
"Baiklah, kita bisa memancing sekarang.. Tapi kalian tidak apa-apa kan kalau mencari umpannya dulu?" Ikfi menatap dua wanita cantik di hadapannya sembari merapihkan alat-alat yang baru ia pakai.
"Tidak masalah." Jawab Aisyah antusias.
Ikfi mengernyitkan dahinya. "Yakin kau mau ikut? Umpannya cacing loh, berani memangnya? kotor loh nanti."
Aisyah memandang Zara. "Mbak, tetap mau ikut kan?"
"Jelas saja Mbak ikut, wong Mbak yang ngajakin pertama tadi." Sahut Zara sembari terkekeh. Membuat Aisyah meringis malu.
"Tidak ada yang masalah Ikfi, jadi tetap jadi kan memancingnya? Lagian aku berani kok."
"Tentu, ya sudah ayo.." Ajak Ikfi.
Ia mengajak keduanya pergi menuju ke tempat mencari cacing. Zara yang usil meninggalkan keduanya begitu saja dengan alasan mengambil alat pancing. Membuat Ikfi menggeleng.
"Aaaaaa..." Jerit Aisyah kala melihat seekor cacing yang baru saja Ikfi dapatkan. Ukirannya lumayan panjang dan besar, membuat ia bergidik geli serta menjauh.
"Katanya berani, ini baru lihat saja sudah takut." Ledek Ikfi pada Aisyah yang memasang tampang ketakutan.
"Emm itu, kan Aish baru pertama kalinya seperti ini." Jawab Aisyah merona malu.
Ikfi tersenyum kecil. "Ya sudah, kau tunggu saja di sana."
Aisyah pun mengangguk dan menunggu Ikfi. Di saat Aisyah sedang melihat-lihat sekitar, diam-diam Ikfi memandang wajah Aisyah. Sebenarnya ia begitu terheran karena kehadiran Aisyah yang berada di kampung ini.
Sebenarnya apa yang membuat kau kemari Aisyah? Dan dimana Yoga? Kenapa hanya sendirian kau di sini?
"Ikfi sudah?" Tanya Aisyah memecah lamunannya.
"Eh iya, kurasa sudah cukup. Ayo kita pergi, Zara pasti sudah menunggu."
Aisyah sedikit menjauh dari Ikfi, ia masih merasa takut. Apalagi melihat cacing-cacing yang menggeliat tak karuan.
--
"Wah cepat sekali.". Tegur Zara saat melihat Aisyah dan Ikfi dengan satu plastik kecil cacing di dalamnya.
"Iya. Karena kita mencarinya di sana." Tunjuk Ikfi pada tempat yang tadi ia gunakan untuk mencari umpan.
__ADS_1
"Mbak, kau bisa memasang umpannya?" Tanya Aisyah menatap kegiatan Zara.
"Tentu saja, hal ini sudah biasa bagiku. Dulu dengan Ikfi dan Hanum kami sering menghabiskan waktu di sini ketika pulang sekolah. Entah itu mencari tutut, memancing dan banyak lagi." Terang Zara.
Aisyah membulatkan mulutnya mengerti. Ikfi yang mengetahui Aisyah masih berdiri di samping Zara pun mengaitkan umpan pada kail dan memberikannya untuk Aisyah.
"Aisyah, ini milikmu." Ucap Ikfi dengan menyerahkan pancingan pada Aisyah. Membuat Aisyah tersenyum senang.
"Terimakasih." Aisyah duduk di samping Zara.
"Bagaimana kita bertarung? Siapa yang paling sedikit mendapatkan ikan. Maka dia harus memasak untuk semuanya. Termasuk orang-orang rumah." Usul Zara memberi ide.
"Tentu siapa takut." Balas Ikfi percaya diri.
Sejenak Aisyah terdiam, ia sendiri tidak terbiasa untuk hal ini. Namun ia tetap nekad untuk mengikuti tantangan Zara.
"Baiklah, kita lihat saja nanti."
Mereka semua mulai melempar pancing reel.
Bismillahirrahmanirrahim. Ujar Aisyah dalam hati.
Butuh waktu lama untuk menunggu ikan menyantap umpan mereka. Namun tanpa Aisyah duga, Zara lebih dulu melihat pelampung pancing milik Aisyah tersentak.
"Eh apa Mbak?" Sahut Aisyah terkejut. Ia mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Zara.
