
Yoga tak mendapati sang istri di kamar, entah berada di mana ia masih tak peduli. Namun ia dikejutkan dengan tidak mendapati satu helai benang pun di lemari pakaian mereka.
"Di mana Jihan? Mengapa tak ada bajunya sama sekali di sini? Pulang kampung kah? Tapi di mana? Jihan tidak memiliki keluarga. Mengapa dia tidak memberitahu bahkan meminta izin padaku?"
Begitu banyak pertanyaan yang mencuat di kepalanya akan keberadaan Jihan saat ini.
"Apa mungkin Papa mengusirnya? Tapi mana mungkin. Tidak mungkin ia membiarkan wanita hamil pergi dari rumah ini. Lagipula di sini yang bersalah adalah aku."
Lagi-lagi Yoga tak mampu menerka apa penyebab utama kepergian Jihan.
"Benar-benar merepotkan. Sudahlah biarkan saja dia pergi, sebentar lagi juga pasti akan mencariku. Memangnya siapa lagi yang dia punya selain aku di dunia ini."
Tak ingin memusingkan hal Jihan, Yoga kemasi barang-barangnya dan berniat pergi dari rumah itu. Untuk orang tuanya, biarlah semua berangsur tenang dengan sendirinya. Barulah setelahnya ia perbaiki hubungan di antara mereka.
Tak lama, mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di depan apartemen yang biasa ia gunakan untuk tinggal bersama Anna. Ia menyeret kopernya hingga sampai di depan pintu.
Menyesal? Memang terbesit penyesalan di hatinya ketika melihat kedua orang tuanya yang begitu kecewa dengan perbuatannya. Namun, untuk hubungannya dengan Anna ia sama sekali tak pernah berniat mengakhirinya. Bahkan Jihan pun tak ia pikirkan sedikit saja perasaannya.
Tok, tok, tok.
Ceklek.
Nampak wanita yang tampil begitu acak-acakan namun kecantikan yang tidak luntur berada di hadapan Yoga.
"Anna," lirih Yoga.
"Yoga?" Mata Anna menyipit menajamkan penglihatannya.
Tanpa dipersilahkan untuk masuk, Yoga menerobos masuk ke dalam kamar Anna. Bahkan ia langsung merebahkan tubuhnya yang lelah.
"K-kau kemari?"
Yoga mengalihkan pandangannya kepada Anna, ia mengangguk.
"Kenapa-"
"Sudahlah aku ingin tidur, biarkan aku istirahat sejenak." Ucapnya memotong perkataan Anna.
Anna yang mendengarnya hanya menghela nafas panjang, ia perhatikan koper yang masih berada di ambang pintu.
Dapat ia duga bahwa Yoga diusir dari rumah orang tuanya. Tak lama ia pun membawanya menuju lemarinya. Bahkan menata pakaian Yoga bersamaan dengan pakaian-pakaiannya.
Ia hampiri lelaki yang terbaring begitu nyenyak di ranjang miliknya. Diusapnya lembut wajah Yoga.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana dengan hubungan kita Mas? Bagaimana pun aku juga memiliki impian untuk hidup bersamamu. Melihat tanggapan orang tuamu yang langsung mengusirmu ketika mengetahui hubunganmu denganku. Pasti akan sulit untuk kedepannya."
Setelah cukup lama memperhatikan Yoga, Anna pun merebahkan dirinya tepat di samping Yoga. Bahkan ia menyenderkan kepalanya di dada bidang Yoga dengan nyaman.
--
"Kau masih memikirkan suamimu Jihan?" Tanya Dira hati-hati pada Jihan yang terlihat masih melamun menghadap jendela bus yang tengah mereka tumpangi.
"Baru beberapa jam aku berpisah dengan Kak Yoga, wajar kan bila aku memikirkannya. Memang aku sudah terbiasa ditinggalkan olehnya. Tapi untuk sekarang, aku sudah tidak bisa lagi melihatnya. Entahlah jika dia memiliki sedikit saja simpati untuk mencariku."
"Kau ragu dengan keputusanmu?"
"Antara iya dan tidak. Sebenarnya aku takut dengan kehidupanku kedepannya. Kau tahu kan aku ini wanita hamil, untuk menghidupi diriku sendiri saja aku masih belum yakin. Aku hanya khawatir dengan anakku kelak."
"Kau ini lupa atau bagaimana. Di sini ada aku, akulah yang mengajakmu untuk melakukan hal ini. Masalah bagaimana kedepannya nanti, aku telah menyiapkan semuanya. Bahkan untuk tempat tinggal kita."
