Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Ke Rumah Kakek


__ADS_3

Baik Aisyah maupun Yoga sama-sama betah memandang satu sama lain. Tiada keinginan untuk memutusnya. Kerinduan di antara mereka sang jelas terlihat dari wajah keduanya. Hari inilah, hari di mana keputusan keluar dan menentukan status mereka nantinya.


Haris menyentuh bahu sang anak. "Ingat! Bagaimana pun Yoga telah menjatuhkan kamu talak. Dia sekarang bukan mahram mu dan tidak boleh memandang lawan jenis begitu lama. Jaga pandangan kamu Aisyah."


Aisyah menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum canggung pada sang Ayah. "Astaghfirullahal'adzim," gumamnya dan segera berlalu dari tempat itu.


Yoga yang masih berada di area parkir pun mulai memasuki ruang pengadilan tersebut. Tidak seperti Aisyah yang ditemani oleh keluarnya, ia hanya datang sendiri.


Air mata keduanya tak dapat dibendung kala hakim mengetuk palu pertanda sudah selesainya ikatan pernikahan di antara mereka. Aisyah menutup wajahnya dan menangis pilu. Begitupun Yoga yang melihatnya dari sebrang.


Ingin sekali ia merengkuh tubuh Aisyah, mendekapnya erat dan menyalurkan semua kerinduan dalam hatinya. Namun adanya status di antara mereka yang kini berubah tentu itu adalah hal yang mustahil.


Semoga hari ini adalah terkahir kau meneteskan air mata karena aku Aisyah. Jemputlah kebahagiaanmu setelah ini, meski sekarang status kita telah berubah. Namun perasaan di hatiku tidaklah seperti itu. Biarkan aku menyimpan nama mu dalam sanubariku di tempat yang paling indah seperti sejak saat itu. Aku mencintaimu Aisyah. Ucapnya dalam hati dengan mata terus memandang wanita yang tengah di tenangkan oleh orang-orang di sekitarnya.


Tanpa ingin berpamitan terlebih dahulu, ia pun pergi meninggalkan tempat itu. Meski hatinya berusaha ikhlas dan selalu menghindar pertemuan dengan Aisyah. Nyatanya hatinya sangat rapuh kala saat seperti ini. Penyesalan yang ada di dalam hatinya tak dapat lagi ia hindari.


Maafkan aku Aisyah! Maaf.


"Sudah Nak, ikhlaskan semua yang terjadi. Insyaallah kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lain, yakinlah dari setiap kesabaran hatimu dalam ujian yang diberikannya akan mendapatkan balasan yang indah." Tutur Melati dengan lembut mengusap kepala Aisyah.


"Kau boleh merasa kehilangan karena kehilangan cintamu saat ini Aisyah. Tapi yakinlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Tiada cinta dan kasih sayang yang lebih indah dari kasih sayang yang Allah berikan pada hamba-Nya." Sahut Fahmi turut angkat bicara.


"Iya Ayah, Bunda. Terimakasih kalian selalu ada untukku, aku sangat menyayangi kalian." Ujarnya tersenyum di sela-sela tangisannya.


...***...


Terhitung sudah tiga bulan perceraian itu, Yoga masih memberi nafkah pada Aisyah. Sebenarnya Aisyah tidak ingin menerima itu lagi karena masa iddah-nya yang sudah selesai. Namun Yoga bersikukuh tetap akan menafkahi Aisyah sampai ia menikah.

__ADS_1


Menikah? Tentu Aisyah masih belum kepikiran untuk ke situ. Yang ia lakukan sekarang hanyalah mendekatkan diri kepada Allah, dan berusaha untuk menarik perhatian-Nya setiap waktu. Mungkin selama ini ia terlalu terpikirkan oleh peliknya dunia hingga membuat ia jauh dari Tuhan.


Kedua orang tuanya pun tak ingin menuntut apapun, kebahagiaan putri mereka tetaplah prioritas utama mereka. Meski memang ada rasa khawatir dengan masa depan Aisyah nantinya. Karena kedua putri mereka seperti Farah dan Afsana sudah bahagia dan memiliki keluarga.


Namun itu semua kembali pada Aisyah, pun mereka yang lebih memilih untuk menyerahkan semua pada sang Pengatur Rezeki.


