan hasratnya pada gadis tak berdaya itu.


Bug! Tanpa ampun Yoga layangkan bogem mentah pada wajah pria paruh baya tersebut. Sang pria yang masih lelah karena aktifitasnya membuatnya tersungkur.


Bug, bug. Darah mengalir menjalar dari pelipis hingga bibirnya.


Jihan yang masih ketakutan hanya terdiam dan berlindung di sudut kamar.


Tubuh pria itu sudah terlihat begitu lemas, ia sungguh tak berdaya sekarang. Yoga yang muak, langsung saja menyeret tubuhnya keluar. Tanpa memperhatikan bagaimana pria tersebut nantinya.


Ia hampiri Jihan yang masih bergetar tubuhnya, "Jihan." Lirihnya pilu.


"Kak," isak Jihan.


"Tenang ada aku di sini." Yoga dengan pelan menyelimuti tubuh Jihan. Kau kenakan dulu pakaianmu yah. Aku akan mengajakmu pergi dari sini. Aku tunggu dulu di luar." Titahnya lalu keluar dari kamar tersebut.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.

__ADS_1


Terimakasih :)


Ig : @nick_mlsft


__ADS_2