Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Dia Sudah Sendiri


__ADS_3

"Assalamu'alaikum." Ucap Zara saat memasuki rumah. Ia juga tidak terlihat sendirian.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Baik Aisyah dan Ibuk menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Nampak seorang gadis berada di samping Zara.


"Oalah Nak Hanum, mriki (kemari) Nduk."


Hanum bergantian mencium punggung tangan Ibuk dengan Zara. Ia turut bergabung dengan Zara yang duduk di samping Aisyah.


Aisyah yang melihat Hanum termangu, "Kamu?"


"Loh Kak Aisyah, di sini juga toh?" Tanya Hanum yang juga terpaku melihatnya.


Zara dan Ibuk saling berpandangan. "Kalian sudah saling kenal?" Celetuk Zara membuat mereka menatapnya.


"Iya Mbak, Hanum ini bukannya adiknya Ikfi kan?"


"Iya Ai, kalian bisa kenal di mana?" Mengambil sebuah jarum pentul yang telah disediakan oleh Ibuk.


"Ikfi kan pernah kuliah Mbak, kebetulan kami satu universitas. Jadi bisa kenal, dan untuk Hanum beberapa kali Ikfi bersamanya." Terang Aisyah, lalu ia menjabat tangan Hanum bersalaman.


"Oalah begitu toh, ya sudah Zara, Aisyah, Hanum kalian lanjut berbincang saja ya. Ibuk ke dapur dulu buat memasak ini." Ujar Ibuk kepada ketiga perempuan muda di hadapannya.


"Oh iya Buk, monggo." Balas Zara dan Aisyah diikuti Hanum.


"Hanum ini sepupuku Aisyah. Bapak beliau adalah adik dari Ibuk." Ucap Zara.


"Sepupu?"


"Iya, karena ini pertama kali kamu ke sini jadi memang belum tahu. Kalau Afsana dan Farah mereka pasti tahu. Karena pernah ke sini." Jawab Zara menegaskan.


"Pasti waktu lebaran dan nikah dulu ya Mbak. Maaf waktu itu Aisyah sedang sakit dan ada urusan juga di rumah Ibu mertua. Jadi tidak ikut." Sahut Aisyah menunduk.

__ADS_1


"Yo ndak papa, sekarang kan bisa tahu."


Aisyah tersenyum.


"Kamu sering main ke sini Num?" Menatap Hanum yang sedari tadi memperhatikan.


"Iya Kak, Hanum juga ada yang ingin dibicarakan dengan Mbak Aisyah." Sambut Hanum ramah.


"Berbicara tentang apa?" Lanjut Aisyah.


"Tentang kuliah Hanum, Hanum masih ragu untuk lanjut ke jenjang pendidikan selanjutnya." Lirihnya.


"Ragu? Ragu untuk apa?" Aisyah juga menatap Zara.


"Ragu karena masih bingung ingin memilih jurusan apa. Ragu nanti mengecewakan. Juga tentang biaya." Mengecilkan suaranya saat terakhir kalimat.


Membuat Zara menatapnya intens. "Kamu tadi tidak berbicara tentang biaya Num. Untuk urusan itu kamu tidak perlu khawatir."


"Hanum kita itu tidak usah khawatir untuk suatu biaya karena biaya. Insya Allah untuk anak yang sekolah itu sudah ada yang mengatur."


"Tapi aku juga ingin pergi ke pesantren selain kuliah. Hanum tidak ingin menginap di kos, mengingat pergaulan Aa dulu. Aa mungkin bisa menjaga diri karena lelaki. Tapi tidak dengan Hanum Mbak, masa Aa kuliah kedua orang tua Hanum masih ada. Lah sekarang kan cuma ada Ibuk dan Aa. Ibuk sudah sakit-sakitan, Aa pun bekerja untuk berobat Ibuk. Hanum kuliah dan mondok pasti sudah sangat memberatkan Aa."


Aisyah dan Zara saling berpandangan.


"Hanum, dulunya Mbak juga pernah berpikiran seperti itu. Melihat Bapak yang begitu kelelahan bekerja juga untuk kebutuhan Almarhumah Eyang yang saat itu sudah sepuh. Untuk berobat juga, tapi Bapak tidak pernah mempermasalahkan hal itu. "Tugas kamu itu cukup duduk, belajar dan takzim dengan guru. Hal itu sudah cukup buat Bapak bangga. Tidak usah khawatir untuk masalah biaya. Rezeki untuk anak pasti sudah Allah atur." Bapak dulu sampai menjual tanah dan lain-lain. Membuat Mbak benar-benar serius belajarnya.