Hari ini, Aisyah memilih untuk pergi ke rumah sang Kakek. Sudah cukup lama ia tidak bertandang ke rumah itu.


"Hati-hati ya Nak, titip salam juga untuk semua yang ada di sana." Ucap Melati pada putrinya yang sudah terlihat cantik dengan gamis navy dibalut hijab pasmina yang menjulur menutupi dadanya.


"Iya Bunda, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Melati dan melambaikan tangannya hingga mobil Aisyah sudah tak terlihat.


...***...


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Ucap Aisyah, setelahnya ia mengetuk pintu dan berbalik.


"Mbak Zara." Panggil Aisyah.


"Iya Aisyah, ayo masuk." Zara mempersilahkan Aisyah untuk masuk dengan tersenyum.


"Siapa Zara?" Tanya seorang pria.


(Masih ingat Aidan? Ya, dia adalah adik Melati beda Ibu. Hubungan Melati dan Ayahnya Ikhsan sempat merenggang karena pernikahan Ikhsan dan Mina serta kehamilan Aidan. Namun takdir membuat ia juga hamil Aisyah tanpa adanya pernikahan terlebih dahulu. Jadi, sebenarnya usia Aidan dan Aisyah hanya berbeda beberapa bulan. Pun Aisyah yang seharusnya memanggil Aidan paman, namun Aidan menolaknya. Karena usia mereka itu, sehingga Aisyah terbiasa memanggil Aidan dengan sebutan 'Abang'. Dan kini Aidan sudah menikah dengan gadis sederhana yaitu Zara. Bagi yang belum paham, boleh membaca karya Author yang sebelumnya yaitu 'Menjadi Seperti Ibu Sambungku'.)


"Aisyah Mas." Menghampiri seluruh keluarga yang sedang berkumpul. Lalu pergi ke dapur menyusul sang Ibu mertua.

__ADS_1


Ikhsan yang mendengar sang cucu berkunjung ke rumahnya pun terlihat sangat senang.


"Masya Allah Nak, sudah lama sekali kamu tidak ke sini." Tukasnya merengkuh erat tubuh Aisyah.


"Iya Kek, maaf yah. Aisyah terlampau sibuk dengan rumah tangga Aish. Jadi jarang kemari." Jawabnya dalam dekapan Ikhsan.


"Iya tidak apa-apa Nak. Ayo duduk dulu, bagaimana kabar Bunda dan Ayahmu?"


"Oh iya mereka titip salam untuk Kakek. Alhamdulillah mereka baik-baik saja."


"Assalamu'alaikum Bang." Menatap Aidan yang tengah tersenyum memperhatikannya, di pangkuannya ada jagoan kecilnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Aidan. Aisyah yang merasa gemas dengan Syauqi.


"Assalamu'alaikum Syauqi."


"Wa'alaikumussalam Lilik (Nama lain bibi)." Sahut Aidan dengan menirukan anak kecil. Membuat Aisyah terkekeh dan menggeleng pelan. Lalu ia pun mengambil alih Syauqi dari tangan Aidan. Untunglah Syauqi anak yang tidak rewel dan ramah pada siapapun.


Beberapa saat mereka berbincang-bincang. Aisyah yang juga berbagi kesedihan atas perceraiannya, namun ia menjadi lega. Di sini ia dapat banyak sekali nasehat dan wejangan dari orang-orang tersayangnya.


Kini tinggallah ia dengan Aidan serta si kecil Syauqi. Usia Syauqi baru delapan bulan. Beberapa kali, ia ingin merangkak dan berdiri sendiri dengan berpegangan pada meja.


Dari dulu memang Aidan lah orang yang paling Aisyah senang untuk di ajak berbicara. Sikap Aidan yang dewasa membuatnya memiliki seorang Kakak laki-laki. Memang di rumah ia memiliki Farah, namun Farah cenderung lebih dengan dengan Afsana. Maklum anak pertama memang biasanya lebih dekat dengan bungsu.


"Abang beruntung yah, memiliki istri secantik dan selembut Mbak Zara. Lalu kalian juga sudah diberi kepercayaan untuk menjadi orang tua dalam waktu dekat setelah pernikahan kalian." Celetuk Aisyah di sela-sela bermain dengan Syauqi.


______________________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih :)


__ADS_2