
"Mbak, mau kemana?" Tanya Aisyah ketika melihat Zara yang tengah bersiap.
"Mau ke sawah, mengantarkan Bapak makanan Ai." Jawab Zara lembut.
Aisyah tersenyum cerah. "Boleh ikut?"
Zara menatap Aisyah dari atas ke bawah. "Yakin mau ikut, di sana panas loh, kotor juga."
"Tidak masalah, boleh ya Mbak?" Ucapnya memelas dan memasang wajah imut. Zara terkekeh dibuatnya.
"Ya sudah tidak apa-apa, tapi kamu sudah sholat?"
"Hehe, belum." Sahutnya meringis.
"Hm, ya sudah sholat dulu. Tidak perlu tergesa-gesa, Mbak janji bakal tungguin."
"Siap Mbak."
Cukup lama Zara menunggu Aisyah, akhirnya yang ditunggu pun keluar dengan celana lebar dan tunik.
"Sudah? Ayo kita berangkat." Ajak Zara.
--
"Wah, iku sing agi karo Mbak Zara sopo yo? Ayu tenan." (Wah, itu yang sedang bersama Mbak Zara siapa ya? Cantik sekali). Ucap salah seorang petani lelaki yang usianya tak jauh berbeda dengan Zara.
"Weh iya le, sopo toh iku?" (Wah iya, siapa itu). Balas yang lainnya. Sesaat mereka menghentikan kegiatan mereka sejenak. Membuat salah seorang laki-laki mengalihkan pandangannya ke sumber yang tengah menjadi buah bibir.
Alisnya menyatu dan sedikit menyipitkan matanya. Namun tak lama ia menggeleng, "Nyebut Ikfi, dia itu sudah menjadi istri orang. Tidak mungkin dia ada di sini." Gumamnya.
"Bapak!" Tegur Zara pada Bapaknya meminta untuk berhenti sejenak.
"Iya Nduk." Sahut Bapak.
"Nembe ndugiaken dhaharan niki." (Sedang mengantar makanan ini). "Dahar rumiyin to Pak," (Makan dulu Pak). Ujar Zara, kemudian dengan Aisyah mereka berjalan menuju sebuah gubuk.
"Enggih Nduk." (Iya Nak.) Jawab Bapak lalu mencuci tangannya dan menghampiri sang anak.
"Bapak, Ibuk. Mpun rumiyin, mriki badhe dhahar." (Bapak Ibuk. Sudah dulu, sini mau makan). Seru Bapak pada yang lainnya.
Mereka yang telah mendengar seruan Pak Banyu pun menghampiri. Menyantap makan siang dengan ramai-ramai membuat suasana menjadi tak bosan, juga dengan berbincang seperti ini membuat lelah mereka seolah hilang tak berbekas.
"Oh iyo, iki Ikfi nang ngendi Jo?" (Oh iya, ini Ikfi di mana Jo) Bapak menatap salah seorang lelaki yang bernama Joko.
"Duko Pak." (Tidak tahu Pak).
__ADS_1
Bapak mengangguk, ia pun menyisakan sedikit makanan untuk sang keponakan.
"Aisyah, Zara kalian tidak makan?" Melihat ke arah Zara dan Aisyah yang sedang berbicara sendiri.
"Ouh tidak Pak terimakasih. Kami sudah makan tadi." Sahut Aisyah sembari tersenyum.
Beberapa orang di sama saling pandang. "Oalah, namine Aisyah toh." (Oalah, namanya Aisyah). Bisiknya.
"Ayu tenan yo." (Cantik sekali ya). Sahut yang lain.
Tak lama setelah mereka selesai, datang seorang lelaki bergabung dengan mereka.
"Wealah nembe teka to le, iki wes pada rampung gole maem." (Wealah baru datang, sudah selesai makannya). Tegur Bapak pada Ikfi.
Sedang yang ditegur hanya meringis. "Ngapuntenne Pakde," (Maaf Pakde).
"Yo wes maem sek ngono lo." (Ya sudah makan dulu sana). Titah Bapak pada Ikfi.
"Matur suwun Pak." (Terimakasih Pak)
"Aisyah." Lirih Ikfi saat melihat seorang perempuan yang pernah ia lihat. Maniknya menyapu seluruh tubuh gadis itu, tidak salah memang wanita di hadapannya kini adalah Aisyah. Wanita yang sampai saat ini tak mampu membuat wanita lain memasuki hatinya.
Aisyah mengalihkan pandangannya dari ponsel. Matanya melebar, "Ikfi?" Cicitnya.
