Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Hamil


__ADS_3

Aisyah tersenyum menggeleng pelan. "Tidak apa-apa Mas, mungkin Mama masih membutuhkan waktu untuk menerima kehadiranku di rumah ini. Pelan-pelan saja, aku yakin pasti Mama akan menerimaku sebagai menantunya."


Yoga segera mengecup pucuk kepala istrinya, "Iya sayang kamu benar, Mas harap hati kamu semakin dilapangkan. Agar kamu sabar menghadapi sikap Mama."


"Selama kamu selalu ada di sisiku Mas. Dan menjadi kekuatanku, Insyaallah aku akan masih terus bertahan di sini." Harap Aisyah.


"Aku akan selalu berada di sisimu sayang." Ucap Yoga. "Oh ya, kamu sebenarnya sakit apa? Kalau memang lelah jangan terlalu dipaksakan, bila perlu biar Mas saja yang akan berbicara dengan Bunda untuk izin beberapa hari." Lanjutnya.


"Tidak apa-apa Mas, mungkin aku hanya kelelahan saja. Tapi, sebenarnya aku merasa tidak enak beberapa hari terakhir Mas. Aku menduga sesuatu." Sahut Aisyah menatap ke arah lain memikirkan sesuatu.


Dahi Yoga mengerut, "Ada apa sayang?"


"Aku tidak tahu benar atau tidak. Sering kali aku melihat kalender, aku sudah telat dua Minggu Mas. Aku berpikir bahwa aku-" Ucapan Aisyah terpotong mendengar suaminya berbicara.


"Hamil?" Tebak Yoga. Matanya telah berbinar sedari istrinya bercerita. Tak lupa senyuman manis juga menyusul untuk memperindah wajah tampannya.


Aisyah mengangguk bahkan air matanya juga ikut menetes melihat reaksi sang suami.


Grep, Yoga memeluk istrinya.


"Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah..," Ujarnya bersyukur tiada henti.


"Bismillah ya Mas, semoga kita bisa menjaga amanah dari Tuhan dengan baik." Timpal Aisyah juga merasa terharu. Rengkuhan mereka semakin erat saja.


"Iya sayang, ya sudah ayo kita turun ke bawah. Dan beritahukan semuanya pada Papa dan Mama." Ajak Yoga semangat.


"Tunggu dulu Mas, kita kan belum mengecek apa kau benar hamil atau tidak. Bagaimana kalau kamu beli dahulu tes pack nya. Jangan beritahu apapun dulu, sebelum hasilnya benar-benar positif." Ucap Aisyah menahan lengan suaminya.


Yoga berpikir, membenarkan perkataan istrinya. "Kamu benar, ya sudah Mas pergi saja dulu yah. Kau duduk saja dulu di sini, kamu kan masih lemas."


"Iya Mas," jawab Aisyah patuh.


Haris dan Dewi mengernyit melihat Yoga yang terlihat begitu tergesa-gesa keluar.


"Yoga!" Seru Haris pada putranya.


Yoga menoleh, " Ada apa?"


"Kau itu kenapa? Lari-lari begitu." Tanya Haris menghampiri Yoga.


"Maaf Pah, Yoga memang sedang terburu-buru. Kalian tunggu saja kabar baiknya, Assalamu'alaikum." Ujar Yoga langsung meninggalkan Papa dan Mamanya di rumah itu.

__ADS_1


Haris dan Dewi saling berpandangan, "Kenapa si Yoga Mas?" Tanya Dewi heran.


"Entahlah, ya sudah kamu lanjut saja masak." Haris menunjukkan arah dapur dengan dagunya.


Dewi hanya menghela nafasnya, tapi ia tetap melakukan perintah suaminya.


"Ini semua gara-gara Aisyah, coba saja dia tidak terlihat pucat seperti itu. Pasti Yoga tak akan menggantikannya. Benar-benar menyusahkan." Gerutunya Kesal.


Tak lama, Yoga kembali ke rumah. Ia tak menghiraukan Ayahnya yang sedang duduk di ruang TV.


"Sebenarnya kenapa si Yoga itu? Lagi duduk di sini kok tak lihat." Haris menggelengkan kepalanya menatap sang putra. Lalu kembali fokus pada televisi.


Ceklek. Dengan tak sabaran Yoga membuka pintu. Hingga Aisyah terkejut dibuatnya.


"Ya Allah Mas, hati-hati kenapa sih. Kaget loh akunya." Gerutu Aisyah kesal.


