Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Kau Pun Menikmati Kebersamaan Itu


__ADS_3

Yoga mematung sembari mengusap area wajah yang baru saja ditampar oleh Aisyah. Inilah pertama kali ia melihat bagaimana kemarahan dalam diri Aisyah, meski sudah banyak sekali cobaan yang menimpanya.


"Aisyah..." Ucapnya terbata.


Aisyah menunduk, ia memejamkan matanya. "Sudah cukup Mas, biarkan untuk saat ini kau kabulkan permintaanku."


"Tidak Aisyah, kumohon berikan aku satu saja kesempatan." Dengan lembut Yoga berusaha menggapai kedua bahu Aisyah, namun istrinya itu sama sekali tak mau disentuh olehnya. Seolah Yoga adalah kotoran yang menjijikkan, tidak bahkan Aisyah tidak terlalu jijik pada kotoran. Perbuatan Yogalah yang membuatnya melakukan demikian.


"Kesempatan untuk apa? Mengatakan bahwa kalian baru saja menghabiskan malam pertama kalian. Ah tidak, karena kalian telah melakukannya sudah dari jauh-jauh hari. Pergilah Mas, Jihanmu itu lebih penting dari segalanya. Bahkan kau membiarkan istrimu ini dengan bodohnya menunggumu yang kau sendiri sedang bersenang-senang dengan wanita lain..."


Yoga masih dengan kesabarannya membujuk Aisyah. "Aisyah tenanglah dulu, aku lakukan ini semua juga demi dirimu. Lihatlah Aisyah, Jihan sedang mengandung anak kita-"


"Anak kita? Kau sudah gila, kau yang bersenang-senang dengan Jihan. Mengacuhkan aku kau bilang anak kita?" Aisyah tersenyum sinis memandang Yoga.


"Ya Aisyah anak kita, karena dengan kehadirannyalah kau dan aku tidak akan pernah berpisah. Aku yang sangat mencintaimu, tidak bisa bertahan terlalu lama melihatmu selalu disudutkan oleh Mama. Hingga aku menghadirkan wanita lain sebagai jembatan agar kita dapat melalui ini semua. Dengan janin yang dikandungnya lah kita dapat terus bersama Aisyah.


Aku yang sangat mencintaimu, ku ingin selalu di sampingku dengan segala kekurangan dan kesempurnaan yang ada. Setiap pasangan yang saling mencintai akan disempurnakan dengan canda tawa yang keluar dari mulut buah hati mereka. Tapi aku tahu bahwa..." Yoga memejamkan mata tidak mampu meneruskan kalimatnya.

__ADS_1


"Karena aku tidak bisa memberinya. Begitu bukan Mas?" Aisyah meraup wajahnya. "Ya Allah Mas, bukankah Dokter mengatakan sendiri bahwa aku masih bisa hamil. Hanya saja memang masih belum diberi kepercayaan."


"Iya karena kau yang keras kepala Aisyah, seandainya kau mau menuruti permintaan suamimu untuk pindah dari rumah ini maka kita hanya akan fokus pada rumah tangga kita. Hingga kau tidak perlu mendapatkan hinaan dan cacian dari Mama. Tahukah kau Aisyah, aku pun tidak bisa melihatmu terus-terusan direndahkan oleh Mama. Aku tak akan melupakan kewajibanku sebagai anak padanya meski kita harus pergi dari rumah ini.


Tapi apa, kau sama sekali tak mendengarkan aku. Hingga kau selalu saja merasa tersakiti diam-diam tanpa mau membaginya padaku. Bukannya aku tidak mengerti tapi aku hanya ingin kau berterus terang padaku Aisyah. Memercayakan semuanya padaku. Tapi kau memilih memendamnya sendiri. Tubuhmu letih, hatimu sakit dan pikiranmu stress. Itulah yang membuatmu susah hamil Aisyah."


"Tapi apa harus menghadirkan wanita lain Mas, zaman sudah begitu maju dan canggih. Apa salahnya berusaha, bukan hanya kau yang menginginkan seorang bayi. Tapi aku pun sama Mas, tidak pernah absen dari bibirku saat aku menengadah pada Tuhan." Aisyah melemahkan tubuhnya pada sandaran sofa di kamar tersebut.


Yoga pun turut mendudukkan dirinya di samping Aisyah, kali ini Aisyah membiarkan Yoga memeluk tubuhnya. "Tidak ada ya lebih penting dari hidupmu di sisiku Aisyah. Semua yang kulakukan hanya untukmu. Aku pun tak pernah sama sekali ingin menghadirkan dia dalam pernikahan kita. Tapi keadaanlah yang mendorongku melakukan itu. Aku sangat mencintaimu Aisyah."


