
Haris begitu senang mendengar penuturan anaknya. Ia menjadi tak sabar untuk kembali ke rumahnya. Saat ini, mereka sedang berada di jalan pulang dari Masjid.
"Nak jagalah amanah dari Allah sebaik-baiknya. Karena anak itu bisa saja menjadi anugrah terindah atau ujian untukmu. Segala sikap dan perilaku yang ada pada dirinya, kaulah yang harus mempertanggungjawabkan bersama istrimu. Sebisa mungkin kau mendidiknya dengan baik dan sejak dini." Ujar Haris pada Yoga.
"Iya Pah, Yoga meminta doanya saja. Semoga Yoga dapat menjaga amanah ini dengan sangat baik." Sahut Yoga.
Haris mengangguk dan mereka melanjutkan obrolan seputar kehidupan mereka nantinya.
Sesampainya di rumah, mereka disambut dengan hangat oleh istri dan menantu mereka. Senyum kian merekah tatkala melihat Aisyah. Menantu satu-satunya mereka kini sedang mengandung cucu pertama.
"Nak, Papa sangat bahagianya mendengar kamu akhirnya hamil. Selamat yah, kamu akan mendapatkan gelar Ibu. Jaga dia baik-baik ya Nak." Ucap Haris pada menantunya.
Aisyah mengangguk dan tersenyum, "Iya terimakasih Pah. Doakan saja yang terbaik untuk kami nanti."
"Iya Pah, semoga putra kita ini kedepannya akan membawa berkah. Dan dapat membanggakan kita semua."
"Putra?" Tanya Aisyah heran menatap suaminya.
"Em, maksudku anak kita." Jawab Yoga kikuk.
"Apa kamu menginginkan seorang putra Mas?" Kembali Aisyah bertanya.
"Sebenarnya memang seorang anak laki-laki lah yang aku harapkan Ai. Tapi jika diberinya perempuan yah aku juga akan menerimanya. Bagaimana pun dia adalah darah dagingku."
Haris menggeleng pelan dan tersenyum, "Memang sudah seharusnya kau bersyukur Yoga. Entah apapun jenis kelaminnya nanti, yang namanya anak sudah sepatutnya diberi kasih sayang yang melimpah serta didikan yang baik. Kalian adalah pasangan suami-istri yang sudah diberi kepercayaan oleh Allah.
Banyak diluaran sana yang harus berjuang dan menunggu mati-matian untuk mendapatkan keturunan. Papa harap apapun hasilnya nanti, kau akan tetap memperhatikannya kan Yoga?"
"Tentu Pah, semua orang memliki impian. Namun jika diberinya lain, tentu tetap harus disyukuri. Karena apapun yang sudah Allah kasih untuk kita, pasti akan ada hikmahnya bukan?
Terimakasih kau telah memberiku anugrah terindah Ai." Tutur Yoga lembut, merengkuh tubuh istrinya.
Semua tersenyum melihatnya, selain Dewi. Sebenarnya sampai saat ini, ia masih belum menerima kehadiran Aisyah sebagai menantunya. Namun apa boleh buat, dengan kehamilan Aisyah pasti akan membuatnya lebih bertahan lama di sini.
Selain itu juga, setelah ini anak serta suaminya akan lebih memanjakan Aisyah. Dan semua pekerjaan yang biasa dilakukan Aisyah, kini ia sendiri yang akan mengerjakannya lagi. Ia juga melirik kesal ke arah keponakannya yang tengah mengusap perut rata menantunya. Bukannya membantu, Intan justru hanya diam dan sibuk akan urusannya sendiri.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo sekarang kita sarapan saja. Kau sudah memasak kan?" Haris memandang istrinya.
"Tentu saja Mas, ayo kita ke sana sekarang. Lagipula juga takutnya nanti dingin." Jawab Dewi.
Semuanya mengangguk dan beranjak dari duduknya.
Aisyah ingin membantu Dewi yang terlihat beranjak untuk membereskan ruang makan. Melihat wajah lelah sang Ibu mertua, membuatnya tak tega.
"Ma, kalau Mama lelah biar Aish saja yang mengerjakan ini semua." Pungkasnya halus.
"Tidak perlu, lebih baik kau ke atas saja layani putraku. Jika melihatmu kelelahan seperti ini, bukan tidak mungkin jika Yoga memarahiku."
Aisyah menggeleng, "Tidak Ma, lagipula juga aku masih hamil muda. Tidak terlalu sulit untuk bergerak."
"Sudahlah Aish, sebaiknya kau turuti saja kata Tante. Ada aku di sini, biar aku yang membantu Tante." Intan yang masih di situ menengahi keduanya.
Bumil itu terlihat menghela, sebenarnya bukan karena apa. Melihat sabun cair yang hijau gelap begitu menarik perhatiannya. Ia teringat saat kecil dahulu, ia sering membuat gelembung dari sabun tersebut. Baunya juga menurutnya sangat enak. "Baiklah, maaf ya jika aku sangat merepotkanmu."
Intan tersenyum dan mengangguk, ia memberi jalan untuk Aisyah pergi ke atas.
"Manis? Bukankah aku memang manis? Lagipula masih lama juga untuk pergi ke kantor." Jawab Intan santai. Dewi memutar bola malas.
Terdengar gemericik air dari kamar mandi, menandakan adanya orang di dalamnya. Yang sudah tentu Aisyah duga adalah suaminya. Ia tersenyum dan menyiapkan pakaian untuk Mas Yoga.
Ada yang aneh tatkala ia mengambil salah satu kemeja milik suaminya. Ia tak dapat menahan diri lagi, segera saja ia lemparkan pakaian tersebut sembarangan.
Yoga mengernyit heran mendapati pakaiannya yang berserakan di lantai. Aisyah yang melihat suaminya hanya terdiam.
"Aish, kenapa kau membuang pakaianku seperti ini? Apa pakaiannya tidak bagus?" Tanya Yoga heran.
"Em tidak apa-apa Mas. Hanya baunya tidak enak, sangat membuatku mual Mas." Jawab Aisyah menjauh dari pakaian-pakaian suaminya yang berserakan.
Yoga menghela nafasnya, "Tapi apa perlu kamu membuang ini semua?" Tanyanya kesal namun masih dengan suara sangat halus agar tak menyinggung sang istri.
"Em tapi baunya sangat tidak enak."
__ADS_1
Yoga memilih untuk memunguti pakaiannya yang berserakan dan mengendus benda tersebut. "Tapi pakaian ini sangat wangi sayang, wewangian yang ku pilih pun yang terbiasa aku pakai."
"Entahlah Mas, tapi jangan dekati aku dengan wewangian itu. Sudah ya, aku pergi saja. Maaf ya Mas, hari ini lakukan semuanya sendiri." Ujar Aisyah lalu pergi dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari Mas Yoga.
"Ada apa dengannya? Bukankah dia sendiri yang selalu menyemprotkan parfum untukku?" Tanya Yoga pada dirinya sendiri, lalu ia pun menyiapkan segalanya sendiri hari ini.
Entah apa yang menarik Aisyah untuk mendekat ke arah dapur. Maniknya menyorot ke arah sabun cair untuk mencuci piring. Ia begitu antusias mengambil benda tersebut.
Intan menatap aneh ke arah Aisyah, penasaran ia pun menghampiri bumil tersebut. "Aish apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Intan.
Aisyah terkejut, sontak ia pun menjatuhkan benda yang sedang ia pegang.
"A-ada apa Intan?"
"Tidak ada, kau sendiri yang sebenarnya sedang apa?" Tanya Intan kembali.
"Em tidak, aku tahu ini aneh tapi biarkan aku menciumi ini yah." Ucap Aisyah memelas dan kembali mengambil secangkir sabun cuci.
Intan terbelalak menatap perilaku Aisyah, Apa dia sedang mengidam? Tapi mengapa begitu aneh?
Aisyah menatap wajah suaminya berbinar, "Mas mengapa sabun cuci piring ini habis? Belikan aku ini yah." Pintanya dengan puppy eyes.
Yoga mengusap tengkuknya tidak gatal, "Em iya sayang, nanti setelah pulang akan aku belikan." Jawabnya tersenyum.
"Oh ya, Mas ingin berangkat sekarang. Mas pamit yah." Ia berniat menghampiri Aisyah untuk menyodorkan tangannya agar dicium.
Tapi sayang, Aisyah menolak. "Sudah kubilang jangan dekati aku dengan pakaian itu. Kau sangat bau." Kilahnya menjauh.
"Baiklah, Assalamu'alaikum." Pasrahnya. Aisyah tidak mengantar suaminya seperti biasa.
_____________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih yang sudah mampir ;)
__ADS_1
Ig; @nick_mlsft