Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Keterkejutan Ikfi


__ADS_3

"Cie yang semangat mau..." Ledek Hanum pada kakaknya tanpa mau melanjutkan perkataannya.


"Mau apa?" Lanjut Ikfi.


"Ketemu-"


"Stop! Tidak ada seperti itu. Ingat tadi siang kami melakukan tantangan. Dan sudah seharusnya yang kalah mau bertanggung jawab." Jawab Ikfi cepat.


"Lagi pula mana mungkin aku masih mengharapkannya, sedang dia adalah istri temanku." Gumamnya lirih, tanpa ia tahu bahwa sebenarnya Hanum masih dapat mendengarnya.


Hanum menatap Ikfi, "Kak Aisyah akan satu bulan berada di sini."


Ikfi yang mendengarnya sontak menaikkan salah satu alisnya. "Satu bulan? Apa Yoga akan menyusul kemari?"


"Tentu saja tidak, untuk apa?" Tanya balik Hanum.


"Tentu saja karena dia suaminya, sudah tentu ia tidak akan membiarkan Aisyah sendirian bukan?"


"Ck, kau masih belum tahu? Dia sudah berpisah dengan suaminya dari beberapa bulan yang lalu."


"Apa?" Sontak Ikfi melebarkan matanya dan berbalik menatap Hanum intens.


"Jangan berbicara sembarangan Hanum, tidak baik." Ucapnya tegas.


"Sembarangan? Tentu saja tidak. Beberapa waktu lalu dia dan Mbak Zara sendiri yang memberitahu aku."


"Benarkah? Kenapa bisa sampai mereka bercerai?"


"Suaminya berpoligami tanpa izin, bahkan adik madunya telah mengandung beberapa bulan." Jawab Hanum apa adanya.


Ikfi merasa tersentil hatinya, ia benar-benar tidak menyangka Yoga dapat berlaku demikian. Padahal dulu Yoga begitu gigih dalam mendapatkan Aisyah. Ia lebih lega bila Aisyah hidup selamanya dengan Yoga dan mengubur perasaannya dalam daripada harus melihat perpisahan Aisyah dengan Yoga yang membuat Aisyah terpuruk.


Ia menghela nafasnya berat.


"A', Hanum tahu Aa masih sangat mencintai Kak Aisyah. Tidak salah bukan kalau Aa kembali mengejarnya?"


"Tidak Hanum, aku tidak akan mengambil kesempatan untuk kepentinganku karena melihat keadaan mereka sekarang. Bagiku kebahagiaan Aisyah-lah yang paling utama. Biarlah untuk saat ini aku membantunya untuk mengobati luka hatinya, untuk kedepannya biar semua berjalan sebagaimana mestinya."


"Kau benar A', ya sudah ayo kita berangkat sekarang."


--


"Butuh bantuan?" Tawar Ikfi pada Aisyah yang terlihat tengah memotong bumbu-bumbu masakan.


Aisyah menoleh sekejap seraya tersenyum. "Bolehkah?"


"Tentu saja."

__ADS_1


"Kalau begitu, bisa tolong bersihkan ikannya?"


"Baiklah." Dengan gesit Ikfi melakukan permintaan Aisyah.


Sebenarnya di dapur tidak hanya ada mereka berdua, ada Zara dan Hanum. Mereka juga tengah mengolah ayam. Namun keduanya memilih diam seolah membiarkan Ikfi dan Aisyah.


Sedangkan Ibuk, Bapak dan Ibunya Hanum tengah berkumpul di ruang keluarga. Untuk Aidan sendiri, ia tengah menyelesaikan pekerjaan yang dikirimkan bawahannya lewat email.


Bagaimana bisa kau menjalani ini semua Aisyah, aku tahu betul seberapa besar cintamu pada Yoga. Tapi aku yakin, cintamu pada Allah lebih besar dari segalanya. Aku harap kau dapat melalui ini semua. Lagi-lagi Ikfi memandang Aisyah yang tengah berkutat.


Sampai tepukan di bahunya menyadarkan ia dari lamunannya. Ternyata Hanumlah yang telah memukulnya.


"Ada apa?" Tanya Ikfi dengan tampang bingungnya.


"Harusnya aku yang bertanya mengapa kau hanya diam saja. Tidak dengar? Kak Aisyah dari tadi memanggilmu?"


"Apa? Benarkah?" Langsung memandang Aisyah.


Aisyah pun tersenyum tipis. "Iya, jadi bagaimana apa ikannya sudah siap?"


"Eh iya ini."


Zara dan Hanum terkikik geli melihat tingkah Ikfi yang salah tingkah.


Cukup lama mereka berada di dapur, akhirnya aneka macam masakan pun jadi dan mereka sajikan di meja ruang makan.


"Zara, Mbok Jum (tetangga sebelah kanan rumah Bapak) sudah dikirim makanan sama kamu?" Tanya Bapak ketika melihat anak-anak muda tengah menyiapkan makan malam pada saat itu.


"Pak Slamet (tetangga sebelah kiri rumah Bapak)?"


"Alhamdulillah sudah Pak."


Bapak kembali menanyakan hal sama pula dengan beberapa orang lainnya. Dan dijawab apa adanya oleh Zara.


"Wah Aisyah, aku tidak menyangka kau pandai mengolah ikan seperti ini." Puji Zara setelah menyuapkan satu sendok makanan pada mulutnya.


"Tentu saja, Aisyah sendiri adalah chef di restoran Bunda. Tentu untuk hal masak-memasak ia mumpuni." Sahut Aidan.


"Benarkah?" Tanya Bapak turut berbicara.


"Iya Pak, makanya bulan puasa ini kita akan dimanjakan dengan masakan Aisyah."


Aisyah yang mendengarnya tersenyum. "Tentu saja Bang, Insyaallah."


...***...


Jihan mondar-mandir tak jelas di depan pintu kamarnya, sesekali ia melongok ke bawah untuk melihat apakah ada tanda-tanda suaminya pulang. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam.

__ADS_1


Dewi yang merasa haus pun keluar kamar, ia mengernyitkan dahi mendengar samar bising karena langkah kaki seseorang yang tak beraturan. Semakin dekat, ia semakin tahu siapa itu. Yah, dialah Jihan menantunya. Belum, sampai saat ini ia masih belum mengakui wanita yang tengah mengandung cucunya itu.


"Jihan?" Dewi menghampiri Jihan yang terlihat cemas dan khawatir.


"Eh iya Mah, ada apa ya? Apa butuh sesuatu? Atau Jihan telah menganggu Mama tidur? Jika ia Jihan minta maaf." Cerocos Jihan merasa bersalah.


"Tidak, hanya kau sedang apa di sini?"


"Em ini Mah, Kak Yoga sedari tadi belum pulang. Aku sangat mengkhawatirkannya," jawab Jihan apa adanya.


"Khawatir? Kau yakin Yoga tidak memberitahumu apa-apa? Asal kau tahu Jihan, dulu pun Aisyah sepertimu tiap malam. Menunggu suaminya pulang dengan cemas, padahal ia sedang bersenang-senang dengan kamu." Sinis Dewi kemudian meninggalkan Jihan begitu saja.


Bukan berarti ia sudah tidak peduli lagi dengan perbuatan yang akan dilakukan Yoga, hanya saja melihat wajah Jihan ia masih merasa tidak terima bahwa mantan menantunya telah pergi dari rumah ini. Dalam hati sebenarnya ia benar-benar marah bila ternyata Yoga kembali mengulangi hal seperti dulu.


Tidak! Kak Yoga tidak mungkin seperti itu. Ujar Jihan dalam hati, ia segera mencari ponselnya dan menghubungi nomor sang suami. Tapi, entah sudah berapa banyak ia mengirim pesan dan mendial nomor Yoga tetap saja tidak ada respon.


--


Drt, drt, drt..


"Ck, siapa si yang menelpon! Mengganggu saja." Gerutu Manda dengan malas beranjak dari duduknya.


"Oh ternyata kau Jihan, hm suamimu tidak akan pulang malam ini bodoh." Dengan kesal ia menolak panggilan tersebut dan menyimpannya. Kembali ia langkahkan kakinya menonton tv.


Saat ini Yoga tengah berada di kamar mandi, ia sendiri sedang menunggunya. Cukup lama mereka berjalan-jalan tadi membuat keduanya lelah.


Ceklek.


Yoga keluar dengan wajah basah dan rambut acak-acakan.


"Istrimu tadi menelpon, jawablah walau hanya sebentar. Aku tidak ingin dia menganggu kita." Dengus Manda kesal.


Membuat pria yang bersamanya mengerutkan dahinya. "Jihan? Untuk apa dia menelpon. Wanita jelek itu mengapa harus sampai mengirimkan aku pesan, padahal aku telah meminta untuk tidak menghubungi aku sebelumnya."


Yoga bukannya menjawab pesan atau menelpon balik, ia justru mematikan daya teleponnya. Lalu, pergi menghampiri Manda menemaninya menonton film. Bagaimana pun Manda masihlah muda dan seperti kebanyakan wanita lain penikmat film romantis.


Ia merangkul bahu Manda, membuat Manda merasa nyaman. Dengan usil Yoga matikan TV-nya, membuat Manda mengerang.


"Kau-"


"Shhh," Yoga meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Manda. "Berhentilah menonton film seperti itu lalu membayangkan sendiri setelahnya. Karena sekarang, kau bisa mempraktekan bahkan merasakan adegan seperti mereka." Bisik Yoga tepat di telinga Manda.


"Hm kau yakin? Aku ragu apakah kau lebih hebat dari mereka."


"Kau menantangku? Ku tunjukkan seberapa hebat aku mengukungmu, hingga kau menyeringai puas nantinya."


_____________________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih :)


__ADS_2