Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
First Kiss Dengan Wanita Lain


__ADS_3

"Loh Mas, bukannya ini hari Minggu? Kau bersiap-siap ingin pergi ke mana?" Tanya Aisyah yang melihat sikap suaminya tak seperti biasanya. Sebenarnya ini bukanlah yang pertama Yoga berlaku demikian, namun baru kali ini Aisyah memberanikan diri untuk bertanya.


Ia pandangi pakaian dari penampilan Yoga, terlihat sangat rapi layaknya anak muda. Dengan hoodie putih dan celana jeans hitam. Tak lupa dengan sepatu warna senada dengan atasannya.


Aisyah mencium juga aroma wewangian yang berbeda dari biasanya, suaminya ini benar-benar banyak berubah akhir-akhir ini.


"Ah sayang, aku ingin reunian dengan teman-temanku. Sebenarnya aku ingin juga mengajakmu, tapi kebanyakan dari temanku masih bujang. Aku tidak ingin ada yang melirik istri cantikku ini." Bohong, tentu saja Yoga berbohong. Hari ini ia ingin menghabiskan waktunya dengan Jihan. Sama seperti Minggu-minggu kemarin.


Maafkan aku Aisyah, aku sangat mencintaimu. Tapi aku juga merasakan nyaman dengan Jihan. Bahkan mungkin rasa itu mulai tumbuh. Tapi aku berjanji padamu, kau tetaplah nomor satu di hatiku. Sampai kapanpun itu. Batin Yoga. Ia pandangi wajah teduh istrinya itu dan Aisyah rasakan sentuhan di lembut di kedua bahunya.


"Oub begitu kah? Ya sudah hati-hatilah suamiku. Semoga harimu menyenangkan." Ujar Aisyah tulus.


"Terimakasih sayang, aku janji Minggu depan kita habiskan waktu bersama yah. Sudah lama kita tak memiliki waktu berdua, aku sangat merindukanmu Aish. Maafkan Mas yah,"


Aku ada untukmu kapan pun itu Mas, namun sepertinya kau sendiri yang seolah menjauh dariku.


"Iya Mas, ya sudah ayo kita turun dulu. Aku sudah menyiapkan sarapan kesukaanmu itu."


Yoga tersenyum senang. "Kau selalu tahu apa yang aku inginkan Aisyah."


...***...


"Kau ini bagaimana Jihan? Makan es krim saja masih belepotan, kemari sebentar."


Jihan lantas mendekat ke arah Yoga, dengan telaten Yoga usap sudut bibir Jihan yang terkena noda es krim yang sama-sama mereka pesan tadi.


Bibir Jihan yang tampak pink alami namun sedikit dipoles pelembab oleh Jihan begitu membuat Yoga tak fokus.


Bibir itu kenapa terlihat sangat menggoda, ah sial. Rutuk Yoga pada dirinya sendiri, rasanya ingin sekali ia lahap habis milik Jihan itu. Namun dengan cepat ia menggeleng.


Jika mau kenapa tidak langsung saja Mas, aku pun menantikannya dari tadi. Monolog Jihan dalam hati.


"Sudah, lain kali jangan terlalu terburu-buru yah. Apalagi jika sedang tidak bersamaku, jangan sampai ada lelaki lain yang melakukan hal seperti tadi padamu." Titah Yoga.


"Apa?" Tanya Jihan mengernyit.


"Em apa yang apa? Kau tidak mendengarkan aku?"


"Aku mendengarnya," diam-diam Jihan tersenyum. Sudah seperti pada kekasih saja.


"Ouh ya Kak, kita jadi menonton?" Tanya Jihan membuat perhatian Yoga teralih.

__ADS_1


"Tentu, sudah jauh-jauh hari bukan kita merencanakan ini semua. Ya sudah, ayo kita pergi dari sini." Yoga menggenggam erat tangan Jihan, membawanya menuju ke mobil. Mereka akan pergi ke bioskop sekarang. Hal itu sudah tak asing lagi, mengingat hubungan mereka semakin hari semakin dekat saja.


"Kau tunggulah sebentar, biar aku yang membeli popcorn dan minumannya."


Jihan mengangguk. Ia melihat penampilan Yoga yang tampak begitu tampan dan terlihat lebih muda dari usianya. Ia juga senang, kala mendapati wewangian Yoga yang telah diganti. Beberapa hari yang lalu, ketika dia agak pusing. Hidungnya begitu tak suka dengan parfum yang dipakai oleh Yoga.


Alangkah senangnya hari ini, sudah tentu Yoga mengganti parfum hanya untuknya. Jika tidak, mungkin mereka tidak akan sedekat ini.


"Sudah, ayo." Yoga menyodorkan salah satu popcorn dan minuman yang tadi dibelinya.


"Terimakasih Kak." Lagi-lagi mereka berpegangan tangan untuk memasuki ruangan bioskop.


"Bukankah itu Yoga?" Kerutan di dahi seseorang tampak begitu nyata, mendapati seseorang yang ia kenal sedang bersama wanita lain. Yah wanita lain, sebab ia tahu siapa istri yang ia kenal.


Degup jantung Jihan berdetak begitu kerasnya. Kala mendapati adegan yang begitu romantis. Dapat Yoga rasakan, bahwa tubuh Jihan yang menegang. Jihan melirik ke arahnya.


Tanpa diduga, Yoga justru mendekatkan wajahnya di depan Jihan. Perlahan tapi pasti, jarak diantara mereka kian terkikis. Jihan memejamkan kedua matanya.


Cekrek, cekrek.