Benar saja, ternyata ada seekor ikan yang telah menyambar umpannya. Dengan cepat, ia menarik joran dan menggulung reel. Namun karena memang ia yang tidak ahli dalam bidang ini, tanpa disadari ikan telah lolos lebih dulu sebelum ia mengangkat senar. Aisyah kecewa dibuatnya, nampak wajahnya yang begitu sedih.
"Yaah, kok malah lepas." Dengusnya menahan kesal di hati.
Zara tersenyum menenangkan. "Sudah, tidak apa-apa. Kamu yang yakin saja pasti nanti akan dapat lagi. Ayo aku pasangkan umpannya." Zara pun mengambil alih pancing Aisyah untuk diberi umpan.
Tak lama, suasana menjelang sore pada saat itu begitu riuh karena Zara yang dapat mendapatkan ikan pertama. Membuat Aisyah dan Ikfi tersenyum.
Sore itu tantangan yang telah diusulkan oleh Zara, dimenangkan oleh Ikfi yang mendapatkan ikan terbanyak dengan lima ekor, sedangkan Zara ia mendapatkan tiga ekor. Alhasil, orang yang harus memasak ikan untuk semua adalah Aisyah. Karena ia hanya mendapatkan satu ekor saja.
"Wah, senang-senang ya hari ini." Celetuk Bapak melihat ketiga anak muda yang di hadapannya.
"Iya ini Pak," Jawab Zara.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo sekarang kita pulang. Sudah sore ini," ajak Bapak.
"Oh ya Ikfi, kau jangan lupa nanti ke rumah yah. Ajak Hanum juga Bibi. Kita coba masakan Aisyah." Ujar Zara menatap Ikfi.
"Baiklah."
...***...
"Kau tahu Ga, Bagas itu sangat kaku. Aku benar-benar merutuki kenapa kau bukan orang yang pertama kenal denganku." Ucap Manda bersender manja di bahu Yoga.
"Kaku bagaimana?" Tanya Yoga menatap sekilas Manda dan kembali fokus menyetir.
"Ya kaku, tidak mungkin kau tidak paham bukan? Sudah lama kenal dan menjadi pacar. Sikapnya seperti itu-itu saja, tapi lihat bagaimana denganmu. Bahkan kita baru bertemu kemarin, tapi sudah secair ini." Balas Manda semakin mengeratkan lilitan di tangan Yoga.
Yoga tersenyum mengusap lembut kepala Manda. "Tentu saja, aku sudah memiliki pengalaman dalam hal ini."
"Uuuh begitu kah? kalau begitu bagaimana aku memilihmu saja daripada si Bagas itu."
Sontak penuturan Manda membuat Yoga menoleh. "Hei jangan, kau kan tahu aku sudah memiliki istri. Bagas pun sahabatku, dia kaku wajar saja karena untuk urusan perempuan dia baru pertama kali."
"Benarkah?"
"Iya, dia itu anak pertama di keluarganya. Dia harus membiayai adik-adiknya sampai kuliah. Makanya Bagas sangat keras dalam bekerja bahkan dari muda."
"Lalu, kenapa kau mau menanggapi aku? Kau sendiri pun sudah memiliki istri bahkan dia sedang hamil." Mengangkat kepalanya dari bahu Yoga. Namun secepat kilat Yoga kembali membuatnya bersandar di bahunya.
"Untuk itu kita tidak perlu terlalu serius, biarlah hanya kita yang tahu. Jika kita bisa saling menguntungkan tanpa kedua pasangan kita tahu kenapa tidak?"
"Menguntungkan?"
"Yah, seperti kau yang mungkin sedikit merasa bosan dengan Bagas dan aku yang mulai tidak bergairah dengan istriku karena gendut."
Manda tertawa keras. "Kau bisa-bisanya, berarti istrimu itu jelek ya?"
"Bukan begitu, tapi si bagaimana yah. Baiklah baik, aku tidak menyangkalnya." Sahut Yoga juga dengan terkekeh. Dengan adanya Manda, sedikit-sedikit mulai membuat ia melupakan mantan istrinya Aisyah.
Merasa bosan, Manda menyetel musik dan kembali menyenderkan tubuhnya pada Yoga. Yang dibalas Yoga dengan merebahkan kepalanya di atas kepala Manda. Bahkan tangan mereka saling bertautan.
______________________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih :)