Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Kembali Bekerja


__ADS_3

Intan memperhatikan wajah Aisyah yang menatap kosong dengan sendu. Sungguh wanita mana yang rela jika suaminya berkhianat dan bahkan membagi cintanya. Sama sekali tak terlintas dari benak Aisyah.


Namun harus bagaimana lagi jika semuanya telah terjadi, ternyata memang sudah dari lama hati Yoga telah bercabang. Ia merutuki kebodohannya yang masih begitu antusias menyambut Yoga ketika pulang meski sangat larut.


Memberi sentuhan lembut dikala Yoga letih, memberi pengertian dan semangat dikala Yoga terlihat begitu kacau. Ternyata selama ini ia hanya menyemangati seseorang yang sedang memperjuangkan seseorang.


Ia memukuli kepalanya sekeras mungkin untuk membersihkan otaknya dari bayang-bayang Yoga. Membuat Intan menoleh dan menepikan mobilnya.


"Aisyah hentikan! Jangan lakukan kebodohan apapun hanya untuk pria seperti Yoga!"


"Kebodohan?!" Aisyah tersenyum sinis. "Bahkan aku sudah bodoh dari dulu Intan!"


"Dan sekarang kau hanya ingin melihat senyum kemenangan dari wajahnya dan wanita ****** itu? Lihatlah mereka begitu cerdik mengelabuimu selama ini! Dan sekarang? Kau hanya ingin menunjukkan kelemahanmu? Menunjukkan betapa berharganya Yoga karena telah juga dimiliki orang lain? Sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu."


Aisyah termangu mendengar penuturan Intan, benar! Bukankah dari kemarin malam ia sudah berjanji untuk tidak pernah menyesali apapun. Dan berusaha untuk membenci Yoga, lalu untuk apa menangis pilu hanya karena Yoga telah menikahi orang lain. Bahkan sudah lama Yoga memunculkan Jihan ke dalam pernikahan mereka.


"Yoga tidaklah se-berharga itu hingga kau harus merelakan tubuhmu terluka, membuatmu hancur." Ujar Intan meyakinkan Aisyah dan menangkup kedua pipi Aisyah.


"Tapi dengan mata kepalaku sendiri aku melihatnya menikahi wanita lain, baik hati dan jiwaku melepuh dengan sendirinya aku bisa apa Intan? Bahkan aku sendiri tak mampu mengatur bagaimana harusnya keadaan hati dan pikiranku karena rasa yang membelenggu dengan begitu besar. Aku harus apa Intan?" Tutur Aisyah terisak frustasi dan memukuli dada serta kepalanya.


"Tidak hentikan Aisyah, baik. Untuk hari ini keluarkan segalanya yang sedang kau rasakan. Tapi kedepannya jangan pernah kau tangisi pria seperti itu." Pasrah Intan dengan keadaan Aisyah, berbicara sampai berbusa pun percuma karena memang ini masih awal dari semuanya. Ia merengkuh tubuh rapuh itu.


...***...


"Kak! Apa kau tidak bisa melihat istrimu ini? Lihatlah aku sedang kesusahan." Gerutu Jihan pada Yoga.


Yoga hanya menarik nafas panjang dan beranjak dari lamunannya. Menarik resleting yang sedang dipermasalahkan oleh Jihan.


"Sudah," ucapnya datar.


Jihan yang masih kesal tentu semakin kesal mendapati sikap suaminya yang tiba-tiba dingin. Tanpa sepatah kata ia pergi begitu saja ke kamar mandi membersihkan dirinya. Bahkan membanting pintunya.

__ADS_1


Lelaki beristri dua itu tak menggubris, justru ia fokuskan perhatiannya pada galeri ponselnya. Gambar dia dengan sang istri pertama. Sudah tiga hari ini, ia sama sekali tak mengirimkan pesan pada Aisyah.


Entah sedang apa dan bagaimana perasaan Aisyah ia sama sekali tidak mengerti. Ingin memulainya pun ia enggan, bukan enggan namun bingung ingin mengetik pesan apa.


Dalam hatinya ia berharap semoga Aisyah baik-baik saja dan belum mengetahui perbuatannya. Biarlah suasana tenang terlebih dahulu baru saat itu ia akan menjelaskan semuanya.


Kau wanita hebatku Aisyah dan sabar. Ku harap kau dapat mengerti posisi aku. Aku sangat mencintaimu, dan selamanya begitu.


