Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Ternodanya Ikatan Suci


__ADS_3

"Kak aku sudah menyiapkan handuk untukmu!" Teriak Jihan persis di depan pintu kamar mandi.


"Iya terimakasih An." Sahut Yoga. Ia melongokkan kepalanya sedikit.


"Terimakasih." Ucapnya sekali lagi.


"Iya Kak." Jawab Jihan malu-malu.


Jegreg. Pintu kembali tertutup.


Jihan menunggu sembari memasak sesuatu yang hangat. Apalagi cuaca saat ini begitu dingin. Baik hujan maupun petir sama-sama bersautan.


Seketika Jihan menelan salivanya kala melihat Yoga yang hanya berbalut handuk. Kulit eksotis dan tubuh yang tidak terlalu kekar begitu mempesona. Rambut yang masih basah dengan air menetes dengan perlahan terlihat begitu seksi di mata Jihan.


"Jihan!" Yoga melambaikan tangannya di depan Jihan.


"Eh iya Kak, maaf aku melamun."


Yoga tersenyum, "Kau sudah memasak? Baunya harum sekali." Melihat ka arah meja di ruang makan yang di atasnya sudah tertata rapi dengan aneka macam makanan.


"I-iya Kak, Kakak pasti belum makan kan. Jadi aku membuatkan sesuatu untukmu."


Lelaki itu menangguk, "Oh ya Jihan apa kau ada baju yang ukurannya besar? Bajuku basah, dan ingin memesan online pun sepertinya tidak bisa karena cuaca seperti ini."


"Em sebentar Kak, aku akan coba cari dulu."


Jihan memusatkan perhatiannya pada kaos polos biru dan celana trening yang cukup besar. Dalam hati ia berharap semoga ukurannya pas dengan Yoga.


"Kak, hanya ada ini yang paling besar. Semoga muat." Menunjukkan pakaian yang tadi dipilihnya.


"Iya terimakasih," Yoga pergi menuju kamar tamu. Memang jika dia beristirahat di sini, tempat inilah yang menjadi tempat tidurnya.


Jihan tersenyum senang, baju yang dipilihnya terlihat pas bahkan membuat tubuh bagian atas Yoga tercetak jelas.


"Syukurlah ternyata pas Kak, tapi jika dilihat itu terlalu ketat. Apa itu nyaman untuk Kakak?"


"Sedikit kekecilan memang, tapi tidak apa-apa. Daripada tidak memakai baju sama sekali."


"Iya benar, ya sudah Kak ayo makan. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu. Ku harap Kakak menyukainya."


"Baiklah, terimakasih."

__ADS_1


Yoga memandangi intens Jihan yang sedang menyiapkan makanan untuknya. Jihan apa jika aku memendam perasaan untukmu salah? Jujur saja aku merasakan nyaman untukmu. Bahkan aku ingin selalu berada di sampingmu. Aku juga sangat senang melihatmu yang akhir-akhir tersenyum. Tidak seperti saat awal aku mengenalmu.


"Kak?" Jihan melambaikan tangannya di hadapan wajah Yoga.


"Eh iya, maaf Jihan aku melamun tadi."


"Tidak apa Kak, ayo sekarang jangan melamun. Nanti makanannya lekas dingin."


"Kau benar."


Hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk mereda, Yoga sendiri masih berada di rumah Jihan. Tapi, jika pulang pun percuma. Mobilnya sendiri mogok. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Ceklek. Pintu terbuka, menampakkan Jihan dengan pakaian tidurnya.


"Mas kau masih di sini?" Tanya Jihan dengan dahi mengernyit.


"Apa aku tidak boleh berada di sini?" Tanpa menjawab, Yoga justru bertanya balik pada Jihan. Dan memasang wajah pura-pura merajuk.


"Em t-tidak, bukan itu maksudku."


Wajah malu serta memerah membuat Yoga begitu gemas dengan Jihan. Tanpa pikir panjang, ia hampir wanita itu. Langkahnya sangat pelan, entah apa maksudnya.


Faktor cuaca pada malam hari itu, seakan mendorong Jihan untuk membalas perlakuan Yoga. Dinginnya malam, semakin menghasut Yoga untuk mencari kehangatan. Tanpa sadar, jarak diantara keduanya telah terkikis.


Merasakan sesak di dadanya, Jihan perlahan mendorong tubuh Yoga. Wajahnya menunduk, senyum tipis dibalut malu membuat Yoga mengangkat wajah ayu itu.


