Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Jihan


__ADS_3

"Alhamdulillah," ujarku sembari merenggangkan otot-ototku. Akhirnya pekerjaanku selesai juga, kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Hari pun sudah mulai petang.


Berbagai macam kertas dan map kubereskan terlebih dahulu di mejaku, baru setelah itu kusambar tas kerjaku. Langkah kakiku yang jenjang membawaku keluar dari kantor, tak lupa sapaan dan senyuman hangat kudapatkan dari rekan-rekan kerjaku.


Pikiranku masih melayang kepada kejadian tadi ketika berangkat kerja. Namun dengan cepat aku gelengkan kepala dan fokus kembali ke rumah. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku untuk membeli sesuatu untuk Aisyah.


Istriku itu sangat menyukai mie ayam, sungguh begitu menyenangkannya melihat senyum di wajahnya saat kubawakan makanan itu.


"Mas mie ayam lima yah." Ucapku pada pedagang mie ayam di pinggir jalan.


"Baik Tuan," aku tersenyum. Tak sengaja manik mataku bertemu dengan seorang perempuan yang tadi pagi itu. Dengan langkah cepat, kuhampiri gadis yang terlihat sedang membawa sebuah kantong keresek di tangannya.


"Tunggu!" Cegahku membuat langkahnya terhenti. Ia menatapku terkejut.


"Eh Tuan." Jawabnya kikuk.


"Ku gadis yang tadi pagi itu kan?" Tanyaku menebak, sebenarnya aku memang sudah mengetahuinya.


"Em i-iya, maaf Tuan tadi saya langsung meninggalkan anda tanpa berterimakasih."


"Iya tidak apa-apa." Penampilannya yang sekarang terlihat lebih rapi meski sederhana. Rambutnya terlihat melambai-lambai karena hembusan angin malam, benar-benar menawan dan em cantik. Matanya besar namun tidak terlalu bulat, bulu matanya lentik. Bibirnya terlihat pink alami namun sedikit pucat. Wajahnya manis dengan tahi lalat di bawah bibir kirinya dan kulitnya yang kuning langsat lebih terang.


Astaghfirullah, tidak! Apa ini, aku memandangi wajah wanita lain dengan tempo lama seperti istriku. Aisyah, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu.


"Em bagaimana pun anda sangatlah berjasa pada saya Tuan. Terimakasih banyak, dan akan saya usahakan untuk melunasinya." Jawabnya lembut dan polos, begitu menggemaskan bagiku.


"Tidak perlu melunasinya, lagipula hutang-hutang itu kan Ayahmu yang memilikinya sebenarnya. Jadi tidak perlu menggantinya." Sahutku kekeh dengan pendirianku, aku juga sebenarnya tidak tega melihat gadis semuda itu harus mengais usaha melunasi hutang yang tidak sedikit.


"Baiklah, terimakasih Tuan." Ia terlihat pasrah.


"Oh ya, sebenarnya dimana Ayahmu dan Ibumu? Mengapa harus kau sendiri yang melunasinya?" Tanyaku penasaran, tiba-tiba saja wajahnya berubah sendu dan menatap ke bawah.


Akhirnya aku mengalah, pasti ada sesuatu yang membuatnya terluka. "Ehm, maaf jika pertanyaanku lancang dan membuatmu sedih."


"Tidak Tuan, bukan seperti itu-"


"Sudahlah tidak apa, oh ya sekarang sudah malam. Kau sendiri di sini?" Mataku menyapu sekitar.


"Iya Tuan, saya hanya sedang mencari makan."


"Em mau ku antar?" Entahlah, tiba-tiba pikiranku menggerakan lidahku untuk berucap demikian.

__ADS_1


"Saya tidak ingin merepotkan anda."


"Sudahlah tidak perlu sungkan, ya sudah ayo ikuti aku." Ajakku padanya. Ia tersenyum manis, sejenak kukagumi keindahan ciptaan Tuhan ini.


"Oh ya, kau langsung masuk saja dulu. Tadi aku sempat membeli sesuatu, tunggu sebentar ya."


"Baik Tuan."


Satu lagi kupesan mie ayam untuknya. Bahkan juga beberapa makanan lain yang berada di samping pedagang mie ayam. Melihatnya, aku berpikir bahwa dia pasti sangat lapar. Beberapa kali ia nampak mengusap perutnya dan kudengar juga bunyi yang berasal di perutnya.


