
Fahmi hanya tersenyum mendengar sang calon mantan menantunya itu tengah mengembalikan putrinya. Meski memang kemarahan dalam dirinya masih meluap, melihat Yoga yang mengembalikan dengan baik-baik putrinya membuat ia sedikit meruntuhkan amarahnya.
"Iya Nak, tidak apa-apa. Jadikan pengalaman ini untuk bekalmu dalam berumah tangga dengan Jihan nantinya. Jagalah dia, karena bagaimanapun Jihan juga seorang perempuan yang juga disayangi oleh orang tuanya. Maafkan Ayah juga yang mungkin beberapa kali membuatmu tersinggung."
Yoga mengangguk, sejenak ia pejamkan matanya sembari menyiapkan mentalnya kuat-kuat.
"Aisyah Zara Al-Farizi binti Fahmi Al-Farizi hari ini aku jatuhkan kamu talak . Ku kembalikan tangung jawab yang sempat aku emban daripada dirimu pada Ayahmu. Mulai detik ini juga, ku lepaskan tanggung jawabmu terhadapku." Ucap Yoga dengan linangan air matanya.
Begitu pula Aisyah, meski hal ini memang sudah ia persiapkan dari awal namun tetap saja ia tak mampu menampung air matanya lagi.
Melati dan Farah menghampiri Aisyah, mereka sama-sama menyalurkan kekuatan mereka dengan dekapan penuh kasih sayang.
"Terimakasih atas semua waktu yang telah kamu luangkan selama ini Mas, aku harap kalian dapat membangun rumah di Syurga-Nya dengan ibadah sepanjang hidup ini Mas." Sahut Aisyah dengan senyuman tulus.
Yoga pun membalas senyuman itu, "Aku juga berharap kau akan menemukan kebahagiaanmu yang tidak kamu dapatkan saat bersamaku. Maafkan atas semua perbuatanku hingga sempat membuatmu terpuruk, aku yakin dengan kesabaran yang kau miliki kebahagiaan sendiri yang akan datang menghampirimu."
"Kalau begitu aku pamit. Ayah, Bunda sekali lagi maafkan aku yang tidak dapat menjalankan tugasku dalam menjaga putri kalian. Maafkan aku yang telah mematahkan harapan kalian dengan perbuatan yang telah aku lakukan." Ujar Yoga bersimpuh di hadapan Fahmi dan Melati.
"Bangunlah Nak, sudah. Sebagaimana putri kami memaafkanmu, seperti itulah perasaan kami. Kini putri kami telah kembali ke pelukan kami lagi. Terimakasih telah menerbitkan sejuta senyuman di bibirnya dulu."
Yoga tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih Yah, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Tukasnya sembari mencium punggung tangan pasangan paruh baya itu.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab mereka. Yoga menatap Farah yang menatapnya datar, masih jelas terlihat sirat kemarahan dalam wajahnya. Ia tersenyum tipis dan sedikit menunduk, kemudian berlalu dari kediaman Al-Farizi.
__ADS_1
Tangis Aisyah semakin deras saja, isakan kecil pun terdengar jelas oleh orang-orang di sekitarnya. Seluruh keluarga memandangnya iba, bagaimana pun mereka tidak pernah membiarkan sang putri bersedih seperti ini. Berharap dengan memberikannya pada seorang lelaki dapat menyempurnakan kebahagiaannya nyatanya hanya angan. Namun juga tiada guna untuk menyesali. Ikhlas dan berserah diri kepada Allah-lah yang membuat jiwa mereka tenang.
"Keluarkan semua hari ini Nak, tidak salah jika manusia bersedih. Apalagi kamu yang notabenenya seorang perempuan yang dianugerahi hati selembut kapas. Namun setelah ini yakinlah kepada Allah bahwa semua yang terjadi pasti telah ia rencanakan yang terbaik untuk hidupmu kelak. Jangan mengharapkan Syurga kalau kamu tidak ingin diuji. Buktikan pada-Nya bahwa kamu dapat lolos dari setiap ujian dan cobaan yang diberikan oleh-Nya. Hingga membuat kamu layak untuk melangkahkan kakimu ke Syurga." Tutur Fahmi penuh kelembutan, tak lupa ia daratkan pula sentuhan halus di kepala Aisyah.
Aisyah pun mengangguk dalam dekapan sang Ayah, meski bibirnya tak mampu menyahuti perkataan Fahmi namun hatinya masih mampu menerima setiap petuah Fahmi yang diberikan padanya. Dalam hati ia pun ikhlas, mungkin karena memang ia yang masih membutuhkan waktu untuk mengobati luka di hatinya.
...***...
