Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Nikmati Penyesalanmu!


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Aisyah tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya terdiam sembari menatap ke arah jendela. Pun dengan Intan yang tidak berani bertanya. Sampailah mereka di depan rumah orang tua Aisyah.


"Aisyah..." Panggil Jihan dengan sedikit mengguncang bahu Aisyah.


"Eh iya," sahut Aisyah sedikit terkejut. Ia tetap melemparkan senyumnya pada Intan.


Intan membalas senyuman itu, "Sudah sampai."


Aisyah mengedarkan pandangannya. "Kau benar, terimakasih."


"Ayo kita turun. Aku bantu yah," Aisyah mengangguk dan melepas seatbeltnya.


Melati terlihat sedang menyiram tanaman tentu terkejut melihat kedatangan putrinya. Apalagi dengan keadaan Aisyah yang sembab dan membawa koper serta tas.


"Nak kau kemari? Di mana suamimu?" Tanya Melati dengan pandangan yang merombak segala arah.


Putrinya itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng. Melati melirik ke arah wanita di samping Aisyah. Intan tersenyum sedikit menundukkan kepalanya. Ia sedikit tidak enak berada di sini. Hampir setiap wanita menutup auratnya, sedangkan ia tidak.


Melati tersenyum melihat ketidak nyaman Jihan. "Mari Nak masuk dulu."


Aisyah dan Intan mengikuti Melati yang memasuki rumah. Wanita 25 tahun itu memejamkan matanya sejenak dan seolah menghirup habis udara di sini. Sungguh suasana yang sangat ia rindukan.


"Duduklah dulu Nak, biar Bunda ambilkan minuman untuk kalian.." Ucap Melati pada keduanya.


"Mohon maaf tapi Bun, sebaiknya saya tidak usah. Karena saya harus langsung pulang. Tante saya sudah banyak mengirimkan saya pesan." Ujar Intan merasa tidak enak. Di saat seperti ini, ia justru meninggalkan Aisyah.


"Ouh jadi tidak mampir dulu yah. Ya sudah tidak apa-apa, barangkali beliau memang sangat penting." Jawab Melati. Intan tersenyum mengangguk.

__ADS_1


"Terimakasih Bunda, ya sudah saya pamit yah." Menghampiri Melati mencium tangannya.


"Iya Nak, hati-hati ya." Intan mengangguk kemudian menghampiri Aisyah.


"Aisyah sungguh aku sangat minta maaf tidak bisa menemanimu saat ini. Tapi aku berjanji lain kali aku akan kemari menemuimu." Pungkasnya halus.


"Justru aku yang berterimakasih karena kau sudah mau mengantarkan aku. Terimakasih sekali lagi," sahut Aisyah tersenyum. Membuat Intan sedikit lega.


"Iya sama-sama, ya sudah aku pergi. Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Aisyah dan Melati kompak.


Setalah Intan tak terlihat Melati segera merengkuh tubuh Aisyah. Kerinduannya benar-benar tak dapat ia tahan lagi. Aisyah tak kalah erat membalas pelukan dari Ibunda tercinta.


"Bunda.." Lirihnya, Melati mengangguk. Dapat ia rasakan bahwa putrinya sedang tidak baik-baik saja. Cukup lama mereka berpelukan, hingga Melati meregangkan tubuhnya.


Aisyah hanya terdiam dan menggeleng. Namun matanya perlahan mengeluarkan buih, ia semakin terisak tak mampu bahkan mampu mengucapkan sepatah kata.


Melati kembali membawanya ke pelukannya. Tempat ternyaman dan terindah Aisyah serta dirindukannya. Tubuh Aisyah yang bergetar semakin membuat Melati sakit. Tidak ada satu pun orang tua yang melihat anaknya terpuruk. Ia salurkan kasih sayangnya itu, berharap dapat sedikit saja menjadi kekuatan untuk sang putri.


Cukup lama Aisyah menumpahkan kesedihannya, ia pun mulai meregangkan pelukannya. Melati dengan sabar menyingkirkan anak rambut yang sudah keluar dari hijabnya, juga menyapu sisa-sisa air mata yang keluar.


"Mas Yoga mengkhianati aku Bun, dia tega menduakan aku karena aku yang tidak bisa memberinya keturunan." Ucap Aisyah masih sesenggukan. Melati terbelalak mendengarnya hingga menutup mulut. Sungguh hal ini benar-benar tak pernah ia bayangkan.


Ia sendiri yang menjadi saksi bagaimana kerasnya Yoga dalam memperjuangkan Aisyah. Dari sifatnya yang suka keluar malam untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti minum atau balap motor. Namun untuk Aisyah, ia rela meninggalkan itu semua dan berubah Sulit dipercaya ia dapat melakukan itu.


...***...

__ADS_1


"Pah, kenapa Papa harus ikut campur? Ini adalah urusanku dengan Aisyah. Aku suaminya, aku yang lebih berhak atas dia. Kenapa Papa membiarkan dia pergi dari rumah ini? Papa ingin melihat kehancuran putramu sendiri? Selamat, Papa sudah membuatku hancur dengan berpisah dengan Aisyah."


Plak. Untuk kesekian kalinya pipi Yoga terasa panas karena tamparan keras dari Ayahnya sendiri.


"Kamu sendiri yang telah menghancurkan pernikahan kalian dari awal. Seharusnya kamu sadar atas semua yang kamu lakukan. Tapi apa? Kamu justru menyalahkan Papa, ingat bagaimana tadi Aisyah terpuruk karena perbuatanmu itu." Haris tersenyum sinis. "Nikmati penyesalan yang akan datang tiada henti Yoga." Meninggalkan putrnya yang terlihat sangat kacau.


Yoga meluruhkan tubuhnya di atas lantai, ia meraih wajahnya sendiri dan menumpahkan tangisnya. Terserah orang menyebutnya lemah karena menangis ia tak peduli. Sesak di dadanya tidak dapat lagi ia bendung.


"Aisyah ku mohon maafkan aku. Beri aku kesempatan, ku mohon kembalilah..." Lirihnya pilu.


Sejenak ia edarkan pandangannya ke segala arah, bayang Aisyah yang sedang memasak lalu ia melingkarkan tangannya di pinggang Aisyah, bayang Aisyah yang sedang menyiram tanaman kemudian ia datang memeluk dan menciumnya, bayang Aisyah yang sedang mengepel lantai lalu ia datang mengambil alih pel itu, namun Aisyah menolak hingga akhirnya mereka melakukan pekerjaan itu bersama, bayang di mana Aisyah mengantarkan ia sampai depan pintu saat bekerja. Ia tersenyum miris, sudah berapa lama mereka tak semanis seperti kala itu. Yoga sadari, ia sendirilah yang membuat hubungan mereka renggang.


Dengan gontai ia menuju ke atas. Menuju kamarnya, lagi-lagi bayang Aisyah kembali muncul di hampir segala arah. Tidak ada tempat yang lebih manis saat ia bersama Aisyah selain tempat ini. Netranya menjatuhkan perhatian pada sebuah mukena di atas nakas. Bayang Aisyah kembali hadir dalam benaknya, di mana Aisyah yang menyiapkan pakaian untuknya sholat dan menunggu ia selesai wudhu. Kemudian mereka sholat bersama, setelahnya Yoga yang dengan manja merebahkan kepalanya di pangkuan Aisyah. Hatinya yang terasa sejuk karena perhatian yang dilakukan oleh Aisyah, dimanjakan oleh suara lembut dari bibir Aisyah. Lagi-lagi ia sadari ialah awal mengapa ia tak lagi mendapatkan demikian.


Yoga menarik nafas panjang, lalu mengarahkan kakinya menuju kamar mandi. Sekeluarnya dari kamar mandi, ia kembali menatap nanar karena tak ada pakaian yang biasanya telah Aisyah siapkan untuknya.


"Aisyah bahkan belum sehari kau bahkan sudah merenggut sebagian jiwaku." Gumamnya. Ia menggelengkan kepalanya, hatinya kembali sakit tatkala tak mendapati satu helai pun pakaian Aisyah.


Tubuh dan hatinya terasa letih, ia melirik parfum serta lotion yang sering dipakai Aisyah. Aroma itulah yang membuatnya mabuk saat berada di samping Aisyah. Yoga membawa tubuhnya ke atas ranjang, hampa itulah yang ia rasakan. Tidak ada kenyamanan yang singgah bahkan hanya sekejap setelah Aisyah pergi dari tempat ini. Ia sentuh tempat Aisyah biasanya merebahkan diri, membuatnya kembali teringat bahwa beberapa terkahir Aisyah pun merasakan hal yang sama sepertinya. Hatinya kembali merasa kecut.


_____________________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih :)


Ig: @nick_mlsft

__ADS_1


__ADS_2