Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Mengunjungi Ayah


__ADS_3

Mama Dewi sudah berangkat menuju kampung halamannya bersama suami. Kini di rumah hanya tinggal Aisyah dan Mas Yoga. Dan mereka pun akan berangkat ke rumah orang tua Aisyah.


Yoga mengantarkan istrinya hingga depan rumah Fahmi Al-Farizi.


"Sayang titip salam untuk Ayah dan Bunda yah, maaf Mas tidak bisa menemanimu." Ucap Yoga mengusap kepala Aisyah.


Aisyah tersenyum, "Tidak apa-apa Mas, terimakasih sudah mau mengantar."


"Sudah menjadi tugasku sayang." Ujar Yoga sembari mencium pucuk Aisyah.


"Hati-hati ya Mas, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Aisyah melambaikan tangannya hingga mobil suaminya tak terlihat, dengan santai ia memasuki rumah orang tuanya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam." Terdengar suara langkah kaki mendekat. Melati menyambut hangat kedatangan putrinya. Segera saja, Aisyah mencium punggung tangan Bundanya.


"Ayah dimana Bun?" Tanya Aisyah mengikuti langkah Bunda masuk.


"Ayah masih sakit, tapi juga sudah mendingan dari kemarin." Jawab Melati.


"Kakak..!!" Seru Afsana pada sang Kakak.


Aisyah langsung membentangkan tangannya untuk memeluk Afsa. Melati tersenyum melihat keduanya.


"Bagaimana kabarmu Sa?" Tanya Aisyah masih memeluk adiknya.


"Alhamdulillah sangat baik Kak, Kakak sendiri." Jawab perempuan yang satu tahun lebih muda dari Aisyah.


"Syukurlah, Kakak Alhamdulillah juga baik sayang."


"Kau mau kemana, cantik dan wangi sekali." Aisyah memandang Afsa dari atas hingga bawah.


Afsana tersenyum, namun tak menjawab. Aisyah menoleh ke Bundanya, mengangkat dagunya. Ada apa? Itulah arti pandangannya.


"Sebentar lagi, kau akan memiliki adik ipar Aish. Jadi ya, kamu pasti tahulah kemana adikmu ini akan pergi." Jawab Melati yang paham akan isyarat putri sulungnya.


Aisyah mengangguk dan tersenyum, "Semoga sukses Afsa."


Afsana tersenyum, "Terimakasih Kak, ya sudah aku pergi dulu yah. Assalamu'alaikum." Ucap Afsana sembari mencium pipi kedua wanita tersayangnya.


"Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Aisyah dan Melati melangkah menuju kamar sang Ayah.


Ceklek.


Tampak lelaki paruh baya sedang duduk bersandar. Kacamata bertengger di hidung bangirnya, nampaknya ia tengah serius membaca tiap-tiap huruf berjejer rapi di sebuah kertas.


"Assalamu'alaikum Ayah," Aisyah meletakkan buah tangannya di meja yang berada tak jauh dari tempat tidur tersebut.


"Wa'alaikumsalam sayang." Senyum terlukis indah di wajah Fahmi tatkala melihat kehadiran putrinya. "Kemari Nak," sambungnya dan meletakkan berkas yang ia pegang di atas nakas.


Aisyah tersenyum dan langsung memeluk Ayahnya penuh rindu. "Aish sangat merindukan Ayah." Ungkapnya haru. Ia merasakan belaian lembut di punggungnya.


"Ayah juga sangat merindukanmu Aish." Pungkas Fahmi mencium pucuk kepala putrinya.


"Dimana suamimu Nak?" Tanya Melati yang juga duduk di samping Aisyah.


"Mas Yoga sibuk Bun, sudah beberapa hari Mas Yoga tidak berangkat karena honeymoon. Jadi, dia minta maaf karena tidak bisa menemani Aish menjenguk Ayah." Jawab Aisyah menggenggam tangan Ayahnya.


"Tidak apa-apa sayang, kehadiranmu saja sudah cukup buat Ayah." Timpal Fahmi.


Aisyah tersenyum, namun tiba-tiba berubah. "Sebenarnya kenapa Ayah bisa sampai sakit?"


"Yang namanya manusia ya wajar kalau sakit Nak. Apalagi kan Ayah sudah tua."


"Tapi Ayah juga harus jaga kesehatan Ayah," Tutur Aisyah lembut.


Aisyah ikut tersenyum, "Oh ya, apa Kak Farah sering kemari?"


"Dia jarang kemari Nak, mungkin karena sibuk. Tapi sering telepon kok." Jawab Melati menjawab pertanyaan putrinya. Namun, Aisyah merasakan aneh. Wajah kedua orang tuanya tak dapat ia tebak apa artinya. Meski keduanya juga tersenyum.


"Baik-baik saja kan dia?"


"Tentu Nak, beberapa kali Bunda pernah melihat dia dengan suaminya ke restoran. Bahkan Zara (anak Farah) juga terkadang ikut."


Aisyah mengangguk.


"Yah kau butuh sesuatu? Wajahmu lemas sekali." Pungkas Melati khawatir menatap suaminya.


Fahmi tersenyum lemah, "Tidak Bun, hanya lelah saja."


"Ini pasti karena Ayah yang memaksakan untuk bekerja dari rumah. Kalau memang tidak bisa, jangan dipaksa Yah. Sekarang Aisyah sudah pulang, jadi Ayah tidak perlu bekerja lagi ya." Cicit Aisyah.


"Tapi Nak-"


"Tidak ada tapi-tapi Ayah. Cukup dengarkanlah Aish, kumohon."

__ADS_1


Fahmi menghela nafasnya, "Baiklah Nak." Pasrahnya.


"Ya sudah sekarang Ayah istirahat saja yah. Biar ini semua, Aish yang kerjakan bersama Bunda." Ujar Aisyah sembari membawa berkas-berkas yang berada di atas nakas.


Melati mencium kening suaminya, "Istirahatlah sayang." Suaminya itu, tersenyum dan mengangguk.


Kemudian Melati dan Aisyah pergi meninggalkan Fahmi di kamar itu. Bundanya itu, mengajaknya menuju gazebo Samling rumah mereka.


"Nak, bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Melati memegang tangan putrinya.


Aisyah mengerutkan keningnya, ia tak mengerti apa maksud dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibunya.


"Apa maksud Bunda? Bukankah tadi Bunda sudah bertanya, lalu mengapa Bunda bertanya kembali?" Tanyanya heran.


"Nak, kamu tidak usah berbohong. Kau tidak dapat membohongi Bunda sedari kecil."


"Apa aku terlihat tengah membohongi Bunda? Atau Bunda telah mengetahui sesuatu. Coba katakan, dimana letak kebohonganku." Pinta Aisyah lirih.


Melati menghela nafasnya, "Nak meski Bunda tahu kau bisa menikah dengan pria yang kau cintai, namun tak dapat dipungkiri bahwa kau juga tertekan.


Bunda memang tak tahu apa, namun melihat bagaimana keadaanmu sekarang. Bunda tahu, pipimu tirus, matamu sayu, bahkan Bunda merasa kau sedikit kurusan." Memandang seluruh tubuh sang anak.


"Katakanlah sejujur -jujurnya Nak, apa kau bahagia?" Tanya Melati sekali lagi.


Tidak usah, orang-orang di sana itu cerewet-cerewet dan suka ghibah. Apa jadinya kalau Mama ternyata membawa menantu anak haram, bisa-bisa malu Mama. Lagipula ada juga saudara jauh yang mau dateng kok.


Bagaimana sih cara orang tua kamu mendidik, heh masa mudanya saja sudah enak-enak membuat kamu ya bagaimana bisa mendidik anak. Jadilah anak haram tidak tahu diri.


Sudah kuduga bahwa kau hanyalah seekor rubah. Mulutmu itu, menunjukkan bagaimana kualitas didikan kedua orang tuamu!.


Aisyah terdiam merenungkan semua perkataan yang dilontarkan oleh sang Mama mertua. Tiba-tiba saja, hatinya bergemuruh hebat. Sungguh, semua yang ia alami akhir-akhir ini begitu menyesakkan dada.


Tanpa mengatakan apapun, Aisyah langsung menghambur ke pelukan sang Bunda. Tubuhnya terguncang karena mengeluarkan segala beban yang semakin hari menghimpit hatinya.


Melati yang sudah menduga semuanya, berusaha menyalurkan kasih sayangnya. Ia kecup berkali-kali dahi Aisyah.


"Bun, aku benar-benar tak mengerti sedikit pun. Mengapa Mama begitu benci kepadaku?" Isaknya lirih.


"Sayang maafkan Bunda dan Ayahmu Nak. Bunda tahu, bahwa ini semua berawal dari kami. Kesalahan kamilah yang membuatmu harus menanggung ini semua. Nak, jika memang kau tidak bahagia dengan ini semua. Tidak ada yang akan melarang keinginan untuk diwujudkan." Ungkap Melati mengelus lembut punggung Aisyah.


_________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih ;)

__ADS_1


Ig; @nick_mlsft


__ADS_2