Zara yang melihat reaksi keduanya mengernyitkan dahi. "Aisyah." Ujarnya membuyarkan lamunan Aisyah.
Melihat Ikfi yang termangu menatap Aisyah. Membuat ia berpikir. Apa mungkin Aisyah adalah perempuan yang diceritakan Hanum. Wanita yang disukai Ikfi tapi ditinggal menikah?
Diam-diam ia tersenyum geli. "Ikfi!" Serunya.
"Eh iya Mbak Zara."
"Ada apa? Kamu disuruh makan kan sama Bapak."
"Iya Mbak."
"Ya sudah ayo cepat makan."
Aisyah hanya menunduk, ingin bertanya kabar pada Ikfi pun ia malu. Bukan karena ada rasa atau apa, memang hanya ingin bertanya layaknya teman. Entahlah melihat perempuan yang ada di sini yang memang memiliki malu pada lawan jenis membuat ia segan. Apalagi ada Zara di antara mereka.
"Ikfi sudah lama Mbak tidak memancing, setelah makan boleh ajak Mbak nanti?" Tanya Zara memecah keheningan.
"Em boleh lah Mbak, kenapa tidak." Jawab Ikfi setelah mengunyah makanannya.
"Emangnya nanti tidak dimarahi Mbak, bukannya sekarang Ikfi harus bekerja ya?" Celetuk Aisyah ikut berbicara.
__ADS_1
Zara dan Ikfi tersenyum. "Mana ada yang berani memarahi Ikfi, orang dia pemilik sawah terluas kok. Dia datang ke sini kadang hanya untuk memantau saja, turun tangan hanya sesekali saja."
"Begitu ya Mbak?"
"Iya lah."
Aisyah membulatkan mulutnya sembari mengangguk.
...***...
Jihan hanya menghela nafas berat menatap suaminya yang masih mengacuhkan dirinya. Entah sudah berapa lama Yoga tak menampilkan senyum, namun hari ini entah angin mana yang membuat ia begitu ceria sembari melihat ponsel.
"Kak kau sedang ditunggu oleh Papa, untuk sholat jama'ah Isya'." Tegur Jihan sembari meletakkan pakaian yang tadi telah ia lipat.
Yoga melirik sekilas. "Bilang padanya tidak perlu menunggu, karena aku tidak akan ke Masjid sekarang." Balasnya santai.
"Baiklah." Jawab Jihan pasrah. Impian dimana ia akan hidup bahagia berdua dengan Yoga pupus sudah. Nyatanya ia justru memiliki seorang suami yang masih menggenggam erat masa lalu, sang mertua yang tak dapat menerimanya, serta saudara sepupu yang selalu menyindirnya dengan kata-kata pedas.
"Oh Jihan, siapkan aku air hangat dan pakaian untukku. Aku ingin pergi." Titah Yoga tanpa menatap Jihan.
"Pakaian seperti apa? Lagian ini sudah malam loh Mas. Memangnya kamu mau pergi kemana?"
Brak! Gebrakan meja di meja membuat Jihan terlonjak kaget. "Kau sebagai istri itu harusnya menurut apa kata suami tanpa harus bertanya. Aisyah saja dulu tidak pernah bertanya apapun setiap aku pulang dari rumahmu!"
"I-iya Kak, baiklah akan aku siapkan dengan segera." Dengan tergesa Jihan beranjak dari tempatnya dan menyiapkan apa yang diperintahkan oleh Yoga.
Yoga mantap tajam Jihan sampai menghilang dari pandangannya.
Ting, seketika raut wajahnya berubah cerah dan tersenyum. Ia mulai mengetik pesan.
Baiklah, tunggu aku sebentar masalah istriku bisa aku atasi. Yang penting kau juga harus mengatasi pacarmu itu. ~ Yoga.
Tak lama Yoga menundukkan kepalanya.
Itu juga tidak masalah, ya sudah aku tunggu ya. Setengah jam lagi kau harus sudah bersiap. ~ Manda.
Ceklek. Pintu terbuka, terlihat Jihan yang berjalan dengan lambat karena usia kandungan yang mulai membesar.
"Sudah aku siapkan airnya Kak, sebaiknya Kakak cepat mandi agar airnya tidak dingin." Ujar Jihan.
Yoga mengangguk menanggapi dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Jihan melirik kamar mandi yang telah bersuara, dengan pelan ia buka gawai suaminya yang berada di nakas. Ia mendengus karena tak dapat membuka layar tersebut. Dengan kesal ia taruh kembali benda pipih tersebut karena tak bisa membuka kunci.
___________________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih :)