Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Salah Paham


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Aisyah turut bangun mempersiapkan makanan untuk sahur. Meski ia sendiri tidak ikut berpuasa.


"Alhamdulillah, pertama kita berpuasa. Kita semua mendapatkan rezeki yang begitu nikmat seperti ini." Syukur Zara sembari mempersiapkan alat-alat makan di atas meja.


"Iya Nduk Alhamdulillah, karena itu nanti Aisyah dan Zara mau ya pergi ke rumah tetangga-tetangga kita untuk membagikan sedikit rezeki yang kita dapatkan? Apalagi tadi kata Bapak yang sempat keluar rumah sudah mendengar bising-bising dari dapur rumah ini. Sudah tentu tetangga terdekat kita ikut mendengarnya.


Dari Umar r.a. dari Rasulullah saw. bersabda, “Jangan sampai seseorang kenyang sedang tetangganya kelaparan,” (H.R. Ahmad). Ibuk juga pernah mendengar dari seorang guru, musik yang diharamkan adalah dentingan sendok dan piring yang terdengar sampai rumah tetangga namun, kita selaku diberi rizki sama sekali tak membaginya.


Dari Abu Dzar r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu memasak masaklah yang berkuah maka banyakkanlah airnya. Lalu berilah tetangga-tetanggamu.” (H.R. Muslim) Jadi Aisyah, Zara kalian tahu kan apa maksud dari ucapan Ibuk?"


Aisyah dan Zara mengangguk, keduanya mengerti apa yang harus mereka lakukan.


--


Aisyah begitu bosan berada di rumah sendirian. Seluruh anggota yang berada di rumah ini masih berada di Masjid. Hanya ada Syauqi dan dirinya saja, Syauqi sendiri masih terlelap dalam tidurnya setelah menemani keluarganya menyantap sahur.


Merasa bosan ia pun membuka gawai ponselnya, sedari semalam ia biarkan handphonenya di charge. Hingga sedikit panas kala ia mencabutnya.


Entah apa yang membuat jemari lentiknya menggeser layar hingga pada akun sosial media sang mantan suami. Nampak, Yoga telah mengupdate story. Satu hal yang membuat Aisyah mengerutkan dahinya, nampak Yoga tengah menggandeng seorang wanita dari belakang.


Aisyah tahu bagaimana bentuk tubuh Jihan, apalagi sekarang Jihan tengah mengandung. Sudah seharusnya bukan tubuh wanita itu nampak berisi. Namun ini lain dengan wanita yang sedang ia pikirkan. Tubuhnya kerus dan menjulang tinggi hingga sampai pada telinga Yoga. Tidak seperti Jihan yang hanya sebatas dada Yoga. Pun jika menggunakan high heels tidaklah setinggi seperti yang ada pada foto.


Bukan karena cemburu atau belum move-on yang membuat ia melihat akun Yoga. Hanya merasa bosan dan iseng, sedikit terbesit rasa kasihan jika benar bahwa Yoga tengah bersama wanita lain. Bagaimana dengan Jihan?


Entahlah yang pasti ia tak ingin memikirkan hal-hal negatif, juga tidak ingin seudzon. Memikirkan Yoga bukanlah lagi hal yang penting baginya.


Kala sore Aisyah dikejutkan dengan suara memekakkan telinga hingga membuat ia terbangun dari tidurnya. Dengan segera ia sambar hijab di samping tempat tidur. Nahas, kala ia ingin mengaitkan jarum pentul pada hijabnya. Jarinya justru tertancap jarum hingga membuat ia meringis dan teriak.


"Aaaaaaa..."


Ceklek.


Entah datang darimana, Ikfi sampai di kamar Aisyah. Matanya terbelalak melihat keadaan Aisyah.

__ADS_1


"Aisyah!" Panggil Ikfi, Aisyah yang dirundung kecemasan tak memperhatikan penampilannya. Hijab yang tadi berada di kepalanya, sekarang sudah hilang tak berada di tempat semestinya.


"J-jariku..." cicit Aisyah. Bagaimana tidak, jarum itu terlihat begitu dalam menancap pada kulitnya.


Secepat mungkin, Ikfi menghampiri Aisyah. Terkejut, Aisyah berusaha menjauhkan dirinya kala Ikfi ingin meraih jarum tersebut.


Ia menggeleng, pertanda ia tak siap jika harus dicabut sekarang. "Jangan Kak."


"Kau hanya perlu menutup matamu, cukup percayakan padaku." Aisyah menurut memejamkan matanya erat.


Sedikit terkejut dan sakit ketika Ikfi mencabut jarum tersebut dengan paksa dan secepat kilat. Sudut matanya basah karena lelehan yang keluar secara perlahan.


"Maaf Aisyah, aku harus mencabutnya seperti ini. Jika secara perlahan itu hanya akan membuatmu sakit dalam tempo waktu yang lama." Refleks, Ikfi menghisap jari telunjuk Aisyah.


Darah Aisyah berdesir hebat menyaksikan hal itu, kepalanya pening dan tubuhnya lemas. Ingin menolak seolah tak sanggup, rasa sakit pada jarinya seolah menjalar ke seluruh tubuh.


Brak.


"Astaghfirullahal'adzim, apa yang sedang kalian lakukan?!" Teriak seseorang membuat keduanya terkejut.


--


"Eunnghh..." Cicit Aisyah mengerjapkan matanya, wajahnya meringis kembali merasakan sakit yang sebelumnya berada di jarinya.


Beberapa pasang mata menghawatirkan keadaannya, ia menunduk. Menilik keadaan jari yang sempat terluka kini telah terbalut oleh plester. Disentuhnya kepala yang telah dipasangkan hijab instan. Ia edarkan pandangannya, Zara dan Aidan tepat berada di sisi kanan ranjang, Bapak dan Ibuk berada di belakangnya, sedang lelaki yang sempat menolongnya berada di ambang pintu.


Raut wajahnya pun sama dengan yang lain. Namun, ada satu hal yang membuatnya heran. Beberapa area di wajahnya menunjukkan kebiruan. Seperti telah dipukul oleh seseorang.


"Nak,. bagaimana dengan keadaanmu?" Tanya Ibuk cemas. Aisyah tersenyum menggeleng. Ia berusaha duduk dibantu oleh Aidan lantaran Zara menyodorkan segelas air untuknya.


"Tidak apa-apa Buk," jawabnya. Matanya kembali terfokus pada pria yang beberapa saat lalu hanya berdua di kamarnya. Aisyah ingin sekali mengetahui apa yang menyebabkan Ikfi terluka seperti itu. Mengerti keresahan Aisyah, Aidan menggapai tangan Aisyah.


flashback on

__ADS_1


Bugh!


Tubuh Ikfi terhuyung ke belakang, tangannya terlepas dari pinggang Aisyah. Tak ia khawatirkan keadaannya, takut Aisyah terbentur ke bawah. Untunglah Zara dengan sigap menangkap Aisyah.


Kerah pakaiannya kembali diraih oleh Aidan. "Benar-benar mengejutkan! Ternyata seperti ini tabiat aslimu hah?!!"


Bugh!


Koyak sudah sudut bibir Ikfi, "Tenanglah dulu. Dengarkan penjelasan dariku!!" Teriak Ikfi, ia tahan kedua tangan Aidan. Kini sepenuhnya Ikfi menguasai tubuh Aidan.


Setelah sedikit tenang, perlahan Ikfi longgarkan tangan yang mengukung Aidan. Sorot Aidan masih sangat tajam untuk menatap dirinya. Ikfi menghela nafas panjang.


"Bagaimana kau bisa berada di kamar ini?" Tanya Aidan dengan nada tinggi.


"Aku kemari untuk mengembalikan sarung yang kemarin sempat aku pinjam. Awalnya aku ingin menolong Syauqi yang sempat terjatuh, tapi setelahnya aku juga mendengar teriakan Aisyah. Tangannya tertancap jarum pentulnya sendiri. Aku hanya membantunya, kau bisa lihat jemarinya yang terluka." Terang Ikfi berusaha meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.


Aidan mengarahkan pandangannya pada jari Aisyah, ternyata memang benar adanya. Terdapat darah yang masih segar mengucur dari sana.


flashback off


Mata Aisyah membulat, "Harusnya kau jangan bertindak sebelum tahu yang sebenarnya Bang." Entah perasaan bagaimana yang Aisyah miliki pada Ikfi. Yang pasti, ia merasa begitu khawatir melihat Ikfi yang meringis sakit.


"Iya, maklum saja Abang seperti itu. Kakak seperti apa yang tidak emosi saat itu. Apalagi saat itu kau dalam keadaan tanpa hijab dan berada di pelukan Ikfi." Balas Aidan yang membuat Aisyah terdiam.


"Sudahlah, sekarang bagaimana keadaanmu sekarang? Lain kali, kau harus lebih hati-hati."


"Sudah mendingan, iya Bang maaf. Lain kali Aish akan lebih berhati-hati lagi."


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih :)


Oh ya, untuk kalian yang ingin tahu informasi terkait karya-karya Author yang lain boleh kunjungi akun Instagram Author yah. Jangan lupa follow juga ;)

__ADS_1



__ADS_2