Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Siapa Dia?


__ADS_3

"Mas," lirih Aisyah, suaminya itu nampak sedang merapihkan alat-alat sholat yang tadi sudah ia kenakan untuk shalat Subuh.


Yoga menoleh, lengkungan indah tercetak jelas ia berikan untuk Aisyah. Sesaat Aisyah kagumi pemandangan indah tersebut, tangan yang telah terulur ia gapai dan cium.


"Mas apa kita benar-benar akan pindah?"


"Kenapa kamu menanyakan itu lagi Aisyah? Itu sudah menjadi keputusanku." Yoga mendaratkan tubuhnya di sisi tepi ranjang.


"Bagaimana dengan Mama Mas? Beliau pasti kesepian di sini. Di rumah pun, kau hanya ada di saat sarapan dan malam saja. Apalagi hubungan kalian akhir-akhir sedikit renggang, aku tidak mau kalian semakin jauh Mas." Tutur Aisyah, disentuhnya lengan sang suami.


Yoga menghembuskan nafasnya, ia sambut tangan Aisyah. "Sayang, jika Mama rindu nantinya. Kita bisa pergi ke sini atau Mama yang ke rumah kita yang baru."


"Tapi bagaimanapun aku tetap masih ragu Mas. Meski sekarang kamu telah menjadi suamiku, tapi kau tetap milik Mamamu Mas. Aku tidak mau dengan adanya jarak diantara kau dan Mama."


Yoga mengedarkan pandangannya ke arah lain. Sebenarnya aku melakukan ini juga untuk kalian Aisyah, aku tidak ingin kau tertekan dengan sikap dan perkataan Mama. Tapi aku juga takut jika nanti Mama akan semakin marah padaku.


"Baiklah, jika itu maumu. Kita tidak jadi pergi dari rumah ini." Jawab Yoga. Aisyah tersenyum, "Aku sangat mencintaimu Mas."


"Aku lebih mencintaimu sayang." Membalas pelukan Aisyah.


...***...


Setengah tahun berlalu, Aisyah dan Yoga masih belum diberi rezeki berupa anak. Jujur sebenarnya mereka bisa menerima dengan lapang dada karena itu, namun tuntutan serta gunjingan dari tetangga membuat kehidupan mereka terusik.


Selama itu juga Dewi semakin membenci Aisyah dan memiliki pikiran untuk meminta Yoga menceraikan istrinya. Tapi, Yoga yang keras kepala dan sangat mencintai Aisyah jelas tak ingin berpisah.


"Aisyah!" Seru Yoga pada istrinya.


"Iya Mas." Aisyah cuci tangannya dan beranjak pergi menuju kamar mereka.


"Ada apa Mas?" Tanya Aisyah.


"Tolong," ujar Yoga. Ia perlihatkan dasi yang sedang ia pegang dan belum terpasang.


Aisyah tersenyum, "Baiklah kemari."


"Mas diamlah dulu sebentar," titah Aisyah. Ia begitu kesal lantaran Yoga tak mau diam mencuri-curi ciuman di wajahnya.

__ADS_1


Sedangkan Yoga hanya terkekeh dan menghiraukan perkataan istri tercintanya itu.


"Sudah." Ujar Aisyah menepuk dada bidang suaminya.


"Terimakasih sayang, kamu memang yang terbaik." Sahut Yoga bangga mengacak gemas rambut hitam yang menjuntai indah.


"Ayo Mas, sudah cukup siang."


POV Yoga


Memulai hari dengan berbekal senyuman dan semangat dari istriku sudah menjadi rutinitas yang tak pernah tertinggal untukku. Meski di setiap paginya kuketahui bagaimana sikap Mama pada Aisyah. Namun aku sendiri tak dapat melawannya, katakanlah bahwa lelaki yang tidak tegas melekat padaku. Karena memang itu kenyataannya.


Memang beberapa kali kutegur dan berbicara pada Mama untuk merubah sikapnya. Namun tetap saja tidak digubris, bahkan hubungan kami kian merenggang. Aku menjadi semakin was-was, bisa saja sewaktu-waktu ia berbuat sesuatu pada istriku.


Pernah terpikirkan olehku untuk pindah rumah, tapi Aisyah tidak menginginkannya. Sangat kutahu pasti alasannya karena Mama. Baiklah itu telah menjadi keputusannya, toh dia juga bekerja di restoran miliknya. Di rumah masih ada Papa dan Intan yang memperlakukan dia dengan baik.


"Aku pergi ya sayang." Pamitku pada Aisyah.


"Iya Mas, hati-hati ya." Suaranya begitu lembut, benar-benar membuatku candu. Ingin rasanya mengulang kembali aktifitas kami tadi malam.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Kurasakan sapuan halus bibirnya di punggung tanganku. Secepat itu pula, kudaratkan kecupan di keningnya.


"Hati-hati Mas," Pesannya dari kejauhan, kulirik lewat kaca spion ia tersenyum manis dan melambaikan tangannya. Sungguh wajah damainya itu mendamaikan hatiku.


Senyum tak pernah luntur di wajahku, sembari itu kuputar lagu favoritku. Lagu dimana Aisyah menyanyikannya di malam pertama kami.


Tak sengaja netraku menangkap seorang wanita yang tengah dikelilingi oleh tiga pria. Melihat keadaannya, sepertinya ia sedang diganggu. Beberapa kali ia menepis tangan salah satu pria yang ingin menyentuhnya.


Sungguh tak dapat dibiarkan, kuhentikan mobil di pinggir jalan tak jauh dari arah mereka. Dengan langkah panjang dan tergesa kuhampiri mereka.


Samar-samar kudengar pria tersebut berucap.


"Sekarang sudah melewati batas waktumu Jihan, bukannya mempersiapkan hutang-hutang Ayahmu. Kau justru menghindar dari kami, tak ada pilihan lain. Kalian berdua, cepat bawa dia." Seru pria 37 tahun dengan wajahnya yang garang. Bagaimana dengan keadaan wanita yang dibentaknya, tentu sekujur tubuhnya gemetar ketakutan.


"Kumohon jangan bawa aku sekarang, aku sedang berusaha untuk mencari pekerjaan dan mengumpulkan uang. Kumohon beri aku waktu lagi." Ucapnya mengiba, baik air mata dan keringat telah menghiasi wajah pucatnya.


Namun ketiga pria dewasa itu tak mau menggubris, dengan paksa kedua pria menyeretnya. Beberapa langkah, mereka terhenti karena seruan seseorang.

__ADS_1


"Tunggu!!" Ujarku setengah berlari.


Salah satu dari pria tersebut mengernyit, dan menelisik penampilanku yang terlihat lebih muda dari mereka.


"Kenapa kalian membawa gadis ini?!" Tanyaku tegas, mataku memicing mendapati beberapa ruam merah berserakan di sekujur tubuh gadis tersebut.


"Bukan urusanmu!" Jawab pria tersebut sinis, "Apa yang kalian tunggu ayo cepat bawa gadis ini!" Hardiknya pada kedua pria yang memegang paksa pergelangan perempuan tersebut, kuyakini mereka adalah anak buahnya.


"Tunggu!" Ucapku sekali lagi, kucekal salah satu tangan yang menyeret tubuh pucat itu.


"Apa maumu hah?!" Geramnya, mungkin karena aku urusan mereka menjadi terhambat. "Gadis ini tidak bisa melunasi hutang-hutang Ayahnya, kami harus segera membawanya menemui bos kami!" Ungkapnya, aku tercengang mendengarnya.


Kuperhatikan lamat-lamat wajah dan tubuhnya. Sepertinya usianya tidak jauh berbeda dari Aisyah istriku, namun ia terlihat lebih muda. Melihat wajahnya yang pucat, entah kenapa membuatku iba. Belum lagi juga keadaan ketiga pria yang terlihat begitu menyeramkan.


Pikiranku berkelana, setelah ini ia pasti ingin gadis ini mencari uang dengan tubuhnya. Menjadikannya wanita malam dan PSK, tidak! Aku tidak akan membiarkan ini terjadi.


"Berapa hutangnya?" Tanya tanpa pikir panjang.


Bukannya menjawab pria tersebut justru melihat penampilanku dari atas hingga bawah. Bibirnya terlihat miring dan licik.


"Dua ratus tiga puluh delapan juta." Ucapnya kemudian.


Entah apa yang sedang aku pikirkan, tanpa ragu aku ambil selembar cek di saku celana. Menuliskan nominal yang telah disebutkan. Sebenarnya uang tersebut adalah sebagian dari tabungan pribadiku. Namun entah mengapa tiba-tiba saja terlintas untuk melunasi hutang gadis tersebut.


"Ini, mulai sekarang perempuan ini tidak ada urusan lagi dengan kalian dan jangan pernah lagi mengganggunya!" Ujarku seraya memberikan cek tersebut.


Ketiga pria tersebut terlihat senang, matanya mengarah kepada gadis muda di sampingku. "Seharusnya dari dulu kau minta pada kekasihmu ini, jadi pekerjaan kami tidak akan terlalu berat. Cih,"


Kepalaku menggeleng melihat mereka yang sudah terlihat jauh, setelahnya baru kusadari bahwa perempuan itu sudah tidak ada di sampingku. Ia pergi entah kenapa, hah? Begitukah sikap wanita jaman sekarang. Bukannya berterima kasih karena sudah ditolong, malah pergi tanpa pamit atau sopan santun. Beruntungnya aku memiliki Aisyah, wanita yang berbeda dengan wanita lain.


Tetapi sebenarnya, siapa dia?


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih yang sudah mau mampir ;)


Ig: @nick_mlsft

__ADS_1


__ADS_2