Tanpa memikirkan bahwa sekarang adalah malam pertamanya dengan Jihan, Yoga merebahkan dirinya di kasur dan terlelap begitu saja. Mungkin karena memang hari ini begitu banyak yang ia siapkan setelah pulang kerja hingga kelelahan.


Jihan dengan senyum manisnya menatap dirinya dalam pantulan cermin di hadapannya. Meski beberapa saat ia sedang marah dengan Yoga, namun tidak dengan sekarang. Mungkin karena memang Yoga yang sedang letih karena hari ini.


"Suamiku kau pasti sangat lelah hari ini, aku maklumi itu semua. Dan malam ini aku pastikan kau akan meneguk kenikmatan yang tidak pernah kau dapatkan dari istrimu itu. Aisyah, perlahan akan aku pastikan kau akan kudepak dari kehidupan Kak Yoga.". Gumamnya pada pantulan dirinya sendiri.


Ceklek.


Dahi Jihan mengernyit tatkala mendapati suaminya yang terlihat sudah terlelap. Bahkan nafasnya pun nampak teratur, dengan pelan ia hampiri tempat pembaringan Yoga itu.


"Kak, Kak Yoga..." Ujarnya pelan mengguncang bahu Yoga.


"Ya sudah kalau kau lelah. Selamat tidur suamiku.." Tuturnya lembut di telinga sang suami. Dan berbaring di sampingnya.


...***...


Matahari menyambut bumi seolah tersenyum cerah melaksanakan tugasnya. Namun sama sekali tak digubris oleh wanita yang masih bergelung dalam hangatnya selimut.


Tok, tok, tok...


"Aisyah!!!!... Astaghfirullah Aisyah mau sampai kapan kamu seperti ini Aisyah!!! Lihat sudah pagi! Kamu masih tidur, ingat kamu tidur di rumah mertua!! Ada suami dan mertua yang harus kamu urusi!!"


Gedoran pintu semakin keras.

__ADS_1


"Aisyah!!!"


Wanita yang dipanggil namanya pun mulai mengerjapkan matanya. Netranya mendapati dinding langit dan keadaan kamar yang lumayan kacau. Sudah dua hari ini memang tak ia pikirkan lagi kamarnya. Sejuk merebak tatkala kakinya menyentuh lantai.


"Iya Maa.." Jawabnya dengan agak lemas.


Ceklek.


Dewi menggeleng melihat keadaan Aisyah yang masih terlihat kacau, matanya hitam sedikit sembab, rambu acak-acakan dan pakaian yang sangat kusut.


"Ck, mau jadi apa kamu Aisyah! Sudah pagi masih saja tidur, sudah cepat bangun dan siapkan sarapan!" Titah Dewi dan berlalu dari hadapan Aisyah.


Aisyah menatap dirinya dalam cermin, sungguh sulit dipercaya bahwa itu adalah dirinya. Ia tersenyum getir melihat pakaian suaminya yang masih tersusun rapi di dalam lemari. Sudah berapa hari ia tak menyiapkan itu semua.


Menarik nafas panjang dan mengambil handuk. Setelah membersihkan diri, tidak seperti biasanya. Aisyah memolesi wajahnya dengan bedak dan lipstik. Kadar kecantikannya semakin bertambah karena itu. Mungkin jika Yoga melihatnya akan sangat terpesona namun marah jika sampai Aisyah keluar dengan penampilan seperti itu.


Aisyah peduli? Tentu tidak, biarlah semua berlaku seperti ini. Toh tidak ada Yoga, ia juga akan mulai bekerja membantu sang Bunda mengurus salah satu restorannya.


"Wah Aisyah kau mau kemana?" Intan memindai penampilan Aisyah dari atas sampai bawah. Penampilan Aisyah sangat terlihat layaknya anak muda yang ingin pergi ootd.


"Aku akan mulai bekerja Intan, aku bosan jika setiap hari di rumah." Jawab Aisyah tersenyum.


"Bekerja? Tapi kenapa Nak? Apa ada masalah dengan pendapatan Yoga? Karena akhir-akhir ini Papa jarang sekali melihatnya di rumah. Apa ada masalah di antara kalian?"


Timpal Ayah mertua Aisyah dengan hati-hati.


"Tentu tidak Ayah, aku hanya merasa bosan saja jika setiap hari ada di rumah. Dan untuk Mas Yoga yang sudah beberapa hari tak di rumah itu karena memang Mas Yoga yang menemani bosnya pergi ke luar kota." Sahut Aisyah menutupi belang suaminya.


______________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like komen dan vote

__ADS_1


Terimakasih ;)


Ig: @nick_mlsft


__ADS_2