
"Kak," cicit Jihan pada lelaki yang nampak tengah memijat pangkal hidungnya.
"Jihan." Sahut pria tersebut. "Kemarilah."
Jihan menurut, ia daratkan tubuhnya di samping Yoga.
"Kenapa dia bisa ada di sini? Sebenarnya siapa dia?" Tunjuknya pada lelaki yang tersungkur lemah di lantai rumah tersebut. Yoga jelas tak langsung meloloskannya begitu saja, jika saja tidak pingsang. Mungkin sampai saat ini Yoga masih menghajarnya.
Jihan tampak ragu menjawab pertanyaan Yoga, ia pegang erat ujung bajunya. Matanya kembali memanas.
"Hei tenanglah, sekarang sudah ada aku. Kau tidak perlu khawatir." Mengusap kepala Jihan pelan.
"K-Kak." Suara Jihan hampir tercekat.
"Sudah, tidak perlu bercerita sekarang. Tenangkan dirimu dulu," entah apa yang mendorong Yoga untuk membawa Jihan kepada pelukannya. Bahkan Jihan sendiri juga tak menolak, ia justru merasa tenang dan nyaman.
Cukup lama mereka saling terdiam, Jihan menarik dirinya dari rengkuhan Yoga. Mereka saling menatap dalam, ada sesuatu dalam diri mereka.
Aku tidak mengerti apa yang sedang aku rasakan ini Jihan, yang pasti aku ingin selalu ada untukmu. Hatiku juga sakit ketika kau menangis dan dilecehkan seperti itu. Batin Yoga.
Kak salahkah jika aku menaruh hati padamu, meski aku tahu kau telah beristri. Namun aku tidak mempedulikan itu, mungkin kau sendiri juga memiliki rasa yang sama padaku. Buktinya kau sangat sering datang ke rumah ini. Kau satu-satunya pria yang dapat menghargai aku, dapat kurasakan bagaimana rasanya diperhatikan. Batin Jihan.
"Ehm," Yoga berdehem. Segera saja ia palingkan wajahnya.
"Kak." Jihan memandang sendu wajah Yoga.
"Iya Jihan, oh ya apa tidak sebaiknya saja kau pindah dari sini. Kurasa tempat ini sudah tidak aman untukmu. Sewaktu-waktu pria itu juga dapat bukan datang ketempat ini lagi. Apa kau ingin menuntutnya?"
Jihan menggeleng, "Dia Ayahku Kak, tidak mungkin aku akan menuntutnya." Matanya mulai menggenang.
Mata Yoga hampir bulat sempurna, "Apa?!" Tangannya mengepal kuat.
__ADS_1
Rasanya Jihan benar-benar ingin menyembunyikan wajahnya di lubang semut sekalipun.
"T-tapi mengapa dia bisa seperti itu?" Lirik Yoga pada pria yang masih belum sadar itu.
"Karena dia hanya Ayah tiriku Kak. Sebenarnya aku ini sudah tidak memiliki siapapun. Bapak kandungku meninggalkan aku dari aku berusia 11 tahun. Ibuku sendiri menikah dengannya (melirik pria yang terbujur lemah) sudah dari lima tahun yang lalu. Tapi pada akhirnya ia juga menyusul Bapak, lima bulan yang lalu.
Ini bukanlah kali pertama Ayah tiriku berbuat seperti itu Kak, aku tidak bisa apa-apa. Ingin kabur juga percuma, pernah mencoba meminta bantuan pada saudara Bapak maupun Ibu. Tapi tak ada sedikitpun rasa kasihan atau iba padaku Kak. Bahkan mereka menolak mentah-mentah kehadiran aku." Isak Jihan menahan perih di hatinya.
Yoga menatapnya dengan pandangan iba, "Jihan.." Tiba-tiba hatinya juga merasa tercubit begitu kerasnya. Rasa ingin melindungi kian membuncah dalam dirinya. Segera saja ia rengkuh tubuh Jihan ke dalam pelukannya.
"Tenanglah Jihan, sekarang ada aku di sini. Dan aku juga tidak ingin tahu. Kau harus pergi dari sini bersamaku. Kau tidak bisa jika terus-menerus menerima semua ini." Ujar Yoga.
"Kak," Jihan mendongak.
"Ssst, cukup ikuti saja perkataanku." Ucapnya sekali lagi.
"Baiklah." Pasrah Jihan.
...***...
Akhir-akhir ini Aisyah dibuat heran dengan sikap suaminya yang sedikit berubah. Memang Yoga masih memperlakukannya dengan baik dan lembut berbicara dengannya. Namun Yoga terkadang fokus pada urusannya sendiri seperti pada ponselnya.
Jika biasanya Aisyah mendekat pada Yoga, maka Yoga akan langsung memperhatikan atau bermanja-manja padanya. Namun tidak dengan sekarang, Yoga tidak akan berbicara jika bertanya. Menjawab seperlunya meski masih lembut nada bicaranya.
Aisyah juga dibuat bingung, jika biasanya ketika sang suami mendengar adzan berkumandang akan langsung bergegas meminta ia menyiapkan keperluan ibadahnya. Tapi sekarang, Yoga masih berasyik ria menatap ponselnya bahkan jarang berjamaah ke Masjid.
Seperti sekarang ini, jam sudah menunjukkan masuknya waktu Maghrib. Ia menatap sendu kaki yang masih betah selonjoran di atas ranjang, dengan ponsel di tangan suaminya. Ia lantas mendekat.
"Ehm, Mas." Dengan pelan Aisyah guncang bahu Mas Yoga.
Yoga terkejut dibuatnya, namun sebisa mungkin ia atur ekspresi wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa sayang?"
"Lihat!" Menunjukkan jam dengan dagunya. "Kamu tidak ingin pergi ke Masjid? Mungkin Papa sudah pergi dari tadi." Lanjutnya.
"Em maaf sayang, aku kelupaan. Juga aku mungkin terlalu kelelahan bekerja." Jawab Yoga meringis. Tentu saja lelah, di hari libur ini. Ia terus berada di rumah Jihan membereskan barang-barang pindahan. Ia juga sempat berjalan-jalan sebentar.
Aisyah mengangguk, ia juga menyadari kepulangan Yoga yang akhir-akhir ini terlambat tidak seperti biasanya. "Ya sudah, ayo letakan dulu ponselnya. Kita sholat bersama."
Yoga mengangguk dan beranjak dari tempatnya.
Lagi-lagi Aisyah menghela nafasnya mendapati suaminya yang langsung melepas pecinya ketika selesai sholat. Biasanya jika Yoga shalat di rumah, ia akan bertadarus sebentar dengan kepala Yoga yang berada di pangkuannya.
Mereka akan saling lempar senyum dan canda tawa. Namun sekarang, semua terasa asing. Meski ia tahu mungkin suaminya terlalu lelah, namun bukankah tidak ada kata lelah jika untuk ibadah. Justru dengan ibadahlah maka jiwa akan tenang. Seperti yang dikatakan suaminya dulu.
Sayang tolong bacakan aku ayat-ayat Allah, aku ingin menenangkan diri. Tidak ada pelarian terbaik dari rasa lelahku karena bekerja selain suara indah dan lembutmu. Diusapnya pelan rambut Yoga saat itu.
Sebenarnya ada apa Mas? Kenapa sekarang seakan sulit untuk menggapai perhatianmu. Isak batinnya perih.
Segera saja Aisyah buka mushaf Al-Qur'an-nya, dengan bismillah ia mulai membaca setiap ayat-ayat yang berderet rapi. Setiap huruf yang ia baca begitu menentramkan jiwanya, suara lembutnya perlahan menyiram hati yang sempat berpijar.
Ceklek.
Dengan lembut kedamaian di dalam jiwanya menjalar, Yoga tersenyum senang mendapati istrinya yang tengah melantukan firman-firman Allah tersebut. Nyatanya ia cukup rindu dengan suara yang selalu memanjakan telinganya. Ia sadari, akhir-akhir jarak diantara ia dan Aisyah telah terbentuk. Telah disadari pula, bahwa ia sendiri yang menciptakan jarak itu. Tersirat penyesalan dalam benaknya.
Tak menunggu waktu lama, ia rebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Melakukan hal yang dahulu ia biasa lakukan. Aisyah bahkan hampir menitikkan air matanya karena ini.
Sungguh, ia sangat rindu suaminya. Mata Yoga terpejam, menikmati sentuhan lembut penuh kasih sayang di kepalanya. Tak hanya itu, ia resapi begitu dalam untaian kalimat-kalimat Tuhan yang sedang dilisankan oleh Aisyah.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih..
__ADS_1