Tidak dapat disangkal, raut wajah kekecewaan tercetak jelas di wajah Jihan kala Yoga menarik dirinya dari wajahnya.


Belum juga aku merasakannya, kau sudah menjauh Kak. Namun dengan cepat Jihan ubah mimik wajahnya sendiri.


Cekrek, lagi-lagi ada seseorang yang mengambil suatu gambar dengan ponselnya.


Jihan tersenyum manis, "Terimakasih."


Yoga mengangguk, mereka kembali terlarut dalam berbagai adegan yang diperankan oleh para aktor hebat.


"Terimakasih untuk semuanya Kak." Jihan melepas seatbeltnya. Lalu hendak beranjak dari duduknya.


Namun belum itu terjadi, Yoga sudah menahan tubuhnya.


"Ada apa Kak?" Tanya Jihan dengan dahi mengerut.


Tanpa diduga, Yoga justru melabuhkan bibirnya tepat di atas milik Jihan. Hal itu sontak membuat Jihan terkejut, tiba-tiba tubuhnya luluh seperti jelly. Ia pejamkan kedua matanya, sembari menikmati sentuhan demi sentuhan yang didaratkan oleh Yoga di wajahnya.


Cukup lama Yoga merasakan getaran di hatinya, ia tak bisa menahannya lagi untuk sekarang. Ketika sedang menonton tadi, ia bukannya tidak ingin untuk melakukan hal seperti ini. Namun ia tahu, bahwa mereka sedang berada di tempat umum. Menurutnya, tidaklah baik jika bermesraan di tempat-tempat terbuka.


"Maafkan aku Jihan." Lirih Yoga.

__ADS_1


"I-iya, tidak apa-apa Kak." Sahut Jihan terbata, ia masih dalam mode menormalkan kembali detak jantungnya.


"Apa?"


"Em tidak." Jihan menggeleng.


"Maaf karena aku menciummu tanpa izin. Kau pasti berpikiran yang tidak-tidak tentangku."


"Tidak Kak, kau tidak sendiri. Karena aku pun menikmatinya." Jihan memelankan suaranya di kalimat akhir, ia begitu malu saat ini. Membuat Yoga begitu gemas melihat semburat rona merah di wajahnya.


Tanpa ba-bi-bu, Yoga kembali mengulang kejadian tadi. Memberikan kesan yang lebih baru dan dalam. Jihan yang mulai mengenali, pun membalas aksi Yoga. Mereka larut dalam suasana penuh kasih. Bahkan seluruh wajah Jihan tak luput dari bibirnya.


...***...


Kegelapan sudah mulai menyambangi langit, disusul rintihan air yang membasahi bumi, tak lupa dengan petir yang bergemuruh bersautan. Seorang pria dengan perasaan kesalnya mengumpat, dalam keadaan yang seperti ini ia justru terjebak dalam mobilnya.


"****!!! hujan begini ban malah bocor!" Teriaknya kesal. Matanya menyapu seluruh arah, berharap adanya kendaraan lain. Namun nyatanya tidak sama sekali.


Baru ia ingat bahwa dari tempatnya ini, hanya rumah Jihan lah yang paling dekat jaraknya. Tanpa menunggu lama, ia pun melangkahkan kakinya membiarkan tubuhnya diguyur hujan. Tak ada pilihan lain, ia sendiri tidak membawa mantel ataupun payung.


Tok, tok, tok!


Tampaknya gedoran pintu yang disebabkan oleh Yoga masih penghuni rumah 7×12 meter itu tak mendengar. Hingga dengan lebih keras lagi ia lakukan itu.


Tubuhnya sudah bergetar karena kedinginan, ditambah ia juga sedikit takut sebenarnya dengan suara petir. Namun sepertinya sia-sia saja, sang penghuni tak menunjukkan tanda-tanda akan membukakannya pintu.


Ceklek.


"Tidak dikunci? Harusnya sedari tadi saja aku membukanya." Gumamnya.


Mata Yoga membulat sempurna, tubuh halus nan kuning langsat dari tubuh Jihan terpampang nyata di hadapannya.


"Em maaf Mas, kukira tak ada orang tadi." Dengan gugupnya, Jihan berlari ke arah kamar. Melarikan dari pria yang sudah melihat seluruh tubuhnya tanpa tertutup oleh apapun.


Yah dia baru saja mandi, seperti keadaan di rumahnya dahulu. Di tempat yang sudah disewakan Yoga untuknya ini, hanya ada satu kamar mandi umum. Ia pikir jarak antar kamar mandinya dengan kamarnya sendiri tak terlalu jauh. Hingga membuatnya santai saja dengan keadaan tadi.


Namun, siapa sangka justru seorang pria asing yang baru di kenalnya tiga bulan ini melihat semuanya.


"Pantas saja tidak mendengar, dia baru saja mandi. Dasar!" Yoga menggelengkan kepalanya, ia membawa tubuhnya yang sudah basah kuyup menuju kamar mandi.


"Ya ampun apa itu tadi?" Tanya Jihan pada dirinya sendiri. Namun ia sedikit terpana dengan tubuh Yoga itu, keadaannya yang basah membuat tubuh Yoga tercetak jelas. Hingga membuatnya meringis malu.

__ADS_1


"Ish apa yang ada di pikiranmu Jihan?" Jihan menoyor kepalanya sendiri. Dilihatnya keluar kamar, dan mendapati suara gemercik yang berasal dari kamar mandi di samping dapur. Ia tahu bahwa Yoga sedang mandi saat ini.


__ADS_2