Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Pacar Bagas


__ADS_3

Aisyah meregangkan ototnya sedikit pegal, tadi ba'da subuh setelah pulang dari Masjid ia asyik membaca sebuah novel hingga membuatnya ketiduran di sebuah kursi kamarnya yang terbuat dari kayu.


Ia menilik jam di dinding, pukul enam pagi. Beranjaklah ia dari duduknya dan membersihkan diri. Sekeluarnya dari kamar, ia sedikit meringis melihat Ibuk yang sedang memisahkan tutut dari cangkangnya. Rasa bersalah bersarang di hatinya secara tiba-tiba lantaran tidak membantunya dari awal.


"Assalamu'alaikum Buk." Ucap Aisyah sembari duduk di depan Ibuk.


"Wa'alaikumussalam, sudah bangun to Nduk. Bagaimana tidurnya? Nyenyak tidak? Maaf ya dir rumah ini kasurnya pasti tidak seempuk di rumahmu." Sahut Ibuk, langsung disambut gelengan oleh Aisyah.


"Tidak kok Buk, saya nyenyak sekali ada di sini. Udaranya sejuk dan damai."


Ibuk terlihat tersenyum samar, jelas ia tahu Aisyah tidak nyaman berada di sini. Salah satu tangan Aisyah, tercetak samar karena tempat tidurnya yang tidak rata. Ia hanya terdiam dan melanjutkan kegiatannya.


"Ehm Buk, apa ada jarum pentul lagi. Boleh bantu Ibuk pisahkan tututnya?" Tanya Aisyah.


"Tentu Nduk, kamu pakai yang ini punya Ibuk saja. Biar Ibuk cari yang lain lagi. Sebentar ya Nduk." Bangkit dari duduknya dan mencari jarum pentul.


"Enggih Buk." Tak lama Ibuk kembali datang, "Oh ya Buk, Mbak Zara dan Abang Aidan ada di mana ya?"


"Mereka tadi sempat jalan-jalan pagi Nduk. Maaf ya, Ibuk tidak membangunkan kamu untuk ikut mereka. Soalnya tadi Ibuk lihat kamu sedang nyenyak-nyenyaknya. Jadi Ibuk tidak tega membangunkan kamu." Jawab Ibuk menjelaskan.


Aisyah mengangguk. "Iya Buk tidak apa-apa."


"Oh ya Nduk, kata Zara kamu ingin berada di sini satu bulan penuh selama Ramadhan? Itu betul Nak?" Jelas terlihat Ibuk begitu hati-hati bertanya.


"Iya Buk, ada apa ya? Mohon maaf Buk, sekiranya Ibuk dan Bapak tidak nyaman dengan kehadiran Aisyah. Aisyah berkenan untuk tidak di sini."


"Tidak Nduk bukan seperti itu." Tangkis cepat Ibuk. "Maaf ya kalau ucapan Ibuk buat kamu tersinggung."

__ADS_1


Aisyah tersenyum dan menggeleng. "Tidak Buk,"


"Sebenarnya bukan masalah kamu yang berada di sini Nduk. Tapi keadaan di sini yang mungkin membuat kamu tidak betah. Kamu tahu sendiri kehidupan desa dengan kota itu berbeda. Di sini tidak seramai tempatmu itu, dan juga fasilitas di sini sangatlah terbatas. Ibuk jadi tidak enak melihat tanganmu itu loh Nduk." Tunjuknya dengan sorot mata yang mengarah pada pergelangan tangan mulus Aisyah yang terlihat tercetak sesuatu.


Pandangan Aisyah tertuju ke sana. Ia baru menyadari hal itu. "Owh ini tidak ada apa-apa Buk. Lagian saya lebih senang berada di sini." Sambut Aisyah, membuat Ibuk sedikit tersenyum.


Aisyah mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, rumah ini memang masih belum terbuat dari batu bata, pun segala perabotan di sini terlihat begitu sederhana. Masih terbuat dari kayu, sebenarnya ia sedikit kedinginan saat malam. Namun ia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.


Sebenarnya ia sedikit bingung, melihat Ibuk yang mampu membeli motor dan mobil. Namun untuk rumah, masih seperti ini. Menurutnya mengapa tidak merenovasi rumah terlebih dahulu, dibanding membeli itu semua. Ibuk seolah menyadari apa yang dipikirkan oleh Aisyah pun tersenyum tipis.


