
"Hachiim." Aisyah menutup mulutnya dan sesekali ia usap hidung yang memerah itu.
Yoga dengan lembut memegang dahi Aisyah. Hangat, lebih condong ke panas.
"Sayang maafkan aku." Direngkuhnya tubuh sang istri tercinta. Rasa hangat menjalar ke bibirnya tatkala bersentuhan dengan dahi Aisyah.
"Maaf untuk apa Mas?" Tanya Aisyah dengan dahi mengerut.
"Jika saja tadi Mas pulang lebih awal, mungkin kamu tidak akan kedinginan waktu kita pulang tadi."
Karena rasa bersalah Yoga yang sering mengingkari janjinya, Yoga mengajak Aisyah untuk jalan-jalan sekedar menghabiskan waktu berdua dengan Aisyah setelah pulang dari rumah Jihan. Cuaca yang dingin di sore hari, serta gerimis yang sempat menyambangi bumi membuat Aisyah terkena flu.
Senyuman indah tercipta di bibir Aisyah yang sudah terlihat sedikit memucat. "Tidak apa-apa Mas, sudahlah sekarang Mas pergi saja ke Masjid. Tidak enak sama Papa yang sudah menunggu lama." Ujar Aisyah dengan lembut membelai wajah suaminya.
Yoga meraih tangan istrinya, dikecupnya dengan sama lembutnya saat Aisyah menyentuhnya. "Ya sudah, Mas pergi ya. Ingat, jaga diri baik-baik dan jangan terlalu capek."
"Iya Mas." Aisyah mengangguk.
...***...
Semakin hari hubungan antara Yoga dan Jihan semakin dekat. Bahkan mereka sudah tak canggung lagi memperlihatkan kemesraan mereka di depan umum. Mungkin karena memang Yoga yang merasa bahwa jarak antara rumahnya dengan Jihan cukup jauh.
Perasaan bersalah masih kerap menghampiri Yoga, namun rasa itu muncul tatkala ia sedang tak bersama Jihan. Dengan Jihan, semua yang ada pada dirinya seolah ia lupakan. Bahkan saat bersama Jihan, tak jarang ia menolak panggilan dari istrinya. Prioritasnya kini ia curahkan pada Jihan.
Namun jangan ditanya soalan hati, tentunya nama Aisyah sangatlah besar di dalamnya. Namun keadaan terkadang membuatnya menghiraukan sang istri. Pesona yang dimiliki Jihanlah yang membuatnya berbuat demikian.
Apalagi sekarang, ia juga memiliki harapan pada Jihan. Dengan menanamkan benihnya sesering mungkin, sangat besar harapannya untuk tumbuh. Yoga juga sudah bosan mendengar perkataan Ibunya yang selalu memojokkan Aisyah.
Yang menyuruhnya untuk menceraikan saja, tidak memberinya nafkah dan masih banyak lagi. Tentu dia tidak akan pernah menceraikan Aisyah. Aisyah lah cinta terbesarnya. Menikah lagi? Hal itu memang kerap ia pikirkan. Namun ia tak ingin terburu-buru. Tunggu sampai ia memastikan bahwa Jihan memang bisa memberinya keturunan baru ia akan menikahinya.
Drt, drt..
Merasakan getaran di sakunya membuat lamunan Yoga buyar. Dengan segera ia angkat teleponnya.
"Hallo Assalamu'alaikum Mas." Ucap seseorang yang sedari tadi ia pikirkan dengan lembut.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam." Jawab Yoga tak kalah lembut.
"Mas, kamu masih di kantor? Apa kamu akan pulang terlambat lagi?"
Yoga menghela nafasnya berat, "Maaf sayang. Kemungkinan besar memang iya. Pekerjaan Mas memang sedang menumpuk akhir-akhir ini." Bohong, tentu saja bohong. Sebenarnya ia sudah kembali dari kantor dari tadi sore. Namun seperti yang sering ia lakukan, ia akan mengemudikan mobilnya menuju rumah Jihan.
Terdengar juga helaan nafas panjang dari sana. "Ya sudah, baik-baik ya di sana Mas. Aku akan tetap menunggumu di sini."
"Iya sayang terimakasih atas pengertiannya. Tapi kalau sudah terlalu malam, jangan dipaksa ya. Tidur duluan saja sayang."
"Ya Mas, ya sudah Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Tuut.
