Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Sah!


__ADS_3

Mata Jihan begitu berat untuk terbuka, namun ingin terus memejamkan matanya pun tidak membuatnya nyaman. Pandangannya masih remang, namun di bibirnya langsung ada nama seseorang yang selama ada dalam pikirannya.


"K-kak Yoga.." Ucapnya lirih.


Secepat itulah ada seseorang yang menggapai tangannya, terasa begitu dingin dan erat.


"Aku di sini Jihan," sahut pria yang baru saja dipanggilnya.


Senyum terbit dari bibir tipis Jihan, namun perlahan memudar mengingat kejadian sebelum ini. Langsung ia ingat dimana Yoga mengungkapkan perasaannya. Yang ternyata tak mencintainya sedikit pun. Seketika itu pula tangannya ia loloskan dengan kasar dari tangan Yoga.


Yoga langsung menunduk melihat tangan yang dilepas kasar oleh Jihan.


"Jihan." Ia tidak kehilangan akal, dibelainya lembut surai hitam milik Jihan yang lebih pendek dari istrinya itu.


"Untuk apa kau masih di sini Kak? Bukankah perasaan istrimu lebih penting?" Ujarnya datar dan memalingkan wajahnya.


Pria itu memejamkan matanya sejenak, memang istrinya adalah segalanya dalam hidupnya. Namun saat ini tidak mungkin juga baginya untuk meninggalkan wanita yang juga berharga ini. Yah, wanita berharga, karena wanita di hadapannya kini sedang mengandung seorang janin yang akan memanggilnya Papa.


"Jihan dengarkan aku dulu." Pungkasnya halus.


"Kita singkirkan itu semua dahulu Jihan. Sekarang dengarkan kabar gembira untuk kita."


Jihan langsung menoleh, "Kita?"


"Yah kita, kita akan menjadi orang tua. Terimakasih sudah memberi aku kebahagiaan tiada tara ini." Tuturnya dengan wajah berbinar sembari menyentuh perut Jihan yang masih terlihat rata.


Jihan yang mendengarnya hanya terdiam sebab ia sudah tahu sebelumnya. Senyum sinis ia layangkan pada Yoga, lelaki yang menurutnya yang tidak tahu malu, tapi sampai saat ini juga membuatnya mencintainya.


"Memangnya apa bedanya? Lebih baik aku lenyapkan saja bayi ini. Toh kehadirannya tidak membuat sang Ayah mencintai Ibunya. Tidak penting untukku." Ucapnya sembari melepaskan selimut yang masih membalut setengah tubuhnya.


"Tidak Jihan-" Dengan gesit Yoga tahan tangan Jihan.

__ADS_1


"Apa maksudmu tidak penting?"


"Tentu saja tidak penting Kak, apa dia bisa membuat kedua orang tuanya bersama? Kau yakin dengan kehadirannya akan membuatmu mencintaiku? Apa maumu Kak? Aku tahu kau pasti akan mengambilnya dariku ketika ia lahir dan saat itu tiba hanyalah tersisa wanita bodoh yang sebelumnya percaya pada lelaki tidak tahu diri ini." Tunjuk Jihan pada Yoga.


Yoga termangu dengan perkataan Jihan, memang itulah yang akan ia lakukan kedepannya. Karena memang dengan kehadiran janin dalam rahim Jihanlah ia berharap Aisyah akan terus berada di sampingnya dan membuat orang tuanya sendiri berhenti merendahkan Aisyah.


Namun mendengar penuturan Jihan yang ingin melenyapkan janin itu membuatnya bimbang, di sisi lain ia sangat mencintai sang istri namun di sisi lain Ibu dari anaknya itu juga berharga.


"Kau akan menikahiku kan Kak? A-aku tidak akan memintamu untuk meninggalkan Aisyah, tidak masalah kau menjadikan aku yang kedua asal kau akan tetap di sampingku atau aku akan membunuh bayi ini."


Yoga melebarkan matanya, sungguh ini adalah keputusan yang sulit. Semua tidak mudah baginya.


Ia menarik nafasnya panjang dan menutup mata sejenak hingga keputusan yang menurutnya tepat itu lolos terucap dari bibirnya dan membuat Jihan menoleh.


...***...


"Menangislah untuk saat ini Aisyah, tapi jangan kau keluarkan air mata berhargamu ini untuknya ke depan. Lelaki seperti itu tidak pantas kau tangisi, cukup hatimu yang sudah terlanjur retak olehnya saja." Intan dengan sabar mengusap punggung wanita yang sedang terbaring di pahanya.


Aisyah menggeleng lemah, "Tapi aku masih belum bisa menerima semua ini Intan. Mengapa harus sampai seperti ini? Aku tahu aku sulit untuk mengandung, tapi apa iya dia harus sampai mengkhianati aku? Sulit dipercaya lelaki sepertinya berbuat seperti itu." Tersenyum getir.


Intan yang sudah cukup lama menunggu Aisyah memberi respon pun menunduk, ternyata Aisyah sudah sangat lelah menangis hingga ia tertidur tanpa disadari.


"Kuharap kau bisa melalui ini semua dan kebahagiaan segera menjemputmu Aisyah. Kau wanita yang sangat baik, sampai kapanpun kau bertahan di sisi Yoga jika takdir memang tak mendukung pada akhirnya kalian bisa apa. Kau terlalu berharga untuk pria seperti Yoga Aisyah." Gumam Intan dan dengan perlahan ia pindahkan tubuh Aisyah ke tempat yang lebih nyaman.


Intan menoleh sekali lagi sebelum menutup pintu, ialah saksi bagaimana besarnya cinta Yoga maupun Aisyah dulu. Ia jugalah yang menjadi saksi betapa Aisyah terpuruk, bagiamana banyaknya tetes air mata yang Aisyah keluarkan. Terbesit bagaimana jika hal itu menghampiri hidupnya, mungkin ia pun tak mampu melalui ini semua.


Intan menghembuskan nafasnya berat dan menutup pintu itu rapat.


...***...


"Saya terima nikah dan kawinnya Jihan Fahira binti Abdul Aziz dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!"

__ADS_1


Flashback


"Kita akan menikah Jihan!" Ucap Yoga bergetar namun pasti.


Membuyarkan lamunan Jihan tentang kemungkinan buruk yang akan terjadi. Seketika binar wajahnya begitu terang, senyum pun terbit dari bibirnya.


"Kau yakin Kak dengan keputusanmu? Bagaimana dengan istrimu Aisyah Kak?" Tanya Jihan mulai menghapus lelehan di pipinya.


"I-itu, Jihan aku sudah menuruti permintaanmu. Sesuai perkataanmu aku tidak akan pernah menceraikannya. Seperti halnya kau yang ingin selalu di sampingku, maka begitu pun Aisyah. Dia akan selamanya ada di sampingku."


Jihan terdiam sejenak, baginya memang tidak masalah jika ia menjadi yang kedua. Asal Yoga tetap bersamanya. Toh juga sebentar lagi akan ada makhluk yang membuat mereka menjadi orang tua. Tentu kedudukannya akan lebih tinggi dari Aisyah.


"Baiklah Kak, asalkan kau menikahi aku. Aku terima apapun yang akan kau lakukan dengan urusanmu itu."


Flashback off


"Sah!" Ucap para saksi yang menyaksikan pernikahan siri Yoga dan Jihan. Dan tanpa disadari, lelehan dari sepasang mata yang menyaksikan luruh begitu saja. Bibirnya ia kunci dengan mulutnya agar tak mengeluarkan suara. Usapan lembut dipunggungnya ia rasakan.


Membuat ia menoleh, wanita di sampingnya itu memberi kode untuk meninggalkan tempat itu. Disambut anggukan lemah darinya.


Jihan dengan penuh antusias menyambut cincin yang sedang disematkan oleh Yoga. Bibirnya sama sekali tidak pernah absen tersenyum. Sedangkan Yoga, hanya bisa tersenyum paksa.


Sama sekali tak ada rasa saat ia mencium kening Jihan. Tidak seperti biasanya yang terasa sangat nyaman. Bahkan karena ini membuatnya terlupa akan istrinya Aisyah.


Ah yah, sekarang hanya Aisyah lah yang ada di pikirannya. Bagaimana reaksi dan apa yang akan Aisyah lakukan. Semua tidak berhenti menari-nari di kepalanya.


Hingga untuk menekan nomor ponsel Aisyah pun ia tak mampu. Jihan yang terlihat sedang kesusahan membukakan gaunnya pun merasa kesal lantaran lelaki yang sudah menjadi suami mengacuhkannya.


___________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like komen dan vote

__ADS_1


Terimakasih ;)


Ig: @nick_mlsft


__ADS_2