
"Sekarang kau masuk saja dulu ya, biar aku buatkan sesuatu untukmu. Kau pasti belum makan kan?" Tutur Yoga pada Jihan setelah beberapa saat.
Jihan mendongak, ia tersenyum. " Baiklah, terimakasih ya Kak." Yoga mengangguk, ia tahu tubuh Jihan yang masih lemah. Tanpa ba-bi-bu ia gendong tubuh mungil itu menuju kamar mereka. Yah, kamar mereka karena sudah tak terhitung mereka tidur bersama bahkan memadu kasih.
"Tunggu sebentar yah." Yoga mengelus lembut rambut Jihan dan mengecup kening tersebut.
Jihan menahan Yoga yang ingin pergi dari kamar itu. "Kak boleh aku minta seblak, aku tidak tahu kenapa sangat menginginkan itu sekarang."
Yoga tersenyum, "Tentu saja, tunggu sebentar yah."
Drt, drt...
Getaran yang berasal dari saku Yoga membuatnya berhenti dari kegiatannya yang sedang memasak. Ia letakkan terlebih dahulu mangkuk yang masih menempel di tangannya.
Tanpa melihat nama ia langsung mengangkat telepon tersebut. "Hallo Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah." Jawab seseorang yang berada di sebrang sana. Tiba-tiba tubuh Yoga menegang, suara lembut dan halus itu tentu ia sangat mengenali siapa pemiliknya. Ia jauhkan benda pipih itu dan melihat nama kontaknya.
Benar, dugaannya benar. Dia adalah Aisyah, wanita pemilik hatinya. Ia juga tahu alasan apa yang membuat Aisyah meneleponnya.
"Iya Aisyah." Pungkasnya lembut.
"Mas kau tidak melihat jam di tanganmu? Mengapa sampai saat ini kamu belum pulang?" Tanya Aisyah, terdengar nada kesal dari cara ia berbicara.
"Em maaf sayang, untuk malam ini Mas tidak bisa pulang. Jadi kamu tidur saja duluan ya, besok pagi-pagi sekali Mas sudah ada di rumah kok sayang. Kamu kan ini malam Minggu, jadi teman-teman Mas ingin bermain dulu. Bahkan kita sedang reuni sekarang. Nah karena besok Minggu, kita bisa kan menghabiskan waktu bersama." Jawab Yoga beralasan. Ia memejamkan matanya kuat-kuat karena harus berbohong untuk kesekian kalinya.
Hening tercipta sejenak, beberapa saat akhirnya terdengar suara Aisyah. "Baiklah Mas jika memang karena itu, ya sudah baik-baik ya di sana. Maaf aku langsung menutup teleponnya. Assalamu'alaikum."
Tuut,
Yoga tersentak mendapati istrinya yang memutuskan sambungan telepon mereka tanpa mendengar jawaban dari Yoga.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Yoga menatap ponsel yang tak lagi bersuara itu. Dalam hatinya ia mewajarkan sikap Aisyah. Pastilah Aisyah kesal karena tiap malam harus menunggunya pulang terlambat, bahkan sekarang Aisyah harus menunggunya sampai besok.
"Maaf Aisyah." Ujarnya lirih.
Ia kembali menatap masakan yang sedang ia masak. Mengapa Jihan begitu aneh hari ini? Bahkan jika aku di sampingnya ia terus menempel padaku.
Netranya tiba-tiba melihat ke arah kalender, entah kenapa yang ada dipikirannya sekarang adalah jadwal Jihan datang bulan. Baik Jihan ataupun Aisyah ia sangat tahu kapan waktu keduanya mendapatkan tamunya.
Terhitung sudah sekita dua bulan ia tidak mendapati Jihan datang bulan. Tubuhnya mendadak menegang, memikirkan kemungkinan yang terjadi.
"A-apa mungkin Jihan h-hamil?" Cicitnya.
Ia menengadah, pikirannya seakan ingin pecah. Juga berlarian ke sana kemari. Sedikit-sedikit ke Aisyah dan Jihan.
__ADS_1
Jujur dalam hatinya, jika memang benar Jihan mengandung benihnya ada perasaan bahagia karena nantinya akan ada tangan mungil yang menggapai tangannya, wajah lucu yang sangat menggemaskan dan sosok kecil yang memanggilnya Papa.
Namun, mengingat kehadirannya bukan dari rahim wanita yang sangat ia cintai tiba-tiba saja tubuhnya lemas. Ia tidak mampu membayangkan dampak jika Aisyah mengetahuinya.
"Kak?" Yoga terkejut mendapati sebuah tangan yang berada di bahunya. Kepalanya mendongak dan nampaklah wanita yang ia duga sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Eh iya Jihan."
Jihan nampak cemberut, ia melirik semangkuk makanan yang tadi ia minta.
"Sudah matang? Tapi kenapa Kakak tidak langsung membawanya ke kamar?"
"Maaf Jihan, tadi ada yang menelpon." Jawab Yoga tanpa mau memberitahu siapa yang meneleponnya tadi.
"Em sudah kan?"
"Iya sudah, ayo sekarang langsung makan saja. Sudah tidak sepanas tadi, jadi masih enak kok." Jihan mengangguk, Yoga menarik sebuah kursi untuk Jihan dan ia pun duduk di sampingnya.
Bahkan ia tak segan menyuapi Jihan. Tentu saja Jihan tidak menolak, justru ia sangat senang karena di manja oleh Yoga.
"Kak kurang pedas." Rengek Jihan manja.
"Tidak, kau tidak boleh makan yang terlalu pedas. Ingat kau sedang tidak enak badan." Jihan mengerucutkan bibirnya, Yoga hanya menggeleng sembari merasa gemas dengan sikap Jihan.
Cukup lama bagi Jihan untuk menghabiskan makanannya, kini mereka tertidur di ranjang yang sama seperti biasanya. Hanya untuk saat ini lebih lama.
Entahlah tidak ada perasaan apapun jika memang benar Jihan hamil. Pun seandainya Jihan tidak hamil.
...***...
Aisyah tentu saja curiga dengan alasan Yoga. Baru ia ingat teman Yoga yang ia kenal. Teman satu kampus dan sekarang pun menjadi teman satu kantor.
Jemarinya dengan tergesa mencari nama 'Bagas' di daftar kontak ponselnya.
"Ketemu." Gumamnya dan tanpa ba-bi-bu mendial nomor Bagas. Ia bukanlah tipe wanita yang pandai berbasa-basi. Sesuatu yang memang penting dibicarakan maka akan langsung to the point.
Cukup lama ia menunggu bahkan beberapa kali menelpon akhirnya orang yang diharapkannya pun mengangkat ponselnya.
"Hallo Assalamu'alaikum." Ujarnya terlebih dahulu.
"Wa'alaikumussalam, dengan siapa ya?"
"Saya Aisyah istri dari Yoga teman satu kantormu."
Sejenak tidak ada jawaban dari sebrang. Aisyah tahu mungkin Bagas sedang mengingat-ingat siapa dirinya. Karena memang saat itu Yoga lah yang menyimpan nomor Bagas di ponselnya karena ponsel Yoga sendiri sedang lowbat.
__ADS_1
"Owh Aisyah, ia saya ingat sekarang. Apa kabar?"
"Baik. Jadi bisa saat ini kamu kirimkan pada saya foto suami saya."
"Foto? Foto yang seperti apa?"
"Sekarang, bukankah kalian sedang reuni?"
"Reuni? Tidak kami sedang tidak reuni. Minggu lalu lah kami reuni, bahkan Yoga sendiri tidak datang kemarin." Jawab Bagas jujur.
Dahi Aisyah mengernyit. "Apa? T-tapi selama ini kalian suka bermain kan sampai larut."
"Bermain? Tidak, setelah selesai bekerja tentu saja kami langsung pulang. Bahkan kami selalu pulang bersama."
Tiba-tiba saja Aisyah merasa sangat sesak. "Jadi, benar selama ini kau berbohong Mas." Lirihnya.
"Owh ya sudah terimakasih, saya hanya ingin bertanya itu. Assalamu'alaikum."
Tuut.
Aisyah memutuskan sambungan telepon tersebut secara sepihak. Entahlah bagaimana pikiran orang yang berada di sana ia tak peduli.
Ia menekan dadanya kuat-kuat. Menghalau segala rasa pedih yang menjalar. Sudah cukup lama ia curiga, namun berusaha ia tepis. Tapi tidak dengan sekarang, sudah seharusnya ia turun tangan untuk hal ini.
...***...
Yoga ingin sekali meregangkan tangannya, namun terasa begitu berat. Diliriknya ke arah bawah, ternyata tangan kanannya itu dijadikan bantal oleh seorang wanita. Wajahnya tertutupi oleh rambut tipis-tipis.
"Pagi istriku Aisyah. Bangun sayang." Ujarnya spontan.
Jihan yang sebenarnya sudah bangun membulatkan matanya lebar-lebar. Tiba-tiba hatinya terasa sangat sesak, sudah cukup lama ia mengharapakan terjadinya peristiwa saat ini. Hari dimana ketika membuka matanya untuk pertama kali wajah Yogalah yang ia lihat. Namun apa yang ia dengar dari mulut Yoga membuatnya geram. Bahkan air matanya meluncur membasahi pelipisnya.
"Kak aku Jihan bukan Aisyah!" Teriak Jihan hingga membuat Yoga terlonjak.
Jihan tiba-tiba duduk membelakangi Yoga. Yoga melihat dada polosnya yang basah karena air mata Jihan. Sebenarnya ia pun terkejut karena mendengar suara Jihan, bukan balasan sapaan dari suara lembut Aisyah.
Ternyata baru ia ingat bahwa untuk pertama kalinya ia tidak menghabiskan malam dengan sang istri. Namun juga melihat Jihan yang sedang memunggunginya ia pun merasa bersalah.
"Jihan m-maafkan aku." Ucapnya terbata.
_______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like komen dan vote
Terimakasih
__ADS_1
Ig: @nick_mlsft