Yoga menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia memukul kepalanya pada setir mobil. Perkataan talak yang ia ucapkan semata-mata hanya untuk kebahagiaan Aisyah. Dalam hati tentu ia masih belum ikhlas dan menerima perpisahan ini.
Menyesal? Tentu ia tidak mampu lagi menggambarkan seberapa besar penyesalan yang ada di dalam dadanya. Sakit, perih dan rapuh itulah yang sekarang ia rasakan. Tidak mudah menghilangkan kenangan bersama Aisyah. Apalagi ia sendiri juga pernah berjuang untuk mendapatkan cinta Aisyah sebelum menikah.
"Maafkan aku Aisyah, seharusnya ketika hati kecilku menyadari saat bersama Jihan aku berkhianat darimu aku tidak melanjutkannya. Harusnya aku dapat menguasai nafsu yang membelenggu dalam diriku. Hanya dirimu yang aku inginkan Aisyah, aku sadar aku salah. Aku ingin mengubah semuanya dan membuatmu kembali padaku. Andai waktu dapat kembali aku putar. Tentu tidak akan aku sia-siakan dirimu. Harusnya aku merasa cukup dengan kehadiranmu di sampingku, harusnya aku bersyukur mendapatkan istri sepertimu. Aku benci diriku sendiri Aisyah." Isak Yoga terdengar pilu.
Kini hidupnya seolah tak bermakna setelah belahan jiwanya pergi. Kembali ia sadari bahwa semua berawal dari dirinya. Hanya penyesalan yang dilapisi oleh kata andai-lah yang kini mengekang hidupnya.
...***...
Jihan yang mendengar pintu rumahnya diketuk pun bergegas beranjak ke arah sumber suara. Dalam hati ia bersorak lantaran menduga bahwa pria yang dirindukannya akhirnya datang.
Plak!
Bola matanya melebar dan terkejut. Rasa panas yang menjalar di pipinya kian ia rasakan. Matanya menelisik penampilan paruh baya di hadapannya serta wanita yang terlihat perempuan yang masih muda di samping wanita itu. Jelas terpampang kemarahan dari wajah keduanya.
__ADS_1
"Cih jadi ternyata wanita spek murahan yang membuat anakku berpaling dari menantuku. Dengan apa kau buat pernikahan putraku hancur hah? Pelet apa yang kau gunakan?" Genangan amarah yang selama ini dipendam akhirnya meletup.
Dari perkataannya baru Jihan sadari bahwa wanita di hadapannya kini adalah ibu mertuanya. Ia sedikit senang karena akhirnya tahu siapa Ibu dari pria yang dicintainya, namun hatinya juga berdenyut dahsyat mendapatkan kesan seperti ini dalam pertemuan pertama mereka.
Ia hanya dapat menunduk dan tak mampu walau sekedar membuka mulut.
"Kenapa kau hanya diam? Bukankah dengan lincah kau mengangkangkan kakimu untuk Yoga?" Dewi memusatkan perhatiannya pada perut Jihan yang terlihat sedikit membuncit. Ia menaikkan sudut bibirnya.
"Bahkan kau sampai mengandung benihnya yah? Ck, meski menantuku tidak memberikan keturunan selama ini. Jangan harap janin yang sedang kau kandung itu aku harapkan kehadirannya. Dan jangan pula kau harap dengan statusmu yang telah menjadi istri putraku, aku akan menganggapmu menantuku. Entah sudah semenyesal apa orang tuamu melihat kelakuan putrinya seperti ini."
Deg.
Jantung Jihan seakan lepas dari tempatnya. Membahas tentang kedua orang tua tentu membuat sanubarinya tersentuh. Hal ini juga membuat ia tersadar atas perbuatannya. Bahkan ketika mereka telah tiada pun ia tidak membiarkan mereka tenang melihat perbuatannya. Ia telah berzina selama ini, entah hukuman apa yang sedang dialami oleh keduanya saat ini.
Maafkan aku Bapak, Ibu....
Dewi dengan kemarahan yang membuncah di dadanya pun meninggalkan rumah Jihan. Berlama-lama di rumah itu hanya membuatnya sesak, ia membanting kasar pintu rumah tersebut.
Intan menghampiri wanita yang tengah berlinang air mata. "Jika kau pikir dengan merebut milik seseorang membuatmu senang maka kau salah besar. Kau berpikir bahwa dengan bersama Yoga maka hidupmu akan berubah menjadi lebih baik dan merasakan kebahagiaan. Padahal yang sebenarnya, kau justru mendorong dirimu sendiri untuk merasakan sensasi lainnya yang lebih parah dari kehidupanmu sebelumnya. Silahkan rasakan buah yang telah kau tanam itu."
Sama seperti halnya Dewi, Intan pun pergi meninggalkan begitu saja Jihan. Membuat Jihan semakin rapuh.
_______________________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih :)