Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Rubah


__ADS_3

"Apa kamu bahagia Nak?" Tanya Fahmi lirih.


Aisyah menutup mulutnya sejenak dan menjauhkan teleponnya. Ia mengambil nafas sebanyak-banyaknya dan membuangnya perlahan.


"Nak kau masih di sana?" Sambung Fahmi lantaran tak mendapat jawaban dari pertanyaannya.


"Iya Yah, maaf tadi sempat.... sempat apa? ... dipanggil sama Mas Yoga. Maaf ya Yah." Jawab Aisyah.


"Kamu belum menjawab pertanyaan Ayah Aish." Ucap Fahmi.


"Tentu saja aku bahagia Yah, Mas Yoga sangat mencintai dan memanjakan aku. Dan kedua orang tua Mas Yoga juga begitu menyayangi aku." Sahut Aisyah dengan suara lembutnya.


"Syukurlah kalau begitu Nak. Oh ya Nak, apa kau bisa kemari Nak. Ayah sangat merindukanmu." Pinta Fahmi.


"Tentu Yah, bahkan besok Aish akan datang ke sana. Sekarang Ayah jaga kesehatan saja, jangan terlalu memikirkan yang tidak perlu. Aish baik-baik saja di sini Yah." Ujar Aisyah.


"Baiklah Nak, Ayah tutup dulu ya teleponnya. Kamu jaga diri baik-baik Nak, jika ada apa-apa segera hubungi Ayah. Dan titip salam untuk suami serta kedua mertuamu." Pungkas Fahmi.


"Baik Yah, akan Aish sampaikan. Ayah juga yang baik-baik saja ya di sana."


"Iya sayang, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Tuut, terdengar telepon tersebut sudah terputus sambungannya. Aisyah menatap langit luas, dan menghembuskan nafas kasar memikirkan semua yang sudah menimpanya.


Tak lama, datang seseorang melingkarkan tangannya di pinggangnya. Tidak perlu menoleh, Aisyah sudah tahu siapa pemiliknya. Dengan lembut ia belai wajah suaminya lembut dari depan.


"Ada apa Mas hm? Kenapa bangun lagi?" Tanya Aisyah lembut.


"Tidak apa-apa, hanya merasakan kau tidak ada di sebelahku membuatku tak nyaman." Jawab Yoga.


Aisyah membalikkan badannya menghadap sang suami. "Maaf yah, tadi Ayah sempat menelpon jadi aku angkat dulu."


"Iya sayang tidak apa-apa." Tutur Yoga dengan lembut mencium kening Aisyah.


"Oh ya Mas, besok aku ingin ke rumah Ayah. Beliau sedang sakit, aku juga merindukan Ayahku."


"Tidak masalah sayang, aku akan mengantarkan kamu. Tapi maaf, aku tidak bisa ikut denganmu. Besok Mas sudah mulai bekerja." Ungkap Yoga.

__ADS_1


"Iya Mas, tidak apa-apa. Ya sudah ayo kita tidur, tidak baik begadang."


"Tidak baik, tentu saja sangat baik. Bahkan sampai pagi pun baik." Ucap Yoga menaik turunkan alisnya.


"Ish, kau ini Mas." Kesal Aisyah.


"Sayang ayolah.." pinta Yoga menyeret istrinya menuju tempat istirahat mereka.


***


"Aisyah..!!" Seru Dewi pada menantunya, ia begitu geram lantaran hari sudah pagi Aisyah tak kunjung turun.


Aisyah yang mendengar seruan Mama Dewi mempercepat memakai pakaiannya, dan lekas turun.


"Iya Mah maaf." Jawab Aisyah tertunduk.


"Dari mana saja kamu hah?"


"Aish baru selesai mandi dan sholat Ma, jadi agak telat ke marinya."


Dewi memperhatikan rambut Aisyah yang basah, ia berdecih. "Lain kali, kamu harus bangun lebih awal lagi. Kemarin kan Mama sudah bilang, kalau Mama pergi ke kampung pagi-pagi. Lihat jamnya, sebentar lagi juga Papa sama Yoga pulang dari Masjid.


Aisyah menghela nafasnya, ia segera mengerjakan tugas yang telah diperintahkan oleh sang Ibu mertua.


Dengan cekatan, ia meracik dan memasak. Sungguh aromanya begutu menggoda siapapun yang mencium baunya. Tak lupa ia juga membuat kue dan mengumpulkan buah-buahan yang berada di kulkas.


