
Dengan pelan, Ikfi tarik nafasnya dalam-dalam. Matanya menyapu ke segala arah. Mencoba membentuk suasana agar tak terlalu kaku.
Ia coba tatap intens manik hitam bening milik Aisyah, cukup lama mungikin. Kata-kata demi yang telah ia rangkai semalam kembali ia telaah dan menyusunnya agar tak berantakan dan membuat Aisyah bingung.
"Hemm..., fiuuuhh.."
"Aisyah, jujur saat kala pertama aku melihatmu. Entah sifat dan perilakumu yang membuatku perlahan menumbuhkan sebuah rasa dalam hatiku, entah suara indah dari bibir manismu membuatku merasakan getaran dan kedamaian dalam pikiranku, entah keindahan dan kemolekan ciptaan Tuhan yang telah Ia titipkan padamu hingga membuatku betah untuk memandangmu.
Yang pasti rasa yang telah tumbuh itu terus bercabang dengan kehadiranmu yang selama ini berada di sekitarku. Sangat aku sadari dengan netraku yang selalu mencuri lihat yang dimilki olehmu tanpa adanya ikatan membuat sang pencatat amal menuangkan tintanya menulis dosaku. Namun apa kuasaku jika aku sendiri tak mampu menahan itu semua.
Karena itulah, tanpa ingin membiarkan rasa ini singgah terlalu lama dalam keadaan limbah dosa ini. Tanpa ingin menambahkan fitnah di antara kita. Dengan segenap hatiku, izinkan aku menjaga fitrahmu sepanjang hidupku dalam ikatan halal pernikahan. Aisyah, Anna Uhibbuki Fillah. Izinkan namaku untuk melekat dalam kisah indah hidup sebagai suami dari seorang Aisyah."
Aisyah terpaku dibuatnya, hatinya seolah terhujani ribuan tetes air yang telah lama gersang. Ia begitu terharu dengan pernyataan Ikfi. Namun, mengingat balik apa yang telah ia alami. Kembali ia berpikir dengan keras.
"Aku memiliki teman namanya Asyifa Zelda Zahra, sifat dan perilakunya begitu lembut. Bisa kau pastikan kau akan mendapatkan pelayanan yang baik. Apa bisa bahkan mungkin rasamu tak berpaling dariku kala kau bertemu dengannya.
Aku memiliki teman namanya Tazkia Misbah Hidayah, suaranya begitu lembut nan menenangkan. Takhfidzul Qur'an menjadi penyempurna keindahan suaranya. Apa mungkin kau masih bisa bertahan denganku saat mendengar suara dari bibir indahnya.
Aku memiliki teman namanya Selly Amalia, wajahnya begitu cantik melebihi aku tentunya. Sepanjang waktu kau akan merasakan keindahan akan salah satu ciptaan Tuhan. Apa bisa bahkan mungkin netramu masih bisa betah melihatku ketika melihatnya.
Kau masih berniat untuk membersamaiku dengan segala kekurangan yang ada dalam diriku? Asal kau tahu, alasan terbesar kegagalan itu terjadi. Lantaran aku yang tak kunjung memberinya gelar Ayah. Dan sekarang? Apa kau masih tetap ingin mempersunting aku tanpa adanya darah daging yang mengitari hidup kita?"
Ikfi tersenyum kecil juga lega, baginya pertanyaan yang telah dilontarkan oleh Aisyah tidaklah terlalu sulit untuk dijawab. Mengenai tanggung jawab yang akan ia ambil, sudahlah ia persiapkan jauh-jauh waktu.
"Bukan tentang kesempurnaan, namun bagaimana cara kita menjalani alur kisah yang telah digariskan. Pernikahan bukan hanya soal keturunan, namun dengan meleburnya cintalah kisah ini akan indah. Dengan cara kita sendiri. Macam Syurga yang dapat kita raih dengan ibadah di setiap langkahnya.
Lantunan doa pun tidak hanya dapat ditengadahkan oleh garis keturunan kita. Pernahkan kau mendengar wanita mandul bukanlah wanita yang tidak dapat melahirkan anak, namun memiliki banyak anak tidak ada yang dapat memberinya manfaat pada kedua orang tuanya.
Kenyataan tiada pernah menyatakan bahwa kau wanita yang tidak dapat merasakan sensasi mengandung dan melahirkan, namun kau yang perlu bersabar dalam menanti kehadiran benih di rahimmu untuk tumbuh."
Mungkin ia juga tahu bahwa hanya benihkulah yang ia izinkan untuk singgah di perutmu. Lanjutnya dalam hati.
"Kita memiliki tempat untuk mengadu segala keluh kesah, kita mengetahui siapa yang pantas dimintai pertolongan, kita memiliki kekuatan fisik untuk tetap berikhtiar, kita memiliki agama dan ilmu untuk menen gadahkan untaian-untaian kata indah meyakinkan Tuhan.
Satu hal yang harus kau tau, kesempurnaan tidaklah untuk dicari, melainkan dengan apa yang kau punyalah yang harus kau syukuri. Dengan segala apa yang melekat pada dirimu, aku mencintaimu apa adanya Aisyah."
