
Aisyah masih tak menyadari bahwa sang suami ternyata sudah berada di kamar itu. Bahkan sampai Yoga melingkarkan tangannya di pinggang Aisyah, ia tetap bergeming.
Yoga gemas dibuatnya, jika sedang melamun seperti ini wajah Aisyah terlihat sangat manis dan lucu. Sentuhan di pipi Aisyah ia daratkan secara bertubi-tubi. Membuat si empu kegelian.
"Ya Allah Mas, sudah pulang toh." Ucap Aisyah tersenyum, namun mengingat peristiwa tadi siang membuat bibirnya kembali datar.
"Iya sayang, Mas sangat merindukanmu."
Sesaat Aisyah biarkan terlebih dahulu suaminya memeluknya. Tapi tiba-tiba, tubuhnya menegang. Matanya membulat dan hatinya terasa di tikam tatkala Indra penciumannya merasakan wangi asing. Bahkan, ia telah memupuk buih-buih di matanya.
"Kau memangnya dari mana Mas." Aisyah rasakan kegugupan suaminya.
"Kamu tahu sendiri kan Aisyah, akhir-akhir ini Mas lembur. Juga terkadang teman-teman Mas mengajak bermain jadi pulang agak malam."
Kau sendirilah yang mengajak perempuan itu kan Mas?
Sekuat apapun Aisyah menangkis pikiran negatif tentang Yoga, tetap saja ia tak mampu mengontrol otaknya sendiri. Bahkan semua itu diperkuat oleh Yoga sendiri yang seolah membenarkan semuanya dengan segala tingkah lakunya.
"Aku lelah Mas, kamu juga pasti lelah. Ya sudah, ayo kita tidur dulu." Aisyah beranjak dari duduknya, belum satu langkah Yoga sudah menahannya.
"Sayang maaf, tapi tubuhku sangat lengket. Jadi mau kan siapkan aku air hangat?" Pinta Yoga memelas.
"Tentu Mas, ya sudah tunggu sebentar ya." Aisyah mengerjakan yang telah diminta oleh Yoga.
Ia juga membantu suaminya melucuti pakaiannya. Lagi-lagi hatinya serasa dicecak oleh pemandangan dada bidang yang biasanya polos kini tercetak oleh stempel kepemilikan. Tentu saja itu bukan ulahnya. Gambarnya tak begitu jelas, Aisyah duga pastilah Yoga yang berusaha menyembunyikan itu semua dengan salep.
Mengapa semakin hari, kau semakin berulah saja Mas. Jangan salahkan aku yang mulai mencurigai bahkan tidak mempercayaimu lagi. Kau sendiri yang memperjelas semuanya Mas. Batin Aisyah meringis pedih.
"Terimakasih sayang." Ingin sekali Aisyah hindari bibir Yoga yang sedang mendarat di keningnya, namun entahlah saat ini ia terasa berat melakukannya.
Ia siapkan terlebih dahulu pakaian tidur milik Yoga, barulah setelahnya ia tumbangkan tubuhnya di atas ranjang.
Tak seperti biasanya, kali ini ia tidur menghadap arah lain. Tidak menghadap tempat di mana Yoga biasanya melelapkan diri. Seperti apa respon Yoga nantinya, tak ia pedulikan.
Benar saja, tak lama ia rasakan hangatnya nafas di tengkuknya. Tidak lupa tangan yang juga sedang melingkari pinggangnya.
"Kenapa memberi punggung pada suamimu hm? Memangnya tidak dingin?" Tanya Yoga tepat di telinga Aisyah.
__ADS_1
Sang istri masih tetap tak bergeming, ia masih betah meruyupkan matanya. Merasa diacuhkan, Yoga pun dengan pelan membalikkan tubuh Aisyah. Dielusnya surai panjang nan hitam itu.
"Kenapa sayang?" Tanyanya kembali dengan penuh kelembutan. Akhirnya Aisyah membuka matanya menyerah, ia sudah tak tahan dengan lidah Yoga yang sudah berada di mana-mana.
"Mas cukup?" Menghentikan Yoga yang masih sibuk dengan urusannya.
"Ada apa hm?"
"Aku hanya lelah." Jawab Aisyah berbohong.
"Perlu memunggungi suamimu?" Aisyah menggeleng.
Yoga menarik nafasnya dalam-dalam. "Apa ada masalah? Kau berbeda sekali malam ini."
"Tidak Mas, maaf bukannya aku mengeluh. Tapi aku memang hanya lelah menunggumu pulang." Jawab Aisyah menunduk.
Perasaan bersalah semakin menggeluti diri Yoga. "Maaf ya sayang, Insyaallah lain kali Mas akan pulang lebih awal."
"Iya Mas," sahut Aisyah singkat.
Terserah kau saja untuk kedepannya Mas, aku tidak ingin tahu apapun.
...***...
Hoekk, hoeekk....
Perut Jihan pagi ini benar-benar terasa diaduk-aduk. Entahlah apa penyebabnya ia tak mengerti, memang akhir-akhir ini ia merasa begitu cepat lelah dan pusing. Bahkan ketika Yoga mengajaknya keluar ia lebih memilih menghabiskan waktu mereka berdua di rumah.
Yoga yang baru sampai, terkejut tak mendapati Jihan di kamarnya. Mendengar suara bising dari dapur ia pun mengerahkan kakinya untuk melangkah ke sana. Dilihatnya Jihan yang terlihat begitu kacau.
"Jihan." Dengan halus ia panggil nama Jihan, dan memutar tubuh Jihan.
Jihan hanya menggeleng lemah, matanya kembali melebar dan memuntahkan lagi cairan keruh. Layaknya seorang suami, Yoga dengan telaten memijat tengkuk Jihan. Wajahnya pun terlihat begitu khawatir.
Setelah cukup lama drama Jihan muntah, akhirnya ia pun menunjukkan tanda-tanda berhenti. Tiba-tiba semua terasa enteng ketika Yoga mulai mengelus perutnya tadi. Yoga memegang kedua bahu Jihan, membawanya menuju kursi yang berada di dapur tersebut.
"Bagaimana rasanya? Sudah mendingan? Apa perlu sesuatu?" Tanya Yoga dengan lembut, ia singkirkan surai tipis yang menghalanginya memandang puas wajah Jihan.
__ADS_1
"Enggak tahu Kak, tapi memang dari kemarin lumayan pusing dan cepet capeknya." Jawab Jihan manja dengan menyenderkan kepalanya pada bahu Yoga.
Secepat itu, ia merasakan bibir Yoga yang terasa hangat di keningnya. "Kita ke dokter yah, Kakak takut kamu nanti benar-benar sakit."
Jihan menggeleng kecil, "Tidak Kak, lagian ini sudah malam. Em, boleh aku minta sesuatu?" Mendongak melihat wajah Yoga.
"Boleh, katakan saja."
"Bisa untuk malam ini saja, Kakak menginap di sini? Aku sedang sangat ingin bersamamu." Ujarnya penuh harap.
Yoga terdiam sejenak, bagaimana pun ia sudah memiliki istri. Bahkan tak seharusnya ia pulang telat, namun melihat wajah Jihan yang pucat. Ia pun menjadi tidak tega. Ia menarik nafas panjang.
"Baiklah, hanya untuk malam ini yah."
Jihan tersenyum senang, "Terimakasih Kak, aku sangat mencintaimu." Memeluk erat tubuh Yoga.
Deg.
Yoga terpaku, entah kenapa hatinya tiba-tiba berdegup sangat kencang. Bukan karena merasa senang mendengar pengakuan Jihan yang untuk pertama kalinya mengungkapkan rasanya, namun perasaan bersalah yang tiba-tiba mencuat ke permukaan.
Aisyah, yah wajah teduh dan menenangkan milik istrinya lah yang kini sedang menari-nari di kepalanya. Meski dengan kedekatan dan jauhnya hubungan di antara dia dan Jihan, sama sekali tak ada rasa cinta di hatinya. Melainkan hanya karena nyaman dan mungkin yah na**u.
Tidak, tidak mungkin juga selamanya ia dan Jihan hanya akan seperti ini terus. Bisa saja karena perbuatan mereka, kemungkinan tumbuhnya benih Yoga sangat besar terjadi. Ingin menghentikan ini semua pun, sudah terlanjur jauh. Ia meraup wajahnya kasar.
Jihan yang tak mendapat respon dari Yoga pun mendongakkan wajahnya. Dilihatnya wajah Yoga yang terlihat termangu dan memikirkan sebuah masalah.
"Kak apa kau mendengarkan aku?" Tanyanya dengan membelai lembut rahang tegas milik Yoga.
Yoga menunduk, ia tersenyum tipis dan menggeleng. Tidak ada satu kata pun terucap dari bibirnya, ia hanya mengeratkan pelukan mereka.
______________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote
Terimakasih ;)
Ig : @nick_mslft
__ADS_1