Setelahnya, ia dengan cepat memberesi rumahnya. Kemarin malam hujan deras, hingga membuat lantainya agak kotor. Ia pun memilih untuk mengepel lantai.


Tak lama, Aisyah mendengar teriakan lantang yang memekakkan telinga dari Mama Dewi. Dengan khawatir, ia menghampiri sang Mama mertua.


"Kamu itu bagaimana si Aish, kalau ngepel lantai jangan terlalu licin! Lihat kan Mama jadi jatuh seperti ini." Omel Dewi mengelus siku yang memerah karena terbentur lantai.


Ngepel lantai kalau tidak licin memang harus bagaimana Mah, Mama saja yang tidak hati-hati. Itu juga, mungkin karena Mama yang baru keluar dari kamar mandi.


"Iya Mah maaf, ya sudah sini Aish bantu." Dewi menerima uluran dari menantunya. Matanya menatap nyalang ke arah wanita tersebut.


"Kamu itu bisanya mengusahakan orang saja! Bagaimana sih cara orang tua kamu mendidik, heh masa mudanya saja sudah enak-enak membuat kamu ya bagaimana bisa mendidik anak. Jadilah anak haram tidak tahu diri!" Ketusnya dan meninggalkan Aisyah begitu saja. Namun sebelum itu Aisyah menghentikan langkahnya.


"Tunggu Mah,"

__ADS_1


Hati Aisyah begitu tersayat-sayat mendengar pernyataan dari Mama Dewi. Entah terbuat dari apa lidah Mama mertuanya itu, hingga hatinya dapat tercabik-cabik seketika.


"Bisakah Mama tidak perlu membawa nama orang tuaku Mah? Bagiku mereka tetap orang tua terbaik yang pernah ada. Tidak peduli bagaimana mereka di masalalu nya. Mereka tetap mendidik dengan baik diriku ini Mah.


Jika memang Mama merasa kecewa padaku. Cukup katakan saja semuanya padaku, tidak perlu mengungkit masalalu kedua orang tuaku. Aku tidak mengerti, sebenarnya apa kesalahanku. Bahkan aku sudah berusaha semampu aku untuk menjadi menantu yang baik. Hingga Mama begitu membenci aku." Sergah Aisyah dengan mata berkaca-kaca.


"Kesalahanmu adalah kau terlahir dari orang tua yang tak bermoral. Jika saja orang tuanya seperti itu bagaimana anaknya. Seharusnya kau menolak saat anakku ingin menikahimu."


"Lalu bagaimana dengan mulut Mama sendiri? Apa Mama menyadari bagaimana-"


"AISYAH!!!" Potong Dewi cepat dan,


Plakkk. Dada Mama Dewi kembang kempis tak beraturan, sungguh amarah yang ada dalam dirinya tak dapat lagi ia tahan.


Rasa panas menjalar ke pipi Aisyah, ia begitu terkejut dengan sikap Mama mertuanya.


"Sudah kuduga bahwa kau hanyalah seekor rubah. Mulutmu itu, menunjukkan bagaimana kualitas didikan kedua orang tuamu!" Hardiknya, lalu dengan amarah yang memuncak ia meninggalkan Aisyah.


Aisyah sendiri juga terkejut dengan mulutnya sendiri. Amarahnya yang membuncah di dadanya lah yang membuatnya hilang kendali.


Astaghfirullah, Astaghfirullahal 'Adim. Ucapnya berulang sembari mengelus dadanya.


Maafkan aku Mah, aku tidak bermaksud untuk berkata seperti itu.


Aisyah pergi mengambil alat-alat pembersih yang tadi sempat ia tinggal, tak malu lagi ada orang yang akan terjatuh lagi.


Tak lama, suami serta Papa mertuanya pulang. Aisyah menyambut keduanya dengan senyuman. Sedangkan Dewi, ia masih sibuk mengemasi barang yang akan ia bawa pulang.


"Aku akan menyiapkan air hangat dulu ya Mas, kau tunggulah sebentar." Tutur Aisyah lembut melepas koko yang melekat di tubuh sang suami.


"Iya sayang." Jawab Yoga tersenyum.


Setelah mereka selesai dengan urusan mereka, pasangan suami-istri istri itupun turun untuk sarapan bersama.


____________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih ;)

__ADS_1


Ig; @nick_mlsft


__ADS_2