__ADS_1
...***...
"Beberapa hari ini aku tidak akan pulang. Mungkin sekitar satu minggu." Celetuk Yoga kala Anna tengah menata makanan di atas meja.
"Kenapa? Ikut bosmu dinas?" Tanya Anna.
"Iya." Jawab Yoga singkat.
"Baiklah, hati-hati."
Yoga mengangguk, tepat setelah Yoga selesai dengan kegiatannya. Ia pun beranjak pergi dari tempat itu. Namun, sebelum ia membuka pintu. Lengannya ditahan oleh Anna.
"Apa?"
Anna tidak menjawab, ia hanya mulai berjinjit ingin meraih sesuatu. Paham dengan maksud Anna, Yoga pun mendekat. Hingga cukup lama mereka saling bergelut saliva hingga Yoga menarik tubuhnya.
Mereka saling tersenyum kecil, Yoga rengkuh tubuh mungil Anna. Meski ia masih meragukan bagaimana perasaannya, ia akui bahwa ia cukup nyaman dengan kehadiran Anna.
Setelah beberapa drama perpisahan yang mereka lakukan, akhirnya Yoga pun berlalu menjauh dari apartemen mereka. Sedangkan Anna, ia kembali ke arah ruang makan. Merapihkan alat-alat makan yang telah mereka pakai.
Ceklek.
Mata Anna seketika terbuka lebar, tubuhnya kaku. Tak sepatah kata dapat keluar dari mulutnya.
"Bagaimana kabarmu sayang?" Ucap pria itu dengan wajah yang sangat menjengkelkan.
Anna segera menutup pintu tersebut namun terlambat, lelaki itu dengan mudah menahannya dengan kaki.
Set. Ganggang pintu berhasil ditahan oleh pria di hadapannya itu. Dengan cepat ia segera masuk ke ruangan Anna dan menutup pintu tersebut.
"M-mengapa kau kemari? Kita sudah tidak memiliki urusan apapun kan?" Tanya Anna gugup.
"Urusan? Tentu saja kau adalah urusanku. Bahkan seumur hidupmu kau adalah milikku." Jawabnya dengan tersenyum miring.
"Milikmu? Mengapa kau berkata demikian? Ingat, aku sudah terbebas dari lelaki sepertimu."
__ADS_1
"Aku tidak pernah merasa seperti itu. Kau benar-benar berbeda sekarang, priamu yang baru itu begitu memanjakanmu ya. Bahkan memberimu tempat tinggal yang cukup mewah di sini." Duduk di sofa depan TV tanpa dipersilahkan oleh tuan rumah.
"Kumohon, pergilah dari sini."
"Ooh mengapa kau terlalu terburu-buru sayang, aku ke sini untuk bersenang-senang denganmu. Tenang saja, bukankah dia akan pergi untuk beberapa hari. Jadi kita bisa menikmati waktu berdua." Menyeringai puas dan mulai mendekati Anna.
"Tidak, kumohon pergilah. Aku sama sekali tidak ingin berhubungan lagi denganmu."
"Begitukah? Bagaimana kalau aku tidak peduli."
Anna terus menggeleng, ingin melarikan diri dari laki-laki yang sangat dibencinya.
Grep. Tubuh Anna dengan entengnya ia gendong di pundaknya. Netranya mencari-cari dimana letak kamar Anna.
Tak ia pedulikan pukulan Anna di punggungnya, ia bawa Anna untuk menuruti apa kemauannya. Hingga akhirnya, sesuatu yang sangat Anna hindari pun terjadi. Ia menyalurkan hasrat yang telah lama ia pendam.
Anna memunguti pakaian yang telah berserakan di lantai. Ia merasa begitu jijik dengan tubuhnya. Diliriknya tubuh lemah di atas ranjang, wajah tanpa dosa bahkan menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan.
Di bawah guyuran shower ia rutuki semua yang telah terjadi. Dan menyesalinya. Bukankah niatnya sudah bagus untuk tidak lagi melakukan hubungan intim dengan sembarang pria, namun kenapa keadaan tak pernah berpihak padanya.
Radit. Pria yang dulu sempat menyewanya selama beberapa bulan. Namun karena selalu merasa puas dengan tubuh Anna, ia pun menyewanya lebih lama.
Hingga membuat Anna mau tidak mau harus selalu melayani nafsu buas dari Radit kapanpun dan dimana pun. Jika bukan karena Bagas yang mau menariknya dari kepalan Radit, tak mungkin ia dapat merasakan perhatian dari seorang Yoga.
Tapi apa mau dikata, meski Radit telah menyetujui segala persyaratan Bagas. Ia kerap beberapa kali menggelutinya bahkan secara paksa.
Apalagi kesibukan Bagas yang membuat Radit bisa dengan puas bersama dengan Anna. Hingga kembali datanglah Yoga yang membuatnya lepas dari jeratan Radit.
Kini, pria itu kembali dengan kelicikan yang sama. Entah apa yang harus dilakukan Anna ia pun tak tahu.
_________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan share.
Terimakasih ;)
__ADS_1
Ig: @nick_mlsft