Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Seperti Kenal Suara Itu


__ADS_3

La ilaha illallah, al-malikul haqqul mubin


Muhammadur rasulullah, shadaqul wa'dil aamiin


Allahumma shalli'ala, Muhammad syafi'il anam


Wa alihi wa shahbihi, wa salim 'ala dawam


Ya Allah kulo nyuwun, ibadah kulo Istiqomah


Ya Allah kulo nyuwun, pejah kulo husnul khatimah


Aisyah sempat terdiam sejenak mendengar puji-pujian kala petang itu. Masya Allah, suaranya indah sekali.


Hingga Zara baru menyadari bahwa ia berjalan sendirian. Ia menoleh ke arah belakang.


"Eh, Aisyah ketinggalan toh. Ada apa?" Hening, Aisyah masih betah dalam lamunannya.


"Aisyah."


Bahu Aisyah sedikit terangkat karena terkejut. "Eh iya Mbak, ada apa yah?" Tanya Aisyah meringis.


"Kamu yang kenapa berhenti di tengah jalan seperti ini?"


"Loh Aish berhenti ya Mbak? Hehe, maaf sedang melamun tadi." Jawab Aisyah menunduk malu.


"Ya sudah ayo lanjut jalan. Sepertinya sudah mau Iqamah." Ajak Zara mengandeng tangan Aisyah. Sedangkan Aisyah menggeleng pelan berusaha menghalau pikirannya yang merembet kemana-mana.


--


"Aisyah, kamu mau pulang sekarang? Maaf, kalau mau pulang sendirian ya. Mbak harus mengajar mengaji dulu di sini soalnya. Atau mau sama Ibuk nderes sambil nunggu Isya?" Ucap Zara pada Aisyah setelah selesai sholat dan dzikir.


"Eh begitu ya Mbak, em Aish sepertinya mau ikut bareng Ibu saja Mbak."


Zara tersenyum, "Ya sudah, sebentar ya." Ia meninggalkan Aisyah yang tengah melipat sajadahnya. Tak lama, ia terlihat melambaikan tangannya pada Aisyah. Di sampingnya ternyata sudah ada Ibunya.


"Niki Bu, Aisyah he." Nunung melemparkan senyumnya pada Aisyah.


"Sini Nduk, duduk di sebelah Ibuk." Aisyah menurut, ia pun diberi kitab Al-Qur'an oleh Zara.


"Ini Aisyah, jadi biasanya akan ada salah satu orang yang membaca dan yang lain menyimak. Setelah beberapa lembar baru setelah itu gantian. Biasanya ba'da tarawih, karena Magrib orang-orang masih buka puasa."


Aisyah mengangguk paham akan perkataan dari Zara. Kemudian, Zara pun pergi meninggalkan Aisyah. Ia akan mengajar mengaji di teras Masjid. Tempat mengaji putra dan putri terpisah oleh satir.


Lama Aisyah mengikuti kegiatan pada malam hari itu, waktu pun menunjukkan masuknya waktu Isya'. Lagi-lagi Aisyah mendengar seorang muazin yang begitu merdu mengumandangkan adzan.

__ADS_1


Suaranya begitu indah, seperti pernah mendengar dan kenal siapa pemiliknya.


Tapi apa mungkin dia ada di sini? Eh, tapi aku juga tidak tahu tempat asalnya. Kan dulu dia hanya kuliah di kota J. Astaghfirullah, apa yang kamu pikirkan Aisyah. Bukannya menjawab panggilan adzan.


--


"Mbak, Aish senang sekali ada di sini." Ujar Aisyah ketika hendak pulang dari Masjid.


"Benarkah? Alhamdulillah, ternyata kamu betah di sini. Maaf ya Aisyah, tadinya Mbak pikir kamu tidak suka tempat ini. Karena ya kamu tahu sendiri perbedaan hidup di desa dengan di kampung." Sahut Zara.


"Em tidak kok Mbak, Aisyah malah seneng banget ada di sini. Apalagi dua hari lagi kita puasa, selama sebulan penuh kita di sini. Pasti ramai sekali ya Mbak."


"Iya, pokoknya nanti Mbak ajak keliling sambil menunggu waktu buka."


"Benar ya Mbak?"


"Iya tenang saja."


Aisyah tersenyum, samar temaram Aisyah seolah melihat sesuatu di balik sebuah jendela Masjid. Seseorang telah mematikan lampu Masjid, jadilah ia tak melihat begitu jelas wajah itu.


Namun dari postur tubuh dan tinggi badan, Aisyah seperti pernah melihat. Entahlah sekarang ia masih tak paham dengan siapa dia. Ingin sekali ia melihat secara langsung untuk memastikan, namun apa kata orang bila ia melakukan itu di sini. Menemuinya dan melihat? Tentu ia malu melakukan. Lagi-lagi ia hanya menggeleng berusaha untuk tidak peduli.


...***...


Seseorang terlonjak kaget kala temannya menepuk bahunya keras dan berseru tepat di telinga.


"Astaghfirullah, kaget." Mengelus dada pelan. "Kenapa?" Dengusnya bertanya.


"Salah sendiri di ajak ngobrol malah ngelamun." Jawab Yoga enteng dan menyeruput minuman Bagas tanpa izin.


"Ck, terserah gualah mau ngapain. Hidup-hidup gue juga. Lagian lo mau ngomong apa?"


"Engga jadi, dah nggak mood." Sahutnya malas.


"Ya udah." Balas Bagas santai, ia kembali berselancar di dunia mayanya.


"Widiii..h, pantes aja betah nyuekin temen. Orang lu-nya asyik liat cewek bening." Celetuk Yoga kala melihat aktifitas temannya itu.


"Terserah gue lah. Lagian cewe sendiri bebas dong mau ngapain juga."


"Ck, gayaan lu punya pacar-pacar." Ledek Yoga.


Bagas hanya memutar bola jengah. Ia tak mempedulikan celotehan Yoga yang menurutnya tak jelas.


"Ya elah tahu begini nggak usah gabung sama lo tadi. Istirahat gue gini cuma buat nemenin lo yang lagi pacaran gini. Dicuekin kan alamatnya." Dengus Yoga kesal, Bagas sedikit terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


--


"Astagfirullah, Jihan!!!!" Teriak Dewi pada menantunya. Matanya terbelalak mendapati pakaiannya yang tercampur noda.


Tap, tap, tap.


Dengan cepat itulah Jihan menghampiri sang Ibu mertua, dengan satu keranjang kecil berisi pakaian yang sudah dijemur. "Iya Mah, ada apa ya?" Tanya Jihan sedikit takut melihat raut wajah Dewi.


"Kamu masih tanya kenapa? Lihat ini! Kenapa warnanya bisa campur seperti ini?" Menunjukkan pakaian putih yang tercampur dengan warna lain.


"E-em itu, maaf Mah."


"Kamu tidak memilih pakaian terlebih dahulu ketika mencuci. Iya?! Kamu itu bisanya apa sih Jihan? Kerja tidak punya, di rumah juga tidak bisa apa-apa. Kamu keturunan Sultan?" Cerocos Dewi seolah tak mau berhenti.


Jihan hanya menunduk sembari meremas tangannya sendiri. Ia begitu gugup sekarang.


"Kamu perbaiki baju Mama yang seperti ini, jika tidak kamu harus menggantinya! Ingat itu!" Bentak Dewi meninggalkan Jihan yang termangu di tempatnya.


...***...


"Eh Dek, mau kemana?" Tanya Ikfi yang melihat adiknya hendak keluar rumah.


"Mau beli sabun buat nyuci baju nanti."


"Ouh yang banyak ya, sekalian nanti kamu cuciin punyanya Abang juga."


Sontak, Hanum melebarkan matanya. "Nggak!" Sahutnya tegas.


"Eh nggak boleh gitu, lakuin aja itung-itung kamu latihan jadi istri nanti. Bahkan kalo udah jadi istri, baju-baju suami sama anak-anak juga kamu yang urus."


"Cih," Hanum berdecih. Tanpa berpikir panjang, ia dekati Kakaknya yang sedang bersiap untuk pergi bekerja. Meski hari Minggu, namun tidak ada kata libur bagi Ikfi. Yah, karena ia meneruskan pertanian yang selama ini ada di keluarganya.


Dahi Ikfi mengernyit melihat tangan kanan adiknya yang tengah menengadah padanya. "Apa?"


"Minta uanglah buat beli sabunnya."


"Kan tadi kamu dah bawa."


Hanum tersenyum, "Udah kasih aja, itung-itung latihan jadi suami. Bahkan uang jajan istri dan anak-anak juga Abang yang urus." Hanum semakin terkikik geli melihat respon Kakaknya yang mematung mendengar penuturannya.


Tak lama, Ikfi berdecih dan mengangkat salah satu sudut bibirnya. Ia menggeleng pelan dengan kesal merogoh kantong sakunya dan mengambil pecahan 50 ribuan.


Dengan senang hati Hanum menerima uang tersebut. "Makasih." Kakaknya terlihat mengangguk menanggapi dan melanjutkan kegiatannya.


______________________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih


__ADS_2