"Aku..., sangat menginginkanmu Jihan." Lirihnya, hasrat yang ada dalam dirinya seolah tidak mampu lagi ia bendung.


Jihan mendongakkan wajahnya, jauh dalam lubuk hatinya ia pun merasakan hal yang sama dengan pria yang usianya lebih tua darinya itu. Perlahan, kedua tangannya ia daratkan di bahu Yoga. Kakinya berjinjit ingin menggapai sesuatu.


Senyum kemenangan terbit dengan jelas di wajah Yoga, dengan perasaan yang menggebu. Ia giring Jihan untuk merasakan sensasi yang lebih berani. Kegiatan yang mereka lakukan membuat tubuh mereka seakan terpontang-panting. Bahkan beberapa benda sudah lagi tak berada di tempat asalnya.


Hingga keduanya, berlabuh di sebuah peraduan yang empuk. Mata keduanya sudah berkabut gairah. Hal yang mustahil, jika permainan mereka berhenti sekarang. Gelungan kain tebal perlahan menggerumuni tubuh keduanya.


Prangg!!!!!


"Astaghfirullah," panas kian dirasakan Aisyah pada telapak tangannya. Disusul melepuhnya luka yang kian merobek setiap sisi tangannya. Entah apa yang sedang berada di dalam pikirannya, hingga kopi yang tadi ia seduh justru tumpah mengarah padanya.


Tidak dulu ia perhatikan luka di tangannya, ia punguti kepingan kaca yang berserakan.


Sett!

__ADS_1


"Innalilahi ya Allah. Ada apa dengan diriku?" Sesalnya dalam hati. Perih kembali ia rasakan, bahkan kali ini darah turut menemani sembilu luka di tangannya.


"Aisyah! Astaghfirullah ada apa ini?" Tanya Intan yang tetiba muncul. Gurat khawatir jelas nampak di wajahnya.


"Eh Intan maaf sudah mengganggu tidurmu." Sahut Aisyah meringis.


"Sudahlah pergi dari sana, biar aku yang membereskan ini semua. Sebentar.." Gesekan antara kaki dan lantai membuat Intan semakin merasakan dinginnya malam yang disertai hujan lebat dan petir. Namun itu tak begitu berarti baginya, hingga ia menemukan sekotak P3K.


Kedua bahu Aisyah ia raih dan dituntunnya untuk duduk di sebuah kursi. "Sudah kau obati dulu lukamu. Biar itu menjadi urusanku." Titahnya.


Aisyah tersenyum mengangguk. Ia mulai baluti luka dengan cairan yang menimbulkan sedikit perih. Matanya menyipit dan mulutnya tertutup rapat menahan lara.


"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan tadi Aisyah? Tidakkah kau lihat jam di dinding. Lihat! Sudah jam 11 lewat." Gerutu Intan di sela-sela membereskan kekacauan di dapur minimalis itu.


Geming yang direspon oleh wanita bersuami itu. Ia tersenyum getir sembari pikirannya ia ajak berkelana entah kemana.


Yah, tak mendapati kehadiran suaminya membuat Aisyah tak kunjung lega. Meski di cuaca yang seperti ini, membuatnya tetap sabar menunggu kepulangan Yoga.


Dirasa mulai mengantuk, ia berpikir untuk membuat sesuatu untuk menahan kantuknya. Namun apa daya, pikirannya yang tidak tenang serta keadaan hati yang bergejolak membuatnya tak fokus. Hingga musibah dengan santai menghampirinya.


"Aisyah!"


"Eh iya, ada apa?" Keterkejutannya membuat netranya menilik pemilik suara dengan tergesa.


"Kau yang kenapa? Ada apa?" Tanya Intan yang sudah selesai dengan urusannya tadi.


"Eh tidak ada."


Intan memutar bola malas. "Sudahlah ayo lekas tidur, aku yakin Kak Yoga tidak akan pulang sekarang. Dia pasti aman sekarang, cuaca seperti tak memungkinkan ia untuk mengendarai mobilnya."


Perlahan, wajah Aisyah naik turun. Menyetujui perkataan sepupu suaminya itu. "Baiklah kau benar juga."


Lengkungan indah berwarna merah jambu seketika tercipta. "Ayo kita tidur saja sekarang." Ajak Intan pada sepupunya itu.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like komen dan vote


Terimakasih


Ig : @nick_mlsft

__ADS_1


__ADS_2