"Mencintaiku? Benarkah?" Aisyah mendongak. "Apa dengan cinta kita yang sama-sama begitu besar tidak dapat mempertahankan pernikahan kita? Apa hanya dengan anak kita akan selalu bersama?


Karena aku pun melihat saat aku sedang hamil dulu pun Ibumu masih memiliki rasa benci padaku. Aku menginginkan keadaan untuk mencair dahulu, agar kita semua pun dapat merasakan indahnya merawat darah dagingmu. Alasan aku masih tidak ingin pergi dari rumah ini pun karena itu.


Tapi untuk apa itu semua kulakukan jika hatimu telah bercabang." Menjauhkan diri dari Yoga.


"Hatiku tidak pernah bercabang Aisyah, hanya ada namamu di sini." Menunjuk dada kirinya sendiri.

__ADS_1


Aisyah menggeleng. "Aku memang merasakan cintamu, namun itu dulu. Tidak sekarang, kau lebih mengingkari janjimu yang sudah lama kau janjikan lama hanya karena sebuah permintaan yang baru dikirimkan dalam beberapa saat. Kau lebih meninggalkan aku sendiri hanya karena dia yang memintamu untuk singgah. Kau lebih memilih untuk menunda kepulanganmu agar lebih lama menghabiskan waktu dengannya.


Kau membiarkan aku meringkuk kedinginan di sini dan lebih memilih bersamanya yang lebih hangat. Kau sama sekali tak memikirkan perasaanku saat kau menghilang beberapa hari. Bahkan menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan dan seizin dariku. Mulutmu bisa berkata kau hanya mencintaiku, namun tubuh serta perlakuanmu tidak bisa menyangkal bahwa kau pun menikmati kebersamaan dengan Jihan.


Kau lebih mementingkan dia daripada aku. Lihatlah dia yang baru beberapa bulan kau kenal sudah dapat membuatmu berpaling dariku. Itu karena pesonanya yang benar-benar menggoyahkan hatimu hingga semua menyita seluruh perhatianmu. Kau tak dapat berbohong lagi, kau pun nyaman bahkan mungkin sudah ada cinta untuknya. Jihan pun tidak perlu ditanya bagaimana lagi perasannya, aku melihat begitu besar rasa cintanya untukmu. Kalian akan hidup dengan sangat bahagia nantinya Mas, apalagi sudah ada buah hati di antara kalian. Lalu, untuk apa kehadiranku di sisimu Mas?" Akhirnya mata yang telah mengering kembali mengeluarkan buih.


Yoga menggeleng, "Tidak sayang, semua itu aku lakukan semata-mata hanya karena aku menginginkan anak darinya. Baik tidak akan aku sangkal lagi, bahwa aku nyaman padanya. Aku menikmati kebersamaan kami tapi aku yakin bahwa itu bukanlah rasa cinta melainkan hanya na**u sesaat. Aku bersedia menceraikannya setelah ia melahirkan.


Lalu kita rawat anak kita bersama-sama. Aku yakin dengan adanya anak pertamaku, akan membuat kita bahagia. Dan mungkin dalam waktu dekat kita kembali mendapatkan anak dari rahimmu. Aku janji setelah itu hanya ada kita berdua Aisyah. Hanya kita berdua, lihat kan kisah Aisyah dan Yoga akan terus berlanjut." Yoga menggenggam erat tangan Aisyah.


"Jadi hanya demi cinta kita kau mau memisahkan seorang Ibu dengan anaknya. Meski aku belum diberi karunia melahirkan tapi aku pernah merasakan sensasi mengandung meski hanya sebentar. Bagaimana susahnya menyesuaikan posisi agar tubuh kita nyaman, bagaimana tidak enaknya harus mual tiap pagi, bagiamana kita cepat lelah meksi hanya beraktifitas sebentar saja.


Semua itu butuh kesabaran yang tiada henti sampai melahirkan Mas. Bahkan untuk berjuang melahirkan pun nyawa adalah taruhannya Mas. Sembilan bulan sepuluh hari Mas, para Ibu harus melewati masa-masa sulit. Dan dengan mudahnya kau ingin mengambilnya dari Ibunya?"


______________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote

__ADS_1


Terimakasih ;)


Ig: @nick_mlsft


__ADS_2