
"Chuuuuih! Kau ini bagaimana sih Jihan? Memasak saja rasanya sangat asin. Tidak bisa memasak seharusnya tidak usah. Beli saja keluar, buang-buang makanan kan kalau seperti ini!"
Jihan terlonjak kaget mendengar bentakan dari suaminya. "Maaf Kak mungkin tadi Jihan sedang tidak fokus," jawab Jihan bergetar. Ini bukanlah pertama kali Jihan seperti itu, namun sikap Yoga tidak seperti biasanya. Dulu ia akan menasehatinya dengan lembut dan tersenyum. Tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
"Sudah sekarang siapkan kemejaku, ingat harus rapih dan tidak kusut." Titah Yoga sembari membersihkan tangannya.
Wanita hamil itu melebarkan matanya, baru ia ingat sebelum ini ia sedang menyetrika pakaian milik Yoga.
"Astaga." Gumamnya.
Yoga yang melihat Jihan tergesa meninggalkan ruang itu mengernyitkan dahinya, langkah kakinya mengikuti kemana Jihan pergi. Semakin dekat ia mengendus aroma seperti gosong.
Matanya membuat, rahangnya mengeras dan ia mengepalkan tangannya kala melihat pemandangan di hadapannya.
"Dasar istri payah!" Bentaknya.
Plak!!!!
Jihan menahan perih di pipinya sembari mengatupkan matanya.
"Kau tahu berapa harga kemeja ku hah?! Memasangkan dasi tidak bisa, memasak rasanya asin, dan sekarang kau merusak pakaianku. Aku sudah cukup sabar dengan tingkahmu yang tidak becus sebagai istri Jihan!"
Brak!
Sebuah kursi terpental dari tempatnya lantaran Yoga yang menendangnya dengan geram. Perlahan, buih-buih jatuh mengalir menghangatkan pipi Jihan.
"Aku tahu kau masih belum bisa menerima perpisahanmu dengan Aisyah Kak. Tapi apa harus kau melampiaskan amarahmu padaku?" Tanya Jihan lirih disertai isak tangisnya.
__ADS_1
"Kau sedang apa?! Cepat siapkan aku baju yang lainnya!!!!!" Seru Yoga dari dalam kamar.
Dengan segera Jihan hapus air matanya. "Iya Kak!" Jawabnya dan melaksanakan apa yang telah Yoga perintahkan padanya.
Ceklek.
"Dasar lemah, begitu saja menangis. Aisyah bahkan yang tiap hari disuruh-suruh oleh Ibuku biasa saja. Dan tidak pernah mengeluh." Cerocos Yoga melihat sang istri yang tengah membuka lemari pakaian mereka.
Jihan hanya menunduk dan mengangguk. Namun telinga dan hatinya terasa panas.
Lagi-lagi Aisyah, mengapa hanya dia yang ada di hati dan pikiranmu Kak. Ini aku, lihatlah aku yang sedang berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Setidaknya hargai semua perjuanganku untuk memenangkan hatimu Kak.
...***...
"Abang dalam menjemput tulang rusukku itu dengan bersepeda dari Abang masih berada di MTs." (Mts sama dengan SMP. Bedanya Mts adalah pendidikan dalam binaan Menteri Agama yang dimana dalam pembelajaran memiliki tambahan mata pelajaran khas Agama Islam."
Aidan terkekeh kecil. "Maksudnya perjuangan Abang merayu Pencipta-Nya dalam meminta kehadiran Zara sudah dari dulu."
Aisyah masih mengernyitkan dahinya, pertanda ia masih belum paham. "Memangnya Abang sudah kenal Zara dari Abang masih MTs?"
"Tentu saja tidak, Abang bertemu dengan dia ketika dulu sedang menggarap skripsi di desa Zara tinggal. Kita bertemu saat sama-sama ingin ke Masjid, dan saat itu jugalah Abang jatuh cinta karena tidak sengaja Abang melihat dia yang sedang sholat sunnah sebelum shalat." Terang Aidan diiringi senyum.
"Abang suka ngintip tempat putri?"
"Tidaklah, waktu itu Abang masuk lewat teras pintu tempat putri terbuka jadi ya sempat melirik saja. Tidak disengaja atau gimana."
