Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Merasa Tidak Pantas


__ADS_3

Hingga Aisyah sampai pada rumahnya, perasaannya selalu saja gelisah. Bayangannya ketika bersama Ikfi, terus berputar di benaknya.


Padahal selama berada di sini, sangat jarang ia memikirkan pria itu. Apakah mungkin ini efek dari pembicaraan beberapa perempuan tadi kala ia pulang ke rumah.


"Eh tapi kalian jangan senang dahulu, aku dengar dari Hanum kalau Ikfi sudah menyukai seseorang tahu. Bahkan dari dulu." Celetuk salah seorang dari mereka.


"Hah benarkah? Tapi kan yang kudengar-dengar wanita yang dia cintai itu sudah menikah dengan pria lain. Berarti memang aku masih memiliki kesempatan kan." Sahut perempuan berhijab biru.


Namanya Keisha, dia adalah perempuan yang lumayan dekat dengan Ikfi lantaran ia sendiri bersahabat dengan Hanum adik Ikfi. Sudah lama ia menyimpan rasa untuk Ikfi, namun tak berani ia ungkapkan.


"Tapi sekarang dia sudah janda." Balas perempuan yang lain.


"Sudahlah, mau sebesar apapun kita menyukai seorang pria yang hatinya milik perempuan lain tak akan ada gunanya. Bagaimana pun kita harus melupakan dan mengikhlaskannya.


Semakin disimpan dengan erat perasaan itu, semakin pula kita sakit hati. Lebih baik cari yang lain saja, daripada menghabiskan waktu dengan berkhayal yang tidak akan mungkin terjadi." Ujar yang lainnya.


Membuat mereka semua bungkam dan melanjutkan perjalanan mereka.


Lamunan Aisyah buyar ketika Zara mengetuk pintu kamarnya.


"Eh iya Mbak, ada apa ya?" Tanya Aisyah dengan gugup lantaran ia baru sempat mengenakan hijabnya.


Zara tersenyum, namun sedikit aneh menurut Aisyah. "Ini, boleh tolong kamu jagakan putra Mbak. Soalnya Mbak dengan Abangmu ada urusan di luar."


"Boleh Mbak." Jawab Aisyah sembari tersenyum.


--


Dengan jahil seorang gadis menghampiri sang Kakak dan,


"Woy!!!"


"Astaghfirullah!" Dengan pelan lelaki itu mengelus dadanya, seolah membujuk jantungnya yang berdetak dengan ritme yang begitu kencang.


"Hanum! Kenapa?!" Tanya nya ketus.


"Dih, Aa yang kenapa. Sudah malam loh ini A', kenapa tidak masuk ke rumah? Malah melamun."


Ikfi menghela nafasnya. "Biar lah, toh juga tidak menganggu kamu."


"Aa kalau memang ada rasa dengan Kak Aisyah, kenapa tidak langsung dikejar saja. Ini malah hanya diam tanpa usaha. Malah melamun membayangkan yang tidak-tidak. Apa itu yang biasa disebutkan. Mencintai dalam diam, nah iya gitu." Duduk tepat di hadapan sang Kakak.


"Sok tahu kamu."

__ADS_1


"Hanum tahu Aa sudah berusaha dengan selalu merayu Allah untuk mendapatkan Kak Aisyah. Tapi kalau hanya diam seperti ini bagaimana mau dijawab. Kak Aisyah itu cantik, solehah. Ada kemungkinan bukan ada lelaki yang tertarik dengannya.


Kak Aisyah itu orang yang lumayan sering keluar rumah. Beberapa kali Hanum temani dia banyak tuh Hanum lihat banyak lelaki melirik. Bahkan bukan tidak mungkin kalau ada lelaki lain yang lebih dulu mengikat Kak Aisyah."


Derit kursi terdengar keras kala Ikfi beranjak berdiri dengan tergesa membuat Hanum sedikit terkejut.


"Yang benar kamu."


Hanum tersenyum kecil. "Iya."


"Jangan kira Aa tidak melihat senyum kamu, Aisyah bukan wanita yang suka keluar rumah. Ngarang kamu ini, sudah pergi saja sana."


"Hish, ya meskipun tahu aku bohong. Setidaknya tetap ada saja kan mungkin. Perasaan orang kan tidak ada yang tahu, kayak Aa. Suka dengan Kak Aisyah, tak ada yang tahu toh selain aku?"


Lelaki 26 tahun itu terlihat menghela nafas panjang. "Bukan Aa tidak mau berjuang atau bagaimana. Hanya saja Aa sadar diri melihat keadaan Aa. Kita kan tahu Aisyah itu wanita modern dengan masih mempertahankan hijab dan kewajibannya.


Lagipula Aisyah itu belum lama berpisah dengan Yoga. Kakak tahu bagaimana perasaan Aisyah untuk Yoga dulu. Mungkin saja kan kalau dia masih sangat mencintai Yoga? Kebersamaan mereka tidaklah sebentar.


Dari kecil, orang tuanya selalu memberikan yang terbaik untuk Aisyah. Melihat bagaimana Aa, apa mungkin Aa mengajaknya hidup seperti ini. Aa ini minim dengan dunia kota, sehari-harinya hanya berdiri di bawah teriknya matahari. Sangat jauh berbeda dengan Aisyah yang duduk nyaman di bawah atap kedua orang tuanya."


"Loh Aa pernah bilang kalau jodoh dan rezeki itu sudah ada yang mengatur. Apa Aa ragu dengan pemberian Allah? Atau ragu dengan Kak Aisyah? Aa bisa lihat kan dengan kehidupan Kak Aisyah yang lalu.


Meski mereka saling mencintai, materi yang berkecukupan, dan mendapat pengakuan dari banyak pasang mata bahwa mereka akan menjadi keluarga yang bahagia. Pada akhirnya mereka berdua berakhir dengan perceraian.


Justru dengan Aa bergerak cepat, siapa tahu dapat mengobati luka Kak Aisyah yang disebabkan oleh mantan suaminya. Tunjukkan bahwa Aa itu berani mengambil tanggung jawab. Bukan soal tampang, materi dan cocok atau tidaknya. Tapi bagaimana kalian menjalani apa yang telah Allah gariskan untuk kalian.


"Nduuk!!"


Mendengar namanya dipanggil, Hanum pun menyahut. "Iya Buk."


Ikfi termangu menatap kepergian adiknya yang menghilang di balik pintu.


...***...


Brak.


Keadaan rumah yang sepi membuat suara pintu terbuka terdengar keras padahal Yoga membukanya lumayan pelan. Kepalanya sedikit pening, mungkin efek kejadian beberapa saat lalu.


"Darimana?" Suara dari bariton membuatnya sedikit terlonjak kaget.


Ia balikkan badannya, dilihatnya pria paruh baya yang berdiri tepat di belakanganya. Kilatan matanya memancarkan kemarahan yang seolah siap untuk disemburkan kepadanya.


"Bertemu teman." Jawabnya singkat.

__ADS_1


Haris menggeleng keras, ia sadari dengan sangat perubahan sang anak sejak perceraiannya dengan Aisyah. Putranya itu tak lagi dekat dengannya seperti dulu. Beribadah kala pagi dan malam. Bahkan acap kali ia mendapati putranya yang tidak berpuasa.


Plak.


"Benar-benar tidak tahu diuntung!"


Mata Yoga terbelalak melihat beberapa lembar foto yang berceceran di kakinya.


"D-dari mana Papa mendapatkan ini semua?"


"Tidak perlu bertanya Papa dapat darimana. Yang pasti kau sudah sangat keterlaluan saat ini. Apa kamu tidak bisa belajar dari masalalumu. Wanita seperti Aisyah saja yang sangat mencintai kamu tidak perlu berpikir panjang untuk meninggalkanmu.


Sekarang kau memiliki Jihan yang sedang mengandung darah dagingmu. Tapi kau sama sekali tak pernah memperhatikan hal sebesar itu. Apa wanita itu lebih penting dari anakmu hah?! Sudah berapa lama kau berhubungan dengannya?!" Kemarahannya tak dapat lagi ia bendung.


Bugh


bugh


bugh!


"Sudah, sudah cukup Pah!" Pekik Dewi dengan air mata yang berceceran di wajahnya.


Yoga terbaring lemah dengan kepala yang semakin berdenyut nyeri. Namun kesadaran masih menguasai tubuhnya.


Sedangkan Dewi ia langsung menolong anaknya untuk berdiri, ia bawa putra semata wayangnya untuk duduk dan berniat untuk mengobati. Haris yang mengetahui maksud Dewi pun menahannya.


"Papa tidak mau tahu, mulai besok Papa tidak ingin melihat wajahmu ada di sini-"


"Tidak Mas, jangan. Katakan kau berbohong!"


"Aku sedang tidak berbohong Dewi. Bukankah dia sudah terbiasa di luar, bahkan sudah jarang pulang ke rumah. Isterinya sendiri pun tak ia pedulikan walau sedang hamil tua."


Tanpa mempedulikan Dewi yang sesegukan menangis karena putranya. Ia pun membawa paksa Dewi agar pergi dari ruangan itu.


Menyisakan Yoga yang terpaku lemah dengan meratapi segala perbuatannya.


______________________


Ehm adakah yang suka dengan kisah anak SMA? Kalau iya, boleh kali ya mampir ke karya Author di aplikasi sebelah. Silahkan ketik nama Author atau judul novelnya seperti yang ada pada gambar di bawah ini.



Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.

__ADS_1


Terimakasih


Ig : @nick_mlsft


__ADS_2