
"Jenis apapun hujan disertai badai yang menerjang rumah tangga kami akan aku lewati dan terima. Tapi tidak dengan pengkhianatan." Lirih Aisyah. Tubuhnya dirangkul erat oleh dekapan sang Ayah.
Sedangkan Fahmi ia masih terdiam sembari memberi kekuatan pada Aisyah. Pikirannya kembali tertuju pada kejadian bertahun-tahun silam. Dirinya pun pernah merasakan kehidupan poligami, ia sadari dirinya sempat tidak adil saat itu.
Diliriknya sang istri yang juga sedang mendengarkan putri mereka. Dulu ia tidak tahu bagaimana rasanya seorang wanita yang dipoligami karena Melati tak menunjukkan bagaimana sedihnya, namun melihat Aisyah yang terpuruk membuat hatinya berdenyut sakit.
Diraihnya tangan Melati tanpa sepengetahuan sang putri. "Wanita Hebatku." Ucapnya lirih tanpa suara ia tujukan pada Melati.
"Nak..."
"Ayah apa aku salah kalau aku meminta cerai padanya karena itu, ku tegaskan sekali lagi bahwa aku sangat tidak siap untuk diduakan. Dan berbagi suami sepanjang hidupku, meski Mas Yoga telah menjanjikan pada akhirnya hanya aku yang di hidupnya. Namun aku bukanlah wanita setega itu yang akan memisahkan seorang anak dengan Ibunya. Karena itu aku memilih mundur." Ungkap Aisyah dengan nada yang sudah mulai melemah, sirat matanya berusaha meyakinkan Fahmi.
Fahmi melirik ke arah sang istri, Melati hanya terdiam juga bingung. Ia pun dulunya tak pernah ingin hidup poligami, namun keadaanlah yang membuat mereka hidup seperti itu. Hingga pada akhirnya ia mulai bisa menerima.
"Nak kamu sudah memikirkan ini matang-matang? Kamu sudah siap menjadi janda di usiamu yang masih muda?" Tanya Fahmi menatap serius Aisyah.
Aisyah termenung sembari memikirkan semuanya.
"Aish, menentukan pilihan dalam hidup bukan hanya soal belajar dan berjuang untuk mendapatkan. Tapi juga bagaimana cara menggunakan dan mempertahankan ketika dapat. Entah itu cobaan dari alam atau dari lisan orang lain.
Ibarat Ayah membeli sebuah mie ayam, di sini kita tidak hanya mempersiapkan uang untuk membeli mie ayam itu. Tapi kita juga lihat, jaraknya jauh atau tidak, cuacanya bagus atau tidak sehingga kita lebih baik pakai kendaraan atau jalan kaki. Harus memikirkan juga bahan bakar masih atau tidak. Melihat ini waktunya sudah jam berapa sehingga mungkin bisa saja penjualnya sudah tutup sehingga kita harus mencari di tempat lain. Pun ketika sudah dapat, cuaca masih buruk kemungkinan jalan ditutup karena ada pohon yang tumbang. Sehingga kita harus memikirkan jalan lain untuk dilewati. Ternyata jauh, kita harus memikirkan lagi untuk bahan bakarnya. Uang tambah lagi. Semua itu kita persiapkan dari awal sebelum berangkat Nak.
Sehingga apapun halangan di jalan nantinya, kita sudah dapat melalui semua karena sudah dipikirkan dari awal. Nak berani memutuskan sebuah pilihan itu haruslah memiliki sebuah mental yang kuat. Pernikahan, terlihat enak dan senang karena kita dapat hidup bersama seseorang yang kita cintai. Namun ketika merasakan ternyata tak sesuai ekspektasi. Jika kita tidak mampu melewatinya, keputusan yang terbaik ternyata perpisahan. Perceraian, dilihat memang sangat menyedihkan karena sebuah kesalahan. Melihat setelahnya akan menjadi janda atau duda. Dapat gunjingan dari orang lain. Namun ketika kita bisa melaluinya, Insyaallah pada akhirnya akan ada kebahagiaan yang menyapa.
__ADS_1
Tapi perlu diingat, setiap kebahagiaan bukan semua karena hadiah adapula yang ujian. Yang paling penting dari semuanya adalah bahwa setiap apapun pilihan yang akan kamu pilih sertakan Allah di dalamnya Nak. Yakinlah bahwa apapun yang sudah ditentukan adalah sudah menjadi rencananya, tidak perlu khawatir akan hidup bahagia. Karena Allah lebih tahu mana yang lebih baik untuk keindahan hidup yang harus kamu dapatkan. Indah di kamu belum tentu Indah menurut Allah. Pun buruk di kamu belum tentu buruk menurut Allah. Istikharah-lah Nak, keputusan yang dituntun oleh Allah itulah yang terbaik.
Kehidupan poligami memanglah sulit untuk dijalankan, namun akan ada balasan yang setimpal untuk semua itu." Ujar Fahmi mengelus surai lembut putrinya.
Melati menyentuh pundak Fahmi, ia tersenyum.
"Sayang untuk saat ini jangan dulu memutuskan sebuah pilihan, karena kamu masih dikuasai oleh emosi. Sangat tidak baik untuk itu. Ingat, sertakan Allah dalam menentukan semuanya." Setelahnya Fahmi beserta istri pun meninggalkan Aisyah yang masih bergelut pikirannya untuk memilih jalan apa yang akan ia tempuh nantinya.
...***...
Yoga masih berada dalam kamarnya, sudah dua hari ia tak keluar rumah. Bajunya pun masih sama saat terakhir Aisyah meninggalkannya. Ponsel yang terus berdering tak ia pedulikan, apalagi saat tertera nama Jihan di sana. Ia hanya tersenyum miring, karena wanita itulah awal dari semuanya. Ia sangat merutuki pertemuan saat itu.
Kedua orang tuanya yang terlanjur kecewa pun sama sekali tak menilik.
"Makanya kalau tidak pintar untuk selingkuh jangan coba-coba. Lihat! Baru dua hari saja sudah seperti ini, ingat Yoga kamu masih memiliki istri bahkan mau punya anak. Sudah dua hari kamu bolos, lima hari kamu akan dipanggil sama perusahaan. Kedua kali surat PHK keluar, ingat Yoga kamu masih memiliki tanggung jawab lainnya. Jangan kepergian Aisyah kamu jadikan alasan kamu seperti ini. Kamu sendiri yang dengan mudahnya menawarkan tanggung jawab untuk wanita itu, di samping kamu masih memiliki tanggung jawab lain!"
Brak! Pintu ditutup kasar. Yoga meraup wajah kasar, dengan gontai ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Aisyah tolong siapkan baju-bajuku!"
Tidak ada sahutan, Yoga seketika tersadar bahwa Aisyah sudah tak lagi ada di sisinya. Ia tersenyum nanar.
Dewi sedang mempersiapkan sarapan dengan Intan. Sejenak ia teringat saat Aisyah yang selama ini mempersiapkan semuanya. Ia pandangi wajah Intan yang terlihat sedikit tak ikhlas, ia tersenyum getir. Bahkan Aisyah sama sekali tak pernah menunjukkan wajah terpaksa walau setiap hari.
__ADS_1
Setelah semua selesai, satu persatu anggota keluarga berdatangan. Hanya hening yang masih memimpin keadaan. Kejadian yang sedang terjadi dalam rumah tangga Yoga lah penyebabnya, lebih karena rasa kecewa mereka pada Yoga. Bahkan Haris jangan untuk menyapa, melirik saja tidak mau.
Sedangkan Yoga, ia hanya tertunduk malu dan tergesa dalam menyantap sarapannya. Lalu bergegas pergi dari sana, Dewi hanya menghela nafas kasar melihat tingkah putranya itu.
"Woy, kenapa bro?" Tanya Bagas mengejutkan Yoga yang terlihat melamun di kantin. Ia terlihat malas untuk menyantap makan siangnya.
"Apaan si!" Ketus Yoga malas.
"Dih orang gue nanya malah gitu. Lagian kenapa lo bolos dua hari tiba-tiba dateng malah ngelamun kek gini. Inget harus kasih nafkah buat bini rumah."
Yoga lagi-lagi tersenyum getir, "Dah lah diem aja. Lagi pusing juga."
Dahi Bagas mengernyit. "Kenapa?"
Tak ada jawaban dari bibir Yoga. Sebenarnya Bagas bisa menebak apa yang sedang Yoga alami. Pastilah tentang rumah tangga Yoga yang sudah berada di ujung tanduk.
Maaf Ga, bukan gue pengin ngehancurin pernikahan kalian. Cuman gue kasihan aja sama Aisyah. Dia wanita yang baik-baik, gak seharusnya lo kaya gitu.
____________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih :)
__ADS_1
Ig: @nick_mlsft