"Owh begitu, terus kalau baru ketemu waktu itu kenapa Abang tadi bilang sudah memperjuangkan Zara ketika masih sekolah?" Lanjut Aisyah yang kepo dengan cerita Aidan dan Zara.
__ADS_1
"Karena Abang sudah yakin dengan Lauh Mahfudz Allah dari sekolah. Abang yakin bahwa segala sesuatu entah itu rezeki, jodoh dan maut sudah Allah atur dalam kitab-Nya. Dulu memang Abang tidak menyebutkan nama ketika berdoa tentang jodoh Abang. Karena memang Abang belum tahu. Tapi setiap waktu Abang meminta kepada Allah untuk menjaga jodoh Abang di manapun dan kapanpun. Istiqomah untuk selalu ada di jalan ridho-Nya. Dan lainnya, yang sesuai dengan yang Abang inginkan.
Berdo'alah seperti kita sedang mengayuh sepeda. Tidak hanya satu kali, karena kita tidak pernah tahu kapan Allah akan menjawab doa kita. Jangan pernah berputus asa ketika doa kita belum terkabul, karena Allah lebih tahu mana yang baik dan buruk untuk kita. Tetap optimis dan husnudzan dengan Allah, makanya tadi di awal Abang bilang berdoa seperti mengayuh sepeda. Dan dalam perjalanan tentu tidaklah semulus yang dibayangkan, ada saja godaannya. Tapi jika kita Istiqomah, Insya Allah semua akan sampai pada waktunya. Ikhtiar, berdoa terus menerus itu baik, tapi jika tidak diiringi usaha juga untuk apa. Usaha itu seperti apa?
Usaha kamu dalam memperbaiki diri. Pernah mendengar kan jodoh adalah cermin dari diri sendiri? Karena itu jika memang kamu memiliki seribu keinginan, maka bertahan dan betah-betahlah dalam bersujud dan memperbaiki diri. Tidak perlu tergesa, tapi secara perlahan-lahan. Karena sekuat dan sebesar apapun batu namun jika terus-menerus terkena tetesan air maka akan rapuh dengan sendirinya."
Aisyah termenung berusaha mengolah semua perkataan yang keluar dari mulut Aidan. Aidan tersenyum melihatnya, ia sentuh bahu Aisyah.
"Aisyah?"
"Eh iya Bang."
"Kenapa? Dengarkan apa yang Abang bilang tadi?"
"Iya." Menganggukkan kepala.
"Aisyah Abang tahu kamu pasti memiliki trauma untuk menjalani pernikahan lagi. Abang tahu kamu mengkhawatirkan pribadi dari seorang lelaki di zaman sekarang, belum lagi kamu sendiri yang divonis oleh Dokter untuk susah dalam mengandung. Jangan khawatirkan masalah itu, karena kita punya Allah. Kamu tidak mendapatkan apa yang kamu harapkan, bisa jadi karena kamu sendiri yang tidak ingin meminta. Kadang kita itu sudah diberi rezeki berupa materi, kasih sayang dan lain-lain sedikit saja sudah sombong. Sombong dalam artian, mohon maaf seperti seolah sudah tidak butuh Allah lagi. Kamu merasa berada dalam titik terendah hidupmu baru kamu mencak-mencak kenapa harus seperti ini.
Jangan seperti itu. Yakinlah pada Allah, tambahkan kadar kecintaanmu pada Allah. Menikah adalah ibadah yang mulia dan terpanjang pada Allah. Abang berbicara seperti ini bukan berarti meminta kamu untuk menikah secepatnya. Tidak, Abang tahu kamu perlu waktu untuk menyembuhkan luka kamu terlebih dahulu. Tapi jangan buat itu alasan untuk kamu untuk hidup sendiri seumur hidup. Coba kamu dekatkan diri lagi pada Allah, lakukan apapun yang disukai oleh Allah. Di antara ibadah yang lain, pernikahan adalah ibadah terlama karena dijalankan seumur hidup. Yang Insya Allah setiap saatnya bernilai ibadah. Kamu bisa meminta agar jodoh kamu nantinya agar seperti ini dengan merayu pencipta-Nya dari sekarang." Ujar Aidan panjang lebar.
Aisyah tersenyum dibuatnya, "Terimakasih Bang. Abang selalu membuat kekuatan dalam diri Aish bangkit."
___________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih :)
__ADS_1