Apalagi pas Bapak melihat teman-teman Mbak yang kebanyakan menggunakan motor dulu. Bapak sempat ngendika (mengatakan) apakah Mbak mau kalau Bapak belikan motor. Cepat-cepat Mbak matur (mengatakan) "Ya Allah Pak, untuk pergi kuliah saja Zara sudah sangat senang. Motor Zara tidak perlu Pak, pergi ke kampus bisa naik angkot. Kebutuhan Zara untuk kuliah saja sudah sangat banyak biayanya Pak. Atau mungkin Zara pakai sepeda saja seperti waktu sekolah di kampung dulu." Bapak tetap ngotot untuk belikan Mbak motor. Katanya yang namanya beda ladang, ya beda belalangnya. Mbak hanya bisa pasrah dan berdoa semoga Bapak dilancarkan rezekinya, ilmu yang Mbak dapatkan pun bermanfaat nantinya. Waktu itu Mbak benar-benar yang pengin lulus kuliahnya. Alhamdulillah setelah Mbak lulus, Mbak bisa mengganti tanah yang dulu sempat terjual.


Tapi dulu Ibuk juga pernah ngendika (mengatakan). "Dulu waktu kamu kuliah, Alhamdulillah rezeki Bapak benar-benar mengalir deras melebihi biasanya. Ibuk pikir setelah kamu lulus kuliah Ibuk bisa menabung, tapi ternyata tidak. Baru Ibuk sadar, bahwa rezeki lebih yang Bapak dapatkan itu memang sudah menjadi jatah kamu Nduk." Alhamdulillah sujud syukur waktu itu Mbak, jadi Hanum kamu tidak perlu khawatir untuk masalah rezeki. Insya Allah untuk itu Allah sudah memilki rencana sendiri." Ujar Zara panjang lebar meyakinkan Hanum.


"Iya Hanum, dan untuk masalah kamu yang ragu untuk memilih jurusan apa. Insya Allah nanti Kakak akan bantu kamu menjelaskan apa-apa saja. Dan nanti kamu coba melatih sebenarnya kamu itu ahli dalam bidang apa." Aisyah turut berbicara sembari menyentuh tangan Hanum.

__ADS_1


"Tapi aku tetap ragu Kak." Sesal Hanum.


"Ragu untuk apa lagi, bila kamu mau nanti Kakak juga yang akan carikan universitasnya. Bahkan Kakak akan coba usahakan untuk beasiswanya pula, Insya Allah jalan yang akan kita pilih nanti akan dipermudah. Selama kamu mau meminta dan ikhtiar pada Allah."


Hanum sedikit tersenyum, "Terimakasih Kak."


...***...


Mata Yoga melebar kala melihat Manda yang mengedipkan salah satu matanya padanya. Ia terlihat gugup bukan karena salah tingkah atau apa. Hanya saja ia tidak ingin Bagas mengira ia ada apa-apa dengan Manda.


"Ehm, Bagas gue ke toilet sebentar ya." Ucapnya meminta izin.


"Iya pergi aja." Jawab Bagas menolehkan wajahnya sebentar.


Manda memperhatikan intens tubuh Yoga yang perlahan menjauh. Yoga lebih tinggi tubuhnya dibanding Bagas, juga wajah Yoga yang terlihat begitu segar. Ia melihat ke arah pacarnya sendiri, Bagas terlihat layaknya anak muda yang baru merasakan cinta. Manda sudah terbiasa mendapatkan perlakuan bucin dari lelaki. Namun entah mengapa dengan Yoga ada daya tarik sendiri. Diam-diam ia tersenyum memikirkannya.


"Sayang apa aku boleh pergi sebentar, kamu tidak apa kan aku tinggal?" Tanya nya hati-hati.


"Tentu, kenapa tidak sayang." Manda tersenyum, sebelum ia pergi ia daratkan terlebih dahulu bibirnya di pipi Bagas. Membuat Bagas tersenyum senang.


Yoga memperhatikan dirinya di cermin, perlahan ia mengelus rahang kokohnya. Pikirannya kembali tertuju pada kejadian tadi.


"Sepertinya aku perlu meminta nomor ponselmu tuan." Cetus Manda membuyarkan lamunan Yoga. Membuat Yoga terbelalak menatapnya dari cermin.


"Manda? K-kenapa kau bisa masuk kemari?" Tanya nya terbata.


Manda tersenyum dan perlahan menghampiri Yoga.


___________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.

__ADS_1


Terimakasih :)


__ADS_2