
Ceklek.
Yoga dengan gontai melangkahkan kakinya menuju rumah pada dini hari. Penampilannya begitu kacau dan matanya sembab. Sang Ibu yang melihatnya sudah tahu apa penyebabnya.
Bagaimana pun Yoga tetap putranya, ia sendiri pun tidak bisa melihat sang anak terpuruk seperti ini. Namun apa boleh buat, ulah Yoga sendirilah yang menyebabkan ini semua terjadi. Yang harus ia lakukan adalah menjadi kekuatannya, tak peduli sudah seberapa dewasa usia Yoga. Baginya ia tetap putra kecil yang selalu ia elus kepalanya dari dulu. Pangkuannya adalah tempat yang setidaknya mampu membuat beban Yoga sedikit ringan.
"Mah," lirih Yoga.
Dewi menatapnya iba, ia ingin merengkuh tubuh rapuh itu. Tapi sebelum itu terjadi suara dari bariton mengejutkannya.
"Masih bisa pulang kamu? Papa pikir kamu sudah lupa dengan rumah ini. Aisyah sudah tidak ada di sini Yoga. Jadi untuk apa kau kemari? Bukankah kamu sudah memiliki rumah dengan istri barumu itu? Kenapa tidak pulang saja ke rumah itu? Papa tidak habis pikir dengan kamu, apa kamu sudah tidak menganggap kami orang tua? Hingga membeli rumah dan menikahi anak orang saja kamu tidak memberitahu kami?" Tanya Haris bertubi-tubi.
Yoga hanya tertunduk dan malu dengan perbuatannya.
"Sebaiknya kau pergi saja dari sini. Sudah beruntung memiliki istri seperti Aisyah, tapi malah tidak puas sampai pulang membawa aib seperti ini. Ingat, jangan harap kami akan mengakui anak haram mu itu.
Sebelum Aisyah kembali menginjakkan kakinya di rumah ini. Tak akan aku izinkan wanita itu masuk kemari." Lanjutnya dan berniat berbalik meninggalkan ruangan tersebut.
"Aisyah tidak akan pernah kemari Pah." Lirih Yoga menghentikan langkah Haris.
Setelah Ayahnya itu berbalik, ia melanjutkan perkataannya. "Karena aku telah menalaknya." cicitnya semakin tertunduk.
Sontak hal itu membuat semua orang terkejut.
Plak!
Yoga menutup matanya sejenak dan mengatur nafasnya.
"Dasar anak tidak tahu diri! Sekarang juga pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali. Kau sudah bukan putraku semenjak berzina dan menikahi wanita itu tanpa sepengetahuanku." Usir Haris tanpa mau dibantah.
Dewi menutup mulutnya menahan sesak di dadanya. Bagaimana mungkin sang suami yang dulunya begitu antusias menyambut kelahiran Yoga dapat berkata demikian.
"Mas ingat jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi seperti ini." Pinta Dewi memelas.
"Keputusanku sudah bulat." Tukas Haris singkat dan datar. Kemudian pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
Dengan pelan Dewi menghampiri anaknya dan mengusap lembut sudut bibir yang nampak kebiruan.
"Nak, maafkan Papa ya. Papa hanya sedang emosi, jangan dimasukkan hati." Ujarnya halus.
Yoga tersenyum namun sedetik kemudian meringis. "Aku pantas mendapatkannya Mah. Semua memang sudah salahku, tidak seharusnya aku seperti ini dari awal."
Dewi menggeleng dan tanpa berucap ia bawa Yoga untuk duduk. Lalu mengambil air untuk mengompres sudut bibir putranya.
"Shhh," desis Yoga menahan perih lebam di bibirnya. Sungguh kemarahan Haris baru ia lihat pertama kali.
"Tahan sebentar." Tutur Dewi sembari meniup daerah yang lebam.
"Dewi untuk apa kau masih di sini hah? Apa kau tidak lihat sudah jam berapa ini? Sekarang ayo masuk!" Titah Haris pada istrinya.
"Tapi Mas, Yoga-"
"Sudah pantas dia mendapatkan itu. Bahkan seharusnya dia sudah pergi dari rumah ini. Sudah tidak perlu kau pedulikan dia, sekarang ayo masuk." Ujarnya menarik tangan Dewi.
Yoga yang melihatnya tersenyum pada sang Ibu, dan menggeleng pelan. Aku tidak apa-apa, pergilah. Begitulah maksudnya.
