
"Eeunghhh." Lenguh Aisyah lemah.
Yoga yang senantiasa berada di sampingnya mengarahkan pandangannya ke sumber suara. "Sayang," panggilnya.
"Mas Yoga." Cicit Aisyah. Genggaman di tangannya terasa lebih erat dari sebelumnya.
"Ada apa sayang? Mana yang sakit?" Tanya Yoga cemas.
Aisyah menggeleng lemah, "Maafkan aku." Masih mengingat kejadian tadi siang.
"Tidak apa sayang, lupakan itu dulu. Sekarang bagaimana keadaanmu?"
"Sedikit nyeri Mas," Aisyah teringat ketika ia terjatuh seketika membuatnya panik.
"Mas, bagaimana anak kita? Dia baik-baik saja kan?"
Hati Yoga bergetar menahan perih, ia yang calon Ayah saja merasa tidak terima sebelumya apalagi sang istri.
"Dia pasti sekarang baik-baik saja sayang, kita do'akan saja semoga mendapatkan tempat yang terbaik di sana."
"A-apa maksudmu Mas? Bayi kita-" Isak Aisyah.
"Aisyah tenang, ada aku di sini." Yoga beranjak dari duduknya dan segara merengkuh tubuh istrinya.
"Mas," bahu Aisyah terguncang dan dapat Yoga rasakan kemeja yang dikenakannya basah lantaran air mata Aisyah.
"Ini semua pasti karena aku Mas, apa karena aku bukanlah seorang wanita yang baik. Hingga anakku sendiri tak ingin bertemu denganku terlebih dahulu?"
"Tidak Aish, kau adalah wanita terbaik yang pernah aku kenal. Kau segalanya untukku sayang, mungkin karena memang belum waktunya saja kita menjadi orang tua."
"Aku tadi sempat membuatmu marah Mas, apa karena itu Allah menghukumku? Mas aku telah bersalah padamu Mas."
"Tidak sayang, jangan berkata seperti itu." Ungkap Yoga dengan menggelengkan kepalanya.
Ceklek.
Kedua orang tersebut masih tak menggubris siapa yang masuk ke ruangan tersebut. Pasangan suami-istri tersebut masih larut dalam suasananya.
__ADS_1
Puk, Yoga menoleh. Terpampanglah sang Ibu mertua yang sangat ia hormati.
"Bunda," lirih Yoga.
Melati memasang senyum, Yoga tahu maksudnya. Ia menguraikan pelukan tersebut dan membiarkan Melati mengambil alih Aisyah.
"Bunda.." Isak Aisyah semakin kencang.
Merasa membutuhkan waktu berdua, Yoga perlahan meninggalkan tempat tersebut.
"Anakku Bunda,"
Melati masih membungkam mulutnya, ia lebih memilih menyalurkan rasa sayang dan cintanya untuk sang putri. Diusapnya lembut punggung dan kepala tangannya. Cukup lama, keadaan Aisyah berangsur membaik. Melati meregangkan pelukannya.
"Bunda," lirih Aisyah. "Bagaimana dengan anakku? Mengapa Tuhan mengambilnya sebelum aku melihatnya, mengapa aku juga tak diajak olehnya Bunda?"
"Hush sayang kamu tidak boleh seperti ini, ingat masih ada suamimu dan keluargamu. Ada Bunda dan Ayah juga, tidakkah kamu berpikir tentang kami. Ingat sayang, kamu harus tetap kuat, di sana ia pasti sedang menunggumu di Syurga-Nya."
"Tapi kenapa dia harus pergi secepat ini Bunda? Bahkan ia sama sekali tak memberiku kesempatan untuk mendapatkan gelar Ibu. Aku pasti bukan Ibu yang baik, aku pasti bukan wanita yang baik, aku wanita terburuk yang pernah ada. Bahkan darah dagingku saja meninggalkan aku bahkan sebelum ia melihat rupaku."
"Nak, jangan pernah merutuki apapun yang menimpa hidupmu. Semua ini ujian untukmu, bisa saja apa yang menimpamu saat ini adalah yang terbaik untuk kedepannya. Mungkin Tuhan masih belum memberi kepercayaan untukmu dan suamimu. Yakinlah Nak, bahwa apapun yang sudah terjadi pasti ada hikmah di belakangnya.
Sejenak Aisyah terdiam, ia memikirkan terlebih dahulu apa yang telah diucapkan Bundanya.
"Atau mungkin kau sendiri yang masih belum siap menjadi seorang Ibu. Kau sedang mengandung anakmu, tapi kau sendiri jarang memikirkannya. Kau memperhatikan hal yang lainnya?" Lanjut Melati.
Aisyah menatap arah lain, memang selama ini ia tak terlalu memperhatikan janin di rahimnya. Perkataan dari mertuanya lah yang mengalihkan perhatiannya.
Jika ketika mengandung saja Mama sudah berniat menyingkirkan aku. Apalagi sekarang yang aku sendiri sudah tak dapat lagi hamil. Apa Mama akan meminta Mas Yoga untuk menceraikan aku?. Air matanya meluruh seketika mengingat hal itu.
"Mungkin aku akan bisa sedikit lebih lega jika aku akan mudah hamil kedepannya. Tapi bagaimana dengan keadaanku sekarang? Jangan berharap lagi bahwa akan ada yang memanggilku Mama, untuk hamil saja aku tidak bisa Bunda" Keluh Aisyah.
Melati tersentak, ia sendiri tak tahu harus menanggapi apa. "Tapi kata Dokter tidak menutup kemungkinan sayang, jika sudah seperti ini sering-seringlah meminta pada-Nya dan berusaha Nak.
Jika Dokter mengatakan bahwa kau sulit untuk hamil, mungkin dengan ini membuatmu lebih dekat dengan Allah Nak. Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Kau hanya perlu bersabar."
Aisyah menghela nafasnya berat. Sebenarnya bukan tentang anak yang aku permasalahkan Bun, tapi Mama mertuaku. Aku tidak tahu bagaimana nanti ia bersikap padaku. Anaknya adalah belahan hidupku, aku takut beliau memisahkan kami.
__ADS_1
...***...
Beberapa hari setelah itu.
"Apa lagi yang sebenarnya kamu tunggu saat ini?" Tanya Dewi dengan ketus pada menantunya.
"Maksud Mama?" Kembali Aisyah bertanya, tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Mama mertuanya.
"Pergi dari rumah ini. Apa lagi?"
Aisyah tersentak, "M-maksud Mama apa ya?"
Dewi memutar mata bola malas. "Kamu itu di sini hanya membawa sial. Lihatkan bahkan anak kamu sendiri memilih pergi sebelum lahir, itu karena dia sangat tidak sudi memiliki Ibu seperti kamu." Tutur Dewi tanpa memikirkan perasaan Aisyah.
"Cukup Tante, tidak ada seorang wanita manapun yang ingin memiliki nasib seperti Aisyah. Namun mungkin Tuhan mentakdirkan Aish seperti ini, karena Dia tahu bahwa Aisyah bisa melaluinya." Tegas Intan yang tiba-tiba muncul.
"Mah kumohon jangan pernah meminta aku ataupun Mas Yoga untuk berpisah. Pernikahan ini kami yang menjalani, kami saja bisa melaluinya. Lantas untuk apa ada perpisahan. Putramu juga mencintaiku Mah, setidaknya pikirkan apa yang diinginkan oleh Mas Yoga Mah." Sahut Aisyah.
Plak, nyeri tiba-tiba menjalar ke pipi Aisyah.
"Aku adalah Mama yang melahirkannya, aku yang menimangnya sedari kecil, aku yang lebih tahu bagaimana cara membahagiakan putraku. Dan kau itu siapa? Baru kemarin kau mengenalnya, jangan seolah kau adalah segalanya bagi Yoga Aisyah.
Asal kau tahu Aisyah, kehadiranmu hanyalah menjadi penghambat kebahagiaan dalam hidup Yoga. Dari pertama kau datang di rumah ini, rezeki yang selama ini Yoga kais dengan susah payah harus menurun. Dia menerima ejekan dari teman-teman sebayanya karena beristrikan kamu Aisyah.
Hanya saja dia yang terlalu mencintaimu hingga tak pernah mengeluh! Meski Mama tahu bahwa dia bisa menjalani ini semua tapi mau sampai kapan. Bahkan kau menjatuhkannya ke jurang yang begitu dalam setelah mengetahui bahwa janin yang kau kandung ternyata tak dapat hadir untuk menemani harinya.
Lebih parahnya lagi, ia harus mengubur impiannya dalam-dalam untuk mendapatkan gelar seorang Ayah. Kau ingin memberikan penderitaan apa lagi Aisyah. Seharusnya jika kau mengatakan cinta pada putraku harusnya kau mengerti kebahagiaannya!
Aku tidak mengerti, dosa seperti apakah yang belum termaafkan atau ibadahku yang tak diterima. Hingga aku mendapatkan menantu sepertimu!! Kau benar-benar anak pembawa sial!!" Ungkap Dewi berapi-api, dan segera berlalu begitu saja dari hadapan menantu serta keponakannya.
_______________________
Untuk novel ini kemungkinan Author tidak dapat update setiap harinya. Karena itu sembari menunggu novel yang ini, yuk mampir ke karya Author yang lain,
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mau mampir ;)
Ig: @nick_mlsft