Yoga hanya meringis tanpa dosa. Ia mengusap tengkuknya yang tak gatal. Ia menghampiri sang istri dengan membawa beberapa test pack di kantung plastik.


"Ayo sayang langsung saja. Mas sudah tidak sabar." Ucap Yoga tak sabar.


"Tapi tidak dianjurkan untuk melakukan ini di malam hari Mas." Tutur Aisyah lembut menyimpan kantung plastik tersebut di atas nakas Membuat Yoga heran dan bingung.


"Kenapa tidak bisa?"


"Astaghfirullah Aisyah, kalau begini kenapa tidak bilang dari tadi. Mas sudah capek-capek cari ini, dan kamu bilang besok saja?" Yoga menjambak rambutnya frustasi.


"Maaf Mas, Aish kan tadi belum tahu. Jadi ya seperti ini."


Namun Yoga masih memasang wajah cemberutnya, ia tak ingin memandang wajah istrinya.


"Mas maaf." Yoga tetap tidak mengindahkan perkataan Aisyah.


Mata Aisyah sudah berkaca-kaca. Entahlah melihat suaminya yang marah, membuat ia berpikiran yang tidak-tidak.


Yoga terkejut melihat istrinya yang telah berhias air mata. "Loh Aisyah, kamu kenapa? Tanya nya khawatir.


"Mas marah kan padaku, Mas tidak mau memaafkan aku, Mas nanti akan pergi, Mas nanti akan pergi meninggalkan aku, dan Mas akan berhubungan dengan wanita lain. Hiks, hiks.."


Yoga dibuat tak berkedip oleh pernyataan Aisyah, "Astaghfirullah Aish, kamu ini berbicara apa?" Memegang kedua bahu Aisyah


"Hiks, hiks, tadi Mas diam saja tidak menyahuti Aish. Mas marah sama Aish. Aish takut Mas pergi." Jawab Aisyah semakin terisak.

__ADS_1


"Mas sama sekali tak marah Aish, tadi hanya pura-pura." Yoga mengusap pelan punggung Aisyah.


"Mas pasti bohong karena Aish baru seperti ini. Mas tadi juga lumayan lama waktu beli test pack nya. Pasti Mas sedang bersama wanita lain kan?"


"Astaghfirullah Aish, bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu. Mas tadi sempat cari-cari tokonya dulu. Sudah ya jangan menangis, besok saja test pack nya yah." Direngkuhnya erat tubuh mungil Aisyah.


Ceklek.


Kedua insan itu menoleh ke arah pintu. Tampak Papa Haris dengan tampang wajah khawatir.


"Loh ada apa Aish? Kok kamu malah nangis-nangis. Yoga jahatin kamu Nak?" Tanya Haris khawatir. Di belakangnya juga diikuti juga oleh sang istri.


"Tidak Pah, Aisyah tadi hanya salah paham." Jawab Yoga masih memeluk istrinya.


"Mas Yoga tadi sempat bertemu cewek Pah, makanya lama waktu keluar rumah." Sergah Aisyah. Yoga membelalakkan matanya. Aisyah semakin takut melihat wajah garangnya.


"Papa lihat, Mas Yoga sudah tidak mencintai Aish lagi." Adu Aisyah.


"Benar Yoga?" Tanya Haris geram.


"Tidak Yah, Aish kan sudah Mas bilang. Kamu itu cuma salah paham."


Haris dan Dewi saling berpandangan, lalu manik mata mereka menatap kresek yang berada di atas nakas. Merasa penasaran, Haris mengambil benda tersebut.


Seketika keduanya terbelalak, "Ini?"


"Iya Pah, jadi tuh tadi Yoga membeli itu waktu keluar rumah. Tapi karena jalanan yang lumayan macet dan pusing cari tokonya makanya lama. Jadilah Aish berpikir Yoga bertemu wanita lain."


"Alhamdulillah ya Robb, jadi ternyata kamu hamil Nak?" Tanya Haris berbinar, sedangkan Dewi ia hanya terpaku melihat semuanya.


Aisyah tersenyum samar dan malu, "Em belum tahu Pah, Aish hanya menduga saja. Karena memang akhir-akhir ini Aish merasakan gejala-gejala hamil."


"Itu karena memang kamu sedang hamil, buktinya kamu tidak bisa mengontrol emosi kamu ke Yoga."


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih ;)


Ig; @nick_mlsft

__ADS_1


Mohon dukungannya yah 🙏



__ADS_2