"Kak, bagaimana aku cantik tidak?" Tanya Jihan yang tiba-tiba muncul.
Sejenak, Yoga nikmati pemandangan indah dari tubuh Jihan puas-puas. Jika sudah seperti ini, jangan memikirkan perasaan Aisyah yang baru saja menelponnya. Mengingat namanya juga tidak.
Jihan memejamkan matanya merasakan sapuan bibir lembut di bahunya. "Kak kita jadi pergi kan, aku tidak ingin terlambat."
"Hm, baiklah baik." Jihan memperhatikan wajah Yoga yang nampak suram. Entah apa yang dipikirkan olehnya, ia menahan lengan Yoga yang akan pergi mendahuluinya.
Yoga melirik tangan yang mengusap dadanya dari belakang. "Tak ada tempat yang lebih indah selain tubuhmu Kak. Dan tak ada suara yang lebih indah dari suara serak saat kau mengukungku." Bisik Jihan tepat di telinga milik Yoga.
Lelaki itu terkesiap melihat penampilan Jihan yang begitu menggoda imannya. Dilihatnya jaket serta blouse yang sudah bertengger di sofa.
"Jangan harap kau dapat menghindar dariku walau hanya sedetik gadis kecil." Lirih Yoga menyeringai puas.
...***...
Tak terasa, satu bulir air menetes menelusuri pipi Aisyah. Tiba-tiba saja hatinya bergetar dan sakit.
"Kenapa harus seperti ini?" Lirihnya menutup mulutnya agar orang lain tak mendengar isakan pilunya.
__ADS_1
Flashback
Aisyah memfokuskan perhatiannya pada sebuah kemeja milik sang suami. Entah ada apa, ada sebuah warna merah terang di sebelah kancing kedua dari kemeja Yoga.
"Apa ini?"
Noda? Atau bukan. Aisyah tak bisa memikirkannya. Namun jelas-jelas bahwa ini adalah bekas lipstik seorang wanita. Meski warnanya telah memudar, namun Aisyah dapat menduganya bahwa ini memang benar-benar bukan miliknya.
Ia bukanlah tipe perempuan yang suka memakai lipstik berwarna mencolok seperti ini. Bahkan jarang, karena di rumah ia hanya memakai pelembab bibir saja agar tidak terlihat pucat.
Aisyah merabanya, dan mulai mencium baunya. Matanya tiba-tiba membesar, ia kembali melihat kemeja tersebut dan dengan ketajaman yang sangat ia juga menciumnya lagi.
"I-ini apa? Baik aku maupun Mas Yoga tak pernah memiliki parfum yang seperti ini." Kepalanya menggeleng lemah.
"Ini pasti bukan milik Mas Yoga, iya pasti Mas Yoga hanya meminjam saja milik temannya." Pikirannya berusaha menyangkal segala kenyataan-kenyataan buruk yang mungkin terjadi.
Namun tetap saja hatinya terasa kecut, ia tajamkan lebih indra penciumannya. Perih, ia juga dapat mencium aroma parfum yang biasa dipakai oleh Yoga.
"T-tidak, kau tidak mungkin seperti ini kan Mas? Suamiku setia, d-dia sangat mencintaiku. Dia pria yang selalu membuatku agar selalu bertahan di sisinya ditengah-tengah sikap Ibu mertuaku. Dia tidak pernah berlaku kasar padaku, dia selalu memanjakan aku. T-tidak, tidak ada wanita manapun yang dapat mengambil alih hatinya. Yah Aisyah, Yoga tidak akan pernah berkhianat." Cicitnya meyakinkan diri tentang asumsi negatif yang tiba-tiba menggerayangi pikirannya.
Flashback off
Aisyah duduk termenung di balkon kamarnya. Tempat dimana biasanya ia dan Yoga menghabiskan waktunya. Namun, semua seakan sirna karena kesibukan Yoga. Entah apa itu, Aisyah tak ingin menduga.
Pikirannya kosong saat ini, hatinya tak siap jika harus memikirkan lebih tentang kemeja milik Yoga. Namun dalam waktu bersamaan juga berdenyut sakit jika mengingat sikap dan perubahan dalam diri Yoga.
___________________________
Assalamu'alaikum 🙏, masih adakah yang baca?
Mohon maaf ya jarang up. Author baru selesai UAS, jadi tidak sempat untuk nulis.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih.
__ADS_1
Ig : @nick_mlsft