"Nduk?" Panggilnya.


"Eh iya Buk."


"Kamu sedang memikirkan sesuatu?" Tebak Ibuk sembari tersenyum.


"Tidak Buk, eh itu.." Mengusap tengkuknya yang terbalut hijab.


Bukan berarti kita yang tidak ingin menolak rezeki atau bagaimana, tapi dengan kehidupan seperti ini saja sudah membuat kita cukup kenapa harus menambahkan yang lainnya. Bapak itu orang yang ketika ingin membeli sesuatu benar-benar dipikirkan terlebih dahulu secara matang. Kiranya sesuatu yang tidak dibutuhkan, jangan dibeli. Seperti kenapa memilih membeli mobil dan motor. Ya karena beliau yang memang benar-benar membutuhkan itu.


Dulu Ibuk sempat ragu ketika Bapak mengutarakan untuk membeli itu. "Untuk apa beli mobil Pak? Wong rumah kita saja seperti ini." Beliau menjawab. "Memangnya kenapa dengan keinginan kita Buk? Allah itu sugih (Maha Kaya), masa iya tidak akan memberikan apa yang hamba-Nya meminta. Lagian kita meminta juga untuk kebutuhan kita Buk. Alhamdulillah sekarang Bapak sudah dapat membeli tanah yang cukup luas. Sehingga kita perlu mengangkut semuanya dengan mobil. Tidak perlu khawatir dengan semua itu, Biarkan Bapak usaha Ibuk bantu do'a ya. Insyaallah kita dapat membelinya."


Di sini pun Ibuk sempat bingung pada Bapak, beliau bisa membeli tanah lantas kenapa tidak kita pergunakan untuk rumah saja. Bukannya Ibuk tidak bersyukur, tapi ya dulu adalah godaan Ibuk untuk membeli sesuatu seperti teman Ibuk yang lainnya. "Buk, Bapak ingin sekali membuat Zara kuliah. Insyaallah sedang Bapak perjuangkan biayanya sekarang. Tanah itu, Insya Allah bakal menjadi tabungan kita untuk Zara." Jadilah sejak saat itu Ibuk tidak lagi meminta ini itu, semua keputusan Bapak sudah pasti memiliki niat dan tujuan. Ibuk yang sebagai istri hanya bisa mendukung." Terang Ibuk panjang lebar.


Aisyah mengangguk-angguk mengerti disertai senyumnya.


...***...

__ADS_1


"Ya ampun, dari tadi gue tungguin malah ke sini bawa cewe." Ucap Yoga setengah kesal menatap Bagas yang baru bergabung dengannya di kafe bersama dengan seorang perempuan.


"Jelas lah, duduk sayang." Sahut Bagas mempersilahkan gadis di sampingnya untuk duduk.


Yoga memperhatikan perempuan itu tanpa kedip. Ia terlihat begitu manis dengan lesung di pipinya ketika tersenyum, belum lagi ia mengenakan pakaian yang sedikit ketat dengan kerah sabrina. Bahu mulus kuning langsat begitu menggoda baginya. Namun dengan cepat ia menggeleng, tak mungkin juga bukan bila ia menyukai perempuan sahabatnya sendiri.


"Oh ya Manda kenalin ini Yoga sahabatku. Yoga, ini Manda pacar gue." Ujar Bagas memperkenalkan keduanya.


Baik Manda maupun Yoga pun mengulurkan tangan mereka berdua.


"Yoga,"


"Manda."


"Dah pesen apa lo bro?" Tanya Bagas membuyarkan lamunan Yoga.


"Eh belum, lagian gua nungguin lo dari tadi. Udah sekarang cepet dah lo pesen, laper gue."


"Iya iya."


Yoga kembali fokus ke ponselnya, entah benar atau tidak ia merasa gadis di hadapannya itu seperti tengah memperhatikannya. Ia pun mendongak, dengan cepat Manda memalingkan muka. Yoga tahu persis bahwa Manda tadi sempat memperhatikannya.


Ia pun kembali fokus pada ponselnya, apalagi memperhatikan keduanya yang begitu romantis.


Sial, gue dijadiin nyamuk gini. Rutuknya dalam hati. Ia pun mengambil alih menu yang tengah dipegang Bagas.


____________________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih


__ADS_2