"Dira, mengapa kau mau membantuku? Aku senang setidaknya ada seseorang yang peduli dengan hidupku. Tapi bukankah kau memiliki urusanmu sendiri? Bagaimana dengan itu?"
"Kau tidak perlu khawatir, orang tuaku tidak terlalu menuntut aku untuk ini dan itu. Toh aku juga masih muda, mengenai tempat yang akan kita tinggali nanti. Aku memiliki kerabat dekat di sana.
Bahkan orang tuaku sendiri yang menyarankan untuk aku pergi ke sana. Papa memiiki tempat untuk dijadikan usaha nantinya. Jadi kau tidak perlu khawatir."
"Benarkah?"
Dira mengangguk yakin. "Iya."
"Iya, yang penting sekarang saatnya kau mengubah hidupmu. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang hanya merugikan dirimu."
"Iya akan aku ingat itu baik-baik."
***
Seminggu berlalu, Aisyah begitu senang menjalani hari-harinya di desa ini. Sama seperti biasanya, kini ia akan pergi ke sawah sekedar menjenguk kedua mertua Kakaknya atau sesekali bermain di sana tak lupa ditemani oleh Zara.
Dari kejauhan, antara ragu dan tidak seseorang nampak ingin menghampirinya. Padahal dari semalam ia telah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Aisyah. Namun, entah mengapa melihat Aisyah secara langsung seolah membuat semua nyali dalam dirinya meluap.
Setelah beberapa saat, Aisyah terlihat ingin kembali ke rumah. Tapi kali ini ia pulang sendirian, Zara masih betah berlama-lama berada di sawah.
Melihat adanya peluang untuk bertemu, Ikfi pun beranjak dari kegiatannya.
"Tunggu Aisyah!" Serunya.
Membuat wanita dengan hijab maroon itu menolehkan wajahnya. Tubuhnya nampak menegang dan gugup mendapati Ikfi yang berdiri tepat di belakangnya.
__ADS_1
"Em, i-iya ada apa?" Berusaha tersenyum menyembunyikan kegugupannya.
Ikfi salah tingkah dibuatnya. Ia mengusap tengkuk tak gatal.
"Ehm, apa memiliki waktu sekarang?"
"S-sekarang?" Mata wanita itu terlihat melebar.
"Iya sekarang."
"Baiklah, ada apa?" Menatap intens pria yang sesekali menghirup udara bebas.
Ikfi terdiam, ia melihat seluruh penjuru arah. Ia ingin berbicara dengan nyaman bersama Aisyah. Bukan tempat sepi namun juga tak ramai.
"Kita ke sana?" Tunjuknya di sebrang. Mereka juga dapat menikmati pemandangan gunung disertai suara alam dan air yang mengalir.
"Em baiklah. Kau duluan."
Mereka pun berjalan bersama namun tak beriringan. Aisyah tetap menjaga jarak dengan Ikfi. Mereka berdiri agak jauhan.
Aisyah masih menunggu apa yang ingin Ikfi utarakan padanya. Sekiranya mereka telah berdiri 10 menit lamanya tanpa berbicara apapun.
"Ehm," Aisyah berdehem. Ia menilik sekitar, memang mereka tidak hanya berdua. Ada beberapa petani yang masih berada di sana dengan jarak yang cukup jauh. Namun bagaimana pun ia tetap saja merasa tak enak jika dilihat.
Ikfi menoleh, Aisyah perhatikan sedari tadi lelaki ini nampak mengambil nafas dalam-dalam secara berulang.
"Ehm, Aisyah." Cicitnya, ia memberanikan diri untuk melihat wajah ayu milik Aisyah.
Aisyah tak menjawab, ia hanya melihat dan dalam hati mengagumi betapa indah pahatan yang diciptakan oleh Tuhan itu. Hatinya berdegup kencang, seirama dengan semilir angin yang menerpa tubuh keduanya.
Hijab Aisyah seketika melambai-lambai menutup pandangannya. Lagi-lagi kembali Ikfi dibuat termangu saat perlahan helaian benang itu memperlihatkan kecantikan alami dari perempuan yang dicintainya.
"Aisyah..." kembali ia berucap dengan bergetar.
"Iya," sahut Aisyah.
"S-sebenarnya, aku..."
_____________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih ;)
__ADS_1
Tandai typoš¤
Ig : @nick_mlsft