Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Kembali bertemu


__ADS_3

..."Ketika jarak membentang, rindu semakin ku dekap erat. Dengan cinta yang betah bersemayam tanpa ada keinginan beranjak dari tempatnya."...


^^^@nick_mlsft^^^


...***...


Lantunan setiap kalimat adzan Ashar, membuat seseorang perlahan membuka kelopak matanya dengan malas. Tubuhnya terasa berat, namun seketika matanya membola.


"Aku bermimpi?" ucapnya kala telah terduduk tegap di ranjangnya.


Indar penglihatannya menyapu seluruh ruangan. Ia menghela nafas panjang, ia tersenyum kecil.


"Sungguh mimpi yang indah." gumamnya, kembali merebahkan diri.


Eh, tidak! Sudah masuk waktu Ashar dari beberapa menit lalu. Ia tidak boleh menunda-nunda sholat. Kembali ia buka kain tebal yang melilit tubuhnya.


Drt. Dering notifikasi dari ponselnya membuat perhatiannya teralih.


Assalamualaikum Aisyah, ini aku Ikfi. Sebenarnya sudah lama aku memiliki nomor ponselmu. Tapi baru sekarang aku berani mengirimkan pesan.


Tentang apa yang aku utarakan tadi siang, aku memaklumi ketika kau tak langsung memberi jawaban. Namun di sini, aku akan tetap menunggu dan berharap. Semoga kau dapat memikirkannya matang-matang. Aku mencintaimu. ~ Ikfi.


Aisyah menutup mulutnya tak percaya, jadi bayang-bayang yang sekarang mengitari benaknya memang benar adanya. Kembali coba ia ingat setelah Ikfi menyatakan semuanya. 


Flashback


Aisyah terpaku bergeming. Tubuhnya seolah tak lagi ada dalam kuasanya. Namun, lengkingan suara yang memanggil namanya membuat ia berpaling dari wajah Ikfi.


"Aisyah...!!" seru Zara memanggil saudara iparnya.


"Eh iya Mbak," sahut Aisyah.


Sejenak, Aisyah pandangi lagi wajah Ikfi. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun.


"B-biarkan aku berpikir dahulu. A-aku belum bisa menjawabnya sekarang." ucapnya terbata.


Ikfi tersenyum manis,ia memaklumi tanggapan dari wanita yang ia cintai itu.


"Tidak apa-apa. Memang untuk urusan seperti ini. Lebih baik kau pikirkan matang-matang. Sampai kapan pun itu aku akan tetap menunggumu."


Aisyah mengangguk kecil.


"Baiklah, aku pamit."


Beberapa langkah Aisyah meninggalkan Ikfi, ia kembali bersuara.


"Aisyah!" Wanita itu menoleh.


"Aku mencintaimu."

__ADS_1


Dengan wajah bersemu, Aisyah berlalu menjauh dengan cepat.


Hingga saat wajahnya bersitatap dengan Zara. Ibu satu anak itu mengernyitkan dahinya.


"Aisyah?" tanyanya bingung.


"Iya Mbak."


"Ada apa? Kenapa terlihat bahagia sekali?"


Aisyah tersenyum tipis seraya menggeleng, "tidak ada apa-apa."


Zara menghela nafasnya, "ya sudah ayo sekarang kita langsung pulang saja. Mas Aidan sudah menjemput kita. Setelah ini, kita langsung bersiap-siap untuk pulang ke kota J******."


"Menjemput? Pulang?"


"Iya, Ayah sakit. Maksudnya Kakek, beliau merindukan kita juga katanya."


"Sakit? Baiklah ayo Mbak."


Mereka pun menghampiri Aidan yang telah lumayan lama menunggu mereka.


Sesampainya di rumah, Aisyah bergegas memberesi barang-barangnya. Meski mereka akan berangkat ba'da Maghrib namun ia diminta untuk bersiap-siap dari sekarang.


Karena di bulan Ramadhan seperti di saat-saat seperti itu tentu akan sibuk untuk mereka.  Jadilah di waktu senggang sekarang ini mereka berkemas.


Aisyah tersenyum kala mengingatnya. Kembali ia fokuskan dirinya menatap layar ponselnya. Baru ia akan mengetik sebuah pesan layarnya berubah hitam gelap. Ia mendengus baru menyadari bahwa ponselnya lowbat.


Dengan malas, Aisyah mencari charger dan mulai mengisi daya benda pipih itu.


"Aisyah!!" panggil Zara pada sang adik ipar.


"Iya Mbak." sahut Aisyah.


Aisyah dengan segera mempersiapkan dirinya, setelahnya seperti biasa ia membantu Zara untuk mempersiapkan makanan untuk buka puasa. Barulah kemudian mereka berangkat untuk pergi ke rumah orang tua Aidan.


***


Ikfi masih menatap layar ponselnya, sudah dari kemarin malam ia tak kunjung mendapat jawaban dari Aisyah. Ia sempat berbinar melihat pesannya telah terbaca bahkan Aisyah pun telah mengetik suatu pesan. Namun hingga kini ia tak mendapat balasan apapun.


Hari menunjukkan pukul setengah enam. Sebentar lagi ia harus segera bersiap untuk pergi bekerja. Ia menghela nafasnya sejenak. Kemudian meletakkan ponselnya pasrah.


"Seg ningali nopo to Mas?" (Sedang melihat apa Mas?) tanya Bapak Zara pada sang ponakan.


Membuat Ikfi menoleh ia tersenyum lebar, "e**m, mboten enten." (Tidak ada)


***


"Kita langsung ke rumah Kakek Aisyah? Atau kau ingin diantar dulu sampai rumahmu?" tanya Aidan kala mobil mereka yang sekitar 30 menit lagi sampai di rumah Kakek Ikhsan. 

__ADS_1


"Em langsung saja Bang, aku juga sudah sangat merindukan Kakek." jawab Aisyah tersenyum. Aidan pun mengangguk paham.


Kembali Aisyah pandangi jalanan lewat jendela mobil. Pikirannya berkelana pada kejadian yang selama ini berada di kampung halaman Zara.


Sedikit mulai sedikit senyum terbit di wajahnya, seketika ia teringat akan ponselnya. Ia pun kelimpungan mencari benda pipih itu.


Ungtunglah ternyata berada di tas selempangnya.


Apa mungkin dia menunggu pesanku? Aku sudah lama membacanya dan tidak membalasnya. Dia tidak mengirimkan lagi jawabannya? gumamnya dalam hati.


Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.


Maaf aku telah kembali ke rumah orang tuaku Kak. Ponselku sempat lowbat jadi tidak bisa mengirimkan pesan untukmu. Baru aku ingat, dan untuk jawabannya aku tidak bisa memberimu sekarang. Tapi jujur, aku harap kau mau menungguku. ~ Aisyah.


Tanpa disadari Aisyah, ternyata dari kaca depan Zara memperhatikan dirinya yang sibuk sendiri dengan senyum yang senantiasa menggelayuti wajahnya.


"Ehm," dehemnya keras. Membuat Aidan juga menatapnya heran.


Zara menggeleng kecil sembari tersenyum manis. Sedang Aisyah ia tidak menyadari bahwa sang kakak ipar. Selesai dengan gadgetnya ia kembali bermain dengan Syauqi. Dengan kehadirannyalah setidaknya ia tidak terlalu bosan.


***


Yoga kembali setelah beberapa hari dengan keras mengerjakan pekerjaannya hingga lelah terus menggerayangi tubuhnya.


Dalam pikirannya terus saja mengarah pada Anna. Namun sebelum ia kembali ke apartemen, ia arahkan mobilnya menuju sebuah supermarket. 


Beberapa hari ini, ia sama sekali tak mengirimkan uang pada Anna. Tentu saja karena ia malas untuk pergi ke Bank. Pekerjaannya saja sudah membuatnya lelah ditambah pekerjaan tambahan dari sang bos yang bucin hingga membuatnya pusing dengan keinginan kekasih bosnya.


Tubuhnya membeku, matanya terpaku di mana tubuh Aisyah dengan balita terpampang jelas di depan kedai es krim.


Tidak, sebelum Aisyah sampai pada mobilnya kembali secepat mungkin Yoga menyusulnya.


"Aisyah!" lirihnya dengan mata berbinar saat jarak di antara mereka kian menipis.


Sreekk. Tubuh Aisyah berbalik dan sedikit lagi akan limbrug.


Grep. Dengan cepat Yoga rengkuh tubuh yang sangat ia rindukan itu.


Aisyah yang kini berada di dekapan seseorang terkejut. Mendapati wangi yang dulu sempat menjadi candunya segera menariknya ke alam sadar.


"L-lepas!" cicit Aisyah berusaha berontak.


"Tidak Aisyah! Aku sangat merindukanmu aku sangat mencintaimu. Perpisahan itu membuatku sakit Aisyah, ku mohon jangan lepaskan." balas Yoga semakin mengeratkan pelukan mereka.


"Mas kita sudah bukan mahram lagi, lepaskan aku!" tegas Aisyah, namun bagi Yoga tenaganya sama sekali tak ada rasa apapun.


Merasa Aisyah yang semakin bergerak, membuat Yoga ingin menariknya pergi dari tempat itu. Nahas sebelum itu terjadi, tubuhnya terhuyung ke belakang. Pelukan mereka lepas karena tarikan seseorang.


TBC

__ADS_1


__ADS_2