"Cukup sampai di sini Tuan," celotehnya tiba-tiba menghentikan aksi menyetirku.


"Tapi aku tidak melihat rumah di sini." Ucapku mengernyit seraya melihat-lihat sekitar.


"Rumahku masuk gang itu Tuan." Tunjuknya pada sebuah gang sempit. Namun juga sedikit terang karena cahaya.


"Ouh begitukah? Ya sudah, apa perlu aku antar? Terlihat sangat sepi, bahaya bukan jika kau sendirian melewati gang ini?"


"Tidak perlu, saya sudah terbiasa melewatinya."


"Aku tidak menerima penolakan, sekarang ayo tunjukkan di mana rumahmu." Kulepas bet pengaman mobilku dan membuka pintunya. Tak lupa beberapa makanan yang tadi kubeli.


Gadis itu nampak menghembuskan nafasnya, "Baiklah Tuan."


"Eh maaf Tuan," ucapnya meringis.


"Justru akulah yang minta maaf karena tak terlalu memperhatikan jalan." sahutku tersenyum.


"Iya, kita sudah sampai Tuan."


"Jadi ini rumahmu?" Tanyaku sembari melihat rumahnya yang terlihat sederhana namun nampak bersih.


"Iya Tuan, apa Tuan mau mampir dahulu? Mau saya buatkan minuman?" Tawarnya, aku berpikir sejenak. Kulihat jam yang di tanganku. Belum terlalu malam bahkan Isya', kupikir tidak masalah bukan jika sebentar saja mampir.


"Baiklah, jika kau tidak keberatan."


Lagi-lagi aku melihat senyum manis dan menawannya itu.


"Oh ya sedari tadi kita belum mengetahui nama masing-masing, jadi siapa namamu?" Baru kuingat hal ini. Ia menaruh minuman serta makanan ringan di atas meja.


"Jihan, namaku Jihan."

__ADS_1


Jihan, nama yang cantik. Secantik orangnya, tidak! Aisyahku lebih cantik, dari semua sisi Aisyah tetaplah yang terbaik. Meski Jihan umurnya lebih muda.


Kuanggukkan kepalaku dan tersenyum. "Namaku Yoga, oh ya setelah ini kau jangan memanggilku Tuan ya. Aku belumlah setua itu, umur kita juga tidak terlalu jauh sepertinya."


"Baik Kak, eh maksudku bolehkan aku memanggilmu Kak?" Tanya nya tersenyum sipu.


Semakin gemas menurutku, "Tentu saja, itu lebih baik."


...***...


POV Author


Gurat cemas dan khawatir terpampang jelas di wajah Aisyah, tidak seperti biasanya suaminya itu pulang malam. Jam sudah menunjukkan pukul 9 tepat. Namun belum ada tanda-tanda Mas Yoga kembali.


"Sebenarnya kamu dimana Mas?" Racaunya, kakinya terus melangkah ke sana kemari tanpa arah.


Druumm.


Aisyah menghela nafas lega, syukurlah ternyata seseorang yang tengah ia nanti kedatangannya sampai juga.


"Mas Yoga," serunya senang dan langsung meraih tubuh Yoga.


"Aisyah." Sahut Yoga tersenyum, dibelainya lembut kepala berbalut hijab milik istrinya.


"Mengapa baru pulang Mas?"


"Maaf sayang, Mas membuatmu menunggu terlalu lama. Ya sudah ayo langsung masuk saja. Sudah malam, aku juga membawakan kamu ini." Yoga tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya, tak bisa jika ia berbohong. Namun juga tidak memiliki keberanian untuk jujur.


Menunjukkan makanan yang sudah dingin. Ia meringis baru menyadarinya. "Maaf yah, dingin."


Aisyah tersenyum, "Iya Mas tidak apa-apa. Bisa dipanaskan lagi nanti."


Yoga memasuki rumah yang sudah sepi itu, memang penghuni di rumah ini jarang sekali begadang. Jika pun ada, itu pasti Intan. Itu pun di kamarnya.


"Kamu sudah makan Mas?" Tanya Aisyah menyiapkan mie ayam yang Yoga bawa.


"Em sudah. Tapi aku tahu kamu lapar sayang. Makanlah dulu, biar aku temani." Yoga sangat tahu, jika pagi dan malam. Aisyah tidak bisa makan bila tak ada dia di sampingnya.


_______________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.

__ADS_1


Terimakasih


Ig : @nick_mlsft


__ADS_2