Dewi menghela nafasnya dan mengikuti langkah Haris. Kini tertinggalah Yoga sendiri di ruangan itu. Dengan langkah malas ia naikki anak tangga satu persatu.
Ceklek.
Maafkan aku Aisyah! Aku mohon kembalilah, aku bisa apa tanpamu? Keluhnya dalam hati.
Kini orang yang akan selalu menunggunya ketika pulang larut telah pergi, kamar yang biasanya damai oleh suara lembut Aisyah ketika bertadarus kini bertamukan sunyi, aroma menenangkan dari tubuh Aisyah menghilang tanpa pamit, sentuhan lembut yang acap kali ia dapatkan di kepala kini disapu oleh angin malam. Sungguh Yoga sangat merindukan momen itu.
...***...
Tok, tok, tok!
Gedoran pintu semakin keras terdengar kala esok hari. Sedangkan sang penghuni rumah tersebut masih bergelung di bawah selimut tebal.
"Jihan! Buka pintunya!!" Seru Yoga dengan tubuh letihnya.
__ADS_1
"Jihan!!!!"
Teriakkan yang semakin membuat siapapun terganggu aktifitasnya, beruntung saat ada seseorang yang ingin keluar untuk melihat bising di depan rumah seseorang. Orang yang dipanggil namanya oleh Yoga keluar dan membuka pintu.
"Ya ampun Kak ternyata kamu, kenapa baru kemari sekarang?" Tanya Jihan beruntun namun tak ditanggapi Yoga sama sekali.
"Minggir! Aku mau istirahat!" Ujarnya ketus.
Jihan mengernyit mendapati sikap suaminya yang seperti itu, namun ia tetap mempersilahkan Yoga untuk masuk dan tempat tidur. Ia pandangi lamat-lamat wajah yang terlihat sangat lelap dalam tidurnya.
"Kau kemana selama ini Kak? Kau tidak tahu anak kita selalu merindukanmu?" Tukasnya sembari membawa tangan Yoga untuk mengelus perutnya sendiri. Namun seolah Yoga sadar dengan perlakuan Jihan, ia menarik tangannya sendiri. Membuat Jihan tersentak.
"Kak?" Tak ada sahutan sama sekali. Jihan kesal dibuatnya, dengan cepat ia pergi dari kamar tersebut dan memilih membuat sarapan.
...***...
Aisyah memandangi lembaran demi lembaran yang ada di hadapannya. Surat panggilan dari pengadilan. Inilah sidang terakhir antara dia dan Yoga. Terhitung sudah dua kali pula Yoga tak menghadiri sidang tersebut.
Sekitar tiga bulan pula ia tak melihat sang mantan, kerinduan acap kali menghampirinya kala sendiri. Membuat ia tak mampu mengusir sedih yang bertamu. Namun dengan adanya keluarga di sampingnya membuat ia sejenak melupakan hal itu. Apalagi beberapa kali keponakannya dari Kakak maupun adik juga terkadang datang ke rumah ini.
Di hadapannya kini ada seorang gadis kecil, mungil nan menggemaskan tengah bermain bersamanya. Aruna, bibir dan matanya sangat mirip dengan adiknya Afsana. Usianya yang sudah satu tahun, kini dapat mengucapkan satu, dua bahkan lebih kata.
"Ma... ma-ma-ma-ma...maaa....." ucapnya dengan gemas. Dengan adanya Aruna lah yang terkadang membuat ia merasa menjadi Ibu.
"Hm ada apa sayang? Aruna kangen Mama yah? Em, Aruna kangen Mama?" Tanya Aisyah dengan mengecilkan suaranya juga. Dengan gemas ia cium wajah Aruna membuatnya kegelian. Kedatangan sosok yang diharapkan membuat senyum di wajahnya semakin melebar.
"Hei Aruna sayang? Tadi panggil Mama yah?" Afsana datang dengan mainan Aruna.
Dengan tangan mungilnya, Aruna menunjuk tempat di mana ia terbiasa mendapatkan nutrisi. Dengan segera itu pun Afsana memberikannya.
Aisyah tersenyum manis melihat pemandangan di hadapannya, terselip getir pula dari senyumannya itu. Ia sendiri pun memang sangat ingin merasakan sensasi menjadi Ibu.
Namun ia juga tidak merasa menyesal atau mengeluh atas semua yang terjadi. Toh rezeki sudah ada yang mengatur, Afsana yang melihat Kakaknya terdiam pun mengajaknya berbincang.
__________________________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih :)